Kesulitan dan Penderitaan
Merupakan Jalan Bagi Penebusan
_oOo_
 
 
Hal itu terjadi supaya genaplah apa yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1:22-23).
 
 
Pengantar
 
Artikel ini ditulis untuk mengembangkan pemikiran atas apa yang penulis telah tuliskan dalam artikel buletin Persekutuan Studi Reformed edisi Natal tahun 2009 lalu. Melalui tulisan ini penulis mengajak kita melihat bahwa Tuhan adalah pemelihara perjanjian yang setia atas umat-Nya. Kesulitan dan penderitaan yang menghimpit umat-Nya tidak menggagalkan rencana-Nya. Kesulitan dan penderitaan justru merupakan alat pembentukan kita di dalam rencana-Nya.
 
Pendahuluan
 
Berita kelahiran Kristus turun di tengah-tengah kenyataan pahit yang dijalani Israel yang telah limaratus delapanpuluh tahun lebih lamanya tidak lagi dipimpin oleh institusi kerajaan yang dilangsungkan dinasti Daud. Sejak Israel kembali dari pembuangannya di Babel, kepemimpinan masyarakat umumnya dijalankan oleh institusi keimaman sekalipun di dalamnya banyak pula pelanggaran telah terjadi. Teguran keras Tuhan kepada para imam di dalam kitab Maleakhi, misalnya, menjelaskan akan hal itu. Itu sebab tidak heran kalau pada saat Kristus lahir, limaratus tahun setelah Israel kembali dari pembuangan di Babel, eksekusi-eksekusi atas pelanggaran yang terjadi terhadap hukum Taurat tetap dijalankan di tanah Palestina. Hukum Taurat yang dijalankan institusi keimaman menjadi jerat bagi mereka. Di tengah situasi seperti itulah Kristus lahir.
 
Ayat 22
 
Kata “hal itu” di dalam ayat 22 menunjuk pada apa yang Tuhan sedang kerjakan melalui hidup Yusuf dan Maria, yaitu saat Maria dipilih untuk mengandung dari Roh Kudus dan dengan demikian menjadi jalan bagi kelahiran Kristus, Anak Allah. Sebelum itu ayat 18 menegaskan terlebih dahulu bahwa Yesus Kristus dikandung oleh Maria pada saat ia sudah bertunangan dengan Yusuf, seorang laki-laki dari garis keturunan Daud. Hal itu memaksudkan bahwa di dalam diri Yesus Kristus, Anak Allah, yang sedang dikandungnya itu, sama sekali tidak ada benih Yusuf. Sebagai orang Yahudi yang saleh Yusuf benar-benar menyadari bahwa atas seorang gadis perawan yang sudah bertunangan tetapi didapati hamil di luar suatu ikatan pernikahan (Ul. 22:23-24) dapat dijatuhi hukuman dilempari batu sampai mati. Hal ini menjelaskan mengapa Yusuf amat takut saat mengetahui bahwa gadis tunangannya itu telah mengandung seorang bayi dalam status dan kondisinya sebagai seorang perawan. Pekerjaan Tuhan yang sedang turun atasnya itu seakan-akan menempatkan dirinya di dalam bahaya besar. Demikian dikatakan Calvin mengenai seorang perempuan yang sudah bertunangan dengan seorang laki-laki tetapi didapati hamil di luar ikatan pernikahan:
 
 
… the law condemned both of the guilty parties as adulterers. / … hukum Taurat menempatkan kedua belah pihak yang keadaannya cemar tersebut sebagai pezinah. (John Calvin, “Commentary on A Harmony of the Evangelists: Matthew, Mark and Luke,” Volume 1, The Calvin Translation Society, 1843)
 
 
Benih Mesias yang dikandung Maria saat itu benar-benar menempatkan Yusuf dan Maria di dalam keadaan tidak berdaya sama sekali. Ayat 19 mencatat bagaimana kesulitan itu membuat Yusuf bergumul untuk menceraikan Maria dengan diam-diam sebelum pada akhirnya Tuhan campur tangan melalui malaikat-Nya di dalam sebuah mimpi. Perkataan malaikat itu diawali dengan sebuah penghiburan atas Yusuf. “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut ...” Maksudnya, meskipun keadaan Maria yang mengandung itu membuat mereka berdua seolah-olah berada di dalam posisi yang melawan hukum Taurat, yang sesungguhnya terjadi adalah Tuhan sedang melibatkan mereka untuk mempersiapkan datangnya Mesias yang telah lama dinantikan itu melalui garis keturunan Daud. Terhubungnya Yusuf dengan nama Daud menegaskan hal itu. Mengenai mimpi yang dialami Yusuf tersebut demikianlah kita harus memahaminya, sebagaimana dikatakan oleh Calvin:
 
