MEMBONGKAR CARA PANDANG
EKONOMI KAPITALIS
_oOo_
 
Terjadinya Pergeseran Cara Pandang dan Perilaku Masyarakat Indonesia
 
Fenomena kehidupan saat ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran terhadap cara pandang pemerintah beserta aparat birokasi Indonesia di dalam mengelola sumber-sumber kebutuhan hidup rakyat dari yang bersifat sosial menuju pada bentuk-bentuk yang bersifat kapitalistik. Ketika seluruh aspek kehidupan di negeri kita sekarang telah dijadikan komoditas yang diperjualbelikan oleh pemimpin negara beserta para elit politik demi meraup keuntungan (yang kemudian diteladani oleh aparatur birokrasi dan masyarakat dibawahnya), maka ada baiknya kita orang Kristen sebagai “garam dan terang” memahami sumber penyebab fenomena yang terjadi tersebut.
 
Kondisi di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa hampir tidak ada satu pun wilayah kehidupan yang tidak dijadikan objek oleh anggota masyarakat di dalam menghimpun keuntungan. Ketika kita menyekolahkan anak, berobat di rumah sakit, menggunakan jalanan umum, berurusan dengan pihak birokrasi, mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif melalui partai politik, menuntut keadilan dari aparat hukum, meminta seseorang menjadi pelayan dalam acara hiburan Natal, semua itu telah direduksi menjadi lahan bisnis. Aspek sosial-etis yang semestinya ditempatkan sebagai fondasi utama di dalam membangun kehidupan di bidang pendidikan dan kesehatan, aspek keadilan yang semestinya ditempatkan sebagai fondasi utama di dalam membangun kehidupan di bidang hukum dan politik, begitu juga aspek iman dalam kehidupan religi, telah ditindih oleh masyarakat modern dengan cara pandang yang sekular demi memuaskan hasrat penumpukkan kekayaan yang tak terbatas.
 
Cara pandang yang berhasrat pada pengumpulan modal dan harta kekayaan mendapat keabsahannya sebagai norma melalui sistem pemikiran yang dikembangkan oleh Adam Smith (1723-1790). Salah satu alasan pemberian gelar “Bapak ilmu ekonomi” kepada Adam Smith adalah karena ia dinilai oleh para ahli ekonomi modern sebagai pemikir pertama yang berhasil merumuskan hukum-hukum alam yang dapat meningkatkan kehidupan ekonomi bagi setiap individu manusia melalui metode-metode ilmiah. Hukum alam tersebut adalah “berilah kebebasan sebebas-bebasnya bagi setiap individu manusia di dalam usahanya mengejar untung, maka proses penyejahteraan ekonomi untuk seluruh masyarakat akan terwujud dengan sendirinya.” Di dalam membangun landasan teori ekonominya, Adam Smith berhasil menggeser perspektif masyarakat di masanya sampai saat ini di dalam memaknai kehidupan manusia di dunia. Jika di masa Abad Pertengahan dan era Reformasi Kristen, cara pandang yang mendominasi masyarakat Barat di dalam memaknai hidupnya di dunia terletak pada upaya melayani kehendak Tuhan sebagai Otoritas yang Tertinggi dan penghargaan terhadap nilai-nilai agama yang bersifat transenden, maka sejak akhir abad ke-18 (persisnya sejak munculnya Revolusi Industri) perspektif cara pandang yang dimiliki oleh sebagian besar umat manusia di dalam memaknai hidupnya di dunia terletak pada upaya untuk memenuhi hasrat kebahagiaan dan kepuasan duniawi melalui penghimpunan modal dan harta kekayaan, yang diberikan topangan oleh sistem ekonomi kapitalis.
 
