Memahami Tanah Perjanjian
Dalam Perspektif Perjanjian Baru
_oOo_
 
Pengantar
 
Artikel ini ditulis sehubungan dengan Seminar yang diselenggarakan oleh Persekutuan Studi Reformed pada tahun 2009 dengan tema “Promised Land: Yesterday, Today & Tomorrow” serta Visi Persekutuan Studi Reformed berikut ini:
 
 
Tuhan yang telah secara progresif menggenapkan perjanjian-Nya di dalam Kristus saat ini sedang bekerja dan kelak akan memanifestasikan kerajaan-Nya secara sempurna di dalam perspektif sebuah kota yang di dalam kota itu kelak Ia dan umat-Nya akan berdiam. (Persekutuan Studi Reformed, “Pernyataan Visi & Misi,” Jakarta, 2006).
 
 
Pendahuluan
 
Dalam suatu pidato saat berkunjung ke kota Yerusalem pada tanggal 27 Oktober 1994 Presiden Amerika Serikat Bill Clinton berkata demikian, sebagaimana diwartakan oleh Vital Speeches 61 no. 3 bulan November 1994,
 
 
“‘If you abandon Israel, God will never forgive you’ … it is God’s will that Israel, the biblical home of the people of Israel, continue for ever and ever.” … “Your journey is our journey, and America will stand with you now and always.” / “‘Apabila engkau meninggalkan Israel, Tuhan tidak akan pernah mengampunimu’ … adalah kehendak Tuhan bahwa Israel, rumah kaum Israel menurut kitab suci, berlangsung terus selamanya.” … “Perjalananmu (maksudnya: Israel) adalah perjalanan kami, dan Amerika akan berdiri bersamamu sekarang dan selalu.” (O. Palmer Robertson, “The Israel of God: Yesterday, Today, and Tomorrow,” Philipsburg: Presbyterian & Reformed Publishing Company, 2000, p.1).
 
 
Pidato Bill Clinton dalam memandang tanah perjanjian tersebut dilatarbelakangi oleh suatu perspektif yang oleh O. Palmer Robertson disebut dengan perspektif Zionis (the Zionist perspective). Dengan kata lain perspektif Zionis berpandangan bahwa kepemilikan atas tanah perjanjian tersebut bersifat rasial, dalam hal ini Yahudi.
 
 
Zionism, whether of a Jewish or Christian variety, has tended to blur these considerations about heirs of the promise to Abraham concerning the land. It has been assumed that this promise was directed by God to a race of people called the Jews, while failing to recognize that ancestry never in itself identified the heirs of the promises to Abraham. / Zionisme, apakah yang semangatnya diturunkan oleh Yahudi atau Kekristenan, cenderung mengaburkan pertimbangan-pertimbangan akan ahli waris janji Abraham mengenai tanah. Mereka berpandangan bahwa janji ini diarahkan Tuhan kepada suatu ras manusia yang disebut Yahudi, sedangkan pada saat yang sama mereka gagal memahami bahwa para leluhur tidak pernah di dalam dirinya sendiri mengidentifikasikan diri sebagai ahli-ahli waris dari janji-janji Tuhan kepada Abraham. (O. Palmer Robertson, “Understanding the Land of the Bible: A Biblical-Theological Guide,” Philipsburg: Presbyterian & Reformed Publishing Company, 1996, p.140).
 
 
Di dalam Kekristenan sendiri pun ada perspektif-perspektif memandang tanah perjanjian yang masih harus diuji kebenarannya berdasarkan apa yang Alkitab ajarkan.
 
Untuk mendapatkan refleksi yang benar mengenai bagaimana seharusnya orang-orang Kristen di era perjanjian baru memandang tanah dalam janji teritorial Tuhan kepada Abraham itu, penulis mengajak kita untuk melihat beberapa ayat dalam kitab Yohanes pasal 4 mengenai percakapan Tuhan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di Sikhar, suatu kota di Samaria.
 
Percakapan Tuhan Yesus dengan seorang perempuan Samaria
 
Perhatikan beberapa ayat dalam injil Yohanes pasal 4 berikut ini:
 
  • Ayat 7
     
    Peristiwa ini terjadi dalam cara yang tidak disengaja. Dalam perjalanannya dari Yudea menuju Galilea Tuhan Yesus berhenti di sebuah kota di Samaria, yaitu Sikhar, lalu duduk di pinggir sebuah sumur yang disebut orang sebagai sumur Yakub. Dalam kelelahannya di situ ia meminta minum kepada seorang perempuan Samaria.
     
