PENGEKSPLOITASIAN TANAH :
PELANGGARAN TERHADAP “HARI SABAT ”
_oOo_
 
 
A.
Konsep pengelolaan tanah
dalam perkembangan pemikiran modern
 
Seringkali kita mendengar berita di media-media elektronik dan kita membaca berita di media–media cetak bahwa “sekitar tahun 2050 persediaan bahan bakar minyak bumi akan habis di negara Arab Saudi yang dikenal sebagai penghasil minyak terbesar di seluruh dunia.” Ada lagi yang mengatakan bahwa, “persediaan bahan baku alam atau sumber daya alam yang dihasilkan oleh tanah, cepat atau lambat akan habis.” Seperti teori ekonomi dari Malthus yang mengatakan bahwa, “manusia seperti derek hitung dan sumber–sumber daya alam seperti derek ukur.” Apakah ini dapat diartikan bahwa manusia akan terus-menerus bertambah sedangkan sumber daya alam semakin lama semakin habis?
 
Tuhan menciptakan segala isi dunia dan makhluk–makhluk hidup, seperti: tanah atau daratan, tumbuh-tumbuhan, binatang, lautan, dan manusia. Segala sesuatu yang Tuhan ciptakan baik adanya dan digunakan untuk kelangsungan hidup manusia bahkan sampai beranak cucu dan memenuhi bumi. Tetapi pada kenyataannya manusia dengan berbagai akal budi, kepintarannya, sifatnya, dan tubuhnya telah mengeksploitasi alam untuk kepentingan diri sendiri. Mereka tidak lagi memikirkan bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh alam jika terus dieksploitasi secara semena-mena, bagaimana nasib anak cucu mereka di masa mendatang, tetapi mereka hanya mementingkan bagaimana kepuasan mereka dapat terpenuhi sekarang ini tanpa memikirkan dampaknya terhadap diri mereka sendiri di masa yang akan datang.
 
Mengapa manusia begitu mudah untuk mengeksploitasi alam bahkan tidak mempunyai rasa sesal sedikitpun telah menguras banyak hasil tanah demi untuk kepentingan di masa sekarang? Pemikiran apakah yang menuntun mereka melakukan hal tersebut? Penulis akan menjabarkan mengenai bagaimana proses pelanggaran terhadap prinsip pengelolaan dan pemeliharaan tanah yang diajarkan oleh Firman Tuhan oleh pemikiran modern yang berkembang dari waktu ke waktu.
 
1)
Penaklukkan alam demi kemajuan ilmu pengetahuan (sains)
 
Salah satu pemikiran yang mempengaruhi manusia untuk menikmati pengeksplorasian alam, yang kemudian berujung pada pemberian legitimasi terhadap pengekploitasian alam adalah seorang warga Inggris dan perintis revolusi ilmu pengetahuan modern bernama Francis Bacon (1561-1626). Ia adalah pemikir pertama yang mempelopori upaya penjelajahan dan penemuan ilmu-ilmu pengetahuan praktis yang terkait dengan penguasaan alam dunia melalui metode observasi secara inderawi dan eksperimen. Sebelum Bacon ada, ilmu-ilmu pengetahuan dalam pengertian klasik dijadikan sebagai penyelidikan untuk memperoleh sebuah pemahaman sistematis dan abstrak tentang struktur universal dari dunia ini dan telah dikembangkan oleh para pemikir Yunani, Romawi Kuno dan para pemikir religi di Abad Pertengahan.
 
Menurut Bacon, di dalam pengkajian suatu ilmu, orang Yunani Kuno terlalu terpesona dengan masalah etis. Orang-orang Romawi terlalu terpesona dengan permasalahan-permasalahan hukum, dan orang-orang pada Abad Pertengahan terpesona oleh teologi. Mereka memperlakukan ilmu sebagai abdi teologi. Dan menurut Bacon, perlakuan tersebut dianggap keliru karena lewat ilmu, manusia seyogyanya betul-betul dapat memperlihatkan kemampuan kodratinya secara maksimal dalam mengelola alam.
 
Salah satu cara pandang utama Bacon yang mempengaruhi perkembangan pemikiran modern adalah dia menganggap manusia sebagai ukuran bagi segala-galanya, bahkan atas alam ini. Dia menekankan bahwa manusia harus berusaha sendiri memecahkan masalah-masalah hidupnya yang terkait dengan alam atau dunia yang dihuninya. Masalah-masalah itu tidak bisa dipecahkan dengan agama, melainkan hanya dengan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, timbullah ucapannya yang termasyhur “Knowledge is Power” atau “pengetahuan adalah kekuasaan.” Dengan pengetahuan yang dimiliki manusia, seharusnya manusia menggunakannya secara praktis untuk memajukan taraf kehidupannya lewat penguasaannya atas alam.
 