Berekonomi demi Memenuhi Keinginan Diri Manusia yang Tak Terbatas
 
Perilaku berekonomi yang kapitalis adalah suatu perilaku yang nyata-nyata tidak dapat dipungkiri sangat disukai oleh manusia karena sesuai dengan tabiat manusia yang korup akibat dosa. Salah satu kecenderungan perilaku dari tabiat manusia yang korup tersebut adalah sifat mementingkan diri sendiri dan keserakahan. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika manusia pada umumnya (termasuk kita pun juga) cenderung menyukai konsep berekonomi yang kapitalis, suatu konsep pengelolaan ekonomi yang mengarah pada pengejaran untung dari hasil jual-beli komoditas. Sebenarnya, tidak ada yang salah jika kita bekerja dalam rangka mencari keuntungan (laba) untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (baik makanan, barang maupun tabungan yang cukup untuk masa depan). Akan tetapi, seorang filsuf Yunani Kuno bernama Aristoteles sudah pernah memperingatkan bahwa kebutuhan manusia (man’s need) tidak terlalu banyak, tetapi keinginannya (man’s desire) relatif tanpa batas.11.
Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi (PT. RajaGrafindo Persada: Jakarta, 1995), h.13.
Alhasil, jika motivasi yang muncul dalam diri manusia ketika mengelola ekonominya bukan lagi untuk memenuhi “kebutuhannya,” namun sudah mengarah pada upaya memenuhi “keinginannya” yang relatif tak terbatas itu, maka disinilah benih-benih munculnya perilaku berekonomi yang kapitalis. Pengejaran untung demi memenuhi keinginan seseorang yang tak terbatas akan mendorongnya untuk berusaha keras menumpukkan modal. Karena dengan kepemilikan modal, seseorang “merasa” akan mampu “membeli” dan memuaskan segala hasrat keinginannya yang tak terbatas itu, baik materi, hasil kemajuan teknologi, kekuasaan politik, nafsu seksual dan sebagainya. Di dalam faham ekonomi klasik (istilah lain dari faham kapitalis), hasrat manusia untuk memenuhi segala keinginan dengan sebebas-bebasnya tanpa perlu tunduk pada norma-norma konvensional, memperoleh pembenaran dan solusi pencapaiannya, yakni melalui sistem perekonomian kapitalis yang ditawarkan oleh Adam Smith.
 
Mengelola perekonomian secara kapitalis berarti mengejar dan menghimpun keuntungan (laba) sebesar-besarnya dari hasil transaksi jual-beli komoditas yang kemudian diinvestasikan ke dalam bentuk modal, yang kita kenal dengan istilah kapital. Hasil keuntungan uang yang diperoleh seseorang dalam bekerja tidak lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi untuk memperkaya dirinya melalui pengakumulasian modal tersebut. Namun karena keinginan manusia pada dasarnya relatif tak terbatas dan tak pernah terpuaskan dikarenakan oleh tabiatnya yang korup tersebut (serakah dan egois), maka manusia kapitalis akan selalu berupaya untuk terus mengejar keuntungan dengan cara “akal-akalan” melalui berbagai macam inovasi ekonomi yang dihasilkannya demi meningkatkan kapital yang telah ia miliki sehingga segala keinginannya (bukan lagi kebutuhannya) dapat ia penuhi.
 
Visi hidup manusia kapitalis yang terletak pada pengejaran untung merupakan suatu konsep yang sebenarnya nyaris tidak pernah diakui sebagai sesuatu yang sah dalam sejarah umat manusia dan belum pernah ditinggikan ke tingkat pembenaran tindakan maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari sebelum akhir abad ke-17. Beberapa filsuf terkemuka seperti Aristoteles dan Thomas Aquinas, bahkan mencela konsep berekonomi yang bertujuan untuk mencari untung. Tetapi Adam Smith justru berhasil menciptakan suatu sistem ekonomi yang bukan saja mengizinkan manusia untuk sebebas-bebasnya mengejar segala hasrat keinginannya yang tak terbatas itu melalui pengejaran untung dan penumpukkan kekayaan, tetapi juga memberikan asumsi-asumsi “moral” yang membenarkan tindak perilaku tersebut. Inilah alasan mengapa teori ekonomi Smith mudah diterima oleh masyarakat Eropa saat itu, yakni karena selaras dengan semangat liberalisme yang sedang “naik daun” pada zaman itu disertai oleh asumsi-asumsi ekonominya yang “sangat bersahabat” di dalam menunjang segala bentuk wujud perilaku manusia, termasuk yang negatif sekalipun. Oleh sebab itu, apabila tidak dikendalikan oleh rambu-rambu moral, nilai-nilai agama dan penegakkan hukum yang jelas, sistem kapitalisme justru dapat mengembangkan wujud perilaku yang justru dapat menurunkan harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan rupa Allah, yang dibedakan dari binatang dan segala mahluk ciptaan lainnya.
 
