Penegakkan Norma Ciptaan dan
Natur Manusia yang Paradoks
_oOo_
 
 
Memahami Hakikat Manusia yang Bersifat Paradoks
 
Kemajemukan dimensi yang ditanamkan oleh Tuhan ke dalam tatanan struktur kehidupan manusia membuat manusia memiliki ketergantungan terhadap ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya, terutama terhadap sesamanya. Di dalam hakikat manusia yang saling bergantung pada sesamanya inilah, seorang filsuf Yunani Kuno bernama Aristoteles berpendapat bahwa manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial (politikon zoon). Hakikat manusia sebagai mahluk sosial membuat mereka hidup dalam kelompok-kelompok, baik kelompok komunal maupun kelompok materiil. Kehidupan berkelompok ini menunjukkan bahwa manusia hidup di dalam kebergantungan dengan sesamanya. Kehidupan berbudaya dapat berkembang karena dipicu oleh adanya relasi saling membutuhkan antar sesama manusia. Di dalam hubungan saling kebergantungan tersebut, manusia menemukan eksistensinya di dalam menjalankan mandat budaya.
 
Namun adanya kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda, baik secara individu maupun kelompok menyebabkan terjadinya benturan kepentingan antar sesama manusia. Untuk menghindari hal ini, maka kelompok masyarakat membuat norma sebagai pedoman perilaku dalam menjaga keseimbangan kepentingan dalam bermasyarakat. Dengan demikian, norma–bukan hukum alam dengan prinsip survival of the fittest seperti yang diyakini oleh para penganut sekular-modern – memiliki fungsi sebagai pedoman dan pengatur dasar kehidupan seseorang dalam bermasyarakat untuk mewujudkan kehidupan antara manusia yang aman, tertib dan harmonis.
 
Dalam ilmu budaya, norma didefinisikan sebagai aturan perilaku dalam suatu kelompok tertentu, di mana setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan kewajiban di dalam masyarakat. Berbagai macam norma-norma yang berlaku umum dan diakui dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, seperti norma sosial, norma agama, norma hukum, norma sopan santun, norma adat dan lainnya, menyingkapkan kebenaran hukum ciptaan Tuhan tentang kemajemukan dimensi dalam tatanan struktur kehidupan manusia. Implikasi dari adanya keberagaman aspek dalam tatanan struktur kehidupan manusia sebagaimana yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta menimbulkan berbagai macam kebutuhan dan kepentingan yang ingin dipenuhi oleh manusia di dalam menjalankan kehidupannya, baik itu kebutuhan dan keinginan di dalam aspek sosial, ekonomi, hukum, biologis, estetika, etika, spiritualitas, emosi, spasial, numerik, kebahasaan dan lainnya.
 
Agar masing-masing anggota masyarakat sebagai manusia dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya di dalam berbagai aspek tersebut secara tertib dan teratur, maka kelompok masyarakat bersepakat untuk membuat norma-norma. Sebagai anggota masyarakat dan mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, manusia membutuhkan norma bukan hanya untuk mengatur hidupnya agar dapat berjalan harmonis bersama anggota masyarakat lainnya, namun lebih dari itu karena ia memiliki kebebasan. (Febiana Rima, Religiositas Humanis (Suara Pembaruan: Jakarta, 23 Januari 2010). Kebebasan yang dimiliki oleh natur manusia ini melekat di dalam tatanan strukturnya sebagai satu-satunya mahluk ciptaan yang diberikan tugas mandat budaya oleh Tuhan sang Pencipta. Binatang tidak memilikinya dalam tatanan struktur ciptaannya karena ia hidup hanya berdasarkan insting atau naluri; selain itu, binatang tidak diberikan mandat budaya oleh Tuhan. Namun, hakikat kebebasan yang dimiliki manusia cenderung digunakan olehnya lebih untuk memuaskan kehendak hawa nafsunya maupun demi memenuhi kepentingan pribadinya. Disinilah kita boleh memahami realita bahwa natur manusia pada dasarnya bersifat paradoks. Di satu sisi, manusia adalah mahluk sosial; namun di lain sisi, ia juga memiliki natur kecenderungan untuk mudah jatuh ke dalam tindak-perilaku yang korup demi memenuhi kebutuhan egonya melampiaskan hawa nafsu duniawi sebagai dampak akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa.
 
Dalam keadaan naturnya sebagai mahluk sosial, manusia sadar bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Menurut Aristoteles, seorang manusia ketika terisolasi tidak akan mampu menopang dirinya sendiri, sehingga secara alami ia akan terdorong untuk sukarela menjadi bagian dalam suatu hubungan yang menyeluruh. (Aristoteles, Politik (la Politica) (terj.) (Visimedia: Jakarta, 2007), h. 8). Kebutuhan material, tuntutan biologis, kebutuhan untuk diakui, serta hasrat untuk dikasihi dan mengasihi sesamanya yang telah ditanamkan oleh Tuhan kepada setiap manusia, membentuk hakikat manusia sebagai mahluk sosial. Tetapi di lain sisi, manusia adalah mahluk yang diberikan kebebasan memilih (freedom of choice) dalam tatanan strukturnya oleh Penciptanya. Namun, kebebasan yang diberikan oleh Tuhan tersebut tidak digunakan semestinya oleh manusia untuk memuliakan Penciptanya dengan membudidayakan segenap ciptaan menuju ke tingkatan yang lebih tinggi dan mulia. Kebebasannya terbelenggu oleh tabiatnya yang mudah tergiring ke dalam tindak perilaku yang egois dan jahat akibat dampak dari dosa. Artinya, manusia pada dasarnya tidak mampu mengendalikan kebebasan yang melekat dalam dirinya secara sempurna; kebebasannya akan cenderung tergiring kepada keinginan diri untuk memenuhi kenikmatan duniawi.
 
