MAKNA TANAH
SECARA UMUM dan TEOLOGIS
_oOo_
 
Makna Tanah Secara Umum
 
Tanah sangatlah penting bagi kehidupan setiap manusia di dunia ini. Negara atau pemerintah sebagai wakil Tuhan di dunia ini haruslah turut campur tangan dalam menangani atau mengatur kepemilikan tanah guna kesejahteraan rakyatnya. Tidak dapat dibayangkan apabila tidak ada ketentuan yang mengatur tentang tanah. Masing-masing akan memiliki tanah untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Di Indonesia, ketentuan mengenai tanah sebagai sumber kekayaan alam diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD’45) Pasal 33 ayat 3 yang berbunyi, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” Selain itu, masih banyak lagi ketentuan-ketentuan lainnya mengenai tanah ini yang mendukung UUD’45. Meskipun sudah ada ketentuannya tetap saja dari dahulu sampai dengan saat ini masih begitu banyak masalah atau persengketaan tanah yang belum diselesaikan dengan baik dan adil, baik itu persengketaan tanah antara pribadi dengan pribadi, pribadi dengan Negara atau antar daerah ataupun antar negara. Masing-masing mempuyai kepentingan atas tanah, tanpa mengingat bahwa siapa pemilik tanah yang sejati, yakni Tuhan. Manusia sebagai ciptaan sebenarnya hanya mempunyai kepentingan untuk mengelola sesuai dengan bagiannya yang telah Tuhan berikan pada ciptaan-Nya.
 
Bryan Walsh dan Richard Middleton dalam bukunya Visi Yang Membaharui: Pembentukan Cara Pandang Kristen, berbicara mengenai tanah ini dengan melihatnya dari beberapa sudut pandang, antara lain:
 
  1. Penduduk asli di Amerika Utara yakni Indian berpandangan bahwa tanah merupakan tanah air mereka, di mana mereka sudah tinggal di sana beribu-ribu tahun lamanya, oleb karenanya mereka berhak untuk menentukan masa depan tanah air mereka. Mereka juga beranggapan bahwa tanah adalah anugerah yang Tuhan berikan pada mereka, itu sebab mereka harus memanfaatkan dan menjaganya. Tanah tidak boleh dihancurkan atau dieksploitasi namun harus diwariskan secara turun temurun. Dengan tanah, mereka tidak takut akan hidup tanpa makanan. Tanah juga merupakan tempat tinggal, sumber identitas dan kehormatan mereka.
     
  2. Orang Eropa atau kebudayaan Barat memandang tanah sebagai daerah perbatasan dan sebagai sumber daya yang dapat dikembangkan dan bahkan dieksploitasikan untuk mencapai kesejahteraan dan kemajuan suatu negara, yang pada akhirnya dapat memajukan rakyatnya. Tanah merupakan sebuah komoditas pasar yang dapat diperjualbelikan.
 
Persoalan atau persengketaan tanah yang terjadi tidak saja ditimbulkan oleh pribadi dari seseorang, akan tetapi bisa saja karena ketentuan atau adat istiadat setempat yang memandang pengertian tanah itu dengan berbeda satu sama lain. Masing-masing ingin mempertahankan kepentingannya. Memang hal ini menjadi suatu dilema, di satu sisi pemerintah ingin memajukan negaranya dengan mengadakan perubahan atau pengembangan pada tanah-tanah di daerah-daerah yang terbelakang dengan mengadakan pembangunan-pembangunan seperti perumahan yang layak, pembangkit tenaga listrik dan lain sebagainya dengan tujuan untuk memajukan daerah dan masyarakat setempat. Akan tetapi, seringkali instansi-instansi yang berwenang mengembangkan atau mengeksploitasi tanah tersebut tidak memberikan ganti rugi yang layak pada masyarakat setempat. Namun di sisi lain, pengembangan tanah juga dapat terbentur oleh adat istiadat setempat, yang seringkali tanah itu menjadi tidak dapat dikembangkan oleh karena dianggap sebagai warisan dari nenek moyang mereka. Namun demikian, masih ada juga daerah-daerah yang tidak anti pada pengembangan asalkan pengembangan yang dilakukan sungguh memberikan dampak yang baik bagi daerah atau masyarakat setempat.
 