Daya pikat yang berhasil menarik hati para pemimpin negara-negara maju sekarang ini pada sistem perekonomian kapitalis sebenarnya terletak pada cara pandang yang dimiliki oleh Adam Smith, yang ia kembangkan menjadi “hukum-hukum alam” sebagai fondasi bagi teori ekonomi klasiknya. Memang pada kenyataannya, realita dunia akhir-akhir ini menunjukkan bahwa gerak bandul masyarakat modern semakin mengarah ke bentuk masyarakat yang berperilaku dan berpola pikir kapitalis. Budaya masyarakat kapitalis tidak hanya semakin mendominasi aspek perekonomian dunia, tetapi ia berhasil menembus dan membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat di hampir seluruh ranah kehidupan modern, yakni “hidup demi menghimpun keuntungan sebesar-besarnya dengan pengeluaran yang seminim-minimnya.” Negara Indonesia selama satu dasawarsa terakhir telah berkembang menjadi lahan yang sangat subur bagi penanaman budaya kapitalis melalui cara pandang yang dibangun oleh Adam Smith, baik itu di bidang ekonomi, politik, pendidikan, hukum, kesehatan, kesenian dan lainnya. Tradisi bangsa kita yang sangat membanggakan norma-norma kehidupan bermasyarakat yang bersifat komunal, seperti gotong royong dan kekeluargaan, semakin sirna dihadapan kita. Yang mulai tampak menggantikan tradisi ini adalah kehidupan bermasyarakat yang individualistik, yang lebih menekankan pada upaya pengejaran kepentingan diri.
 
Ekonomi yang Dilandaskan pada Pengejaran Kepentingan Diri
 
Menurut Adam Smith, manusia pada hakikatnya memiliki sifat yang serakah. Oleh sebab itulah, tindak tanduk manusia pada umumnya didasarkan pada kepentingan diri sendiri (self-interest), bukan oleh belas kasihan dan juga bukan oleh perikemanusiaan. Adam Smith tidak percaya dengan apa yang disebut “maksud atau niat baik” seseorang atau pemerintah dalam berekonomi. Berangkat dari cara pandang inilah Adam Smith membangun teori ekonominya, seperti diungkapkan olehnya: “Bukan dari kebaikan hati seorang tukang daging kita mengharapkan makan malam kita, melainkan dari kepentingan si tukang daging itu sendiri.”22.
Ibid., h.27.
Menurut cara pandang Adam Smith, seorang pelayan di restoran tidak melayani kita karena belas kasihan atau karena ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi kita, melainkan demi kepentingan pelayan itu sendiri (apakah alasannya untuk mendapat uang tip yang besar dari kita, atau berharap dapat promosi dari atasan karena memberikan pelayan yang baik kepada kita sebagai pelanggan, dan sebagainya).
 
Jika kita pada umumnya memiliki keyakinan bahwa sifat mementingkan diri sendiri memiliki kecenderungan yang merusak, baik itu relasi antara manusia dengan sesamanya, antar manusia dengan alam dan mahluk hidup lainnya, maka sebaliknya Smith justru memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan keyakinan ini. Menurutnya, naluri manusia yang bertindak untuk mementingkan dirinya sendiri merupakan naluri ekonomi yang paling alamiah; oleh sebab itu, naluri ini jangan dihambat, melainkan harus diberi kebebasan yang seluas-luasnya sehingga terpaculah masyarakat untuk membangun perekonomiannya.
 