     
    Jacob’s well itself is not mentioned in the Old Testament. … Jesus apparently knew the site and chose it as a place of rest from the journey. / Sumur Yakub sendiri sebenarnya tidak dicatat dalam Perjanjian Lama. … Yesus tampaknya mengenal tempat itu dan memilihnya sebagai tempat beristirahat dari perjalanan. (Herman Ridderbos, “The Gospel of John: A Theological Commentary,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1997, p.153).
     
     
  • Ayat 9
     
    Mengetahui bahwa Yesus adalah orang Yahudi perempuan Samaria itu berkata: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?”. Untuk memudahkan pembacanya mengerti maksud perkataan perempuan Samaria itu Yohanes menyisipkan kalimat (setidaknya menurut sejumlah manuskrip-manuskrip penting): “orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.” Herman Ridderbos mengatakan bahwa dengan kalimat sisipan itu Yohanes bermaksud untuk menerangkan kepada pembaca bahwa perkataan perempuan Samaria itu dilatarbelakangi oleh permusuhan yang telah berakar sedemikian dalam serta penghinaan yang telah sedemikian lamanya orang Yahudi (mewakili kerajaan selatan, yaitu Yehuda) lontarkan kepada orang Samaria (mewakili kerajaan utara, yaitu Israel).
     
    Pada era Tuhan Yesus yang dimaksud dengan orang Samaria adalah keturunan dari orang-orang yang merupakan hasil kawin campur antara orang-orang Samaria, yang dahulu tertinggal pada saat pembuangan oleh raja Asyur, dengan orang-orang dari berbagai bangsa yang oleh raja Asyur diangkut dan kemudian ditempatkan di Samaria. Kitab 2 Raja-Raja 17:33 mencatat bagaimana orang-orang dari berbagai bangsa seperti Babel, Kuta, Awa, Hamat dan Sefarwaim yang diangkut dari negeri mereka untuk dipindahkan ke Samaria oleh raja-raja Asyur sekalipun telah diajarkan untuk berbakti kepada Tuhan Perjanjian, pada saat yang sama, mereka tetap menyembah allah-allah yang disembah oleh bangsa-bangsa yang dari antaranya mereka berasal. Herman Ridderbos mengatakan:
     
     
    The Samaritans were descendants of Israelites from the ten tribes who were left behind after the destruction of Samaria in 722 BC and colonists from the East imported by the Assyrian kings. They accepted as authoritative only the five books of Moses and worshipped the God of Israel on Mount Gerizim, rejecting Jerusalem as the place of worship. / Orang-orang Samaria adalah keturunan orang-orang Israel dari sepuluh suku yang tertinggal di tanah mereka setelah penghancuran Samaria tahun 722 SM dan penduduk-penduduk baru dari Timur ditempatkan di sana oleh raja-raja Asyur. Mereka hanya mengakui lima kitab Musa dan menyembah Allah Israel di Gunung Gerizim, menolak Yerusalem sebagai tempat beribadah. (Herman Ridderbos, “The Gospel of John: A Theological Commentary,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1997, p.154).
     
     
    Dengan kata lain image yang terbentuk pada suku-suku di selatan tentang suku-suku di utara, setelah takluknya kerajaan utara itu kepada Asyur pada tahun 722 SM, adalah bahwa orang-orang di utara itu hidup dengan ibadah yang sinkretis. Seiring dengan perbedaan jalan ibadah antara kerajaan selatan dengan kerajaan utara itu suku-suku di Yehuda menganggap diri mereka jauh lebih baik ketimbang suku-suku di Israel. Tidak heran apabila berkembang pulalah sejumlah konflik-konflik politis antara orang Yahudi dengan orang Samaria yang berlangsung berabad-abad lamanya bahkan hingga jaman Tuhan Yesus.
     
    Hal serupa terjadi, sebagaimana dicatat dalam Yohanes 8:48, saat orang-orang Yahudi mengidentikkan Tuhan Yesus sebagai orang Samaria, ia dikatakan sebagai orang yang kerasukan setan. Pengaitan yang orang Yahudi lakukan atas ‘orang Samaria’ dengan ‘kerasukan setan’ itu memang merupakan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu orang Israel (kerajaan utara) yang dahulu jatuh ke dalam penyembahan terhadap berhala dari berbagai bangsa.
     
