VISI dan PANGGILAN TUHAN
(Yesaya 6:1-8)
_oOo_
 
PENDAHULUAN
 
Tulisan ini merupakan sebuah renungan eksposisional yang membahas sebuah pengalaman dramatis yang dialami oleh Nabi Yesaya ketika ia mendapatkan sebuah penglihatan akan keagungan dan kekudusan TUHAN sebagai Raja yang kekal (Eternal King) yang duduk di atas takhta-Nya. Pengalaman itu telah membawa Yesaya kepada pengenalan diri yang utuh tentang dirinya di badapan TUHAN, betapa berdosa dan hinanya ia ketika berhadapan dengan kekudusan TUHAN dan betapa besarnya anugerah TUHAN padanya yang telah menghapuskan kecemaran dosanya dan bahkan dengan rela memakai dan mengutusnya menjadi Nabi Tuhan untuk menyampaikan isi hati TUHAN kepada umat-Nya.
 
Kutipan Alkitab lengkap dari Yesaya 6:1-8 (Terjemahan LAI)
 
Yesaya mendapat panggilan Allah.
 
1)
Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.
 
2)
Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.
 
3)
Dan mereka berseru kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”
 
4)
Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap.
 
5)
Lalu kataku: “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”
 
6)
Tetapi seorang dari antara Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah.
 
7)
Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.”
 
8)
Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: Ini aku, utuslah aku!”
 
PEMBAHASAN EKSPOSISI
 
Visi Yesaya akan Tuhan (Yesaya 6:1-4)
 
 
Yesaya 6:1
Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.
 
 
Catatan pengalaman dari panggilan TUHAN kepada nabi Yesaya dimulai dengan sebuah background kematian raja Uzia. Siapakah Raja Uzia? Uzia menjadi Raja yang memerintah Yehuda dengan menggantikan ayahnya, Amazia, pada waktu ia berumur 16 tahun. Pemerintahannya diperkirakan berlangsung selama 52 tahun pada abad ke-8 SM. Uzia dikenal sebagai salah seorang raja yang pernah memerintah Yehuda dengan kesalehan. Ia melakukan yang benar di mata TUHAN dan takut akan Allah (2 Taw. 26:4-5) sehingga Tuhan memberkatinya. Dengan kekuatan dan keperkasaan yang besar, ia dan pasukannya meraih kemenangan melawan bangsa Filistin dan bangsa-bangsa lainnya. Ia membangun menara-menara di Yerusalem dan memperkuat tembok-tembok kota. Ia membangun waduk atau sumur-sumur di padang gurun agar dapat mendorong perkembangan sektor pertanian dari bangsa itu. Ia juga memiliki kekuatan militer yang tangguh dan gagah perkasa di dalam menghadapi peperangan apapun. Dengan gambaran ini, betapa Uzia merupakan seorang figur raja yang besar dan juga dikasihi oleh rakyatnya (2 Taw. 26:6-15).
 
Namun di tengah catatan kisah kebesaran dan kemasyurannya, kisah Uzia menjadi sebuah kisah yang sangat ironis dan menyedihkan. Kesombongan dan keangkuhan telah membawanya kepada kejatuhan dan kehancuran. Dengan berani ia memasuki bait Allah untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan. Tindakan ini seharusnya menjadi hak dari imam-imam keturunan Harun yang sudah dikuduskan Tuhan, bukan hal dari seorang raja. Ketika melihat tindakan Uzia tersebut, Imam Azarya mencoba memperingatkan dan melarangnya, namun Uzia tidak menghiraukanya. Akibat tindakannya ini, Uzia harus menerima penghukuman Tuhan. Tiba-tiba penyakit kusta muncul pada dahinya, dan penyakit itulah yang menemani dan membawanya kepada kematian (2 Taw. 26:16-21).
 
