Tuhan Disembah Sebagai
Raja Atas Seluruh Bumi
(Renungan Eksposisional Zakaria 14:16-21)
_oOo_
 
Pengantar
 
Tulisan ini merupakan renungan eksposisional atas kitab Zakaria pasal 14:16-21 yang berbicara tentang tibanya hari Tuhan. Hari-Nya Tuhan akan menyatakan penghakiman-Nya kepada bangsa-bangsa yang tidak bertobat dan tidak datang menyembah Dia, sekaligus menyatakan kesukaan yang besar bagi seluruh bumi, yaitu kepada mereka dari tiap-tiap bangsa yang datang menyembah Dia sebagai TUHAN, Raja semesta alam. Namun sebelum kita merenungkan Zakaria 14:16-21 ini, maka pertama-tama kita perlu memahami terlebih dahulu garis besar kitab ini. Berdasarkan rentang waktu masa pelayanan nabi Zakaria, yaitu tahun 520 B.C. dan 475 B.C./480 B.C, kita menemukan setidaknya ada 3 tema utama yang menjadi penekanan dalam kitab ini, yaitu:
 
A.
Masa pelayanan Zakaria tahun 520 B.C.
 
  1. Delapan penglihatan (Zakaria 1:7-6:8)
    Fokus pada pembangunan kembali Bait Allah, di mana melalui delapan visi atau penglihatan yang nabi Zakaria terima, ia mendorong umat Tuhan yang sudah kembali dari pembuangan untuk membangun Bait Allah dan bertobat dari dosa-dosa mereka.
     
  2. Puasa (Zakaria 7-8)
    Fokus pada kemunafikan ibadah puasa dari mereka yang belum kembali dari pembuangan, sekaligus menyatakan masih hadirnya dosa di tengah-tengah mereka. Namun, Zakaria melihat bahwa Yerusalem akan menjadi gunung kudus-Nya TUHAN dan TUHAN sendiri yang akan menjadi Allah mereka di dalam kesetiaan dan kebenaran.
 
B.
Masa pelayanan Zakaria tahun 475 B.C./480 B.C.
 
  1. Dua ucapan Ilahi (Zakaria 9-14)
    Fokus pada datangnya Tuhan Raja yang akan menghakimi umat-Nya dan bangsa-bangsa lain, yang akan mencapai puncaknya pada keselamatan atau pembebasan atas Yerusalem.
 
Meredith G. Kline membagi struktur kitab Zakaria dalam sebuah bentuk kiasmus, dengan Zakaria 3:1-10 dan Zakaria 11:1-17 sebagai pusatnya. (Bagan dapat dilihat pada bagian appendix).
 
Pembahasan
 
Zakaria pasal 14 ditempatkan dalam konteks ucapan Ilahi kedua (Zakaria 12), di mana apa yang menjadi beban Tuhan melalui ucapan-Nya, pada akhirnya akan dieksekusi pada hari Tuhan (day of The Lord). Ucapan Ilahi Tuhan tidak hanya menyatakan penghakiman-Nya, namun juga menyatakan janji pemulihan bagi umat-Nya.
 
 
Pasal 14:16
Maka semua orang yang tinggal dari segala bangsa yang telah menyerang Yerusalem, akan datang tahun demi tahun untuk sujud menyembah kepada Raja, TUHAN semesta alam, dan untuk merayakan hari raya Pondok Daun.
 
 
Jika pada ayat 12-15 nabi Zakaria mengatakan bahwa segala bangsa yang memerangi Yerusalem akan Tuhan hukum, maka pada ayat 16 dikatakan bahwa semua orang yang tinggal dari segala bangsa yang telah menyerang Yerusalem akan datang tahun demi tahun untuk menyembah kepada Raja, TUHAN semesta alam. Tidak semua bangsa-bangsa yang menyembah berhala akan dihancurkan, tetapi mereka akan diubahkan, diperbaharui, dan akan datang menyembah TUHAN yang benar dan hidup di Yerusalem (bdk. Yes. 2:2-4). Jadi, teks ini sekali lagi ingin menegaskan bahwa orang-orang di luar umat Allah(Israel) akan berbagian di dalam kerajaan Allah, menyembah Dia di dalam ketaatan.
 
