Tanah di dalam Pengajaran Rasul Paulus
_oOo_
 
Pendahuluan
 
Janji atas tanah yang diberikan Tuhan kepada Abraham menjadi tema utama dalam Alkitab terutama di dalam Perjanjian Lama. Israel memiliki tanah karena Tuhan Allah memberikannya untuk mereka. Pemberian tanah itu merupakan deklarasi janji Tuhan kepada nenek moyang Israel dan melalui tanah itu, Israel bergantung kepada Tuhan Allah. Pemberian tanah menjadi bukti hubungan antara Tuhan dan Israel.
 
Bagaimanakah tema tanah (land) dalam Perjanjian Baru? Tanah Palestina tidak lagi memiliki makna teologis apa pun di dalam Perjanjian Baru. Tanah Israel di dalam Perjanjian Baru tidak lagi menjadi jaminan bagi masa depan umat Allah. Tanah atau Yerusalem di dalam era yang lama menjadi pusat dari sejarah keselamatan, namun di dalam era yang baru tanah itu tidak lagi dinyatakan secara jelas karena di dalam Perjanjian Baru konsep tanah telah didefinisikan ulang, yaitu tanah tidak lagi berbicara sebatas wilayah teritorial (territorial space) melainkan wilayah rohani (spiritual space). Maka, di dalam surat Paulus pada Roma 9–11, Paulus berbicara mengenai masa depan Yahudi, akan tetapi sama sekali tidak disebutkan tentang Tanah Perjanjian. Paulus memperlihatkan bahwa segala sesuatu yang diterima Israel dari Allah sudah digenapi dan dipenuhi di dalam pribadi Kristus Tuhan, Sang Mesias (Rom. 9:4-5; 10:4).
 
 
Efesus 3:6
Yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.
 
 
Dalam Efesus 3:6, Paulus menyebutkan bahwa orang-orang bukan Yahudi (Gentiles) memiliki kedudukan yang sama untuk menerima warisan yang Tuhan Allah janjikan kepada Abraham, yaitu orang-orang bukan Yahudi, karena berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh sekaligus peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Istilah “warisan” yang Paulus katakan dalam Efesus 3:6 mengingatkan kita akan pola hubungan antara Allah, Israel dan tanah yang di dalamnya bangsa Israel dahulu memperoleh berkat dan keamanan atas tanah yang Tuhan Allah berikan. Jikalau dahulu tiap-tiap keluarga Israel menerima warisan sebidang tanah dan tidak satupun tanah tersebut tidak dibagikan. Melalui warisan tanah itu, secara ekonomi telah memberikan suatu kesempatan kepada orang-orang Israel untuk memiliki tempat pada tanah itu. Bagi orang-orang bukan Yahudi, mereka tidak memiliki pengharapan untuk menguasai dan memiliki tanah itu. Maka disini Paulus memakai istilah “warisan” dikaitkan dengan tema tanah di dalam Perjanjian Lama yaitu untuk memberikan gambaran bahwa warisan yang dahulu dikenakan pada tanah secara fisik dan diberikan kepada bangsa Israel sebagai keturunan Abraham, sekarang orang-orang bukan Yahudi sekalipun yang bukan keturunan Abraham telah beroleh warisan di dalam Kristus Yesus, bukan lagi tanah di dalam Perjanjian Lama tetapi warisan berkat keselamatan yang Tuhan Allah janjikan kepada umat-Nya. Israel yang lama menemukan keunikan akan kehadiran Allah dan warisannya di dalam tanah Kanaan, akan tetapi Israel yang baru menemukan kehadiran Allah di dalam Kristus Tuhan.
 
 
“Whereas old Israel found God’s unique presence and her inheritance in the Land of Canaan, the New Israel finds God’s unique presence in Jesus Christ and her eternal inheritance in her attachment to him”.
 
(Bruce K.Waltke with Charles Yu, “An Old Testament Theology,” Grand Rapids Michigan: Zondervan, 2007, p 578)
 
 
Kata “di dalam Kristus” menyatakan pemahaman akan penggenapan janji dari Perjanjian Lama. Teritorial atas tanah tidak lagi menjadi sesuatu yang penting dan tempat di dalam pengertian wilayah tidak lagi menjadi persoalan yang utama, karena paling penting dari semuanya itu adalah di dalam Kristus.
 
 
“For Paul all the Old Testament promises are now fulfilled and have become personalized in Christ. Territory is insignificant and place does not matter. All that is significant is “in Christ.” Thus, it is argued, the promises have been “deteritorialized...Paul’s interpretation of the promises is “a-territorial” because the promises have been “personalized” and universalized in Christ”.
 
(David E.Holwerda, “Jesus and Israel: One Covenant or Two,” Grand Rapids Michigan: Wm.B.Eerdmans Pubishing.Co, 1995, p 213)
 
 
 
Kolose 1:12 dan 3:24
“Dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.”
 
“Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah Tuan dan kamu hamba-Nya.”
 
 
Di dalam pengajaran para Rasul, tanah juga selalu dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat eskatologis melalui penggunaan kata “mewarisi” (to heritate), “negeri surgawi” (heavenly country) atau “pemulihan” (restoration of all things). Rasul Paulus memakai kata “mewarisi” untuk menekankan sesuatu yang akan diterima oleh mereka yang ada di dalam Kristus. Paulus tidak lagi mengaitkan eskatologis orang percaya dengan tanah, melainkan bagian atau warisan yang sudah ditetapkan Tuhan di dalam kekekalan. Di dalam Kolose 1:12 dan 3:24, Paulus mendorong orang-orang percaya di Kolose untuk selalu bersyukur kepada Bapa di sorga atas bagian yang telah ditentukan di dalam kerajaan terang dan mengingatkan mereka bahwa dari Tuhanlah mereka menerima bagian yang sudah ditentukan Tuhan sebagai upah. Maka ide tanah di dalam pengajaran Paulus dikaitkan dengan “warisan” atau “bagian” tidak lagi menjadi pusat pengharapan eskatologis bagi orang percaya. Pengharapan eskatologis orang percaya melampui batasan-batasan wilayah apa yang dahulu orang Israel nantikan yaitu warisan tanah yang dijanjikan kepada Abraham. Warisan atau bagian itu bukanlah lagi sesuatu yang bersifat fisik melainkan rohaniah yang tidak akan binasa untuk selamanya. Sebagaimana yang dinyatakan Paulus dalam Roma 4:13 bahwa keturunan Abraham tidak lagi mewarisi tanah (land) melainkan dunia ini (cosmos) melalui iman.
 
Penutup
 
Pengharapan sejati orang Kristen bukan lagi bertumpu pada tanah yang dahulu diberikan kepada Israel sebagai warisan pemberian Tuhan atas mereka, akan tetapi warisan atau bagian kita adalah di dalam Kristus Tuhan, yaitu sesuatu yang tidak binasa dan melampaui apa yang dulu orang Israel miliki atas sebidang tanah. Kiranya kita boleh semakin terus bersyukur ketika Tuhan Allah sudah memberikan bagian yang kekal itu dan ini menjadi dorongan bagi kita untuk tetap di dalam Dia.
 
[ Roma Uly Bertha Silalahi br. Pandiangan ]
Persekutuan Studi Reformed