Kematian tragis yang dialami Raja Uzia membawa kesedihan dan duka yang mendalam bagi seluruh rakyat Yehuda. Suasana berkabung terjadi di berbagai pelosok negeri. Di tengah suasana berkabung ini, Yesaya pergi ke Bait Suci. Ketika memasukinya, Yesaya mengalami sebuah pengalaman dramatis yang sungguh akan mentransfonnasi hidupnya. Ia melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang dan jubahnya memenuhi Bait Suci. Raja Uzia memang telah mati, namun kini ia melihat raja yang lain, raja yang tidak akan pernah mati, raja yang kekal, raja tertinggi yang duduk memerintah di atas takhta Yehuda untuk selama-lamanya, yaitu Tuhan sendiri. Mengenai bagian ini, Page H. Kelley dalam bukunya Interpreting Isaiah: A Study Guide berkata, "In the year that King Uziah died, Isaiah saw the divine King who never dies. The throne of Judah was empty, but the throne in heaven was occupied by one eternal King whose glory filled the earth. Judah's kings might come and go in an endless procession, but this King would reign forever. His throne was filled above all earthly thrones.” (Page H. Kelley, “Interpreting Isaiah: A Study Guide,” Greenville SC: Smyth & Helwys Publishing, Inc, 1991, p13).
 
Pada bagian ini, jika kita perhatikan lebih seksama, kata “Tuhan” diawali dengan huruf besar dan selanjutnya diikuti dengan huruf kecil. Kata ini berbeda atau bertolak belakang dengan kata “TUHAN” yang muncul kemudian khususnya pada ayat 3 dan 5 yang seluruh kata muncul dengan huruf besar. Penggunaan dua kata dengan struktur berbeda ini semata-mata bukan disebabkan oleh kesalahan cetak atau ketidakkonsistenan dari penerjemah tetapi lebih disebabkan karena adanya perbedaan makna dari teks aslinya yait bahasa Ibrani, namun keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “Tuhan.” Ketika kata Tuhan muncul dalam huruf kecil, kata itu berasal dari kata “adonai” yang dalam bahasa Ibrani berarti “yang mahakuasa.” Kata “adonai” ini bukanlah nama Allah tetapi nama gelar tertinggi Allah yang digunakan dalam Perjanjian Lama. Namun ketika kata Tuhan muncul dengan huruf besar semua, kata tersebut berasal dari kata “Yahwe” sebuah nama kudus bagi Allah dan nama yang juga diucapkan sendiri oleh Allah kepada Musa pada peristiwa semak duri yang menyala, Kata “Yahwe” menjadi kata yang harus dijaga dan tidak boleh diucapkan dengan sembarang dalam kehidupan bangsa Israel. Nama itu biasanya muncul dalam bentuk empat konsonan yaitu YHWH yang biasa dikenal dengan sebutan “tetragammaton” (empat kata yang tidak terucapkan). Dengan pemahaman ini, ketika Yesaya melihat Tuhan duduk di atas takhtanya, ia tidak hanya melihat seorang raja yang kekal tetapi juga melihat Tuhan yang mahakuasa, Tuhan yang berkuasa di atas surga dan bumi. Takhta yang tinggi itu juga menggambarkan sebuah perbedaan kualitatif yang besar antara Allah pencipta dengan seluruh ciptaannya.
 
 
Yesaya 6:2
Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.
 
 
Serafim di dalam Alkitab dipahami sebagai malaikat yang juga ciptaan Allah. Ia memiliki enam sayap di mana dua sayap digunakan untuk menutupi muka mereka, dua sayap untuk menurupi kaki mereka, dan dua sayap untuk melayang-layang. Perbedaan dengan manusia yang juga adalah ciptaan Tuhan terletak pada kekudusan dari Serafim. Ia bukanlah manusia yang dibebani dengan hati nurani yang cemar dan ia tidak pernah melakukan dosa sekecil apapun. Ia tinggal dan melayani Tuhan di surga. Kedua sayap yang digunakan untuk menutupi mukanya menggambarkan meskipun mereka adalah makhluk yang tidak berdosa tetapi ketika mereka berhadapan dengan keagungan dan kekudusan Tuhan, mereka tidak diperkenankan melihat secara Iangsung wajah Tuhan. Kedua sayap yang dipakai untuk menutupi kaki mereka bukanlah semacam kasut atau sepatu yang mereka pakai berjalan di bait Allah surgawi. Gambaran ini mengingatkan pada peristiwa ketika TUHAN menampakkan diri kepada Musa di semak duri yang menyala tetapi tidak terbakar api. Ketika Musa ingin mendekat, Allah memerintahkan Musa untuk menanggalkan kasutnya karena tanah yang diinjaknya menjadi tanah yang kudus karena Allah yang hadir di sana adalah Allah yang kudus (Kel. 3:2-5). Penanggalan kasut yang dilakukan Musa merupakan lambang dan pengakuan Musa sebagai ciptaan Allah yang berdiri di hadirat Allah yang kudus. Dengan analogi seperti ini, kedua sayap Serafim yang menutupi kaki mereka juga merupakan sebuah gambaran akan pengakuan mereka sebagai ciptaan di hadirat Allah yang kudus dan yang ditinggikan. Kedua sayap yang dipakai untuk melayang-layang digunakan sebagai perlengkapen bagi Serafim untuk menjalankan segala tugasnya untuk melayani Allah di surga.
 
