PENDERITAAN KRISTUS DAN
PENDERITAAN ORANG PERCAYA
(Eksposisi 1 Petrus 4:18-21)
_oOo_
 
Pendahuluan
 
Penderitaan Kristus di kayu salib merupakan suatu hal yang besar bagi manusia. Akan tetapi pada faktanya manusia berdosa tetap tidak menyadarinya, ia bahkan tetap berbuat dosa dan tidak menyadari bahwa sesungguhnya ia memerlukan keselamatan yang berasal dari pada Tuhan. Keberdosaan manusia berdampak terhadap kehidupan orang percaya dalam menjalankan hidupnya. Setiap orang percaya menyadari keselamatan yang Tuhan berikan. Tetapi penderitaan yang dialami oleh orang percaya, ada kalanya membuat orang percaya seolah-olah ia tidak memiliki Tuhan yang memeliharanya. Setiap hari orang percaya semakin hidup seakan bagaikan “orang asing” (stranger) di tengah lingkungannya. Jadi orang percaya yang mendapatkan keselamatan oleh karena penderitaan Kristus tetap merasakan adanya penderitaan. Ironis memang melihat orang-orang bukan percaya hidup dengan penuh kemudahan, kemewahan dan kekuasaan.
 
Melalui tulisan ini, penulis mengajak setiap pembaca untuk merenungankan bagaimana Tuhan mengijinkan orang percaya mengalami penderitaan sebagaimana Kristus mengalami penderitaan dalam menggenapi rencana-Nya.
 
Penderitaan Kristus
 
Dalam bukunya, Teologi Sistematika, Louis Berkhof membahas beberapa hal yang dicatat oleh Alkitab sehubungan dengan penderitaan Kristus:
 
Ia menderita seumur hidup-Nya di dunia
Alkitab memang mencatat bagaimana setelah Tuhan Yesus memulai pelayananNya Ia banyak membicarakan penderitaan yang akan dialami-Nya pada akhir hidup-Nya. Hal itu membuat kita cenderung berpikir bahwa penderitaan yang Ia maksudkan adalah penderitaan-Nya di atas kayu salib, padahal Tuhan Yesus mengalami penderitaan di dalam seluruh hidupnya. Ia harus setiap hari harus berhubungan dengan manusia berdosa. Hidup-Nya yang kudus harus menderita di dalam dunia yang terkutuk karena dosa. Jalan ketaatan menjadi milik-Nya bersamaan dengan jalan penderitaan-Nya. Ia menderita karena gangguan iblis yang datang berulang kali, dari kebencian dan ketidakpercayaan umat-Nya, dan dari perlawanan musuh-musuh-Nya. Oleh karena Ia harus masuk ke dalam pemerasan anggur itu sendiri, kesendirian-Nya pastilah merupakan suatu tekanan bagi-Nya. Penderitaan-Nya adalah penderitaan yang semakin lama semakin berat terlebih saat mendekati akhirnya. Penderitaan yang dimulai sejak inkarnasi akhirnya mencapai titik puncak dalam pasio magna (penderitaan terbesar) pada akhir hidup-Nya. Pada titik itulah murka Allah atas dosa segera menghambur ke arah-Nya.
 
Ia menderita baik menurut tubuh dan jiwa-Nya
Di dalam sejarah pernah ada satu masa di mana perhatian gereja dipusatkan hanya pada penderitaan jasmani Kristus. Penderitaan ini bukanlah sekadar rasa sakit fisik yang ia alami dalam penderitaan-Nya, tetapi juga rasa sakit yang disertai penderitaan rohani dan kesadaran sebagai seorang pengantara atas dosa umat manusia yang harus ditanggung-Nya. Kemudian ada masa di dalam sejarah dimana oleh sebab kesadaran akan dosa sebagai hal yang sifatnya spiritual maka penderitaan jasmani yang Kristus alami itu diremehkan. Pandangan-pandangan yang hanya menekankan satu sisi seperti ini harus kita hindari. Baik tubuh maupun jiwa manusia telah dipengaruhi dosa. Oleh karena itu hukuman atas dosa juga mencakup keduanya. Lebih lanjut Alkitab dengan jelas memberi penjelasan bahwa Kristus menderita menurut kedua naturnya. Ia sangat berdukacita dan menderita di taman Getsemani, di mana jiwa-Nya “sangat takut, seperti mau mati rasanya” sebelum Ia ditangkap, disiksa dan kemudian disalibkan.
 
