APA ITU “DI LUAR KRISTUS”
DAN
“DI DALAM KRISTUS”?
_oOo_
 
Pengantar
 
Apakah perbedaan di antara hidup “di luar Kristus” dan “di dalam Kristus”? Apakah perbedaan di antara keduanya itu terletak pada persoalan eksistensial, perasaan, adat istiadat dan sudut pandang atas segala sesuatu? Tulisan ini mengajak kita melihat kontras dari antara keduanya berdasarkan apa yang Alkitab ajarkan tentang status dan realita di dalam mana orang percaya (believer) dan bukan orang percaya (unbeliever) hidup.
 
Status kita “dahulu” dan “sekarang”
 
Di dalam Efesus pasal 2, Rasul Paulus mengkontraskan status kita sebagai demikian:
 
  1. Status kita dahulu, yaitu di luar Kristus berkenaan dengan realita di mana:
     
    • Kita mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita (ayat 1);
       
    • Kita hidup di dalamnya (ayat 2). Kata “nya” di sini menunjuk pada kematian kita sebagaimana dimaksud oleh ayat 1 itu;
       
    • Kita terhitung di antara orang-orang durhaka yang hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kita yang jahat dan oleh karena itu kita harus menerima murka Allah (ayat 3).
     
  2. Status kita sekarang, yaitu di dalam Kristus berkenaan dengan realita di mana:
     
    • Oleh Allah Bapa kita telah dihidupkan bersama-sama dengan Kristus (ayat 5);
       
    • Kita telah dibangkitkan dari kematian dan menerima tempat bersama-sama dengan Kristus di sorga (ayat 6).
       
    • Kita menerima segala kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah pada masa yang akan datang (ayat 7).
 
“dahulu” dan “sekarang”: Suatu durasi waktu tertentukah?
 
Untuk memahami natur “dahulu” dan “sekarang” ini mari kita perhatikan hal di bawah ini:
 
  1. Efesus 2:1 mengatakan bahwa dengan status kita dahulu, yaitu di luar Kristus, kita dikatakan sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita (ayat 1). Status itu sesuai dengan realita kita dahulu, yaitu hidup di dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita itu (ayat 2). Dikatakan pula bahwa menurut status dan realita kita dahulu, yaitu di luar Kristus, kita hidup mengikuti “jalan dunia ini.” Menurut Charles Hodge dalam Commentary on the Epistle to the Ephesians, kata yang dipakai untuk “jalan dunia ini” lebih tepat dimengerti sebagai the governing principle which controlled their conduct, atau dapat diartikan sebagai suatu kuasa yang memerintah dan mengendalikan serta memperbudak orang berdosa (untuk terus menerus berbuat dosa). Hidup lama kita, yaitu di luar Kristus, menurut Charles Hodge dalam bagian ini identik dengan lived according to and under the control of the spirit of the world, atau hidup menuruti dan berada di bawah kuasa roh dunia ini. Maksudnya, “hidup mengikuti jalan dunia ini” adalah hidup di dalam realita dosa yang bukan hanya merupakan realita internal (dalam diri) dan individual (bersifat perseorangan) tetapi juga merupakan suatu realita external (luar diri) dan corporate (bersifat luas).
     
  2. Di dalam Efesus 1:4 Rasul Paulus mengatakan bahwa dasar pengudusan kita sebagai pewaris segala berkat rohani di dalam sorga melalui Kristus adalah pemilihan Bapa atas kita di dalam Dia, yaitu Kristus, yang ditetapkan sebelum dijadikannya dunia ini, dengan maksud supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Itu berarti, bagaimana status baru ini dikenakan kepada kita, bagaimana kita masuk ke dalamnya, dan apa maksud dari pemilihan itu, telah ditetapkan di dalam kekekalan.
 
Dengan demikian, dalam Efesus pasal 2 Rasul Paulus tidak memaksudkan kontras antara dahulu dan sekarang hanya sebagai suatu durasi waktu tertentu (berapa lama kita hidup di dalam dosa dan berapa lama kita sudah bertobat), melainkan sebagai suatu pelepasan dan perpindahan kita dari atmosfir hidup yang lama ke atmosfir hidup yang baru di dalam mana Roh Kudus bekerja secara internal-individual dan external-corporate sebagai inaugurasi atas fakta kebangkitan Kristus dari kematian-Nya. Berada “di luar Kristus” atau “di dalam Kristus” bukan merupakan persoalan lokasi (location) atau ruang (space), melainkan persoalan atmosferik. Hal yang sama dimaksudkan oleh Rasul Paulus di dalam Kolose 1:13, “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih.” Di dalam realita baru inilah kita sudah berada menurut status kita sekarang.
 
Kini jelas bagi kita apa perbedaan di antara “di luar Kristus” dan “di dalam Kristus.” Perbedaan di antara keduanya tidak sekadar terletak pada persoalan eksistensial, lokasi dan kebiasaan sehari-hari, melainkan bersifat atmosferik. Dengan berada “di luar Kristus” kita harus menerima murka Allah (Efesus 2:3). Dengan berada “di dalam Kristus” kita menerima segala kekayaan kasih karunia-Nya (Efesus 2:7) dan dengan demikian realita kita “pada masa sekarang” terhubung dengan realita kita “pada masa yang akan datang.” Jaminan bahwa dengan status kita sekarang kita akan menerima keseluruhannya pada masa yang akan datang itu adalah Roh Kudus (Efesus 1:14).
 
Perbedaan antara “bukan orang percaya” dengan “orang percaya”
 
Demikian pula hendaknya kita memandang perbedaan antara “bukan orang percaya” dan “orang percaya.” Kita disebut “orang percaya” karena kita meletakkan pengharapan kita kepada kuasa kebangkitan Kristus dari kematian-Nya yang telah menaklukkan kuasa kematian itu sendiri. Kita disebut “orang percaya” karena kita mempercayakan hidup kita kepada segala sesuatu yang sudah kita terima “di dalam Kristus” sekarang ini sekalipun itu baru merupakan sebagian dari apa yang akan kita terima seluruhnya pada masa yang akan datang.
 
Mereka yang bukan orang percaya (unbeliever) menjalani kehidupan dengan keyakinan bahwa masa sekarang menentukan bagaimana kita akan hidup pada masa yang akan datang. Hal ini memang ada benarnya, tetapi ini hanya merupakan suatu kebenaran umum saja. Orang percaya (believer) menjalani kehidupan dengan keyakinan bahwa masa yang akan datang menentukan bagaimana kita harus hidup pada masa sekarang. Jadi, realita di dalam mana ”bukan orang percaya” dan ”orang percaya” hidup jelas sangat jauh berbeda.
 
Penutup
 
Demikian besar anugerah Tuhan bagi kita. Oleh karena itu tidak mungkin bagi kita yang sudah hidup “di dalam Kristus” untuk tidak terpanggil menyatakan pengharapan kita kepada dunia sekitar kita. Untuk memproklamasikan pengharapan yang mulia itu kita memerlukan wadah dimana setiap kita dapat bersekutu, bertumbuh dan bekerja bagi-Nya. Di sinilah Persekutuan Studi Reformed hadir menjadi berkat. Mari kita responi kehadiran wadah ini.
 
[ Jessy V. Hutagalung ]