Secara tidak langsung, ia telah menggiring penjelajahan ilmu pengetahuan alam oleh manusia ke wilayah otonom yang terlepas dari nilai-nilai etis dan religi. Peranan Tuhan telah diasingkan dari yang relevan kepada yang hanya bersifat kultural. Sehingga dengan mengatasnamakan “pengembangan ilmu pengetahuan (sains)” dan “demi meningkatkan taraf hidup manusia yang lebih baik,” Bacon memberikan legitimasi bagi manusia modern untuk mengangkat dirinya menjadi “tuhan” atas alam, yang berhak dan bebas berbuat apa saja di dalam menaklukkan dan mengeksploitasinya.
 
2)
Pengembangan Sains untuk Memenuhi Hasrat Kepentingan diri Manusia
 
Menurut Bacon, manusia telah digerakkan oleh hasrat untuk meraih kekuasaan sampai tak terbatas, sebab ia hanya dikuasai oleh kepentingan-kepentingannya sendiri. Oleh sebab itu, ia berpendapat bahwa penggunaan akal pikiran manusia semestinya tidak diabdikan untuk ide-ide yang bersifat abstrak dan transendental seperti: masalah etika, moral, hukum, dan agama, melainkan harus diabdikan untuk hal-hal yang dapat dipraktekkan secara nyata oleh manusia di dunia demi memuaskan hasrat kekuasaannya yang tak terbatas itu. Dan Bacon melihat bahwa tanah atau alam sebagai sesuatu yang “mengekang dan mencengkram diri manusia” sehingga harus “ditaklukkan dan dijinakkan” oleh manusia jika ia ingin meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik. Maka dengan demikian, Bacon percaya bahwa perbuatan apa saja untuk menundukkan alam di bawah kendali manusia adalah sesuatu yang pasti bermanfaat untuk memenuhi hasrat kepentingan manusia di dunia.
 
3)
Kemajuan Sains Memicu Kemajuan Teknologi
 
Hasrat dan minat untuk memajukan ilmu pengetahuan atau sains sangatlah dominan di kalangan masyarakat di dunia barat, meskipun kurang diminati oleh masyarakat Indonesia. Dampak dari budaya berpikir masyarakat di dunia barat yang sangat menghargai pengembangan ilmu sains, berhasil mendorong kemajuan pesat dalam berbagai inovasi mesin yang canggih di bidang teknologi, yang pada akhirnya boleh dinikmati juga oleh bangsa kita.
 
Kemajuan ilmiah yang mendorong terjadinya kemajuan inovasi di bidang teknologi, membuat manusia modern semakin percaya diri atas kuasanya mengendalikan alam. Mesin teknologi diciptakan oleh manusia modern melalui pengembangan sains untuk memenuhi hasrat kekuasaan manusia yang tak terbatas atas alam. Akibatnya, manusia modern merasa tidak membutuhkan Tuhan lagi untuk menuntunnya dalam kehidupan di dunia ini karena sudah ada sains yang “mahatahu” dan kecanggihan teknologi yang “mahakuasa” untuk menuntun kehidupan manusia ke arah yang lebih “maju”. Contohnya, bila manusia ingin memahami fungsi tubuhnya, maka dibuatlah peralatan canggih yang dapat mendiagnosa organ tubuh manusia. Bila manusia ingin hidup lebih lama, maka dibuatlah obat-obatan dan vaksin yang canggih. Bila manusia ingin hidup tepat waktu, maka dibuatlah arloji. Dan bila manusia menginginkan sesuatu dari hasil kekayaan dari tanah secara cepat dan tidak membutuhkan waktu yang lama, maka dibuatlah alat untuk menguras hasil kekayaan tanah tersebut secara masif dan cepat, baik itu kekayaan dalam bentuk minyak bumi, gas bumi, emas, perak, nikel, dan lain sebagainya. Dengan bantuan peralatan teknologi yang mampu menguras kekayaan sumber daya alam tersebut secara masif dan efisien, maka hasil keuntungan dari penjualan sumber daya alam tersebut dapat cepat diraih sehingga modal dapat ditingkatkan, dan pengusaha maupun pejabat negara pun semakin dapat memperkaya diri. Akibatnya, manusia tidak henti-hentinya bekerja demi memperkaya diri tanpa memberi istirahat sedikitpun kepada dirinya maupun tanah. Segala sesuatu, termasuk harta kekayaan, harus diraih dengan cara yang instan.
 