Penderitaan-Nya berasal dari berbagai sebab
Dalam pembicaraan sebelumnya kita melihat semua penderitaan Kristus bermula dari kenyataan bahwa Ia harus mengambil tempat orang berdosa sebagai seorang pengganti. Akan tetapi kita dapat mengidentifikasi sebab-sebab penderitaan yang Ia alami berikut ini:
 
  1. Kenyataan bahwa Ia yang adalah Tuhan atas alam semesta harus menempati kedudukan manusia, bahkan kedudukan sebagai budak atau hamba yang terikat, dan bahwa Ia yang memiliki segala hak untuk memerintah sekarang harus diperintah dan harus taat.
     
  2. Kenyataan bahwa Ia yang murni dan kudus harus hidup di dalam lingkungan dan suasana yang sudah dicemari dosa, tiap hari harus bergaul dengan orang bedosa, dan senantiasa harus mengingat betapa besar hukuman dosa yang harus dipikul-Nya oleh karena dosa umat-Nya.
     
  3. Kesadaran-Nya yang sempurna dan antisipasi-Nya yang jelas sejak awal kehidupan-Nya tentang penderitaan tertinggi yang akan dialami-Nya pada akhirnya. Ia tahu dengan tepat apa yang akan Ia alami dan pengetahuan ini jelas tidak menimbulkan kegembiraan.
     
  4. Juga hidup-Nya sendiri, pencobaan iblis, kebencian dan penolakan orang-orang atas diri-Nya, serta perlakuan yang tidak adil serta siksaan.
 
Penderitaan-Nya sangat unik
Kadang-kadang kita hanya membicarakan tentang penderitaan Kristus yang “biasa,” saat kita hanya sekadar melihat penderitaan yang disebabkan oleh kesusahan biasa di dalam dunia ini. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa penyebab-penyebab ini jauh lebih banyak dialami oleh Juruselamat kita daripada yang kita alami sendiri. Lebih dari itu, bahkan penderitaan yang biasa ini pun sebenarnya memiliki sifat yang luar biasa dalam hal diri Kristus, dan dengan demikian pasti unik sifatnya. Kapasitas penderitaan-Nya berada pada sifat yang tepat dengan kemanusiaan-Nya, dengan kesempurnaan etis-Nya, dan dengan rasa kebenaran serta kesucian-Nya. Tak seorang pun yang dapat merasakan betapa beratnya rasa sakit dan dukacita dan kejahatan moral yang harus ditanggung oleh Yesus. Akan tetapi di samping penderitaan yang umum ini ada lagi penderitaan yang lebih berat yaitu bahwa segala pelanggaran dan kesalahan kita ditimpakan oleh Tuhan kepada-Nya seperti air bah. Penderitaan Sang Juruselamat tidaklah sepenuhnya terjadi apa adanya, tetapi juga merupakan tindakan positif yang dilakukan oleh Allah sendiri (Yesaya 53:6, 10). Pencobaan di padang gurun, penderitaan di taman Getsemani dan Golgota juga merupakan penderitaan yang secara khusus dialami oleh Tuhan Yesus.
 
Penderitaan-Nya dalam pencobaan
Pencobaan yang dialami Kristus merupakan bagian integral dari penderitaan-Nya. Pencobaan-pencobaan itu dialami-Nya dalam jalan penderitaan-Nya. Coba lihat Matius 4:1-11 (dan ayat paralelnya), Lukas 22:28, Yohanes 12:27 dan Ibrani 4:15; 5:7, 8. Pelayanan-Nya di depan umum dimulai dengan suatu masa di mana Ia harus dicobai dan bahkan setelah masa itu pencobaan-pencobaan terus dialami-Nya dan berulang pada masa-masa yang semakin dekat dengan taman Getsemani. Hanya melalui setiap pencobaan yang manusia alami Yesus dapat sepenuhnya menjadi Imam Besar yang turut merasakan penderitaan dan akhirnya Ia dapat menjadi bukti kesempurnaan dan kemenangan (Ibrani 4:15; 5:7-9). Kita tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan pencobaan Kristus sebagai Adam yang terakhir, betapa pun sulitnya bagi kita untuk memahami seseorang yang tidak dapat berdosa tetapi harus dicobai. Berbagai upaya pemecahan persoalan ini telah diusahakan, misalnya dengan mengemukakan bahwa dalam natur manusia Kristus, sebagaimana dengan natur dalam diri Adam, ada nuda possibilitas peccandi, kemampuan abstrak untuk berdosa (Kuyper); bahwa kesucian Yesus adalah kesucian etis yang harus terus mencapai perkembangan dan terus mempertahankan diri dalam pencobaan (Bavinck); dan bahwa pencobaan itu sendiri sebetulnya berdasarkan hukum, dan berkenaan dengan naluri dan nafsu alamiah (Vos). Kendatipun demikian masih ada persoalan yang tertinggal, yaitu bagaimana mungkin seseorang yang secara kenyataan tidak dapat berdosa bahkan sama sekali tidak mempunyai kecenderungan terhadap dosa, tetapi harus berada di bawah pencobaan yang sesungguhnya.
 
