HUKUMAN ALLAH ATAS ISRAEL
(Yoel 1:5-7)
_oOo_
 
Pendahuluan
 
Alkitab menyatakan bahwa berkat yang Tuhan janjikan akan diberikan kepada umat-Nya, Israel, ketika mereka setia kepada-Nya. Berkat yang Tuhan berikan itu berupa suatu negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah serta air yang melimpah untuk mereka hidup di dalam kelimpahan, seperti apa yang dikatakan dalam Ulangan 11:12-13: “Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit; suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.”
 
Kehidupan bertani bangsa Israel yang tinggal di negeri tersebut tidak hanya sekedar untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari tetapi juga memberikan keuntungan yang sangat besar bagi mereka. Pertanian yang menjadi dasar hidup ekonomi mayoritas bangsa Israel, telah meningkatkan taraf kehidupan bangsa itu. Tanaman yang dihasilkan dari tanah mereka seperti pohon anggur, pohon ara, minyak zaitun, dan lain sebagainya telah membuat kehidupan perekonomian mereka sangat baik, dan ini sekaligus menjadi lambang dari kesukacitaan mereka. Tetapi apa yang dilakukan oleh bangsa Israel bukan berlaku setia kepada Tuhan yang terlebih dahulu setia memelihara hidup mereka, tetapi justru telah melakukan perbuatan keji di mata Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan harus memperingatkan mereka melalui Yoel bin Petuel tentang akan tibanya penghakiman Tuhan atas mereka jika mereka terus berlaku tidak setia.
 
Pembahasan
 
Firman Tuhan, Yoel 1:5-7, berkata demikian, “Bangunlah, hai pemabuk, dan menangislah! Merataplah, hai semua peminum anggur karena anggur baru, sebab sudah dirampas dari mulutmu anggur itu. Sebab maju menyerang negeriku suatu bangsa yang kuat dan tidak terbilang banyaknya; giginya bagaikan gigi singa, dan taringnya bagaikan taring singa betina. Telah dibuatnya pohon anggurku menjadi musnah, dan pohon araku menjadi buntung; dikelupasnya kulitnya sama sekali dan dilemparkannya, sehingga carang-carangnya menjadi putih.”
 
Pada bagian di atas, kita melihat ada 3 (tiga) kata kerja yang perlu ditekankan dalam peringatan Yoel tersebut, yakni: kata bangunlah, menangislah, dan merataplah. Sebelum masuk ke dalam penekanan ketiga kata tersebut, di situ ada disebutkan kata “pemabuk,” Kata “pemabuk” di sini dapat diumpamakan dengan mereka yang hidup dalam kelimpahan atau kemewahan. Namun meskipun demikian, mereka justru tidak menggunakan anugerah atau berkat itu untuk taat kepada Allah, si pemberi anugerah atau berkat, sehingga dikatakan: “Bangunlah!”. Allah berseru melalui Nabi Yoel agar bangsa itu melihat realita akan keberdosaan yang mereka lakukan. Mereka sudah melupakan hukum Allah, itu sebab mereka harus bertobat dan kembali kepada Tuhan. Di samping itu, Yoel juga menyerukan mereka untuk menangis dan meratap.
 
Kata “menangis” di sini tidak hanya dimengerti pada saat kita mengalami penderitaan lalu kita menangis. Sebagai satu ilustrasi, suatu kesedihan yang teramat dalam yang pernah saya alami beserta keluarga adalah ketika ayah yang kami sangat kasihi dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya. Kepergiannya yang begitu mendadak serta hidup perekonomian yang sangat bertumpu pada beliau, membuat kami bukan saja menangis oleh karena kami tidak dapat bertemu lagi beliau, tetapi kami juga melihat seolah-olah hari depan yang akan kami jalani menjadi tidak menentu arahnya. Kami tidak tahu bagaimana kami harus hidup ke depannya. Dalam setiap tangis, kami juga meratap memohon pertolongan pemeliharaan Tuhan atas hidup kami. Namun demikian, ternyata tangisan dan ratapan dari bangsa Israel jauh melebihi apa yang keluarga saya pernah alami. Bangsa yang bebal itu harus meratap dan menangis oleh karena apa yang menjadi sukacita dan bahkan sumber hidup mereka akan lenyap karena anggur yang ada pada mereka akan lenyap.
 