    Kini, dalam Yohanes 4:9, perempuan Samaria itu menempatkan dirinya sebagai orang yang tertindas oleh orang Yahudi. Jadi pada pihak orang Yahudi maupun orang Samaria telah sedemikian lama terbentuk image yang buruk di antara mereka tentang satu sama lain. Inilah yang Yohanes maksudkan dengan ”tidak bergaul” itu.
     
  • Ayat 10
     
    Perempuan Samaria itu menempatkan dirinya di dalam suatu “kisah” yang rumit, suatu konflik historis yang panjang. Akan tetapi Tuhan Yesus tidak membiarkan dirinya terperangkap di dalam kerumitan itu. Atas perkataan perempuan itu Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai “air hidup.” Pada ayat 11 perempuan itu berkata kepada Tuhan Yesus: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?” Tuhan Yesus berbicara tentang diri-Nya sebagai sumber dari “air hidup,” sedang perempuan itu berbicara tentang sumur Yakub dan kedalamannya, yang telah diturunkan kepada mereka dari generasi ke generasi, sehingga tanpa timba tidak mungkin seseorang dapat mengambil air dari dalamnya. Perempuan Samaria itu tidak mengerti apa maksud Tuhan Yesus.
     
    Ayat 12 menyatakan kerumitan yang sesungguhnya dialami perempuan itu. “Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” Rupanya bagi orang Samaria Yakub, yang memberikan sumur itu kepada mereka, adalah sedemikian besar. Perempuan tersebut sekarang memperhadapkan Tuhan Yesus yang adalah “air hidup” dengan Yakub, bapa leluhur, yang menurunkan sumur dengan air yang terbatas itu kepada Israel. Kerumitannya memahami apa yang sesungguhnya Tuhan Yesus maksudkan semakin besar. Jadi, siapakah yang sesungguhnya membutuhkan pertolongan, Tuhan Yesus atau perempuan Samaria itu?
     
  • Ayat 13 & 14
     
    Untuk menolong perempuan Samaria itu Tuhan Yesus membukakan dua hal penting berikut ini:
  • Sumur Yakub itu menghasilkan air hanya pada musimnya, itu sebab ada waktunya sumur itu tidak menghasilkan air, sehingga mereka yang minum dari padanya akan haus lagi (ayat 13).
     
  • Sebaliknya, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumur yang terus menerus memancarkan air hidup sampai kepada hidup yang kekal, sehingga barangsiapa meminum air yang Ia berikan itu tidak akan haus untuk selama-lamanya (ayat 14).
 
Apa yang Alkitab ajarkan tentang Tanah Perjanjian berdasarkan Yohanes pasal 4
 
Dari beberapa ayat di dalam Yohanes pasal 4 tersebut kita melihat bahwa dengan mengidentifikasikan diri-Nya sebagai air hidup Tuhan Yesus mengajarkan beberapa hal penting di dalam kita memahami tanah perjanjian:
 
  1. Penyataan Tuhan Yesus akan diri-Nya sebagai “air hidup” kepada perempuan Samaria itu merupakan pengidentifikasian diri-Nya sebagai mata air kehidupan yang sesungguhnya. G. K. Beale mengatakan:
     
     
    … Jesus’ offer of ‘living water’ to the Samaritan woman should be viewed as another reference to him being the beginning form of the true temple from which true life in God’s presence proceeds. / … ditawarkannya ‘air hidup’ oleh Yesus kepada perempuan Samaria itu harus dipandang sebagai pengidentifikasian diri-Nya sebagai bentuk awal dari bait suci yang sesungguhnya, yang dari padanya hidup sejati di dalam hadirat Tuhan memancar. (G. K. Beale, “The Temple and the Church’s Mission: A Biblical Theology of the Dwelling Place of God,” Downers Grove: Inter Varsity Press, 2004, p. 196).
     
 
Maksud G. K. Beale adalah:
 
  • Dahulu, di dalam Eden yang pertama, memancar mata air yang menjadi sumber aliran sungai yang memberi kehidupan bagi mereka yang hidup di dalamnya.
     
