Hidup Orang Kristen di Dalam Dunia yang Berdosa
(Renungan Kolose 3:5-17)
_oOo_
 
 
Pengantar
 
Apakah tujuan utama orang Kristen hidup di tengah dunia yang berdosa ini? Memberitakan Injil kerajaan Allah! Setiap orang yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus seharusnya memperlihatkan suatu perubahan progresif di dalam hidupnya. Suatu perubahan menuju pada keserupaan dengan Kristus (to be like Christ).
 
Status kita yang dahulu di luar Kristus adalah orang berdosa yang layak dimurkai. Tetapi, ketika kita berada di dalam Kristus, maka status itu telah berubah, kita menjadi anak-anak Allah yang dikaruniai keselamatan kekal. Kita percaya itu semua sepenuhnya merupakan anugerah Tuhan kepada kita. Meski demikian, status kita di dalam Kristus tidak serta merta membuat kita sama sekali bebas dari dosa, dalam pengertian kita tidak akan pernah jatuh lagi ke dalam dosa. Tidak demikian! Kita masih dimungkinkan untuk jatuh lagi ke dalam perbuatan dosa, namun di dalam status yang baru itu, dosa tidak lagi berkuasa untuk membelenggu hidup kita. Kejatuhan tidak akan pernah merubah status kita sebagai anak Allah, namun ia berdampak pada relasi kita dengan Allah. Dosa merusak relasi kita dengan Allah, karena dosa sangat mendukakan hati Allah. Itu sebab, ketika kita jatuh dalam dosa, kita harus bertobat, mengakui dosa-dosa kita dan kembali kepada Allah. Di dalam dinamika jatuh bangun inilah, kita sedang berada pada proses pengudusan yang dikerjakan oleh Allah secara progresif melalui karya Roh Kudus, sehingga di dalamnya kita terus mengalami pembentukan untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, Yesus Kristus.
 
Setiap perubahan hidup yang kita hasilkan bukanlah perkara yang mudah, seperti membalikkan telapak tangan, namun itu membutuhkan suatu perjuangan dan pengorbanan besar. Perjuangan itu tidak semata-mata bersandar pada kekuatan kita sendiri, namun kita juga perlu bersandar pada pertolongan Roh Kudus yang memberi kita kekuatan untuk menjalaninya. Jika kita memandang perubahan hidup yang kita hasilkan merupakan sesuatu yang mudah dilakukan, maka tanpa sadar kita akan terus jatuh dan jatuh lagi ke dalam dosa yang sama. Hal ini akan menjebak kita masuk ke dalam cara hidup legalis dari orang Farisi yang hanya berfokus pada hidup secara lahiriah agar kelihatan baik di mata orang lain, padahal kehidupan spiritualnya mengalami kekeringan.
 
Melalui pembahasan artikel ini, kita akan menelaah lebih jauh apakah yang dimaksud “manusia baru” di dalam Kristus dan pola hidup seperti apa yang harus kita perankan sebagai manusia baru di tengah kehidupan di dunia ini.
 
Pembahasan
 
Pertama-tama, sebagai orang Kristen, kita perlu menyadari bahwa hidup kita seharusnya berbeda dengan orang lain yang bukan Kristen. Kita dituntut untuk setia dan taat dalam kebenaran Tuhan, serta mampu menyatakan kasih kita kepada orang lain. Rasul Paulus di dalam Kolose 3:5 berkata demikian, “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.” Pada ayat ini, Paulus menggunakan kata “matikanlah” untuk menunjukkan penolakannya terhadap pengajaran legalistik dari orang Yahudi. Ia menyerukan kepada orang percaya yang sudah mengenakan manusia baru untuk menerapkan prinsip ”mati bagi dosa dan hidup untuk Allah.” Paulus membuat satu daftar dosa-dosa yang harus dimatikan, seperti: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan (ayat 5). Dari daftar dosa ini, kita dapat membaginya ke dalam 2 (dua) kategori, yakni: dosa seks dan dosa ketamakan. Dosa seks diwakili oleh dosa percabulan, kenajisan, dan hawa nafsu. Sedangkan untuk dosa ketamakan diwakili oleh dosa nafsu jahat dan ketamakan. Di samping itu, Paulus juga menambahkan daftar dosa-dosa lainnya, seperti: kemarahan, kegeraman, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut kita (ayat 8). Dari seluruh daftar dosa-dosa ini, dosa keserakahan menjadi fokus yang perlu diperhatikan oleh karena dosa ini selalu terkait dengan penyebab dari dosa-dosa lainnya. Kita dapat mendefinisikan keserakahan sebagai suatu pembiaran atau pengizinan terhadap hal-hal yang menjadi pusat dari keinginan diri demi pemuasan diri dengan menghilangkan kebergantungan penuh kita kepada Allah. Itu sebab, keserakahan dipersamakan dengan penyembahan berhala (ayat 5).
 
Seringkali di dalam hidup ini kita mengaku bahwa kita setia kepada Allah dan firman-Nya, namun di saat yang sama kita juga sering memberikan kesetiaan kita setara bahkan lebih kepada orang-orang, lembaga, tradisi, dan atau penguasa di bumi ini. Penyembahan berhala merupakan kekejian bagi Allah yang dapat mendatangkan murka-Nya atas kita. Jangan sekali-kali kita menganggap rendah dosa-dosa yang kita lakukan dan menganggapnya hanya sebuah dosa kecil, sehingga dengan mudah kita boleh mengulanginya lagi. Misalnya, pada waktu kita sedang menjalankan tugas pekerjaan, kita melakukan suatu kesalahan, seringkali kita berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan kesalahan itu, dan jika memungkinkan kita melemparkan kesalahan itu kepada orang lain yang tidak bersalah hanya demi mempertahankan reputasi kita di hadapan orang lain. Kita harus sadar bahwa sekecil apapun dosa kita, itu tidak akan pernah berkenan kepada Allah.
 
