Yosua, Yerikho dan Tanah Perjanjian
_oOo_
 
Pengantar
 
Tanah perjanjian yang sekarang ini ramai diperbincangkan dan sedang terus diperebutkan oleh dua negara, Israel dan Palestina, merupakan suatu tempat yang fenomenal. Oleh sebagian orang Kristen ia dilihat sebagai satu tempat untuk beribadah dan sampai-sampai jutaan orang Kristen harus mendatanginya untuk dibaptis seperti Tuhan Yesus dibaptis. Memang dari segi historis, di tanah tersebut terdapat berbagai tempat (desa, kota, sungai dan sebagainya) yang berkaitan langsung dengan penulisan di Alkitab. Apabila kita ada di sana, kita seakan-akan dapat membayangkan peristiwa-peristiwa yang ada di dalam Alkitab.
 
Dari Alkitab, tanah perjanjian ini memiliki banyak ciri dan sebutan seperti:
 
  1. Negeri yang berlimpah susu dan madunya, tanah yang permai di antara semua negeri (Yehezkiel 20:6).
     
  2. Negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung (Ulangan 8:7).
     
  3. Tanah yang permai (Daniel 8:9; 11:16).
     
  4. Negeri kesukaan (Maleakhi 3:12).
     
  5. Negeri yang indah (Mazmur 106:24).
     
  6. Milik pusaka yang paling permai dari bangsa-bangsa (Yeremia 3:19).
 
Pendahuluan
 
Melalui tulisan ini penulis mengajak kita merenungkan janji Tuhan kepada Yosua dalam merebut tanah Kanaan, tanah perjanjian, melalui infiltrasi Yosua memimpin bangsa Israel masuk ke kota Yerikho.
 
Materi Pembahasan
 
Dalam kitab Yosua pasal 1 ditulis demikian:
 
 
Yosua 1:2-6
“Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semua itu akan menjadi daerahmu. Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka”.
 
 
Dalam hal ini, kita melihat bagaimana sebelumnya Tuhan telah mempersiapkan Yosua memimpin Israel masuk ke dalam tanah Kanaan, sebagai pengganti dari Musa yang sudah mati pada saat itu. Menyeberangi sungai Yordan merupakan suatu hal yang secara geografis cukup berat pada saat itu. Namun demikian, Tuhan telah berjanji sebelumnya untuk memberikan suatu negeri kepada Abraham dan keturunannya. Itu sebab Tuhan memanggil Musa untuk mempersiapkan hal itu dan kemudian secara riil digenapi melalui Yosua. Yosua diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam tanah yang dahulu Tuhan telah janjikan kepada pendahulu-pendahulunya yang belum secara riil memasukinya. Dalam hal ini konsep already dan not yet juga dilewati oleh Yosua. Perhatikan janji Tuhan kepada Yosua yang sebelumnya juga diberikan kepada Musa seperti tertulis dalam Ulangan 11:24 berikut ini: “Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya: mulai dari padang gurun sampai gunung Libanon, dan dari sungai itu, yaitu sungai Efrat, sampai laut sebelah barat, akan menjadi daerahmu.”
 
Janji Tuhan yang berlanjut kepada Yosua sebagai pengganti Musa itu menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan terus berjalan secara konsisten. Kalimat Tuhan dalam ayat 5 menunjukkan bahwa Tuhan menguatkan dan memberi jaminan agar Yosua dapat menjalankan dan menyelesaikan misi yang Tuhan berikan sebelumnya kepada Musa, seperti dalam Ulangan 7:24: “Raja-raja mereka akan diserahkan-Nya ke dalam tanganmu, sehingga engkau menghapuskan nama mereka dari kolong langit; tidak akan ada yang dapat bertahan menghadapi engkau, sampai engkau memunahkan mereka.” Ayat ini secara tidak langsung menyatakan adanya perlawanan jahat yang akan dihadapi Yosua pada masa yang akan datang. Akan tetapi dengan pertolongan Tuhan Yosua akan tidak lebih dan tidak kurang dari Musa. Yosua menjadi alat Tuhan untuk menyatakan kuasa Tuhan dalam setiap peperangan yang dihadapinya. Ada garansi penyertaan dan kemenangan yang Tuhan berikan dalam menggenapi rencana-Nya.
 
Seperti Musa yang sudah Tuhan pakai dan sudah mengerjakan bagiannya sekarang Tuhan menguatkan Yosua dalam melaksanakan tugas yang ada di pundaknya. Ia merupakan agen yang akan menghasilkan buah perjanjian yang Tuhan Allah tegakkan dengan nenek moyang mereka. Tanah yang dahulu telah Tuhan janjikan kepada nenek moyang Yosua akan segera mereka dan anak cucu mereka diami. Israel akan mewarisi tanah yang Tuhan janjikan itu. Hal ini memiliki signifikansi teologis. Itu sebab rasul Petrus menuliskan tujuan keselamatan kita yaitu “untuk menerima suatu bagian yang tidak binasa, yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu” (I Petrus 1:4). Dengan demikian kita melihat adanya kesinambungan pesan teologis antara mewarisi tanah dengan mewarisi kerajaan sorga.
 