  • Kini, Yesus sendiri hadir, sebagai sumber dari “air hidup” yang kekal itu, sesuatu yang telah lama dinanti-nantikan oleh Israel Perjanjian Lama. Perhatikan kerinduan Israel Perjanjian Lama akan “air hidup” itu:
 
  • “… ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur; …” (Yehezkiel 47:1).
     
  • “sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. …” (Yehezkiel 47:9).
     
  • “… sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. …” (Yehezkiel 47:12).
     
  • “… mata air akan terbit dari rumah Tuhan dan akan membasahi lembah Sitim.” (Yoel 3:18).
     
  • “Pada waktu itu akan mengalir air kehidupan dari Yerusalem; …” (Zakharia 14:8).
 
  1. Sumur Yakub di Sikhar itu sesungguhnya merupakan bayang-bayang mata air kekal yang memberikan kehidupan kepada Israel. Konsep “air hidup” yang pada hakekatnya melampaui pengertian fisik merupakan hal yang telah lama dikenal dalam masa Perjanjian Lama. Herman Ridderbos mengatakan: “What is referred to here as “living water” is already present in the Old Testament portrayal of what the people in their distress desired from God, and that not only in a physical sense (cf. Pss. 23:2ff; 36:8; Is. 12:3, etc.): one reads of “thirst for God” (Ps. 42:1) and of God as the “fountain of life” (Ps. 36:9, Jr. 2:13: “the fountain of living waters”); the salvation of the Lord is offered as waters for those who are thirsty (Is. 55:1ff.) as contrasted with that which only temporarily quenches thirst.” (Herman Ridderbos, “The Gospel of John: A Theological Commentary,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1997, p. 157).
 
Jadi sumur Yakub itu ada bukan demi keturunan jasmani Yakub sendiri. Ia memang ada untuk memelihara kehidupan keturunan Yakub, akan tetapi lebih penting dari itu sesungguhnya ia merupakan perlambang dari mata air kekal yang kelak akan datang di dalam penyataan diri Tuhan Yesus.
 
Perbandingan dengan Yohanes pasal 7
 
Dalam Yohanes pasal 7 di mana Tuhan Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai bentuk awal dari bait suci yang baru Tuhan Yesus juga mengajarkan beberapa hal penting di dalam kita memahami tanah perjanjian:
 
  1. Yohanes 7:37
Tuhan Yesus berkata “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!”. Yohanes mencatat bahwa peristiwa ini terjadi “pada hari terakhir” (maksudnya: hari ketujuh), yang adalah “puncak perayaan itu,” yaitu perayaan Pondok Daun. Pada hari terakhir perayaan Pondok Daun orang Yahudi menimba air dari kolam Siloam dan mencurahkannya di bait Allah sesudah enam prosesi yang dilakukan di sekeliling altar korban bakaran. Dengan setting seperti ini Tuhan Yesus memaksudkan bahwa pencurahan air kolam Siloam di bait Allah pada puncak perayaan Pondok Daun itu melambangkan kelimpahan aliran mata air eskatologis yang menyelamatkan dan yang memancar dari dalam diri-Nya sebagai bait Allah yang sesungguhnya.
 
 
It symbolized not only, as a harvest ritual, the hope and prayer for the rain and fruitfulness, but also, in connection with this, the eschatological hope of wells of salvation overflowing with abundance. / Ia (maksudnya: perayaan Pondok Daun) bukan hanya melambangkan suatu upacara panen hasil, menaikkan permohonan dan doa demi datangnya hujan dan keberbuahan tanah itu, tetapi juga, sehubungan dengan hal ini, melambangkan suatu pengharapan eskatologis akan mata air - mata air keselamatan yang mengalir dengan berkelimpahan. (Herman Ridderbos, “The Gospel of John: A Theological Commentary,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1997, p.272).
 
 
  1. Yohanes 7:38
Selanjutnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa hanya dari dalam hati mereka yang percaya kepada-Nya “akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Air hidup yang keluar dari sumbernya untuk dicurahkan pada hari Pondok Daun itu merupakan gambaran dari pembaruan dan revitalisasi atas bait Allah yang lama itu. Dengan demikian Tuhan Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia sendiri adalah pancuran mata air penyegar dan pemberi hidup yang eskatologis itu. Ia adalah bait suci yang baru, sumber dari aliran-aliran air hidup itu.
 