Pembahasan mengenai tanah di atas merupakan pengertian secara anugerah umum, di mana pada mulanya Tuhan mempercayakan bumi dan kekayaan alam yang begitu baik ini, termasuk tanah, kepada seluruh manusia yang ada di dunia ini baik kepada orang percaya maupun tidak percaya untuk dapat dikelola sesuai dengan bagiannya masing-masing.
 
Makna Tanah Secara Teologis
 
Topik mengenai tanah di dalam Alkitab baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menjadi sebuah topik yang menarik. Hal ini dimulai dari penciptaan. Kejadian 1:1 berkata, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Sebuah pernyataan yang agung di mana pernyataan ini hendak menunjukkan bahwa Allah-lah, sang Pencipta, yang menciptakan dunia ini termasuk tanah dan Dia juga berdaulat atas keseluruhan tatanan yang ada. Dialah pemilik sejati dunia ini termasuk juga pemilik dari tanah. Sebagai pemilik sejati dari tanah ini, Dia juga telah menetapkan aturan-aturan yang harus ditaati umat-Nya khususnya dalam rangka mengelola tanah.
 
  1. Konsep Tanah di dalam Perjanjian Lama
     
    Berbicara mengenai masalah tanah di dalam Perjanjian Lama tidak lepas dari bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah. Sebagai umat pilihan Allah, bangsa Israel dijanjikan suatu tanah perjanjian yang dikenal dengan sebutan tanah Kanaan. Tanah itu menandakan adanya suatu hubungan khusus antara Allah dengan bangsa Israel, seperti layaknya hubungan antara orang tua dan anak karena bangsa Israel disebut sebagai anak sulung yang mewariskan tanah Perjanjian. Yonky Karman dalam bukunya Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama mengatakan, “Bahwa tanah dalam kehidupan sehari-hari bangsa Israel tidak hanya bernilai ekonomis saja tetapi kehilangan tanah dapat mengancam kedudukan bangsa Israel sebagai anggota umat perjanjian, seperti kejadian Raja Ahab yang dengan cara licik merampas kebon anggur milik Nabot, yang dipertahankan oleh Nabot sebagai milik pusaka nenek moyangnya (1 Raj. 21:3). Dan Tuhan menghukum Raja Ahab mati dengan darah yang dijilat anjing (1 Raj. 21:19)”.
     
    Janji Allah pada bangsa Israel atas tanah perjanjian dimulai dari Abraham. Kejadian 12:1 berkata, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukan kepadamu.” Kemudian keluarlah Abraham dari Ur-Kasdim menuju ke Tanah Kanaan, di mana pada saat itu orang-orang Kanaan tinggal di sana. Sebenarnya ayat ini tidak menunjukan secara khusus bahwa tanah Kanaan merupakan tanah yang dijanjikan Allah. Namun Allah sendiri yang menuntun Abraham untuk menuju ke Tanah Kanaan. Kejadian 12:7 berkata, “Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.” Ini merupakan sebuah tanda bahwa Tanah Kanaan yang akan diberikan kepada Abraham adalah milik Tuhan. Meskipun Tanah Kanaan itu milik Tuhan, bahaya kelaparan tetap terjadi, sehingga Abraham dan keluarganya harus pindah ke Mesir. Di sini Abraham kembali menjadi orang asing atau pendatang. Setelah itu, Abraham terus berpindah-pindah tempat guna mencari apa yang menjadi kehendak Tuhan berkaitan dengan janji Tuhan kepadanya. Walaupun janji yang Tuhan berikan itu pasti, namun Abraham tidak bisa mengklaim bahwa setiap tanah yang disinggahi menjadi miliknya, oleh karena memang yang dimaksud Tuhan bukan seperti itu. Di sini Tuhan ingin menuujukan bahwa Dialah pemilik sejati atas tanah. Seperti halnya kepada Abraham, Tuhan juga memberikan janji-Nya atas tanah perjanjian kepada Ishak dan Yakub. Mereka semua juga harus menjadi orang asing dan pendatang, namun Tuhan tetap akan memberkati mereka di manapun mereka berada. Janji Allah mulai dari Abraham, Ishak sampai Yakub belum sepenuhnya digenapi pada masa mereka. Hal ini terlihat jelas bagaimana setelah masa-masa mereka, oleh karena kebebalannya, Tuhan terus membentuk mereka dengan hukuman, di mana bangsa itu harus mengalami peristiwa pembuangan. Meskipun demikian, Tuhan tetap memberikan pengharapan pada bangsa itu untuk kembali ke tanah perjanjian.
     