Dalam era modern, manusia tidak lagi menghargai hari Sabat atau masa “hari perhentian” (rest) di dalam mengusahakan tanah seperti yang telah diatur dalam Firman Tuhan. Lalu, bagaimanakah seharusnya kita memperlakukan alam terutama tanah untuk kemajuan hidup kita? Bagaimanakah kita memahami konsep tentang “hari perhentian” secara tepat dan benar dalam konteks pengusahaan suatu tanah?
 
B.
Konsep pengelolaan tanah dan Hari Sabat
 
Dalam kitab Imamat pasal 25 ayat 3-7 dikatakan bahwa, “Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu. Tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi Tuhan. Ladangmu janganlah kau taburi dan kebun anggurmu janganlah kau rantingi. Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu jangalah kau tuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi jangalah kau petik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada ditanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.” Di sini sudah jelas diatur prinsip pengelolaan tanah oleh Tuhan di mana manusia diberi kesempatan untuk mengusahakan dan mengumpulkan hasil pengolahan atas suatu tanah untuk memenuhi keperluan dan kelangsungan hidup kita selama enam tahun lamanya. Tetapi pada tahun yang ketujuh, haruslah manusia memberikan peristirahatan atau sabat bagi tanah itu. Mengapa Tuhan sangat menekankan manusia untuk memberikan suatu hari peristirahatan / hari Sabat di dalam proses pengelolaan tanah?
 
Menurut W. Barnard dalam buku Alkitab dan Liturgi (1999;40), ia menyatakan bahwa Sabat menjadi suatu konsolidasi yang utama bagi orang-orang percaya, tempat penyegaran dan peristirahatan, suatu hari pemahaman dan perenungan dan itu berlaku juga bagi kita. Dengan demikian, Sabat dapat diartikan sebagai suatu bentuk perayaan yang umat Tuhan lakukan untuk memperingati akan perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib. Sebagaimana dalam Pengkhotbah 3 ayat 1-2 dikatakan, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam”.
 
Selanjutnya menurut Firman Tuhan, perayaan-perayaan bukanlah suatu titik penting yang sebentar ada dan sebentar hilang di dalam waktu. Sebaliknya, perayaan-perayaan ini membentuk struktur dasar yang menopang waktu. Sebab merayakan hari-hari raya mempunyai makna bahwa orang-orang ikut mengambil bagian di dalam peristiwa-peristiwa yang dengannya waktu perayaan itu diisi atau dengan kata lain, menemukan tempat bagi kehidupan orang di dalam memperingati perbuatan-perbuatan besar Allah. Yang dimaksud dengan perbuatan-perbuatan besar Allah di sini adalah Allah senantiasa memberikan kepada manusia kehidupan, hikmat, kekuatan, akal budi untuk melakukan setiap bentuk pekerjaan, tindakan-tindakan serta keputusan-keputusan yang manusia ambil untuk kelangsungan hidupnya. Selain itu, perbuatan-perbuatan besar Allah di sini juga dapat diartikan sebagai bentuk berkat yang Tuhan berikan terhadap setiap usaha maupun tanah di mana manusia itu bekerja untuk kelangsungan hidupnya di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Dengan kita merayakan hari-hari raya, berarti kita mengingat dan menghayati akan perbuatan-perbuatan Allah ini dalam tatanan waktu kehidupan kita.
 
Lalu, dalam tatanan waktu kehidupan umat Tuhan ini terdapat dua ritme yang dominan, yakni tatanan dari minggu dan tatanan dari tahun, Sabat dan perayaan-perayaan. Perayaan Sabat ditandai dengan tiga keprihatinan yang sangat penting, pokok-pokok yang kearahnya perayaan itu ditujukan, yaitu : penciptaan (dalam Kel. 20:11); pembebasan (dalam Ul. 5:15); dan pendamaian / penebusan (dalam Im. 16:30-31).
 