Jelas bahwa di sini Tuhan Yesus sedang menyingkapkan diri kepada pendengar-pendengarnya sebagai penggenapan atas bait Allah. Bait Allah yang orang-orang Yahudi lihat pada saat itu merupakan bentuk awal dari bait Allah seluas kosmos yang kepenuhannya kelak berpuncak pada Tuhan Yesus sendiri. Jadi bangunan bait Allah itu ada bukan demi orang Yahudi dan keyahudian itu sendiri.
 
Benarkah dengan berada di sana kita lebih dekat dengan Tuhan?
 
Sepanjang jaman banyak orang telah merindukan untuk beperjalanan ke tanah Alkitab tersebut. Mereka beperjalanan jauh ke sana oleh karena secara alamiah tanah tersebut memang terhubung dengan peristiwa-peristiwa di dalam Alkitab. Akan tetapi sepanjang sejarah pula motivasi banyak orang pergi ke sana telah berubah menjadi keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Inilah yang O. Palmer Robertson sebut dengan perspektif peziarah (the pilgrim perspective). Ia mengatakan:
 
 
Even in the twentieth century, professing Christians travel halfway around the world to be “rebaptized” in the Jordan River, assuming that somehow this water has a greater capacity for cleansing from sins than any other. A yet more subtle version of this same view supposes that a pilgrimage to the land of the Bible will remove the soul’s haze and give a clear vision of the person of Christ. / Bahkan di dalam abad keduapuluh ini, orang-orang Kristen beperjalanan melewati belahan dunia untuk “dibaptis ulang” di Sungai Yordan, berpandangan bahwa air sungai itu mempunyai kapasitas lebih besar dalam pembasuhan dosa ketimbang semua yang lain. Satu versi yang lebih licik lagi mengenai pandangan ini mengatakan bahwa perjalanan ziarah ke tanah Alkitab itu akan menghapuskan kekalutan jiwa serta memberikan suatu penglihatan yang jelas akan Kristus. (O. Palmer Robertson, “Understanding the Land of the Bible: A Biblical-Theological Guide,” Philipsburg: Presbyterian & Reformed Publishing Company, 1996, p. 137).
 
 
Alkitab sama sekali tidak pernah mengajarkan adanya berkat khusus bagi orang-orang berdosa oleh sebab ia telah beperjalanan ke sana. Hanya iman kepada Yesus Kristus yang dapat memperdamaikan kita, sebagai orang berdosa, dengan Allah. Perspektif peziarah seperti ini justru mempertanyakan kecukupan pengorbanan Tuhan Yesus demi pendamaian kita dengan Allah.
 
Benarkah bahwa Yerusalem adalah lokasi kedatangan Kristus kedua kali nanti?
 
Satu pandangan lagi yang sejalan dengan Zionisme Yahudi adalah perspektif milenial Kristen (the millenial perspective) mengenai prospek masa depan tanah Alkitab itu, sebagaimana dikatakan O. Palmer Robertson:
 
 
One of the classic forms of this view sees a day coming when, in faithfulness to his promises to Israel, God will restore the Jews to Palestine and establish an earthly Jewish kingdom under the domain of the Messiah. It is proposed that this universal kingdom with its center in Jerusalem will be characterized by an enforced peace. / Satu dari bentuk-bentuk klasik pandangan ini menantikan datangnya satu hari dimana Tuhan dalam kesetiaan terhadap janji-janjinya kepada Israel akan mengembalikan orang-orang Yahudi ke tanah Palestina serta menegakkan suatu kerajaan Yahudi di bawah pemerintahan sang Mesias. Dikatakan oleh mereka bahwa kerajaan universal Yahudi ini dengan pusat pemerintahannya di Yerusalem akan dicirikan dengan suatu perdamaian yang ditegakkan. (O. Palmer Robertson, “Understanding the Land of the Bible: A Biblical-Theological Guide,” Philipsburg: Presbyterian & Reformed Publishing Company, 1996, p. 140).
 
