Zionisme dan Persoalan Tanah Israel
_oOo_
 
Zionisme dan Persoalan Bangsa Yahudi
 
Zionisme adalah sebuah pandangan yang mengekpresikan akan kerinduan orang-orang Yahudi di seluruh dunia akan tanah air (homeland) mereka yaitu Tanah Israel. Harapan untuk kembalinya mereka ke tanah kelahiran mereka sudah ada ketika orang-orang Yahudi yang ada di dalam pembuangan di Babel mengingat Sion, tanah yang mereka rindukan. “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion”(Maz. 137:1). Sehingga ide Zionisme sesungguhnya sudah ada sejak lama, yang di dasarkan pada hubungan historis yang sangat kuat antara orang-orang Yahudi dan tanah itu sendiri. Munculnya Zionisme modern pada abad ke-19 mungkin tidak akan muncul sebagai pergerakan nasional tanpa adanya peristiwa Anti-Semit pada jaman itu, yang didahului dengan penyiksaan terhadap orang-orang Yahudi, yang kemudian pada tahun 1896 kelahiran Zionisme sebagai pergerakan politik muncul yang digagasi oleh seorang jurnalis bernama Theodor Herzl. Gerakan Zionisme modern ini muncul sebagai sebuah solusi atas persoalan Yahudi yaitu persoalan minoritas sebagai umat Yahudi yang terus mengalami penyiksaan. Ketiadaan tempat tinggal mereka sebagai komunitas Yahudi pada akhirnya membuat mereka harus terpencar ke berbagai negara, baik Eropa maupun Amerika. Maka solusi dari gerakan Zionisme atas persoalan bangsa Yahudi adalah membangun kembali akan sebuah negara Yahudi di atas tanah milik mereka sendiri, mengumpulkan kembali orang-orang Yahudi yang terbuang di berbagai negara untuk kembali kepada tanah nenek moyang mereka yaitu Tanah Israel, sehingga mereka dapat menentukan nasib mereka sendiri sebagai satu bangsa. Maka, inti dari gerakan Zionisme itu sendiri secara jelas nampak pada deklarasi berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948 yang menegaskan bahwa Tanah Israel adalah tempat kelahiran mereka dan melalui tanah itu kerohanian mereka, religiusitas dan identitas mereka dibentuk.
 
 
“The land of Israel was birthplace of the Jewish people. Here their spiritual, religious and political identity was shaped. Here they first attained to statehood, created cultural values of national and universal significance and gave to the world the eternal Book of Books.
 
After being forcibly exiled from their land, the people kept faith with it throughout their dispersion and never ceased to pray and hope for their return to it and for the restoration in it of their political freedom”
 
 
Namun berdirinya negara Israel yang menandai akan keberhasilan dari tujuan gerakan Zionisme ini memunculkan suatu ketegangan atas tanah yang mereka diami. Ketegangan antara bangsa Israel dengan bangsa-bangsa Arab yang terus berlangsung tidak lepas dari semangat Zionisme yang dipelopori oleh Theodor Herzl. Sehingga konflik yang muncul atas tanah yang mereka diami sesungguhnya membawa kepada persoalan bangsa Yahudi yang tidak akan pernah terselesaikan, karena bagi orang Yahudi dengan landasan semangat Zionisme mereka mengklaim bahwa tanah yang mereka diami adalah milik sah ras Yahudi. Dengan landasan pemikiran ini, maka persoalan Yahudi khususnya persoalan Tanah Israel tidak akan pernah dapat terselesaikan yang pada akhirnya akan membawa penderitaan bagi bangsa Yahudi itu sendiri. Untuk itulah Martin Buber memandang bahwa Zionisme di dalam kekuatan politik, yaitu melalui kekuatan secara fisik dari sebuah negara tidak akan dapat menyelesaikan persoalan atas tanah Yahudi itu. Hal itu hanya dapat diselesaikan melalui gerakan Zionisme secara etika. Maka persoalannya sekarang adalah “Apakah sesungguhnya perspektif gerakan Zionisme atas Tanah Israel?”. “Benarkah Tanah Perjanjian itu hanya berhenti pada Israel?” dan “Benarkah gerakan Zionisme ini dapat menjadi solusi yang paling tepat atas persoalan Yahudi mengenai tanah yang mereka diami?”.
 