Kelima hal di atas sangat menjelaskan kepada kita bagaimana Yesus menderita dalam menggenapkan rencana-Nya.
 
Klimaks penderitaan Kristus adalah pada saat Ia mati di kayu salib. Sebagai orang Yahudi Ia harus mati dengan cara menjalani penghukuman paling hina di dalam sistem kerajaan Romawi. Ironis memang. Bukan kesalahan-Nya yang Ia tanggung. Ia juga harus mengalami keterpisahan dari Allah dalam penderitaan dan kematian yang seperti ini. Keterpisahannya dari Allah itu jelas merupakan sesuatu yang berbeda dengan keterpisahan manusia dari Allah ketika sudah jatuh di dalam dosa. Jadi Yesus menanggung murka Allah yang adalah konsuensi dari dosa manusia. Allah adalah adil adanya, dan dengan demikian kematian adalah ganti dari dosa manusia yang di tanggung-Nya. Katekismus Heidelberg dengan tepat mengatakan bahwa “sepanjang umur hidup-Nya di dunia, akan tetapi terutama pada akhir masa hidup-Nya, Ia mengalami, dalam tubuh ataupun jiwa, murka Allah atas dosa dari seluruh umat manusia.” Penderitaan-penderitaan ini diikuti oleh kematian-Nya di atas kayu salib. Akan tetapi ini bukanlah segalanya; Ia bukan saja harus berada di bawah kematian jasmani; tetapi juga kematian kekal, walaupun Ia menanggungnya secara intensif, bukan secara ekstensif, ketika Ia mengalami penderitaan di taman Getsemani dan ketika Ia di atas salib berteriak: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dalam suatu masa yang amat singkat Ia menanggung murka yang tiada terbatas sampai akhir, dan akhirnya tampil sebagai pemenang. Hal ini hanya mungkin bagi-Nya, karena natur diri-Nya yang sangat mulia.
 
Akan tetapi, sampai saat ini kita harus berhati-hati agar tidak salah mengerti. Kematian kekal dalam kaitan dengan Kristus ini tidak termasuk dalam pemutusan keseluruhan hubungan antara Logos dan natur manusia, dan juga bukan berarti bahwa natur ilahi-Nya ditinggalkan oleh Allah, ataupun pemutusan kasih Allah Bapa atau kebaikan kemurahan pada pribadi Sang Pengantara. Logos tetap terikat dengan natur manusia bahkan juga ketika tubuh-Nya berada di dalam kubur; natur ilahi-Nya sama sekali tidak ditinggalkan oleh Allah; dan pribadi sang Pengantara tetaplah terus berada dalam objek kasih Allah. Kematian itu menyatakan diri dalam kesadaran manusiawi sang Pengantara sebagai suatu perasaan ditinggalkan oleh Allah. Hal ini mengandung arti bahwa natur manusia untuk suatu waktu kehilangan rasa kesadaran kenyamanan yang dapat diperoleh dari persekutuan dengan Logos ilahi, dan perasaan kasih ilahi; dengan penuh rasa sakit menyadari kepenuhan murka Allah yang sedang dicurahkan di atas-Nya. Tetapi bagaimana pun juga kita tidak perlu kecewa, sebab bahkan sampai pada waktu yang paling gelap sekalipun, pada saat Ia berteriak bahwa Ia ditinggalkan, Ia tetap mengarahkan doa-Nya pada Allah.
 