    Sejarah bangsa Israel secara politis sangat unik. Meskipun mereka adalah umat pilihan Allah, tetapi mereka tidak serta merta akan mudah memiliki tanah perjanjian (tanah Kanaan). Seperti kita ketahui bagaimana dari dulu tanah Kanaan silih berganti diduduki oleh bangsa-bangsa lain, hingga sampai sekarangpun tanah Israel masih diperebutkan oleh bangsa lain di sekitarnya. Bangsa Israel tetap menganggap bahwa mereka adalah pemilik sah tanah itu berdasarkan status mereka sebagai umat pilihan Tuhan serta janji Tuhan atas tanah kepada Abraham dan keturunannya.
     
  2. Konsep Tanah di dalam Perjanjian Baru
     
    Pengertian tanah di dalam Perjanjian Baru lebih diperluas lagi dalam pengertian tidak lagi terfokus hanya dilihat secara fisik, akan tetapi lebih terfokus pada Kerajaan Allah di dunia ini yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus. Galatia 3:16 berkata, “Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan “kepada keturunan-keturunannya” seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: “dan kepada keturunanmu,” yaitu Kristus. Yang dimaksud dengan “keturunanmu” dalam ayat ini adalah Kristus, sebagai pengantara yang akan mendamaikan Allah dengan umat-Nya. Kita tahu bahwa sejak manusia jatuh dalam dosa, hubungan Allah dengan umat-Nya telah rusak. Dalam perjanjian Allah tentang tanah, sebenarnya tidak jelas mengarah pada suatu tempat atau suatu negara. Meskipun demikian, pengertian tanah secara fisik juga tidak salah, karena melalui konsep inilah kita melihatnya sebagai bayang-bayang dari Kerajaan Allah.
 
Kesimpulan
 
Tanah dalam Perjanjian Lama dimengerti hanya dalam pengertian secara fisik, karena memang inilah permulaan yang Tuhan tetapkan untuk melaksanakan janji-Nya. Tanah yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel selain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka tetapi juga merupakan warisan dari nenek moyang mereka. Oleh karenanya, Tuhan sendirilah yang menentukan bagian-bagian tanah yang boleh dimiliki oleh setiap keluarga dari bangsa Israel. Apabila ada yang melanggar aturan-aturan mengenai tanah yang telah Tuhan tentukan tersebut, maka Tuhan akan menghukum mereka.
 
Tanah Perjanjian yang dimaksud dalam Perjanjian Baru adalah Kerajaan Allah yang ada di bumi ini yang diwujudkan dalam diri Yesus Kristus sebagai penyelamat umat berdosa. Dari pembahasan ini kita melihat bahwa konsep tanah di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru difokuskan bukan hanya pada sebidang tanah semata tetapi di sini kita melihat bagaimana Tuhan ingin menunjukkan bahwa Dialah pemilik sejati atas dunia ini termasuk di dalamnya tanah. Dia berkuasa atas dunia yang diciptakan-Nya. Dengan demikian, biarlah setiap kita boleh terus bersyukur atas bagian yang sudah Tuhan berikan pada kita dengan bekerja bagi Dia hanya untuk kemuliaan-Nya.
 
[ Saur Rotua Marpaung ]
Persekutuan Studi Reformed