 
Yesaya 6:3
Dan mereka berseru kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”
 
 
Yesaya mendengar sebuah persembahan nyanyian indah dan mengagumkan dari para Serafim, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”. Serangkaian pujian ini merupakan sebuah pengakuan akan kebesaran, keagungan, kemuliaan dan kekudusan dari TUHAN sendiri. Pengulangan tiga kali kata “kudus” menunjukkan betapa sempurnanya kekudusan Allah karena angka tiga dalam konteks Ibrani menunjukkan sebuab kesempurnaan (completeness). Reginald Heber, penulis lagu Suci, Suci, Suci, mengaitkan ketiga kata itu pada lirik lagunya dengan konsep ke-Tritunggal-an Allah. Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus adalah Allah yang suci adanya. Herbert M. Wolf di dalam bukunya Interpreting Isaiah: The Suffering and Glory of the Messiah berkata, “The threefold repetition “holy” expresses the infinite holiness of God. Although the number three may be an adumbration of the Trinity, it is also used to signify completeness.” (Herbert M..Wolf, “Interpreting Isaiah: The Suffering and Glory of the Messiah, Grand Rapids Michigan: Zondervan Publishing House, p86).
 
 
Yesaya 6:4
Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap.
 
 
Nyanyian keagungan dan para Serafim itu terdengar begitu dahsyatnya dan kehadiran Allah telah menyebabkan bergoyangnya alas ambang pintu Bait Suci dan rumah itu penuh dengan asap. Pengertian yang lebih tepat di sini adalah Allah menggoncangkan benda-benda tersebut. Alas ambang pintu Bait Suci yang kokoh dan terbuat dari kayu dan logam (benda mati) yang tidak mempunyai indera untuk berbicara dan mendengar, digoncangkan oleh hadirat Allah. Ini menggambarkan betapa dahsyatnya dampak yang ditimbulkan dari kehadiran Allah pencipta terhadap ciptaan-Nya.
 
Visi Yesaya akan Diri (Yesaya 6:5-7)
 
 
Yesaya 6:5
Lalu kataku: “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seoranq yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam”.
 
 
Pengenalan Yesaya akan siapa Tuhan melalui pengalaman dramatisnya melihat dan berhadapan langsung dengan keagungan dan kekudusan Tuhan, memberikan dampak yang besar bagi pengenalan akan siapa dirinya di hadapan Tuhan. Yesaya menyadari betapa hina dan hancurnya ia sebagai manusia berdosa ketika berhadapan dengan kekudusan Tuhan. Yesaya berkata: “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seoranq yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”
 
Kata “Celakalah aku” (NIV: woe me) yang diserukan Yesaya merupakan kata yang jarang dipakai di dalam Alkitab. Ketika kata ini muncul, ada penekanan dan pengertian yang mendalam mengenai peristiwa yang mengikutinya. Kata ini pernah dipakai juga oleh Tuhan Yesus ketika Ia mengecam dengan tegas atas kemunafikan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Tindakan yang mereka lakukan tidak mencerminkan atau bukan keluar dari hati yang sungguh mengasihi Tuhan. Apa yang mereka tampilkan hanya sebuah fenomena yang menipu bukan esensi dari apa yang ada di dalam hati mereka. Itu sebab, ketika kata ini keluar dengan keras dari mulut Tuhan, kata ini menjadi sebuah kata penghukuman (judgement word) bagi mereka. Kata ini juga kadangkala muncul dan mulut para nabi di Perjanjian Lama untuk menyatakan berita penghukuman dari Tuhan atas keberdosaan atau ketidaktaatan umat-Nya, Dengan demikian, ketika Yesaya menyerukan kata ini, ia sedang menempatkan dirinya berada di bawah penghukuman Tuhan oleh karena keberdosaannya.
 