Smith berasumsi bahwa sifat egoistis manusia justru akan memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan. Bagi Smith, sikap mementingkan diri manusia ini tidak akan mendatangkan kerugian dan merusak masyarakat sepanjang ada persaingan bebas, karena setiap orang yang menginginkan laba dalam jangka panjang (artinya hidup serakah), tidak akan pernah menaikkan harga di atas tingkat harga pasar.33.
Ibid.
Mengapa demikian? Karena menurut pengandaian Smith, jika seorang penjual obat mencoba menetapkan harga lebih tinggi dari harga yang ditetapkan oleh saingan-saingannya, maka bisnisnya pasti akan hancur sebab orang tidak akan mau lagi membeli obat darinya, dan lari menuju pesaingnya. Oleh sebab itu, biarkanlah perekonomian berjalan sebebas-bebasnya tanpa campur tangan pemerintah, karena menurut pengandaian Smith, nanti akan ada “tangan tak kentara” (invisible hands) yang akan membawa arah persaingan ekonomi tersebut kembali ke titik keseimbangan. Jika seseorang mencoba menetapkan harga lebih tinggi dari harga yang berlaku di pasaran, maka “invisible hands” akan bekerja mengoreksinya dan membawanya kembali pada titik keseimbangan harga yang menguntungkan kedua belah pihak (antara pembeli dan penjual). Malah sebaliknya jika campur tangan pemerintah terlalu banyak dalam mengatur perekonomian, maka ini akan mengakibatkan pasar terdistorsi dan membawa perekonomian pada ketidakefisienan dan ketidakseimbangan. Selain itu, masyarakat tidak akan lagi bergairah jika hasrat untuk memperkaya dirinya dibatasi oleh berbagai regulasi pemerintah, yang kemudian dapat mengakibatkan kelesuan dalam pertumbuhan ekonomi. Tetapi bukankah saat terjadi peristiwa Depresi Besar tahun 1929, “tangan tak kentara” yang menurut pengandaian Smith akan muncul untuk mengoreksi ketidakseimbangan dalam pasar, justru tidak terjadi sama sekali sampai pada akhirnya pemerintahlah yang harus turun tangan untuk mengoreksi ketidakseimbangan tersebut?
 
Keserakahan Individu akan Menghasilkan Kesejahteraan bagi Semua Orang?
 
Natur manusia yang bobrok membentuk kecenderungannya untuk bersikap serakah dan egois di dalam berekonomi merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Inilah realita yang berhasil diungkapkan oleh Adam Smith tentang hakikat manusia, namun yang sekaligus juga dapat digunakan untuk memicu dirinya dalam meningkatkan kehidupan perekonomian. Hal ini sangatlah baik sebagai bahan pencerahan guna memahami hakikat manusia di tengah realita dunia. Tetapi permasalahan besar terjadi ketika Smith memanfaatkan buah dari kebobrokan natur manusia tersebut dan memberlakukannya sebagai suatu hukum ekonomi yang bersifat universal di dalam upaya meraih kesejahteraan umum. Dengan kata lain, demi tercapainya kesejahteraan masyarakat secara umum, maka sifat keserakahan dan keegoisan dari setiap individu manusia di dalam mengelola ekonomi mesti diberi ruang yang sebebas mungkin oleh pemerintah, karena pada akhirnya keserakahan dan keegoisan seseorang tersebut akan membuka banyak lapangan kerja dan menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Di sinilah letak keberbahayaan dari perspektif cara pandang yang digunakan oleh Adam Smith di dalam mengembangkan teorinya, yang dalam jangka panjang dapat mendorong terjadinya bentuk penindasan ekonomi yang makin kejam dan global secara sistemik oleh pihak-pihak yang kuat secara ekonomi (“the haves”) terhadap yang miskin dan lemah (“the haves not”).
 