Penyembahan orang-orang di luar umat Allah (Gentiles) diekspresikan dalam satu bentuk perayaan yang disebut hari raya Pondok Daun. Hari raya ini (hari ke-15 bulan ke-7) merupakan suatu perayaan mengumpulkan hasil petikan panen mereka dan bersukaria di hadapan TUHAN Allah. Hari raya ini sesungguhnya ingin menggambarkan sukacita dan rasa syukur yang besar atas berkat yang dicurahkan TUHAN kepada mereka. Hari raya ini merupakan hari raya paling akhir dalam satu tahun yang ditetapkan TUHAN atas umat-Nya, Israel yang ditempatkan setelah hari perdamaian (the Day of Atonement), satu hari di mana umat TUHAN bersama-sama merendahkan diri, berkabung, dan mempersembahkan korban kepada TUHAN sebagai korban pendamaian atas dosa-dosa mereka (Im. 23:27).
 
Namun demikian, hari raya Pondok Daun tidak sekadar hanya berbicara tentang perayaan pengumpulan hasil petikan panen saja, namun lebih daripada itu, ia berbicara jauh ke depan menunjuk pada satu hasil tuaian besar di mana umat Allah dari seluruh bangsa-bangsa akan bersukaria bersama-sama di dalam kehadiran Allah. Perlu diingat, dasar pengertian dari perayaan Pondok Daun dalam konteks Perjanjian Baru, setelah the Day of Atonement itu digenapi oleh Kristus di kayu salib, kemudian akan diikuti dengan kelimpahan buah-buah dari pengorbanan itu. Penebusan yang dikerjakan oleh Kristus akan membawa setiap orang menikmati kehadiran Allah.
 
 
Pasal 14:17-19
Tetapi bila mereka dari kaum-kaum di bumi tidak datang ke Yerusalem untuk sujud menyembah kepada Raja, TUHAN semesta alam, maka kepada mereka tidak akan turun hujan. Dan jika kaum Mesir tidak datang dan tidak masuk menghadap, maka kepada mereka akan turun tulah yang ditimpakan TUHAN kepada bangsa-bangsa yang tidak datang untuk merayakan hari raya Pondok Daun.
 
 
Bagian ini berbicara bagaimana setiap mereka dari kaum-kaum di bumi yang tidak datang ke Yerusalem untuk mengakui adanya kedaulatan TUHAN, maka mereka akan menerima penghukuman-Nya. TUHAN tidak akan menurunkan hujan kepada mereka. Ayat ini jika ditinjau dalam konteks perjanjian (covenant) berbicara mengenai berkat atau kutuk (bdk. Im. 26:4; Ul. 28:12, 24). Seperti kita ketahui, perayaan Pondok Daun selalu dikaitkan dengan musim hujan. Air merupakan salah satu bagian terpenting hari raya ini. Ketika dikatakan Tuhan tidak akan menurunkan hujan bagi mereka, hal ini mengingatkan mereka akan pelanggaran Perjanjian itu dan konsekuensinya Tuhan akan menghukum mereka. Bagi umat Tuhan di Perjanjian Lama, air hujan yang Tuhan turunkan memiliki arti penting sebagai sumber pemeliharaan hidup bagi mereka. Dan di dalam Yohanes 7:37-38, Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa hanya Dia-lah Air sumber hidup dan berkat itu. Dengan demikian, ketika dikatakan “tidak akan turun hujan bagi mereka,” maka ini juga berarti mereka kehilangan Tuhan, sang Sumber Hidup itu.
 
