Dari Manakah Datangnya Pertolonganku?
_oOo_
 
 
 
Mazmur 121:1
Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
 
 
Dari ayat ini, kita melihat ada 2 (dua) hal pokok yang ingin dikemukakan oleh Pemazmur. Pertama, mengenai suatu kondisi alam dari daerah yang dipenuhi gunung-gunung. Kedua, mengenai sebuah pertanyaan yang menggambarkan seseorang yang berada dalam kondisi terancam dan memerlukan pertolongan. Dalam Alkitab, kita mengetahui bahwa ada satu kota yang memiliki kondisi geografis seperti yang digambarkan oleh Pemazmur di atas. Kota tersebut adalah Yerusalem, Secara geografis, Yerusalem terletak di atas gunung dan dikelilingi oleh jajaran pegunungan. Kota itu merupakan salah satu tempat yang cukup penting di dalam Alkitab di mana pekerjaan Tuhan yang berlangsung progresif terjadi di sana. Oleh karena itu pula kota ini disebut sebagai rumah Tuhan. “Dari Sion, puncak keindahan, Allah tampil bersinar.” (Maz. 50:2).
 
Yerusalem juga merupakan pusat pemerintahan pada masa kekuasaan Raja Daud, sehingga kota ini juga disebut Kota Daud. Walaupun Yerusalem terletak di atas gunung, namun bukan merupakan puncak tertinggi di antara jajaran pegunungan yang mengelilinginya. Yerusalem seolah-olah berada di dalam sebuah mangkuk, karena dikelilingi oleh pegunungan yang lebih tinggi sehingga bentuknya menyerupai huruf “V”. Kondisi geografis yang demikian menjadi satu keuntungan bagi kota itu. Pegunungan yang mengelilinginya menjadi batas pemisah dari bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Secara alami pegunungan yang mengelilinginya menjadi benteng pertahanan dari serangan bangsa-bangsa yang ingin menaklukkan dan mendudukinya. “Beginilah firman Tuhan ALLAH: Inilah Yerusalem! Di tengah-tengah bangsa-bangsa Kutempatkan dia dan sekelilingnya ada negeri-negeri mereka” (Yeh. 5:5).
 
Namun demikian, apakah itu berarti bahwa Yerusalem merupakan kota yang cukup aman dari serangan? Apakah kota ini benar-benar terlindungi oleh letak geografisnya? Bangsa-bangsa yang pernah mendiami Yerusalem beranggapan bahwa tidak seorangpun mampu memasuki dan mengalahkan kota itu. Mereka beranggapan bahwa kondisi alam yang sedemikian berat, dengan pegunungan dan jurangnya, membuat musuh berpikir seribu kali sebelum melakukan penyerangan ke kota itu. “Lalu raja dengan orang-orangnya pergi ke Yerusalem, menyerang orang Yebus, penduduk negeri itu. Mereka itu berkata kepada Daud: “Engkau tidak sanggup masuk ke mari; orang-orang buta dan orang-orang timpang akan mengenyahkan engkau!” Maksud mereka: Daud tidak sanggup masuk ke mari,” (2 Sam. 5:6).
 
Alkitab mencatat bahwa kota Yerusalem bukanlah kota yang aman dari serangan bangsa-bangsa di sekitarnya. Dalam perjalanan sejarahnya yang cukup panjang, kota ini telah berkali-kali mengalami penyerangan, kejatuhan dan pendudukan. Bangsa Israel juga berhasil merebut kota itu dari bangsa yang mendiaminya, bangsa Yebus, dan Daud menjadikan kota itu sebagai pusat pemerintahannya. “Sesudah itu bani Yehuda berperang melawan Yerusalem, merebutnya lalu memukulnya dengan mata pedang dan memusnahkan kota itu dengan api,” (Hak. 1:8).
 
Lalu apa yang ingin dinyatakan dari pertanyaan yang disampaikan Pemazmur ini? Kota Yerusalem yang secara geografis terlindung secara alami oleh pegunungan yang mengelilinginya, ternyata tidak mampu menahan serangan dan pendudukan dari bangsa-bangsa lain. Pemazmur menggambarkan kota itu berada dalam ancaman dan juga merupakan sebuah tempat yang cukup rentan untuk diserang dan diduduki. Melalui bagian ini kita diingatkan bahwa ketika manusia mengandalkan kekuatannya sendiri dan alam untuk membentengi diri dan kotanya, maka itu merupakan suatu kesia-siaan belaka. Yerusalem di bawah kekuasaan Israel pernah berulangkali mendapat serangan yang cukup hebat dan bahkan pernah diduduki oleh bangsa lain ketika bangsa itu tidak lagi mengandalkan Allah sebagai benteng pertahanannya. Demikian pula sebaliknya, bangsa itu akan menjadi bangsa yang tidak terkalahkan ketika mereka mengandalkan Tuhan sebagai benteng pertahanan dan juga pertolongannya. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti,” (Maz. 46:2). Demikian halnya dengan kita sebagai orang Kristen, biarlah hidup kita tetap terus mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatunya karena hanya Dialah satu-satunya yang menjadi sumber dari pertolongan kita.
 
[ David M. Siambaton ]
Persekutuan Studi Reformed