Jika Machiavelli membenarkan tindakan-tindakan immoral untuk memenuhi hasrat kekuasaan politik manusia modern, maka Adam Smith justru berhasil maju selangkah lebih jauh dengan memberi makna baru bagi suatu tindakan yang bermoral dalam berekonomi. Smith mengartikan moralitas sebagai sesuatu yang harus dibangun berdasarkan hukum alam di pasar yang membenarkan tindakan-tindakan pemenuhan hasrat kekuasaan ekonomi manusia yang materialistis dan individualistis. Selama kepentingan pengejaran untung menjadi sasaran hidup kita, maka menurut cara pandang Smith, kita sebenarnya sedang menjalankan kehidupan yang positif dan bermoral di dalam mendorong proses kemajuan ekonomi untuk masyarakat umum. Apa yang dipandang oleh masyarakat abad pertengahan sebagai dosa ketamakan, keegoisan dan kerakusan, kini telah menjadi fondasi religius bagi sistem perekonomian. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika mayoritas pelaku bisnis senang dengan cara pandang yang dianut oleh Adam Smith, yakni bahwa cara menjadi orang yang bermoral adalah dengan menjadi serakah.
 
Apakah yang membuat Smith yakin bahwa dengan memberikan ruang yang bebas bagi setiap individu untuk menjalankan kegiatan ekonominya secara serakah dan egois, pada akhirnya akan menghasilkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi bagi seluruh masyarakat?
 
Pertama, di dalam membangun hukum ekonominya, Smith berangkat dari asumsi bahwa masyarakat adalah sistem mekanis yang terus menjaga keseimbangannya. Menurutnya, hukum yang terutama dan yang berlaku di dalam mengatur mekanisme kehidupan umat manusia adalah hukum menjaga atau mementingkan diri sendiri…sejauh manusia menaati hukum mementingkan diri sendiri dan secara rasional berusaha untuk meningkatkan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka sendiri, masyarakat akan maju dan kemakmuran ekonomi untuk semua orang akan melimpah.44.
Brian Walsh dan J. Richard Middleton, Visi yang Membaharui (terj.) (Reformed Institute Press, Jakarta, 2001),h.168.
Smith mengatakan bahwa akibat-akibat yang tidak diinginkan karena membiarkan setiap orang bebas atas kegiatan ekonomis, pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan bagi semuanya, meskipun hasil yang diinginkan adalah akumulasi egois.55.
Richard Osborne, Filsafat Untuk Pemula (Penerbit Kanisius : Yogyakarta, 2001), h.94.
Dengan diberikan kebebasan yang cukup untuk mengejar kepentingan diri, pencapaian tujuan pribadi itu akan memberi sumbangan bagi kesejahteraan umum. Artinya, semakin besar ruang keserahakan dan keegoisan diberikan kepada setiap manusia di dalam berekonomi, semakin besar pula manfaatnya di dalam menciptakan lapangan-lapangan kerja, memperluas pilihan-pilihan ekonomis, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menghasilkan kesejahteraan umum bagi masyarakat luas. Atas dasar inilah, Smith sangat menganjurkan situasi persaingan bebas diberikan seluas-luasnya oleh pemerintah kepada setiap anggota masyarakat di dalam melakukan transaksi ekonomi.
 