Seruan Yesaya, “Celakalah aku” kemudian diikuti dengan seruan “Aku binasa” (NIV: ruined). Salah seorang theolog, RC Sproul, di dalam bukunya Kekudusan Allah (The Holiness of God) lebih memilih untuk mengganti kata “ruined” dengan kata “undone” yang berarti hancur terurai atau sebuah bentuk disintegrasi. Di dalam pengertian ini, pada waktu Yesaya meneriakkan seruan “aku binasa,” ia sedang menyadari betapa hancur jiwanya hingga berkeping-keping seperti sebuah kepingan puzzle yang terlepas satu dengan yang lain hingga tidak ketahui lagi bentuk aslinya. Yesaya mengalami disintegrasi di dalam pribadinya. Ini terjadi ketika dirinya yang berdosa, hina dan tercemar itu harus berhadapan dengan Tuhan yang kudus dan agung. Dalam sekejab dirinya harus ditelanjangi oleh kekudusan mutlak Tuhan.
 
Seruan Yesaya, “Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir” sungguh amat aneh. Mengapa Yesaya harus mengkaitkan kenajisan dengan bibirnya? Mengapa bukan dengan indera yang lain? Di sini Yesaya menyadari betapa mengerikannya dampak yang dimunculkan dari sebuah perkataan yang keluar dan bibir seseorang. Perkataan yang salah dan menyakitkan akan masuk menembus hati dan akan sangat sulit untuk dihapuskan. Yesaya juga melihat betapa signifikannya perkataan di dalam pemberitaan akan kebenaran Tuhan di tengah-tengah sebuah bangsa yang menutup telinganya terhadap kebenaran. Yesaya sadar bahwa tantangan terbesar yang di hadapi bangsa Yehuda pada saat itu adalah perkataan-perkataan yang keluar dari mulut nabi-nabi palsu dengan pemberitaan akan nubuat-nubuat palsu yang hanya bertujuan untuk memuaskan telinga bangsa itu dan jauh dari kebenaran. Page H. Kelly dalam buku yang sama juga mengatakan bahwa alasan mengapa Yesaya begitu concern pada kenajisan bibirnya adalah karena dia mengetahui bahwa Tuhan menghendakinya untuk menjadi seorang nabi yaitu seorang juru bicara Tuhan kepada umat-Nya. Oleh sebab itu sebagai juru bicara Tuhan, bibirnya harus dibersihkan dari kecemaran. Yesaya juga tidak menempatkan pergumulan ini sebagai pergumulan yang bersifat pribadi (private) tetapi juga menjadi pergumulan yang bersifat komunal (community) dari bangsa Yehuda. Oleh sebab itu, sebagai bagian dari bangsa itu, Yesaya juga menempatkan dirinya sebagai orang yang najis bibir yang tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir pula. Yesaya dengan jujur mengakui bahwa ia juga menjadi orang yang bertanggung jawab atas dosa-dosa yang dilakukan bangsa itu.
 
Di tengah kehancuran seluruh hidupnya akibat dosa yang mendalam itu, Yesaya justru mengalami pengalaman yang ajaib ketika matanya sendiri melihat Sang Raja yang kekal itu yakni TUHAN semesta alam. Pengalaman ini selanjutnya menjadi titik awal dari tindakan Tuhan yang penuh anugerah merestorasi hidupnya.
 
 
Yesaya 6:6-7
Tetapi seorang dari antara Serafim itu terbang mendapatkan aku; ditangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni”.
 
 
Di tengah kehancuran Yesaya, Tuhan tidak meninggalkannya. Tuhan berinisiatif bertindak dengan memerintahkan seorang malaikat-Nya (Serafim) untuk mangambil bara panas dari atas mezbah untuk disentuhkan pada bibirnya. Di sini Yesaya harus merasakan api kudus Tuhan membakar bibirnya. Ia harus mengalami kesakitan yang luar biasa akibat panas dari bara yang menyengat itu. Namun di dalam kesakitan itu, anugerah Tuhan justru dinyatakan. Tindakan Serafim ini merupakan sebuah anugerah pengampunan dosa yang Tuhan berikan. Yesaya harus mengalami tindakan pembersihan Ilahi yang menyakitkan. Sproul menyatakan tindakan ini merupakan suatu kemurahan yang keras, suatu tindakan pembersihan yang menyakitkan di mana luka Yesaya sedang dibakar, kotoran dalam mulutnya harus dibakar habis dan ia sedang disucikan oleh api kudus Tuhan, (Sproul, hal. 54). Bara yang diambil dari mezbah ini berasal dari persembahan korban penghapusan dosa di hari perdamaian (Im. 16:12), dengan demikian Yesaya dipulihkan Allah melalui darah pengorbanan dari binatang yang dipersembahkan, namun itu pada akhirnya hanyalah bayang-bayang (foreshadow) dari Anak Domba Allah yaitu Yesus Kristus sendiri yang mempersembahkan diri-Nya, rela mati mencurahkan darah-Nya untuk pengampunan dosa (Ibr. 9:13-14). Tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22). Kelley berkata, “There is no painless cure for sin. It must be dealt with drastically. Forgiveness always be secured at the price of suffering and death. This why the Son of God had to go to the cross,” (Kelley, P. 14).
 