Di dalam Alkitab, Mesir seringkali ditipologikan sebagai satu diantara bangsa-bangsa yang tidak taat kepada Allah. Maka, tak heran jika Mesir disinonimkan dengan bangsa-bangsa. Seperti kita ketahui, bangsa Mesir tidak pernah bergantung kepada air hujan karena mereka memiliki sungai Nil yang menjadi sumber kehidupan mereka. Meski demikian, Mesir dan bangsa-bangsa lain juga tidak akan luput dari penghakiman TUHAN jika mereka tidak datang ke Yerusalem menghadap TUHAN, Raja semesta alam. Air hujan atau sungai Nil tidak akan lagi memberikan kehidupan bagi mereka. Dalam keterkaitannya antara peristiwa kematian anak sulung di Mesir dengan Zakaria 14:12, maka dapat disimpulkan bahwa pasal 14:18 merupakan hukuman yang membawa kematian. Hukuman ini tidak hanya berlaku bagi Mesir, namun berlaku juga bagi semua bangsa-bangsa yang tidak datang pada hari perayaan itu. Bagi Nabi Zakaria, hukuman ini adalah suatu bentuk hukuman atas pemberontakan dan penolakan mereka terhadap pemerintahan Allah.
 
 
Pasal 14:20-21
Pada waktu itu akan tertulis pada kerencingan-kerencingan kuda: “Kudus bagi TUHAN!” dan kuali-kuali di rumah TUHAN akan seperti bokor-bokor penyiraman di depan mezbah. Maka segala kuali di Yerusalem dan di Yehuda akan menjadi kudus bagi Tuhan semesta alam; semua orang yang mempersembahkan korban akan datang mengambilnya dan memasak di dalamnya. Dan tidak akan ada lagi pedagang di rumah TUHAN semesta alam pada waktu itu.
 
 
Ketika TUHAN menegakkan kerajaan-Nya yang kekal, maka tidak akan ada lagi yang jahat dan yang najis. Tidak akan ada lagi pemisahan antara yang kudus dengan yang tidak kudus. Kekudusan itu akan meluas ke seluruh aspek. Kuda, yang adalah sesuatu yang penting bagi Israel khususnya di dalam peperangan, tetap adalah binatang yang tidak kudus (unclean) (bdk. Im. 11:1-8). Pada hari itu, kuda-kuda tidak hanya bebas dari beban berat, tetapi juga mengenakan kerencingan-kerencingan yang bertuliskan “Kudus bagi TUHAN.” Sama halnya seperti sebuah patam yang bertuliskan “Kudus bagi TUHAN” yang dilekatkan pada serban Imam Besar (Kel. 28:36-38). Seperti halnya rasul Petrus yang telah belajar untuk memahami dan menerima bangsa-bangsa yang tidak kudus (unclean Gentiles) masuk ke dalam rencana keselamatan Tuhan (Kis. 10:9-16).
 
Kuali (alat rumah tangga/alat memasak (Kel. 16:3; 2 Raj. 4:38) di Yerusalem dan Yehuda adalah peralatan-peralatan yang tidak kudus, namun semuanya akan menjadi kudus, yaitu dikhususkan, dimurnikan, dan dapat digunakan dalam ibadah kepada TUHAN. Akhirnya, pedagang dalam hal ini adalah bangsa Kanaan, bangsa yang mengutuki Israel (Kej. 9:25) dan bangsa yang dihalau oleh TUHAN (Yos. 3:10), mereka berbagian di dalam ibadah kepada Allah. Pada waktu hari TUHAN (in the day of the Lord), tidak akan ada lagi perbedaan antara bangsa Israel dan bangsa-bangsa di luar Israel (“Gentiles”), karena kini semuanya adalah umat TUHAN di dalam ciptaan yang baru (bdk. Gal. 3:28).
 
Penutup
 
Tuhan menyatakan bahwa Dia tidak melupakan umat-Nya, sekalipun umat-Nya tidak setia kepada-Nya. Dia tetap TUHAN, Raja semesta alam, atas Israel dan atas seluruh bangsa. Kelahiran Kristus bagi umat-Nya menyatakan suatu kerajaan Mesianik di mana seluruh bangsa akan datang kepada-Nya dan menyembah Dia sebagai Raja, karena melalui-Nya berita keselamatan telah tiba atas mereka. Berita keselamatan yang telah digenapi melalui kelahiran Kristus Tuhan dinyatakan tidak hanya kepada bangsa Israel, namun juga kepada seluruh bangsa melalui berita Injil yang terus dikumandangkan hingga ke ujung-ujung bumi.
 
[ Mulatua Silalahi ]
 
APPENDIX