Pengharapan Bagi Orang Percaya
(1 Samuel 2:5-8)
_oOo_
 
 
1 Samuel 2:5-8, (Puji-pujian Hana kepada Tuhan).
Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu. Tuhan mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. Tuhan membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga.Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari dalam lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan.
 
 
Pembahasan
 
Di tengah kehidupan yang terus bergejolak di dalam ketidakpastian, kita sebagai orang Kristen harus memiliki iman dan pengharapan untuk terus bertahan dengan tetap percaya bahwa Tuhan akan selalu memelihara hidup kita. Tatkala kita harus menghadapi satu masa di mana ketakutan, kekuatiran, dan kekecewaan hadir di dalam kehidupan kita, seringkali kita terjebak ke dalam satu pemikiran untuk meragukan kuasa dan kasih Allah. Kita tak lagi mempercayai sepenuhnya kuasa dan kasih Allah bagi kita. Tidak jarang kita mulai mempertanyakan Allah, “Apakah Allah sudah tidak berkuasa lagi mengendalikan segala sesuatu di bumi ini?;” Mengapa Allah tidak lagi memperdulikanku di dalam keadaan susah seperti ini?” atau “Benarkan Allah masih mengasihiku?” Masa-masa pergumulan seperti ini merupakan dinamika hidup yang mungkin pernah kita alami. Namun, hal yang menyedihkan adalah ketika kita melihat banyak orang Kristen yang mulai meninggalkan iman kepercayaannya di saat mengalami kesusahan dan penderitaan yang berat. Mereka menc0ba mencari “allah” lain yang dianggap mampu melepaskan mereka dari kondisi hidup seperti itu.
 
Pergumulan sulit seperti ini juga pernah dialami salah satu tokoh di Alkitab bernama Hana. Hana harus menerima kenyataan pahit bahwa ia mandul dan tidak mungkin memiliki keturunan. “...Sebab Tuhan telah menutup kandungannya” (1 Sam 1:5). Berbeda dengan Penina, ia dikaruniai banyak anak (1 Sam. 1:2). Penina selalu menyakiti hati Hana dan hal itu berlangsung dari tahun ke tahun. Tentu hal ini membuat Hana semakin menderita dan merasa tidak berharga di hadapan suaminya. Namun Hana adalah seorang yang sabar dan berhati lembut, ia tidak menyalahkan Elkana atas apa yang terjadi pada dirinya. Bandingkan dengan Sara yang menyalahkan Abraham dengan mengatakan bahwa penderitaannya adalah tanggung jawab Abraham, padahal Sara sendiri yang menyuruh Abraham mengambil Hagar (Kej. 16:5).
 
Hana terus menyerukan permohonannya dengan menangis tersedu-sedu kepada Tuhan agar ia dianugerahi anak laki-laki. Ia juga menunjukkan pengabdiannya kepada Tuhan dengan bernazar kepada-Nya, jika ia dikaruniakan anak laki-laki, ia akan menyerahkan anaknya itu untuk dipakai melayani pekerjaan Tuhan. Di tengah kesedihan yang mendalam dengan disertai permohonannya kepada Tuhan, Hana sedikitpun tidak meragukan kasih Tuhan.
 
Pada suatu waktu, Elkana bersetubuh dengan Hana, istrinya. Setahun kemudian Tuhan menganugerahkan Hana seorang anak laki-laki yang dinamai Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada TUHAN.” Hana menepati nazarnya itu. Lalu ia menyerahkan anak-nya itu kepada TUHAN untuk dipakai seumur hidup-nya.
 
Mungkinkah Tuhan melupakan Hana? Tidak! Tindakan Tuhan sama sekali tidak menunjukan bahwa ingatan-Nya melemah, tetapi hal ini membuktikan bahwa Tuhan menyelesaikan rencana-Nya secara bertahap. Tuhan menjawab permohonan Hana dan ia melahirkan seorang anak laki-laki. Hana percaya bahwa anak itu memang pemberian Tuhan sebagai jawaban doanya.
 
Dari cerita ini, sekali lagi kita diingatkan ditengah kondisi sesulit apapun, ditengah penderitaan seberat apapun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, umat tebusan-Nya. Yang perlu kita lakukan adalah terus memiliki pengharapan yang teguh kepada Tuhan. Saat ini kita memasuki momen Natal. Kiranya momen Natal ini menjadi perenungan bagi setiap kita untuk semakin memperbesar iman dan pengharapan kita hanya kepada Tuhan. Meskipun kita harus berjalan di dalam berbagai kehidupan yang berat dan penuh tantangan, namun kita tidak pernah menjadi lesu dan lelah. Apapun jawaban dari permohonan kita kepada Tuhan, itu adalah jawaban terbaik yang Ia berikan kepada kita.
[ Megawana S ]