Perspektif Zionisme Atas Tanah Israel
 
“Bagaimanakah Zionisme memandang Tanah Israel dari perspektif masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang?” Pertanyaan ini menjadi dasar dari gerakan Zionisme di dalam visi mereka untuk kembali kepada tanah nenek moyang mereka yaitu Tanah Israel.
 
Bagi Zionisme, tanah di masa lalu adalah sebuah padang belantara, tanah yang tidak berbentuk dan tidak menghasilkan. Kemudian orang Yahudi mengusahakan tanah itu dan menghasilkannya oleh karena mereka memiliki relasi yang khusus dengan tanah itu. Untuk alasan ini, maka beberapa pandangan Zionisme menegaskan bahwa hubungan yang ada antara orang Yahudi dan tanah itu seperti sebuah hubungan yang saling mencintai oleh karena adanya relasi yang begitu intim. Dengan demikian, sekalipun orang-orang Yahudi telah meninggalkan tanah itu ketika mereka mengalami pembuangan, bagi pandangan Zionisme tanah yang mereka tinggalkan itu tidak akan memberikan respon terhadap orang-orang atau bangsa-bangsa lain dikarenakan bangsa-bangsa lain tidak memiliki relasi yang sama dengan apa mereka miliki. Itu sebab, tanah itu tetap akan menunggu atau menanti pemiliknya untuk kembali yaitu Israel.
 
Kemudian pandangan Zionisme atas tanah masa kini lebih banyak dikondisikan pandangan masa lalu, yaitu menanti orang-orang Yahudi untuk kembali kepada tanah itu dan memenuhinya, menjadikan padang belantara berbuah kembali setelah beribu-ribu tahun mereka mengabaikannya. Mereka melihat bahwa tanah itu telah didiami oleh bangsa lain sekian lama. Akibatnya orang-orang Yahudi harus mengalami perasaan menjadi komunitas yang tidak lagi memiliki tanah dan mereka harus tercerai-berai dan menetap di berbagai negara. Bahkan orang-orang Yahudi di abad ke-19 harus mengalami peristiwa yang sangat pahit yaitu munculnya gerakan anti Yahudi (Anti Semit) dan peristiwa Holocoust. Oleh karena itu, berdirinya negara Israel pada tahun 1948 telah menumbuhkan pengharapan bagi orang Yahudi bahwa Tanah Palestina yang didiami bangsa lain akan menjadi milik mereka sepenuhnya untuk selama-lamanya. Itu sebab, tanah itu seharusnya dikembalikan kepada bangsa Israel sebagai pemilik yang sah. Hal ini didasarkan pada janji yang diberikan kepada Abraham bahwa tanah itu diberikan kepada Abraham dan keturunannya, yang kemudian seluruh tanah perjanjian itu diberikan sepenuhnya kepada Israel. Zionisme modern meyakini bahwa apa yang menjadi janji Tuhan kepada Abraham harus digenapi di dalam negara Israel modern. Tanah Israel bagi pandangan Zionisme merupakan warisan diberikan kepada mereka sebagai keturunan Abraham di mana Tuhan sudah memberikan janji tanah itu kepada Abraham dan keturunannya. Dengan pemahaman mereka sebagai keturunan Abraham, maka pandangan Zionisme melihat bahwa kepemilikan sah atas Tanah Israel hanya dipandang dari sisi ras yaitu dari keturunan Abraham. Dengan demikian, melalui hal ini Zionisme membawa perjanjian yang dahulu Tuhan Allah buat dengan Abraham ke dalam zaman modern ini untuk menetapkan negera mereka sendiri yang mana melaluinya mereka dapat menentukan tujuan mereka sendiri dan memulihkan hubungan historis yang begitu kuat antara orang Yahudi dan Tanah Israel itu sendiri, menentukan nasib mereka sendiri, menciptakan sistem politik dan memberikan keamanan bagi mereka dari penindasan bangsa lain di atas tanah yang mereka diami. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Holocoust dan gerakan Anti Semit (Anti Yahudi) yang telah membawa kesengsaraan bagi mereka.
 