Kedua, Smith memandang masyarakat sebagai kumpulan individu-individu yang cukup rasional untuk mampu mengatur dirinya sendiri. Apabila muncul kebijakan ekonomi yang merugikan masyarakat, maka sesuai hukum alam, masyarakat sebagai sistem mekanis dan kumpulan individu yang rasional akan bertindak mengoreksinya sehingga perekonomian kembali ke titik keseimbangan. Cara pandang ini menunjang pemikirannya di dalam menganjurkan situasi persaingan bebas yang berangkat dari prinsip laissez-faire. Istilah laissez-faire berasal dari bahasa Perancis yang berarti laissez = biarkan, faire = terjadi, berlangsung. Istilah ini mencerminkan keyakinan yang prinsipil dari masyarakat Barat di abad ke-18 dan 19 bahwa pemerintah tidak boleh campur tangan dalam sepak terjang ekonomi. Karena berangkat dari cara pandang bahwa manusia adalah mahluk yang rasional yang mampu mengatur dirinya sendiri, maka para penganut laissez-faire memandang peranan negara dalam masyarakat sebagai “kebutuhan jelek” (necessary evil). Artinya, semakin sedikit peranan negara dalam mengatur kehidupan masyarakat, semakin baik pula bagi perkembangan masyarakat yang merupakan kumpulan individu-individu yang rasional, bebas dan otonom. Di dalam masyarakat yang rasional yang mampu bertindak sebagai sistem mekanis di dalam menjaga keseimbangan pasar, maka manusia dianggap sangat mampu mengatur dirinya sendiri secara sempurna sehingga tidak diperlukan regulasi-regulasi untuk menciptakan suatu masyarakat yang adil. “Biarkan manusia itu, jangan campuri dia, maka segala-galanya akan beres,” demikian mitos yang diserukan oleh penganut ekonomi liberal.
 
Namun, keyakinan Adam Smith bahwa dengan memberikan ruang yang bebas bagi setiap individu untuk menjalankan kegiatan ekonominya secara serakah dan egois akan menghasilkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi bagi seluruh masyarakat, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang dialami oleh masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, khususnya yang berasal dari kelas menengah ke bawah. Selama satu dasawarsa terakhir, implementasi terhadap nilai-nilai Pancasila yang dirumuskan ke dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 pasal 33 ayat 1 yang berbunyi “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan,” semakin tidak termanifestasikan ke dalam realita kehidupan berbangsa dan bernegara. Justru fakta yang sering kita hadapi di Indonesia akhir-akhir ini lebih menunjukkan wujud pengingkaran terhadap UUD 1945 pasal 33 tersebut, yakni “perekonomian disusun berdasarkan kekuatan pasar dan situasi persaingan di mana setiap individu bebas mengejar keuntungan pribadi secara serakah”.
 
Seiring dengan besarnya upaya yang dikerahkan oleh pemerintah Indonesia menerapkan sistem ekonomi neo-liberal, semakin terkuak pula sisi-sisi negatif dari sistem perekonomian tersebut yang menyebabkan runtuhnya sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Situasi persaingan bebas yang semakin sengit di dalam perekonomian global serta diiringi oleh berkembangnya gagasan dan semangat liberal tentang “negara minimalis” (lesser state) yang coba didorong penerapannya oleh negara-negara maju di Barat terhadap negara-negara berkembang, turut mempengaruhi perkembangan politik-ekonomi negara kita akhir-akhir ini. Pemerintah terlihat semakin mengurangkan peranannya bahkan menghidar jika perlu dari upaya menegakkan regulasi-regulasi ekonomi yang diamanatkan oleh konstitusi UUD 1945, baik dalam regulasi pengelolaan BUMN, penguasaan atas sumber kekayaan alam negara, dan pengaturan harga-harga bahan pokok untuk kebutuhan sandang, pangan dan papan. Penyerahan pengelolaan ekonomi negara oleh pemerintah pusat kepada kekuatan pasar global tanpa diimbangi oleh regulasi yang protektif untuk menjaga kepentingan rakyat Indonesia, telah memicu persaingan ekonomi yang mengarah pada bentuk “persaingan yang saling mematikan” (cut throat competition). Persaingan yang saling mematikan ini tidak hanya akan merugikan anggota masyarakat, tetapi juga industri-industri lokal yang masih lemah dalam daya saing dan tingkat modalnya. Yang jelas, dalam persaingan yang sangat gencar, perusahaan-perusahaan kecil dan lemah akan tersingkir. Anehnya, pihak yang menang tidak pernah puas (masih ingat peringatan Aristoteles tentang keinginan manusia yang tak terbatas?). Ia akan berusaha sekuat-kuatnya menjadi yang nomor satu, terkuat dan terbesar.
 