Hari Pendamaian yang agung itu disebut juga, “Sabat dari segala sabat.” Suatu nama yang dengan jelas menghubungkan tatanan dari minggu dengan kalender tahunan. Manusia dan binatang, serta seluruh ciptaan Tuhan dilibatkan dalam perayaan sabat. Sifat yang istimewa dari Sabat bukanlah perhentian dari bekerja, tetapi fakta bahwa Sabat merupakan tanda dari perjanjian dengan Allah dan oleh karenanya hari itu adalah kudus. Pengudusan hari Sabat berfungsi untuk mempertahankan perjanjian itu. W. Barnard dalam buku Alkitab dan Liturgi (1999;43) menyatakan bahwa “Sabat mengajarkan kita demikian: adalah panggilan manusia untuk menjadi mitra Allah dalam pekerjaan penciptaan, dalam menciptakan suatu dunia yang sangat baik (seperti yang kita baca setelah penciptaan manusia, Kej. 1:31). Dan itulah arti yang mendalam dari pernyataan bahwa Sabat menjadi perjanjian kekal. Antara Aku dan orang Israel, maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya,” (Kel. 31:16-17).”
 
Oleh sebab itu, selama manusia masih memiliki cara pandang tentang tatanan waktu dalam kehidupannya terlepas dari penghargaan akan konsep hari Sabat, yakni hari-hari memperingati dan menghayati perbuatan-perbuatan Allah yang besar, maka tanah yang diusahakan oleh manusia tidak akan pernah menerima hari peristirahatan yang selayaknya diterima dan akan terus mengalami pengeksploitasian sehingga tidak akan menjadi tanah yang memberi berkat. Selama manusia masih berpikir untuk memenuhi impiannya meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik dengan tidak menghargai Allah Sang Pencipta sebagai mitra dalam pekerjaan penciptaan, maka manusia dengan segala kecanggihan ilmu pengetahuan dan mesin-mesin teknologi yang dihasilkannya tidak akan pernah berhasil mengembangkan kehidupan umat manusia ke arah yang lebih baik. Oleh sebab itulah, penghargaan terhadap hari Sabat menjadi sangat relevan di dalam konteks kehidupan dunia modern saat ini yang telah menciptakan manusia bekerja bagaikan roda mesin yang bergerak tanpa henti-hentinya sehingga mengakibatkan dirinya semakin terasing dalam hubungannya dengan dunia yang dihuninya, dengan sesama manusia dan seluruh ciptaan Tuhan di sekitarnya. Hanya dengan cara menghargai kembali tentang konsep hari Sabat yang diajarkan Alkitab-lah, hubungan manusia dengan Allah dan seluruh ciptaan-Nya dapat dipulihkan, dan manusia dapat dikembalikan pada ritme tatanan waktu yang Tuhan telah atur, termasuk juga di dalam menghargai dan memberikan hari peristirahatan atas tanah yang dikelola oleh manusia. Hanya dengan pemahaman yang tepat tentang penghormatan atas hari Sabat, maka manusia dapat menemukan solusi yang tepat untuk menahan diri dari segala bentuk pengeksploitasian tanah, termasuk pengeksploitasian tenaga-tenaga kerja kita di kantor. Dan itulah arti yang mendalam dari pernyataan bahwa Sabat ”...menjadi perjanjian kekal. Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya” (Kel. 31:16-17).
 
C.
Kesimpulan
 
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita tarik kesimpulan, bahwa semakin manusia melanggar perintah dan ketetapan yang telah Tuhan berikan tentang penghormatan terhadap hari Sabat, maka cepat atau lambat seluruh tanah di dunia ini akan menjadi kutuk bagi manusia dan binatang di mana kelimpahan kekayaan alam yang dihasilkan oleh tanah tempat di mana kita hidup akan terkuras habis dan tidak cukup lagi untuk kelangsungan hidup kita di masa mendatang. Selain habis, juga bisa tercemar oleh berbagai polusi, menimbulkan bencana serta dapat mengakibatkan kematian bagi manusia. Itu semua diakibatkan keegoisan manusia yang semakin hari, semakin masif dan tanpa henti-hentinya mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam demi mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya. Kiranya dengan terjadinya global warming, krisis harga minyak, krisis ekonomi global dan peristiwa yang terdekat di wilayah kita yakni tragedi lumpur Lapindo, semakin banyak anak-anak Tuhan yang mau mengumandangkan kembali konsep-konsep penghargaan terhadap hari Sabat di dalam ruang publik, baik itu dibidang ekonomi, sosial, lingkungan hidup, teknologi dan lain sebagainya sehingga kebenaran dan kemuliaan Tuhan dapat dipancarkan.
 
[ Setya Asih Pratiwi ]
Persekutuan Studi Reformed