Kota Yerikho
 
Perjalanan kepemimpinan Yosua dalam membawa Israel memasuki tanah perjanjian diawali dengan menyeberangi sungai Yordan dan melewati kota Yerikho. Yerikho merupakan lokasi yang strategis untuk menduduki tanah yang Tuhan janjikan itu. Yerikho adalah kota yang sangat terlindungi dari musuh oleh karena temboknya yang kokoh dan tinggi sehingga sangat sulit bagi musuh untuk masuk dan merebut kota itu. Itu sebab untuk dapat merebut Yerikho beberapa hal harus dilakukan:
 
  1. Yosua mengutus dua orang untuk mengintai kota Yerikho
     
    Hal yang sama juga Musa lakukan sebelum memasuki Kanaan yaitu dengan mengutus Yosua dan Kaleb untuk melihat titik lemah lawan. Demikian kini Yosua mengutus dua orang untuk melihat kekuatan lawan di sana sebelum memasuki dan merebutnya. Yang menarik adalah adanya seorang perempuan sundal yang bernama Rahab yang menyelamatkan dua orang pengintai ini oleh karena imannya. Itu sebab Tuhan menghitung perbuatannya sehingga ia tidak turut serta dimusnahkan. Rahab mempertaruhkan nyawanya demi dua pengintai tersebut. Dia telah mendengar bagaimana Tuhan Allah Israel membuat air sungai Nil terbelah untuk dapat diseberangi. Apa yang ia dengar sungguh-sungguh membukakannya akan siapa Tuhan, Allah Israel itu.
     
  2. Menyeberangi sungai Yordan
     
    Penyeberangan sungai Yordan tidaklah semudah yang dibayangkan. Yosua menyadari bahwa yang terpenting bagi Israel adalah hidup mengikuti apa yang Tuhan perintahkan. Itu sebab ia meminta kaum Lewi hidup kudus sebelum mereka menyeberangi sungai Yordan. Pada waktunya, para imam yang mengangkat tabut perjanjian masuk ke dalam sungai Yordan dan berdiri di tengah-tengahnya, sehingga air sungai Yordan terbelah dua dan orang Israel kemudian dapat menyeberanginya. Setelah orang Israel selesai barulah para imam boleh meninggalkan sungai Yordan dengan tetap membawa tabut perjanjian tersebut. Dapat kita bayangkan betapa beratnya tugas yang harus dipikul oleh para imam menunggu seluruh orang Israel, yang jumlahnya ribuan itu, menyeberangi sungai Yordan. Kalau bukan Tuhan yang memberi kekuatan tidak mungkin para imam dapat melakukannya.
     
  3. Membuat dua belas batu peringatan di Gilgal
     
    Dua belas batu peringatan melambangkan dua belas suku di dalam bangsa Israel yang telah merasakan keajaiban perbuatan Tuhan dalam hidup mereka saat menyeberangi sungai Yordan melalui tanah yang kering, sebagaimana halnya dahulu Tuhan telah mengeringkan laut Teberau saat menyelamatkan Israel keluar dari Mesir. Jadi kedua belas batu peringatan tersebut merupakan peringatan atas pekerjaan Tuhan dalam kehidupan Israel. Melalui batu peringatan itu semua orang diingatkan kekuatan tangan Tuhan yang telah memimpin mereka.
     
  4. Penyunatan dan perayaan Paskah di Gilgal
     
    Tuhan memerintahkan Yosua untuk menyunat semua laki-laki yang keluar dari Mesir dan akan memasuki Yerikho. Penyunatan tersebut merupakan tanda penghapusan cela mereka di Mesir saat nenek moyang Israel tidak mau tunduk akan perintah Tuhan pada saat itu.
     
  5. Panglima balatentara Tuhan
     
    Adanya panglima balatentara Tuhan semakin menguatkan Yosua ketika ia melayangkan pandangnya ke kota Yerikho untuk segera masuk dan merebut kota itu.
 
Kejatuhan kota Yerikho kepada tangan Yoshua disebabkan karena:
 
  1. Tuhan sudah memberikan kota itu kepada Yosua untuk ditaklukkan.
     
  2. Yosua mengikuti pimpinan yang Tuhan berikan.
     
  3. Bangsa Israel mengepung kota Yerikho sebagaimana Tuhan perintahkan.
 
Ketika kota Yerikho jatuh ke tangan Yosua seisi kota itu dihancurkan kecuali rumah Rahab, yang beriman kepada Tuhan dan menyatakannya dengan menyembunyikan dua pengintai utusan Yosua itu. Semuanya hancur dan tidak ada yang tersisa bagi orang-orang di sana.
 