Kebebasan yang digunakan oleh manusia untuk memenuhi kecenderungan tabiatnya yang berdosa tersebut telah merusak tatanan dari perwujudan natur sosial manusia yang seharusnya dilaksanakan secara tertib dan teratur di dalam berbudaya. Oleh sebab hakikat natur manusia yang bersifat paradoks inilah, maka kita dituntut bukan hanya sebatas mengetahui secara kognitif wujud dari norma-norma ciptaan itu sendiri (norma-norma yang taat pada hukum ciptaan Tuhan), melainkan juga memikirkan bagaimana menegakkannya di tengah ketegangan dalam kehidupan dunia akibat dampak natur manusia yang bersifat paradoks tersebut. Tantangan kita sebagai seorang orang Kristen di dalam menegakkan norma-norma ciptaan ke tiap ranah kehidupan publik dengan berada di tengah ketegangan natur manusia yang bersifat paradoks ini menggiring kita pada suatu posisi bahwa sebagai manusia, kita membutuhkan nilai-nilai spiritual-keagamaan di dalam seluruh aktivitas yang kita dilakukan guna menciptakan keharmonisan bagi kehidupan masyarakat.
 
Menghargai Kemajemukan Karakteristik dari Aspek-aspek Ciptaan Tuhan
 
Kebutuhan akan nilai-nilai spiritual-keagamaan bukanlah sesuatu yang boleh dipilih untuk diterima atau tidak diterima oleh manusia begitu saja. Nilai-nilai spiritual-keagamaan adalah sesuatu yang melekat di dalam diri manusia karena manusia diciptakan Tuhan dalam hakikatnya bukan hanya sebagai mahluk sosial semata, tetapi juga sebagai mahluk spiritual. Hakikat manusia sebagai mahluk spiritual inilah yang coba disangkal melalui berbagai cara dan argumentasi oleh para pemikir sekular-modern di Dunia Barat sejak Abad Pencerahan (yang sudah menjalar dampaknya ke dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia). Berlawanan dengan apa yang berkembang di dalam kebudayaan Barat, upaya untuk menyirami nilai-nilai spiritual-keagamaan kembali ke dalam berbagai dimensi kehidupan manusia mulai disemaikan oleh beberapa organisasi berbasis agama tertentu di Indonesia sejak muncul era Reformasi. Namun upaya yang terlihat mulia di mata ini, malah berujung pada pelanggaran hak asasi terhadap kaum minoritas dan gagal menciptakan keharmonisan di dalam kehidupan sosial. Kegagalan ini terjadi karena selain telah mereduksi agama demi kepentingan politik dan ekonomi, organisasi berbasis agama tertentu ini kerap mengabaikan multidimensitas dari ciptaan Tuhan, bahkan ada yang berupaya menindih aspek-aspek kehidupan lainnya dibawah dominasi hukum agama tertentu.
 
Pereduksian seseorang terhadap aspek ciptaan Tuhan dengan cara menindihnya di bawah domain kehidupan lainnya merupakan bentuk pengabaian terhadap hukum ciptaan yang menetapkan bahwa hakikat ciptaan Tuhan berdimensi majemuk (multi-dimensional). Kehidupan modern yang mendewakan pertumbuhan ekonomi dan kemahakuasaan teknologi merupakan salah satu wujud dari pereduksian terhadap kemajemukan dan keunikan aspek-aspek ciptaan Tuhan. Ketika nilai-nilai yang diyakini oleh agama tertentu dibiarkan oleh negara menindih domain-domain dalam kehidupan publik, maka yang terjadi juga adalah pereduksian terhadap domain publik oleh ritual dan nilai-nilai spiritualitas-keagamaan tertentu yang bersifat privat. Oleh karena itu, ketika kita mulai memahami dan menghargai adanya kemajemukan karakteristik dari tiap aspek ciptaan Tuhan tersebut, maka kita akan mampu meletakkan dan mengaplikasikan nilai-nilai spiritualitas-keagamaan pada tempat yang semestinya sehingga menjadi berkat bagi publik. Kita pun akan lebih mudah memahami dan menegakkan norma-norma ciptaan guna menciptakan kehidupan masyarakat yang tertib dan harmonis. Oleh sebab itu, memiliki nilai-nilai spiritualitas keagamaan yang menghargai keunikan dari masing-masing aspek ciptaan Tuhan yang beragam tersebut menjadi keutamaan yang patut dimiliki oleh umat Kristen di masa kini di dalam menjawab tantangan zaman.
 
Jika kita sebagai orang Kristen berkeinginan untuk mengelola berbagai aspek ciptaan Tuhan menjadi sumber daya di dalam pengembangan budaya yang baik, maka kita dituntut untuk mengenali siapa diri kita terlebih dahulu, yakni mengenali kemajemukan dimensi dari tatanan struktur manusia sebagai ciptaan Tuhan. Upaya memahami kemajemukan dimensi dari tatanan struktur manusia, akan mempermudah kita untuk memahami kemajemukan dimensi ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya sehingga kita bisa menjadi seorang kristen kulturalis yang arif dan bijak di dalam mengelola sumber-sumber daya demi pengembangan budaya tanpa mereduksi keunikan dari masing-masing aspek ciptaan tersebut. Kiranya artikel ini boleh menjadi berkat bagi kita semua di dalam momen perayaan Hari Lahir Yesus Kristus dan menyambut Tahun Baru 2011. Soli Deo Gloria.
 
[ Randy L. Pea ]