Visi Yesaya akan Panggilan Tuhan
 
 
Yesaya 6:8
Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: Ini aku, utuslah aku!”
 
 
Setelah mengalami pengalaman-pengalaman yang menakjubkan, melihat kemuliaan dan kekudusan Tuhan, mengalami kehancuran diri akibat dosa, mendengar nyanyian agung dari para Serafim, merasakan api kudus Ilahi simbol pengampunan dosa, kini ia mendengar suara Tuhan berkata kepadanya, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”. Sebuah pertanyaan serius yang Tuhan lontarkan kepadanya, dan Yesaya harus meresponinya. Pertanyaan ini merupakan sebuah tantangan dari Tuhan akan siapa yang bersedia diutus untuk menjadi utusan-Nya, menjadi juru bicara-Nya untuk menyatakan isi hati Tuhan pada Umat-Nya. Tanpa argumen apapun Yesaya dengan kejujuran dan kegentaran hati menjawab, “Ini aku, utuslah aku!”. Di sini jika kita perhatikan, Yesaya tidak berkata, “Di sini aku” tetapi dia berkata, “Ini aku.” Kedua perkataan ini memiliki perbedaan yang besar. Jika Yesaya berkata, “Di sini aku,” ini hanya berbicara mengenai lokasi dari sebuah tempat bukan menunjuk satu pribadi. Artinya Tuhan boleh memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya untuk diutus. Tetapi Yesaya berkata, “Ini aku.” Di sini Yesaya dengan tegas menunjuk pada dirinya sendiri. Yesaya hendak mengatakan bahwa ia dengan sukarela menyerahkan dirinya untuk diutus dan Tuhan tidak perlu mencari utusan yang lain. Ke manapun, kepada siapapun dan apapun konsckuensinya baik itu penderitaan bahkan kematian sekalipun, ia akan pergi. Respon Yesaya atas panggilan Tuhan ini didasarkan atas kesadarannya yang penuh akan betapa besarnya anugerah Tuhan yang dicurahkan kepadanya. Ia yang adalah seorang yang pendosa besar, oleh kemurahan Tuhan, ia menerima pengampunan dosa. Sproul dengan indah mengkonklusi bagian ini dengan berkata, “Allah mampu mengambil seorang manusia yang hancur dan mengutusnya ke dalam pelayanan. Ia mengambil seorang manusia berdosa dan membuatnya menjadi seorang nabi. Ia mengambil seorang manusia dengan mulut yang kotor dan menjadi jurubicara Allah,” (Sproul, hal. 57).
 
KESIMPULAN
 
Dari apa yang sudah dibahas di atas, maka ada beberapa messages yang boleh menjadi perenungan kita yakni:
 
  1. Pengenalan akan siapa Allah adalah dasar dari pengenalan akan siapa diri kita. Pengenalan kita akan kekudusan Allah akan rnembawa kita pada pengenalan kita akan keberdosaan kita. Semakin kita mendekat kepada Allah, semakin kita menyadari betapa Allah sedang “menelanjangi” hidup kita di hadapan-Nya di mana Allah dengan bebas menyatakan dosa-dosa kita hingga yang terkecil sekalipun. Inilah yang dialami Nabi Yesaya ketika ia harus berhadapan langsung dengan kekudusan Tuhan, di situ ia menyadari betapa tidak ada sesuatu yang dapat disembunyikan di hadapan Tuhan. Ia menyadari keberadaan dirinya sebagai pendosa yang besar yang ada di bawah penghukuman Tuhan. Kesadaran inilah yang mcnjadi titik balik dari betapa Yesaya sungguh membutuhkan anugerah pengampunan dari Tuhan.
     