 
Pendeskripsian Yerusalem yang dipulihkan dalam nubuat nabi-nabi Perjanjian Lama, seperti dicatat dalam Yeremia 29:10 dan Yehezkiel 37:11-14 itu, mengantisipasi suatu Yerusalem baru yang turun dari sorga dalam suatu kesempurnaan figuratif dan akan berlangsung selama-lamanya. Kelemahan pandangan milenial ini adalah ia membangkitkan suatu pengharapan bagi orang Yahudi akan berkat khusus Tuhan yang di dalam berkat itu tanah tersebut akan menjadi milik mereka dimana orang-orang percaya dari berbagai bangsa lainnya tidak turut berbagian untuk mewarisinya. Hal itu jelas tidak sesuai dengan apa yang Alkitab ajarkan.
 
Pandangan Alkitab Perjanjian Baru tentang Tanah Perjanjian
 
Alkitab Perjanjian Baru dengan jelas mengajar kita bahwa janji Tuhan kepada Abraham itu harus dipahami dalam perspektif kosmis. Roma 4:13 menyatakan dengan jelas bahwa bapa leluhur, Abraham, merupakan ahli waris atas seluruh kosmos. Seluruh semesta ciptaan ini akan menjadi miliknya. Bukan saja keturunan Abraham akan sebanyak bintang di langit, ia dan keturunannya dikatakan akan mewarisi bintang-bintang itu. Alkitab mengajarkan bahwa Abraham “menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun Allah” (Ibrani 11:10). Dengan demikian Abraham tidak mengarahkan matanya semata-mata kepada kepemilikannya akan Kanaan yang telah ia antisipasi sejak awal. Ia menatap lebih jauh ke depan, kepada suatu dunia yang dasarnya dibangun oleh Tuhan sendiri, suatu langit dan bumi yang baru yang akan berlangsung selama-lamanya. Jadi, jauh melampaui pengembaraan mereka di tanah Kanaan, Abraham serta bapa leluhur lainnya “merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi” (Ibrani 11:16).
 
Dengan demikian tanah di dalam janji teritorial Tuhan kepada Abraham itu harus dipahami demikian: pertama-tama sebagai model bagi kita dalam membangun pemahaman yang benar akan teks Alkitab; kedua sebagai suatu miniatur dari seluruh kosmos yang berdasarkan janji Tuhan itu kelak akan juga menjadi milik kita selaku pewaris-pewaris janji itu di dalam Kristus. “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi,” (Matius 5:5). O. Palmer Robertson menyebut ini sebagai perspektif pembaruan (the renewal perspective).
 
Bagaimana orang Kristen masa kini seharusnya memandang tanah itu
 
Saat ini kita tidak lagi dipanggil untuk mengarahkan mata kita ke lokasi geografis tanah di pinggir laut Tengah itu. Sekalipun demikian kita tetap mengakui bahwa hingga kini tanah itu tetap memberikan suatu kontribusi besar kepada pertumbuhan kerajaan Kristus di dunia moderen ini. Ia tetap mencerahkan dan mendramatisasikan kebenaran-kebenaran kekal Alkitab itu kepada kita. Ia tetap menginspirasikan kita kecintaan yang dalam akan Firman Tuhan serta menolong kita memahami rencana kekal Tuhan akan keselamatan dan penebusan.
 
Setelah bangkit dari kematian-Nya Tuhan Yesus berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Klaim Tuhan Yesus itu menginaugurasi tanah dalam janji teritorial Tuhan ini memasuki suatu era yang baru di mana batas-batas teritorialnya kini telah diperluas hingga seluas kosmos, sebagaimana dimaksud Paulus dalam Roma 4:13.
 
Penutup
 
Panggilan kita sekarang sehubungan dengan tanah itu adalah bekerja untuk berbagian mengabarkan injil Kristus serta mengembalikan klaim-klaim di dalam kosmos ini kepada Tuhan kita, pemilik sesungguhnya seluruh semesta ini. Dipimpin oleh Firman Tuhan setiap kita dipanggil untuk mengerjakan tugas mulia itu menurut apa yang menjadi bagian kita masing-masing.
 
Demikian pula dengan Persekutuan Studi Reformed. Ia juga merupakan perluasan dari “tanah” itu. Ia merupakan wadah dimana di dalamnya setiap kita boleh hidup untuk saling menguatkan dan menghibur dalam bekerja hingga datangnya Yerusalem yang baru itu.
 
[ Jessy Victor Hutagalung ]
Persekutuan Studi Reformed
Jakarta, 22 Juni 2009