Bagi orang Yahudi, anggur melambangkan berkat Tuhan kepada mereka. Dalam ayat di atas dikatakan bahwa anggur itu sudah dirampas dari mulut mereka. Ini berarti tidak akan ada lagi hasil panen yang akan mereka terima. Anggur yang dirampas itu juga melambangkan suatu penghakiman Tuhan atas mereka. Tanpa anggur takkan ada lagi kegembiraan. Segala sukacita dan kegembiraan akan lenyap dan Israel (Yoel 1:12) dan pesta besar pun takkan ada lagi.
 
Kata “negeri” dalam ayat yang ke-6 dalam Yoel pasal 1 ini mengacu pada kata “tanah” (land). Kata “tanah” dalam bagian ini berkaitan dengan adanya suatu tempat di mana Tuhan dan umat-Nya terikat dalam suatu perjanjian (covenant). Tanah Perjanjian yang di dalamnya umat Tuhan berada, ketika mereka hidup di dalam ketaatan, maka akan ada berkat Tuhan atas mereka untuk selama-lamanya. Berkat Tuhan yang digambarkan di dalam ayat ini adalah pohon anggur dan pohon ara yang tumbuh subur dan menjadi sumber kehidupan bagi bangsa Israel. Namun demikian, ayat ini juga berkata bahwa akan ada suatu bangsa yang akan menyerang negeri atau tanah itu. Bangsa itu digambarkan dengan bangsa yang kuat yang tidak terbilang banyaknya dan bahkan giginya pun digambarkan bagai gigi singa dan taringnya seperti taring singa betina. Hal ini menggambarkan akan adanya kumpulan belalang penghancur dan perusak. Cara penyerbuan yang dilakukan oleh kumpulan belalang ini adalah dengan menyerbu seluruh pohon anggur dan ara, memakan daunnya dan kemudian menyerang kulit kayunya sehingga pohon itu tidak dapat lagi menghasilkan buah. Buah anggur, buah ara dan minyak zaitun adalah hasil-hasil pokok tanah Palestina. Hasil dari pohon-pohon tersebut merupakan simbol kemakmuran, keamanan negeri mereka dari kelaparan, sekaligus menjadi sumber kehidupan mereka sendiri tanpa bantuan dari bangsa lain. Namun ketika Tuhan mengambil sumber kehidupan itu dari mereka, itu merupakan penghakiman Tuhan yang nyata atas bangsa yang tidak setia itu.
 
Refleksi
 
Apakah yang paling menyedihkan bagi gereja? dan apakah yang menjadi kesedihan bahkan kengerian dalam hidup kita sebagai orang Kristen? Kesedihan dan kengerian kita seharusnya bukan hanya ketika gereja mengalami penganiayaan oleh karena membela dan menyatakan kebenaran melainkan ketika gereja sudah tidak lagi menempatkan Firman Tuhan menjadi hal yang utama. Gereja seringkali lebih mengutamakan bagaimana melakukan ibadah atau aktivitas peribadatan yang hanya memuaskan manusia semata yang pada hakikatnya berpusat pada kepentingan manusia itu sendiri. Demikian pula dengan hidup kita sebagai orang Kristen, bukankah terkadang kesedihan kita diungkapkan hanya pada waktu kita mengalami penderitaan atau kekurangan materi? Mengapa kita tidak bersedih ketika berkat kelimpahan kebenaran Firman Tuhan sudah tidak ada? Di sini kita melihat sebuah kegagalan kita dan gereja. Ketika Tuhan “meninggalkan” gereja dan kita, ini menandakan penghakiman-Nya telah tiba.
 
Rasul Paulus mengatakan bahwa kita seharusnya mengerjakan keselamatan yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Janji Tuhan jelas bahwa keselamatan yang sudah kita terima tidak mungkin akan dapat diambil atau ditarik kembali dengan alasan apapun oleh karena tidak ada satupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rom. 8:38-39). Biarlah ini menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk terus mengerjakan keselamatan yang Tuhan anugerahkan itu, dengan setia mengerjakan panggilan pelayanan-Nya di dalam hidup kita. Dan kita dengan sungguh mau belajar dan dibentuk oleh tangan Tuhan. Dan pada akhirnya biarlah segala pujian, hormat dan kemuliaan, kita kembalikan hanya bagi Tuhan kita.
 
[ Eva Paula Siburian ]
Persekutuan Studi Reformed