Sistem ekonomi kapitalis yang dianjurkan oleh Adam Smith juga memiliki tendensi untuk membawa perusahaan-perusahaan yang menang ke arah monopoli. Jika ini terjadi, ia akan lebih tergiur untuk memperoleh laba yang lebih tinggi dengan cara mengendalikan produksi komoditas dan menetapkan harga seenaknya melebihi jangkauan daya beli masyarakat luas, yang pada akhirnya akan membuat rakyat banyak menderita. Inilah salah satu kekhawatiran para pendiri negara kita sehingga mereka telah mengantisipasinya terlebih dahulu agar sifat rakus dari korporasi-korporasi besar di dalam meraih keuntungan tanpa batas tidak sampai menyentuh ranah pengelolaan kekayaan alam negeri kita yang menyangkut hajat hidup seluruh rakyat Indonesia. Antisipasi tersebut telah mereka tuangkan ke dalam rumusan UUD 1945 pasal 33 ayat 2 yang berbunyi “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara,” dan dilanjutkan dalam ayat 3 agar “…dipergunakan sebesar-sebesarnya untuk kemakmuran rakyat,” bukan untuk pengejaran laba maupun meningkatkan anggaran pendapatan negara (APBN).
 
Namun antisipasi yang telah dilakukan sedemikian rupa oleh para founding fathers negeri kita tersebut, ternyata diabaikan oleh pemerintah kita sejak memasuki akhir era Orde Baru.66.
Khususnya sejak putra-putri Presiden Soeharto diberikan “jatah” bisnis pengelolaan kekayaan alam negeri kita oleh aparat-aparat birokrasi yang bersangkutan, baik melalui “tekanan politik” maupun “kerjasama”.
Seluruh kekayaan alam negeri kita yang seharusnya dikelola untuk kembali dinikmati oleh rakyat Indonesia, telah dikomersialisasikan oleh pemerintah kita sendiri menjadi produk-produk komoditas dengan tujuan untuk menghasilkan keuntungan atau surplus APBN.77.
Salah satu contoh utama yang kontemporer adalah pengelolaan minyak fosil dan gas alam.
Ketika hal ini terjadi, maka cabang-cabang produksi yang penting bagi negara tidak lagi difungsikan untuk mengelola kekayaan alam negara demi melayani kebutuhan hidup rakyat, tetapi murni demi meningkatkan anggaran pendapatan negara semata, meskipun pada ujungnya hanya digunakan untuk mensubsidi kehidupan para pejabat negara dan birokrasi yang berlimpah, boros dan korup.
 
Ketika cabang-cabang produksi milik negara dianggap tidak lagi bekerja secara “efisien” di dalam menghasilkan laba bagi negara, maka menurut hukum mekanisme pasar, pihak-pihak lain yang dinilai dapat bekerja secara lebih “efisien” di dalam menghasilkan laba (apakah itu perusahaan swasta lokal maupun asing) berhak diikutsertakan dalam proses pengelolaan kekayaan alam negara dan penggunaan fasilitas publik. Artinya, Badan-badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak lagi memiliki kendali sepenuhnya di dalam seluruh proses pengelolaan kekayaan alam negara dari hulu ke hilir. Ketika hak tunggal pengelolaan kekayaan alam negara kita dari hulu ke hilir tidak lagi dikuasai oleh Badan-badan Usaha Milik Negara (BUMN), maka konsekuensinya korporasi-korporasi swasta – baik lokal maupun asing – turut memiliki akses yang luas di dalam menentukan harga, menjual dan mengkomersialisasikan segala sumber daya alam dan fasilitas publik yang sepatutnya kembali dinikmati hasilnya oleh rakyat Indonesia. Namun ketika cara pandang kapitalisme yang cenderung melegitimasi keserakahan di dalam berdagang merupakan mitos yang telah menguasai cara pandang para pemimpin negara kita, maka janganlah heran ketika sekarang ini daya tawar setiap anggota masyarakat Indonesia dalam menentukan pilihan-pilihan ekonominya cenderung dibiarkan pemerintah menjadi semakin lemah, bukan saja di bidang pendidikan, kesehatan, transportasi, urusan birokrasi dan fasilitas publik, tetapi juga di dalam menikmati kelimpahan kekayaan alam negaranya sendiri.
 
