PANDANGAN KRISTEN TERHADAP
FENOMENA WISATA ROHANI
_oOo_
 
Pendahuluan
 
Beberapa tahun belakangan ini banyak orang Kristen yang berpandangan bahwa sebagai orang Kristen kita diharuskan atau diwajibkan untuk melakukan perjalanan wisata rohani ke Yerusalem, Sungai Yordan atau ke kota-kota lain yang tercatat di Alkitab. Beberapa biro perjalanan sedemikian gencarnya melakukan promosi, baik itu melalui media cetak maupun elektronik untuk menarik peserta sebanyak-banyaknya dengan iming-iming biaya murah, janji yang diberikan berupa fasilitas terbaik dan bahkan ada juga yang tidak segan-segan mempromosikannya dengan menyelipkan kutipan ayat-ayat Alkitab yang isinya seolah-olah menyuruh atau mewajibkan setiap orang Kristen untuk pergi ke Yerusalem. Dalam usaha mencapai tujuannya itu, mereka berusaha mendekati orang-orang berpengaruh di gereja seperti pendeta, pastor ataupun pengkhotbah. Tidak jarang mereka juga mendekati artis-artis terkenal untuk menarik calon peserta. Melalui nama-nama yang cukup dikenal publik itu, mereka memakai jasa mereka untuk menarik minat calon peserta. Salah satunya dengan menjadikan mereka sebagai pimpinan rombongan wisata rohani tersebut. Dengan metode ini, tidak mengherankan jika usaha biro perjalanan di Indonesia cukup berhasil menarik peserta. Hal ini ditandai dengan begitu maraknya para peserta yang berencana mengikuti perjalanan wisata rohani tersebut.
 
Pertanyaan yang patut dikemukakan di sini adalah apakah perjalanan wisata rohani yang kerap dilakukan orang Kristen adalah sebuah keharusan atau kewajiban? Tanpa disadari atau tidak, secara perlahan tapi pasti akan ada kecenderungan yang mengarah ke sana. Kita melihat banyak orang Kristen yang melakukan perjalanan wisata rohani dengan tujuan ingin mengalami persekutuan dengan peristiwa-peristiwa yang tercatat di Alkitab. Tetapi, tidak sedikit juga hal ini dilakukan dengan motivasi ingin mendapatkan berkat dari Allah. Bahkan ada beberapa pandangan yang mengatakan jika belum mengunjungi Yerusalem imannya masih bersifat teoritis. Bagaimanakah sesungguhnya pandangan Alkitab menjawab fenomena ini?
 
Pembahasan
 
Konsep tanah (land) merupakan tema penting yang tercatat di dalam Alkitab. Konsep ini muncul pada waktu Tuhan menciptakan Taman Eden. Taman Eden merupakan berkat dari Tuhan, yang diciptakan bagi manusia untuk didiami. Tanah yang Tuhan anugerahkan bagi manusia merupakan sebuah tempat yang disediakan Tuhan untuk melayani-Nya. Namun oleh karena ketidaktaatan manusia, Allah mengusir mereka dari Taman Eden. Tetapi janji Allah kembali memberikan pengharapan kepada manusia. Di sana ada suatu tanah, tanah yang berlimpah susu dan madu (Yeh. 20:6) di mana Tuhan bertujuan menebus manusia dari kutukan untuk mengembalikan mereka ke negeri berkat yang telah hilang.
 
Orang Israel sangat membanggakan kota Yerusalem. Kebanggaan itu tidak dapat dilepaskan dari sejarah, pengalaman dan pemahaman teologis atas tempat tersebut. Orang Yahudi sangat rindu kampung halaman mereka di Yerusalem, di mana di sana ada bait Allah tempat mereka beribadah yang dibangun dengan megahnya. Kerinduan tersebut tercemin seperti apa yang dinyatakan kitab Mazmur pasal 42.
 
Injil Yohanes pasal 4 mengisahkan suatu percakapan yang menarik antara Yesus dan perempuan Samaria. Kita mengetahui bahwa orang Samaria sudah lama membanggakan tempat ibadah mereka di gunung Gerizim. Kebanggaan mereka itulah yang dinyatakan perempuan Samaria itu kepada Tuhan Yesus dengan perkataan, “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, ...” (Yoh. 4:20). Namun kita melihat, justru apa yang Tuhan Yesus sampaikan, menjawab pernyataan dari perempuan Samaria itu, di luar perkiraan dan kemungkinan mengecewakan perempuan Samaria dan orang-orang Yahudi pada umumnya. Mengapa? Karena Tuhan Yesus tidak memilih keduanya, baik gunung Gerizim maupun kota Yerusalem. Yesus berkata, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem” (Yoh. 4:21). Kemudian Tuhan Yesus juga menegaskan hal yang penting, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:24). Dengan kata lain, dalam hal ibadah kepada Allah, Tuhan Yesus tidak mengikat umat-Nya pada satu tempat tertentu, termasuk tempat yang dianggap “suci” atau “sakral” oleh nenek moyangnya. Di manapun kita beribadah dan menyembah Allah bukan masalah tempat, asalkan dilakukan dengan benar dan dengan segala kesungguhan, yaitu di dalam pimpinan Roh Kudus.
 
Akhir-akhir ini kita melihat begitu banyak orang Kristen yang melakukan wisata rohani demi untuk bisa dibaptis ulang di Sungai Yordan. Tidak sedikit dari mereka yang beranggapan air sungai Yordan dapat menghapus dosa-dosa mereka. Demikian pula, banyak juga orang Kristen yang berpandangan bahwa dengan berziarah ke Tanah Perjanjian, itu sangat berguna untuk menghapuskan jiwa mereka yang terbelenggu sekaligus memberikan mereka suatu visi yang jelas. Bagaimana pandangan Alkitab mengenai hal ini? Alkitab dengan jelas dan tegas tidak pernah menawarkan dosa dapat diampuni atau dihapuskan hanya dengan berpergian atau berziarah ke tempat tertentu. Hanya melalui iman di dalam pengorbanan Yesus Kristus, dosa dapat dihapuskan. Pengampunan dosa tidak pernah dibatasi oleh satu tempat tertentu meskipun tempat itu dianggap tempat yang “suci”. Demikian halnya dengan baptisan. Baptisan tidak dapat menyelamatkan, sekalipun itu dilakukan di sungai Yordan. Keselamatan adalah anugerah dari Allah yang diperoleh hanya melalui iman kepada Yesus Kristus. Keselamatan tidak ada hubungannya dengan baptisan di Sungai Yordan.
 
Penutup
 
Dari pembahasan di atas, jelaslah bahwa Alkitab tidak pernah memberikan suatu perintah khusus yang mewajibkan orang Kristen untuk pergi ke Yerusalem melakukan wisata rohani. Memang tidak ada salahnya melakukan kunjungan ke tempat-tempat yang berkaitan dengan sejarah Alkitab, asalkan itu dilakukan dengan pemahaman yang benar dan sesuai dengan Alkitab. Melalui perenungan ini, biarlah setiap kita, orang Kristen, boleh membangun imannya hanya di atas dasar kebenaran Firman Tuhan yang sejati bukan berdasarkan pengalaman-pengalaman kita yang seringkali bersifat subjektif.
 
[ Relita Bintang Sihite ]
Persekutuan Studi Reformed