“Bagaimanakah pandangan Zionisme terhadap tanah di masa yang akan datang?” Perspektif Zionisme terhadap tanah di masa yang akan datang menegaskan bahwa ide tentang tanah itu secara keseluruhan akan menjadi milik Israel. Ada 3 (tiga) kelompok Zionisme yang memahami perspektif tanah di masa yang akan datang yaitu: kelompok sosialis Zionisme, budaya Zionisme dan religius Zionisme. Kelompok pertama yakni sosialis Zionisme. Mereka memiliki sebuah visi bagi Yahudi yang baru, yaitu bahwa mereka datang ke tanah itu tidak hanya sebatas mengubah tanah itu tetapi juga mengubah mereka sendiri. Bagi mereka, Yahudi yang baru ini akan menjadi lebih kuat, lebih berani dan lebih aktif. Mereka akan bertanggung jawab untuk membawa dunia/tanah yang lebih baik bagi mereka sendiri dan bahkan bagi seluruh dunia. Mereka menjadi “mesias” bagi dirinya sendiri. Kelompok kedua yakni budaya Zionisme. Mereka menghadirkan sebuah model yang terbaik yaitu dengan memasukkan nilai-nilai tradisi sekularisme. Hanya melalui sebuah pemulihan nilai-nilai dan kelahiran kembali budaya itulah yang memungkinkan untuk menghadapi persoalan orang-orang Yahudi di jaman ini. Dan kelompok ketiga yakni religius Zionisme. Mereka memandang bahwa sebuah negara Yahudi hanya mungkin ada di tanah Israel karena Tuhanlah yang menghendaki dan itu menjadi bagian dari dunia di mana Tuhan menebus. Penebusan Yahudi hanya dimungkinkan terjadi di dalam kerangka sebuah negara Israel yang adalah bagian dari penebusan secara menyeluruh. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan dan keduanya merupakan bagian dari rencana Allah. Allah telah memberikan bangsa Yahudi tugas menebus dunia. Dari ketiga kelompok pandangan di atas, sekalipun mereka memiliki pandangan atau visi yang berbeda, akan tetapi mereka berusaha untuk menciptakan ide atau konsep tanah di masa yang akan datang dengan membawanya ke dalam suatu realitas yang riil yaitu penetapan kembali pemerintahan Israel secara politik di atas tanah itu.
 
Perspektif Kekristenan Mengenai Konsep Tanah
 
Pandangan Zionisme akan tanah yang mereka impikan hanyalah sebatas bentuk geografis atau teritorial yang dahulu pernah mereka miliki dan diami pada jaman nenek moyang mereka. Konsep tanah di dalam perspektif Zionisme hanya dibangun di atas perspektif Perjanjian Lama tanpa melihat hubungannya dengan Perjanjian Baru. Kekristenan yang dibangun di atas prinsip Alkitab memahami konsep tanah di dalam Perjanjian Lama melalui terang Perjanjian Baru. Itu sebab, di dalam Perjanjian Lama, wahyu yang datang dari Tuhan sering kali hanyalah sebuah bayang-bayang (shadow), gambaran (image), ataupun nubuatan (prophecy) dan kemudian pada Perjanjian Baru wahyu itu menemukan kepenuhannya di dalam realita dan substansi yang sesungguhnya. Jadi semua bayang-bayang, gambaran atau nubuatan yang berkenaan dengan tanah di dalam Perjanjian Lama mengantisipasi rencana Tuhan Allah yang tidak hanya berhenti pada Israel saja melainkan pada seluruh dunia yang kepenuhannya berpusat kepada Kristus Yesus Tuhan.
 