  2. Anugerah Tuhan lebih besar dari dosa-dosa kita (His grace is greater than our sins). Betapun cemar dan hinanya kita sebagai orang berdosa dihadapan Tuhan, tetapi sekali-kali Ia tidak akan meninggalkan kita. Oleh kemurahan dan belas kasihan-Nya kepada kita, Ia rela menyerahkan diri-Nya sendiri, mati mencurahkan darah-Nya demi untuk mengampuni dan menebus kita dari dosa-dosa. Di sini kita melihat, benarlah apa yang dikatakan Dietrich Bonnhoofer, “Grace is free, but is not cheap.” Anugcrah Tuhan itu memang diberikan secara gratis (free) tetapi itu bukan anugerah yang murah (cheap) karena di dalamnya ada satu pribadi tidak berdosa dan tidak bercela yang harus mati, mencurahkan darah-Nya menanggung dan mengampuni dosa-dosa kita. Pribadi itu adalah Yesus Kristus sendiri, Anak Domba Allah, yang disembelih mati bagi kita. Pengampunan-Nya tidak mungkin didasarkan apa yang sudah kita lakukan kepada-Nya ataupun jasa-jasa kita selama hidup kita. Kita tidak akan pernah mungkin dapat mencapai standar tertinggi dan mutlak yang Ia tetapkan karena ada perbedaan yang besar dan tidak mungkin dijangkau. Ia adalah Pencipta yang suci dan tidak terbatas, sedangkan kita adalah manusia berdosa dan terbatas. Itu sebab, pengampunan Tuhan bagi kita adalah semata-mata kasih karunia Allah, pemberian Allah, dan semua berdasarkan kedaulatan-Nya yang mutlak.
     
  3. Pelayanan yang sejati kepada Tuhan harus dimulai dengan kesadaran akan ketidaklayakan kita menerimanya dan respon kita akan apa yang sudah Tuhan kerjakan di dalam hidup kita. Pelayanan kita adalah kemurahan Tuhan semata. Tidak ada satu pun yang ada di dalam diri kita yang membuat Tuhan harus memakai kita melayani-Nya. Rasul Paulus di dalarn Surat 2 Korintus 4:1 berkata, “Oleh kemurahan Allah kami telah menerirna pelayanan ini. Karcna itu kami tidak tawar hati.” Demikian pula dengan apa yang di alami Yesaya, ketika Tuhan berseru memanggilnya menjadi nabi, Yesaya sadar bahwa dirinya tidak layak menerimanya dan ia juga sadar betapa besarnya cinta kasih dan anugerah Tuhan padanya ketika dengan rela Ia mcngampuni kecemaran dosa-dosanya. Kesadaran akan ketidaklayakan dan keinginan untuk membalas cinta kasih Tuhanlah yang menjadi sumber kekuatannya untuk menjawah “Ya” atas panggilan Tuhan.
 
PENUTUP
 
Biarlah dalam perenungan kita akan Firman Tuhan ini semakin kita menyadari sepenuhnya bahwa hidup kita adalah hidup bagi Tuhan, hidup yang sepenuhnya kita serahkan kepada-Nya atas anugerah-Nya yang begitu besar dan ajaib yang dikerjakan-Nya di dalam hidup kita. Kita yang dahulu mati di dalam dosa, sekarang Tuhan hidupkan. Dahulu ketika kita masih lemah, masih berdosa, dan masih seteru Tuhan, justru di dalam keadaan itulah Tuhan menunjukkan kasih-Nya, Ia mati bagi kita dan mendamaikan kita dengan Allah sehingga kita boleh menerima keselamatan. “What a grace and what a great Savior.” Itu sebab, ketika Tuhan memanggil kira untuk melayani-Nya, sudah sepantasnya dan selayaknyalah kita mengatakan, “Ya Tuhan, Ini aku, Utuslah aku”.
 
Master, Thou callest, I gladly obey
Only direct me, and I’ll find Thy way
Teach me the mission appointed for me
Wbat is my labor and where it shall be
 
Master. Thou callest and this I reply
Ready and willing, Lord, here am I
 
Kiranya lirik lagu ini juga boleh sungguh menjadi doa kita yang terus mendorong kita untuk tetap taat menjawab panggilan-Nya di dalam hidup kita, Amin.
 
[ Nikson Sinaga ]
Persekutuan Studi Reformed