 
… we must understand that dreams of this sort differ widely from natural dreams, for they have a character of certainty engraven on them, and are impressed with a divine seal, so that there is not the slightest doubt of their truth. /… kita harus memahami bahwa mimpi-mimpi (yang ada di dalam sejarah_pewahyuan) ini tentu berbeda sekali dengan mimpi-mimpi yang terjadi sebagaimana biasanya, ada sifat kepastian yang melekat padanya, dinyatakan dengan materai ilahi, sehingga tidak ada sedikitpun yang meragukan dari kebenarannya. (John Calvin, “Commentary on A Harmony of the Evangelists: Matthew, Mark and Luke,” Volume 1, The Calvin Translation Society, 1843)
 
 
Ayat 21 mencatat bahwa bayi yang akan lahir itu kelak harus dinamai “Yesus” yang artinya “menyelamatkan,” sesuai dengan apa yang akan dikerjakan-Nya, yaitu menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21). Dia yang dinanti dari garis keturunan Daud itu merupakan pengantara bagi datangnya penebusan dosa dan tanduk keselamatan bagi Israel. Nubuat Zakharia dalam Lukas 1:69 menegaskan hal itu: “Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita, di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu.” Tanduk keselamatan itu adalah, seperti dikatakan Calvin:
 
 
That is, saving power, for when the throne of David was cast down, and the people scattered, the hope of salvation had to all appearance perished. / Kuasa yang menyelamatkan, karena ketika takhta Daud itu sepertinya telah berlalu, dan umat itu tercerai berai (di dalam pembuangan), pengharapan akan keselamatan itu seakan pudar. (John Calvin, “Commentary on A Harmony of the Evangelists: Matthew, Mark and Luke,” Volume 1, The Calvin Translation Society, 1843)
 
 
Setelah mendengar semua yang disampaikan malaikat Tuhan itu Yusuf bangun dari tidurnya, lalu berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya “tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki ...” (Matius 1:25). Kesesakan yang sedang dialaminya itu ternyata merupakan jalan bagi turunnya pekerjaan Tuhan yang besar. Siapakah mereka sehingga mereka boleh berbagian di dalamnya?
 
Ayat 23
 
Ayat 23 merupakan kutipan dari Yesaya 7:14. Anak laki-laki yang sedang dikandung dan akan dilahirkan Maria itu sesungguhnya merupakan tanda penyertaan Tuhan atas umat-Nya. Ia merupakan tanda bahwa Tuhan akan tetap setia memelihara perjanjian-Nya dengan Daud dan keturunannya sehingga keluarga dan kerajaan Daud akan kokoh untuk selama-lamanya (1 Sam. 7:16). Hanya oleh karena Kristus takhta Daud disebut kekal. Tanda penyertaan yang sama dahulu juga pernah disampaikan oleh Yesaya kepada Ahas, raja Yehuda. Saat Ahas, raja Yehuda, memerintah Yerusalem dikepung oleh koalisi antara Rezin (raja Aram) dan Pekah (raja Israel). Takhta Daud terancam runtuh. Dalam keadaan gemetar ketakutan, yang oleh nabi Yesaya digambarkan bagaikan “pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin” (Yes. 7:2) itu, Ahas diperintahkan untuk memohon kepada Tuhan suatu tanda penyertaan. Perintah itu ditolaknya. Akibat penolakan itu Tuhan memberikan Ahas suatu tanda penghakiman berupa akan lahirnya seorang anak laki-laki yang kelak akan dinamai Imanuel, dari seorang perempuan muda. Namun demikian Ahas tetap memilih jalannya sendiri. Ia mengikat perjanjian dengan Tiglat-Pileser, raja Asyur dan dengan demikian memohon perlindungan kepadanya (2 Raj. 16:10-18). Ahas tidak melihat bahwa Tuhan yang memelihara perjanjian dengan nenek moyangnya adalah Tuhan yang pada saat itu juga sedang beserta Yehuda yang berada dalam bahaya.
 
Tanda penghakiman yang dahulu disampaikan kepada Ahas itu kini menjadi tanda penyertaan bagi Yusuf dan Maria. Tuhan yang memelihara perjanjian-Nya dengan Daud adalah Tuhan yang pada saat itu juga sedang menyertai mereka dalam mengerjakan bagian mereka itu.
 
Penutup
 
Penderitaan, kesulitan dan kesesakan yang kita alami merupakan alat di mana penebusan itu digenapi. Oleh pertolongan dan anugerah-Nya selalu tetap ada ruang bagi kita untuk bekerja menggenapkan apa yang menjadi bagian kita masing-masing. Persekutuan Studi Reformed telah menjadi suatu wadah di mana orang-orang percaya boleh hidup untuk bekerja menjalani realitas itu menurut dinamika di mana Tuhan menempatkan mereka masing-masing.
 
[ Jessy Victor Hutagalung ]