Dengan meniadakan hubungan atau korelasi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka Zionisme telah mengaburkan pemahaman konsep tanah di dalam Perjanjian Lama, secara khusus berkaitan dengan janji Tuhan kepada Abraham mengenai tanah perjanjian yang diberikan kepadanya dan keturunannya. “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:...” (Kej. 15:18). Bagi Zionisme, keturunan Abraham yang dimaksudkan sebagai pewaris negeri adalah Israel dan keturunan Abraham dipahami hanya menunjuk kepada satu keturunan yaitu Israel. Melalui keturunan itu maka Zionisme memahami kepemilikan tanah itu hanya diwarisi secara rasial dari keturunan Abraham. Bagi pandangan Kristen keturunan Abraham yang dimaksudkan di dalam Kejadian 15:18 tidak hanya menunjuk kepada satu keturunan yaitu Israel, akan tetapi juga menunjuk kepada bangsa-bangsa lain di luar Israel sebagai keturunan Abraham yang diberkati dan mewarisi negeri yang dijanjikan itu. Hal ini ditegaskan di dalam Kejadian 17:12-13 yang menyatakan bahwa baik mereka keturunan yang dilahirkan dari Abraham maupun mereka yang tidak dilahirkan dari Abraham yaitu mereka yang dibeli oleh Abraham, maka mereka semua akan menerima perjanjian yang kekal itu. Karena di dalam era yang baru nanti yaitu di dalam Kristus Tuhan, tidak akan ada lagi pembedaan orang Yahudi maupun non-Yahudi, tetapi mereka semua sama-sama akan menikmati berkat perjanjian itu. Dengan demikian, kriteria mengenai warisan tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham dan keturunannya tidak dapat dipahami secara rasial.
 
Dengan demikian, apa yang menjadi tujuan utama Tuhan Allah memberikan tanah itu kepada Abraham dan keturunannya adalah untuk menjadi berkat bagi semua bangsa. Seperti apa yang dikatakan Walter Bruggemann di dalam bukunya The Land: Place as Gift, Promise and Challange in Biblical Faith, “The promised of land is not designed to ”satisfy Israel’s self-interest” but is “God’s strategy to bring his goodness and righteousness to the rest of humanity”. Janji atas tanah itu tidak semata-mata hanya untuk Israel melainkan untuk membawa kebaikan dan kebenaran kepada umat manusia. Sehingga pengertian tanah di dalam aspek perjanjian Abraham tidak dapat dipisahkan dari konsep perjanjian (covenant). Hanya melalui perjanjian (covenant) itu yang nantinya digenapi di dalam Kristus Yesus Tuhan, keturunan Abraham yaitu semua bangsa boleh diberkati dan kembali menikmati hubungan yang dekat dengan Tuhan Allah di dalam relasi perjanjian Tuhan dengan umat perjanjian-Nya. Oleh karenanya, konsep tanah di dalam Alkitab boleh dipahami hanya sebatas wilayah yang menunjukkan luasnya tanah yang dijanjikan kepada Abraham di dalam Kejadian 15:18 “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:...,” akan tetapi janji itu masih harus menunggu kepenuhannya di dalam konsep langit dan bumi yang baru. Bagi Zionisme, mereka hanya melihat luasnya tanah yang dijanjikan itu hanya sebatas harafiah tidak secara figuratif oleh karena mereka melihat kepenuhan janji atas tanah itu di dalam konsep Israel modern. Tidak demikian dengan pandangan Kristen yang memandangnya secara figurafif, yaitu sebagai sebuah bayang-bayang dari janji yang akan Tuhan penuhi di dalam era yang baru.
 