Jatuhnya kota Yerikho ke dalam tangan Yosua mengingatkan kita bagaimana Tuhan juga berperang bagi umat-Nya dalam menggenapi rencana-Nya hingga pada akhirnya nanti. Sebagaimana halnya Tuhan menggenapi janji teritorial Israel, demikian pula dengan penggenapan akan langit dan bumi yang baru.
 
Peperangan yang Yosua kerjakan merupakan bayang-bayang dari peperangan Kristus. Dalam operasi tempur di Yerikho Tuhan tampil sebagai pemimpin sesungguhnya. Tidak satu pun tentara Israel telah menghancurkan tembok kota itu. Hanya oleh karena Tuhan berkenan atas ibadah Israel, kota itu jatuh ke tangan mereka. Pasukan Israel hanya diam menunggu intruksi. Para imam dengan memegang tabut perjanjian membunyikan tujuh terompet. Di gunung Sinai terompet menggambarkan kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Di Yerikho tabut perjanjian menggambarkan kehadiran Allah dan bunyi terompet mengumumkan kehadiran Allah yang akan segera menjalankan penghakiman.
 
Setiap hari selama enam hari dengan sungguh-sungguh seluruh prajurit mengelilingi kota Yerikho satu kali. Pada hari ketujuh semua prajurit mengelilingi kota itu sebanyak tujuh kali dengan tujuh orang imam membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Ketujuh imam tersebut meniupkan sangkakala itu sebanyak tujuh kali. Pada saat sangkakala berbunyi panjang, seluruh bangsa bersorak keras atas perintah Tuhan lewat Yosua, sehingga robohlah tembok kota itu dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan. Pedang yang digunakan Israel adalah alat semata, kemenangan Israel adalah pekerjaan Tuhan sendiri.
 
Kesimpulan
 
Penaklukan di Yerikho merupakan simbol kemenangan Tuhan, sebagai pemimpin perang suci. Yosua adalah perlambang dari Yesus Kristus yang kelak akan datang sebagai raja dan pemimpin perang untuk membebaskan umat-Nya.
 
Peran Yosua sebagai pemimpin perang umat Tuhan merupakan perlambang dari apa yang kelak kelak Tuhan Yesus kerjakan di kemudian hari sebagai pemimpin Israel rohani. Sebagai pemimpin umat Tuhan, Kristus adalah Tuhan yang diurapi, Anak Daud, yang menjadi penyelamat dan yang melahirbarukan anak-anak Tuhan. Dua hal yang Tuhan Yesus genapi dalam pelayanan perjanjian. Pertama, dia adalah Allah, pahlawan perang, yang datang untuk menyelamatkan milik kepunyaan-Nya. Kedua, Dia adalah pelayan Allah, Allah yang diurapi dan di dalam Dia ada kemenangan.
 
Di atas tanah yang Tuhan janjikan itu Yosua dan penerusnya, yaitu para hakim-hakim dan raja Israel, berjuang dalam pertempuran Allah berabad-abad lamanya. Perjuangan dan kemenangan mereka dicatat bukan untuk menggambarkan mereka sebagai militer yang genius, melainkan untuk menunjukkan bagaimana Tuhan menggunakan mereka untuk melahirbarukan Israel. Mereka adalah bayang-bayang pendahulu sebagai Penolong yang besar dan Penyelamat yang akan datang.
 
Penutup
 
Tanah perjanjian yang Tuhan janjikan kepada umat-Nya itu sudah sekian lama diperebutkan dan dipertahankan dalam berbagai kondisi sepanjang jaman Perjanjian Lama. Oleh karena berbagai hal ada waktunya teritori tanah itu mengecil. Akan tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah yaitu janji Tuhan dan penggenapannya bagi umat-Nya. Orang-orang yang mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan bersandar pada janji-Nya akan terus mendapatkan pengharapan dan berkat.
 
Sebagai umat perjanjian sudah sepatutnya setiap kita mengambil peran dan merelakan diri kita dipakai Tuhan dalam menggenapkan rencana-Nya melalui hidup kita. Bertumbuhlah dengan pemahaman Firman Tuhan yang benar dan layanilah Tuhan kita dengan segala potensi, keahlian dan keuangan yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Kiranya kita rela seluruh hidup kita berguna untuk memancarkan kasih setia Tuhan yang sudah menyelamatkan kita.
 
Selagi masih ada waktu, selagi masih ada kesempatan, mari kita kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar dengan berpikir sebentar lagi Tuhan akan datang dan kita akan bertemu muka dengan muka dengan Dia. Mari kita persembahkan seluruhnya bagi kemuliaan nama Tuhan.
 
[ Deby Adelina Hutagalung ]
Persekutuan Studi Reformed
Jakarta, 18 Juli 2009