Penderitaan Orang Percaya
 
Setelah melihat bagaimana penderitaan Kristus dalam menanggung murka Allah oleh karena umat manusia, bagaimana dengan penderitaan orang percaya? Dalam 1 Petrus 2 kita dapat melihat bagaimana orang percaya hidup dengan bercermin dari penderitaan Kristus.
 
Menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging
Setiap orang percaya dalam menjalankan panggilan Tuhan melihat bagaimana orang dunia sepertinya mendapat kemudahan, kemewahan dan kekuasaan. Dalam banyak hal orang percaya seakan-akan tidak memiliki kekuatan untuk dapat hidup dengan baik dan untuk dapat menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging. Oleh karena itu sekali lagi sebagai orang percaya kita diingatkan akan ulasan di atas mengenai penderitaan Kristus di kayu salib.Ia mengalami penderitaan yang tidak disebabkan oleh kesalahan-Nya sendiri, sementara kita sebagai orang percaya hanya diminta untuk taat. Alkitab mengajarkan kita untuk menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging, tetapi kadang-kadang kitalah yang sesungguhnya mendekat. Jadi setiap kita selaku orang percaya sudah seharusnya menjauhkan diri kita dari keinginan-keiginan daging tersebut.
 
Tunduk kepada Allah, raja dan pemerintah
Kita pasti segera setuju apabila orang percaya diharuskan tunduk dan hormat kepada Allah dan pemerintahan-Nya. Akan tetapi pasti sulit apabila orang percaya diharuskan tunduk kepada raja dan pemerintahannya, terlebih lagi bagi kita yang hidup di bawah pemerintahan negara Indonesia. Mengapa? Setiap hari kita melihat ketidakadilan dan ketidakbenaran terjadi di depan mata kita. Lembaga penegak hukum telah menggunakan hukum untuk kepentingan pribadi atau golongan dengan cara mengesampingkan kebenaran (truth). Lembaga eksekutif telah menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri, yang ujung-ujungnya berakhir pada terjadinya ketidakadilan (injustice) lagi.
 
Dalam hal ini, Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tetap menjadi orang yang taat kepada pemerintah dan peraturan-peraturan yang ditetapkannya. Kita tetap harus memandangnya sebagai wakil Tuhan dalam menjalankan pemerintahan, sehingga nama Tuhan tidak dipermalukan sekiranya ada orang percaya tidak hidup sesuai dengan peraturan-peraturan yang pemerintah tetapkan.
 
Kesimpulan
 
Penderitaan yang Kristus alami tidak bersifat ekstensif (extensive), yaitu berlanjut terus menerus; melainkan bersifat intensif (intensive), yaitu terasa pada sepanjang hidup-Nya di dalam dunia ini dan bukan hanya terjadi pada saat kematian-Nya saja. Penderitaan-Nya menjadi dasar bagi kita, orang percaya untuk rela menderita bagi-Nya yang telah terlebih dahulu menderita bagi kita.
 
Dengan melihat penderitaan Kristus, orang percaya diminta untuk mengikut dan menderita dalam mengikut Dia. Dalam hal ini orang percaya sebagai gereja Tuhan harus terus menyaksikan Injil sepanjang hidupnya dan terus menjadi cermin Kristus yang terbuka.
 
Penutup
 
Kristus telah menanggung penderitaan dengan menerima murka Allah oleh karena dosa manusia. Oleh karena itu sudah selayaknya kita mau hidup memuliakan Dia, dengan segala konsekuensinya, menderita sebagai “orang asing” di tengah kehancuran dunia ini.
 
Melalui momen Paskah ini, biarlah setiap kita, orang percaya mau hidup menderita dalam menjalankan panggilan yang sudah Tuhan berikan buat kita, karena dengan bersandar Tuhan selalu, kita dapat berani menempuh apa yang ada di depan kita, seperti lagu yang ditulis oleh Ira D. Sankey yang berjudul “Sandar Tuhanku” ini:
 
 
Sandar Tuhan, selalu, s’panjang jalan hidupku
Meski lemah imanku, ku bersandar Tuhanku
Sampai akhir hidupku, ku bersandar Tuhanku
Dengan b’rani kutempuh, karena sandar Tuhanku
 
 
[ Deby Adelina Hutagalung ]