Tanah yang dahulu Tuhan berikan kepada Israel bukan bersifat permanen melainkan bersyarat (conditional), sebab Tuhanlah sebagai pemilik sah atas tanah itu dan Israel hanya sebagai orang asing dan pendatang. “Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku” (Im. 15:23). Pemberian Tuhan atas tanah itu kepada Israel semata-mata hanya oleh karena kebaikan dan kemurahan-Nya. Sehingga ketika Israel berlaku tidak setia kepada Tuhan maka kepemilikan mereka atas tanah yang dahulu Tuhan berikan kepada mereka akan hilang. Jikalau Tuhan pernah mengatakan kepada Abraham bahwa Abraham dan keturunannya akan mewarisi negeri atau tanah yang dijanjikan itu untuk selama-lamanya (Kej. 17:8), maka kata “selama-lamanya” tidak dapat dipahami secara literal. Sebagai contoh di dalam 1 Tawarikh 15:2, 1 Tawarikh 23:13, 2 Tawarikh 33:7, maupun di dalam 2 Samuel 7:12-16 disebutkan ada kata “selama-lamanya,” maka pertanyaannya adalah apakah kata itu digenapi atau dipenuhi secara literal di bumi ataukah kata itu hanya bersifat figuratif yang nantinya di genapi di dalam Kristus Tuhan? Tentu saja bagi pandangan Kristen hal itu semua menuju kepada Kristus Tuhan sebagai puncak penggenapan dari janji Tuhan kepada Abraham dan keturunannya, namun tidak demikian dengan pandangan Zionisme yang meyakini bahwa negera Israel yang ada sekarang ini merupakan perwujudan dari janji itu.
 
Penutup
 
Betulkah Zionisme membawa pengharapan yang sejati bagi Israel yang ada sekarang ini dengan tanah yang mereka diami? Jikalau memang Zionisme membawa pengharapan sejati bagi Israel, mengapa penderitaan, perang dan konflik di atas tanah itu menjadi persoalan Yahudi yang tidak terselesaikan sejak mereka kembali ke tanah Israel? Kegagalan Zionisme untuk mengenali permasalahan yang muncul antara orang Yahudi dan bangsa Arab atas tanah yang mereka tempati tidak lepas dari kesalahan pandangan Zionisme mengenai konsep tanah (land), yang melihatnya hanya secara literal yaitu batasan-batasan wilayah dari tanah itu sendiri, tetapi tanah di dalam prinsip Alkitab tidak sekedar bicara mengenai space tetapi berkenaan dengan pekerjaan Tuhan di dalam sejarah penebusan (redemptive history) yang secara spiritual digenapi di dalam Kristus Tuhan. Di dalam sejarah penebusan, sesuatu yang dramatis telah terjadi yaitu dari sesuatu yang bersifat bayang-bayang (shadow) kepada sesuatu yang substansial. Jikalau tanah yang Tuhan janjikan di dalam Perjanjian Lama merupakan gambaran dari dikembalikannya taman Eden yang telah hilang itu, maka di dalam Perjanjian Baru penggenapan dari tanah itu meluas, di dalam pengertian langit dan bumi yang baru. Namun saat ini, kita orang Kristen masih menunggu kepenuhannya secara utuh atas langit dan bumi yang baru karena di situlah pengharapan kita, bukan lagi kepada tanah secara space yang dahulu pernah Tuhan berikan kepada umat-Nya. Biarlah kita, orang-orang Kristen yang sudah di dalam Kristus Tuhan terus mengerjakan pekerjaan Tuhan hingga kita menanti kepenuhannya secara penuh atas janji-Nya kepada mereka yang terus setia di dalam Kristus Tuhan.
 
[ Mulatua Silalahi ]
Persekutuan Studi Reformed
Agustus 2009