Murka Allah menjadi suatu kata yang begitu menakutkan kita, seakan Allah yang kita percaya adalah Allah yang kejam. Mengapa demikian? Kita harus mengerti murka Allah erat kaitannya dengan keadilan Allah. Keadilan-Nya mengharuskan Ia menghukum dosa. Allah menghukum orang berdosa dengan maut (Rom. 5:12, 6:23; Kej. 2:16-17). Allah sangat murka terhadap dosa oleh karena Ia mengasihi kebenaran (Rom. 3:5-6). Di sini, kita bisa melihat murka Allah sesungguhnya adalah ungkapan kebenaran dan keadilan Allah. Murka Allah bukanlah akhir dari segalanya bagi manusia berdosa. Allah yang penuh kasih dan rahmat telah menyediakan jalan keluarnya. Melalui kematian Kristus, murka Allah atas manusia berdosa diredakan. Kematian Kristus menjadi satu-satunya jalan keluar bagi manusia berdosa. Yang perlu kita lakukan adalah bertobat dan berbalik dari dosa-dosa kita dan kembali kepada Allah. Kita harus beriman kepada Kristus dan jasa-jasa Kristus di kayu salib.
 
Sebagai orang yang telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, Paulus menuntut kita untuk meninggalkan segala perbuatan dan kelakuan kita yang jahat dan yang bertentangan dengan kesucian Allah. Kita harus membuang kemarahan, kegeraman, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut kita (ayat 8). Jika kita mengaku sudah menjadi manusia baru di dalam Kristus, maka kita tidak boleh terus menerus hidup di dalam kelakuan lama kita. Jika tidak demikian, maka kita tidak lebih dari seorang munafik. Di satu sisi kita masih melakukan ritual keagamaan kita, mengambil bagian dalam pelayanan kepada Tuhan, namun di saat bersamaan kita masih hidup di dalam manusia lama kita. Oleh karenanya, kita tidak berhak menyebut diri kita orang Kristen. Pertobatan kita menjadi suatu pertobatan palsu.
 
Sebagai umat pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kita dituntut untuk mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (ayat 12). Sifat-sifat ini menjadi bukti nyata kita sebagai umat pilihan Allah yang dipelihara oleh-Nya. Lalu di ayat 13 dikatakan, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Sering kita melihat dan mendengar peristiwa-peristiwa yang memiriskan hati kita. Perceraian pasangan suami istri atau perselisihan di antara anggota keluarga yang berujung pada pembunuhan. Kedua peristiwa ini biasanya terjadi karena kesalahpahaman yang berbuntut pada munculnya perkataan-perkataan kasar yang melukai hati. Perkataan kasar ini seringkali membuat seseorang sulit mengampuni yang berujung pada dendam berkepanjangan. Selain itu, di dalam pekerjaan kita pun seringkali muncul konflik di mana sesama karyawan bisa saling menjatuhkan satu sama lain hanya demi mengejar kedudukan tinggi. Begitu pula di ranah pelayanan kita, konflik yang terjadi bisa muncul akibat teguran-teguran keras di antara rekan sepelayanan yang mengakibatkan pelayanan menjadi tidak efektif.
 
Marilah kita memandang kepada Kristus. Kristus yang memberikan pengampunan tak terbatas kepada kita melalui kematian-Nya yang menanggung dosa-dosa kita, sehingga kita dapat dilepaskan dari cengkeraman maut. Ini merupakan bukti kasih-Nya kepada kita, umat pilihan-Nya.
 
Penutup
 
Pertobatan sejati hanya bersumber dari Allah dan hal itu dinikmati semata-mata oleh karena anugerah-Nya. Setiap orang yang sudah mengalaminya pasti menghasilkan buah pertobatan. Buah pertobatan itu pastinya akan terpancar jelas dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai bukti respon kita atas kebesaran anugerah-Nya. Salah satunya adalah suatu sikap yang mencintai Firman Tuhan. Seseorang yang sungguh-sungguh mengalami pertobatan sejati, pasti memiliki kegairahan yang besar untuk menikmati saat-saat membaca, merenungkan, dan mengaplikasikan Firman Tuhan dalam kehidupannya. Firman itulah yang akan memberi pengaruh besar di dalam pembentukan cara berfikir, tindakan, perkataan, emosi, dan motivasi kita untuk selalu menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya. Dan semuanya dilakukan hanya untuk memuliakan Tuhan.
 
Sebagai manusia baru di dalam Kristus, marilah kita memiliki semangat untuk selalu memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Jika kasih Allah di dalam Kristus telah memindahkan status kita dari kehidupan lama (Kol. 3:7) ke kehidupan baru, maka kita harus terus bertekun memperbaharui hidup kita untuk menjadi serupa dengan Kristus. Inilah yang seharusnya menjadi tujuan utama di dalam hidup kita. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita hidup seturut dengan kehendak-Nya? Di dalam pelayanan kita, sudahkah kita memberi yang terbaik kepada-Nya sesuai dengan talenta yang dipercayakan-Nya kepada kita? Melalui perenungan ini, biarlah setiap kita mau memberi kualitas terbaik dalam menjalani seluruh aspek kehidupan ini, mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan dengan memberitakan Injil kerajaan-Nya, dan yang paling utama, biarlah segala pujian, hormat, dan kemuliaan kita kembalikan hanya kepada Tuhan, pemilik hidup kita.
 
[ Eva Paula. S ]