Membongkar Mitos dalam Rangka Pemulihan Cara Pandang
 
Agar seorang Kristen mampu menjalankan panggilannya sebagai “garam dan terang” bagi masyarakat di dalam memulihkan cara pandang, ada dua hal utama yang mesti dimilikinya. Pertama, kepekaannya di dalam memahami fenomena-fenomena kehidupan yang terjadi di sekitarnya sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk membantu membuka wawasan orang lain. Tanpa kepekaan tersebut, akan sulit bagi kita untuk membedakan mana fenomena yang sesuai dengan norma-norma ciptaan Tuhan dan mana yang tidak. Terlebih lagi, bisa-bisa kita sebenarnya sudah terjebak mengikuti arus fenomena tersebut tanpa menyadarinya sementara kehidupan religius sehari-hari sebagai orang Kristen tetap kita jalankan. Pemahaman yang mendalam atas fenomena-fenomena yang terjadi di sekitarnya dapat memampukan seorang Kristen untuk membongkar mitos-mitos yang lahir dari cara pandang yang tidak sesuai kebenaran Firman Tuhan. Hal kedua yang mesti dimiliki adalah setelah berhasil membongkar cara pandang yang menjadi sumber penyebab suatu fenomena kehidupan, seorang Kristen juga mesti memiliki solusi untuk memulihkan cara pandang yang mengingkari kebenaran Firman Tuhan. Solusi untuk memulihkan cara pandang tertentu hanya dapat kita miliki apabila kita mendalami baik wahyu khusus (alkitab) maupun wahyu umum (buku-buku pengetahuan umum) dan berusaha mengintegrasikannya menjadi suatu kabar baik yang niscaya menjadi berkat bagi seluruh masyarakat.
 
Allah mengutus anak-Nya, Yesus untuk mati dan bangkit bukan saja hanya untuk menebus dosa-dosa kita. Ia datang untuk memulihkan segenap ciptaan-Nya yang telah rusak akibat kejatuhan Adam dalam dosa, yang kelak akan mencapai kesempurnaan pada waktu kedatangan-Nya yang kedua kali. Mitos-mitos sesat yang dibangun oleh kekuatan anti-Kristus selalu akan muncul pada setiap zaman dengan pola yang berbeda-beda di dalam mempengaruhi umat manusia. Salah satunya yang muncul di masa kehidupan kita adalah mitos yang dibangun oleh cara pandang kapitalisme. Namun pada saat mitos-mitos sesat itu muncul, Tuhan tidak berdiam diri. Ia selalu mengutus umat pilihan-Nya untuk maju menjadi tentara kerajaan sorga menghadapi nabi-nabi palsu untuk membongkar ajaran sesatnya dan kemudian memulihkan kembali segala ketetapan-Nya di hadapan manusia sehingga manusia mengetahui bahwa Tuhan-lah yang berdaulat dan berkuasa atas alam-semesta.
 
[ Randy Ludwig Pea ]
 
Notes.
 
1
Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi (PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta, 1995), h. 13.
 
2
Ibid., h. 27.
 
3
Ibid.
 
4
Brian Walsh dan J. Richard Middleton, Visi yang Membaharui (terj.) (Reformed Institute Press, Jakarta, 2001),h. 168.
 
5
Richard Osborne, Filsafat Untuk Pemula (Penerbit Kanisius : Yogyakarta, 2001), h. 94.
 
6
Khususnya sejak putra-putri Presiden Soeharto diberikan “jatah” bisnis pengelolaan kekayaan alam negeri kita oleh aparat-aparat birokrasi yang bersangkutan, baik melalui “tekanan politik” maupun “kerjasama”.
 
7
Salah satu contoh utama yang kontemporer adalah pengelolaan minyak fosil dan gas alam.