MAKNA KEMATIAN KRISTUS
_oOo_
 
Pendahuluan
 
Pada suatu waktu, penulis teringat kembali akan sebuah artikel Paskah yang pernah dikirim oleh seorang sahabat kira-kira dua tahun yang lalu. Judul artikel tersebut cukup menarik dan menggugah hati yaitu “Mahalnya kematian Yesus di kayu salib.” Isi artikel itu secara singkat mengkisahkan tentang pengorbanan seorang bapak yang rela memberikan anak satu-satunya yang sangat dikasihi demi keselamatan orang lain yang mereka tidak kenal. Satu hal yang menarik adalah bagaimana kisah pengorbanan si anak tersebut dijadikan analogi untuk pengorbanan Kristus yang mati di kayu salib. Setelah membaca dan merenungkan kisah di dalam artikel itu, penulis mencoba memikirkan dan bertanya dalam hati, “Apakah analogi tersebut sudah tepat?” Penulis menjawab: Tidak! Dari hasil pemikiran dan perenungan firman Tuhan terkait dengan kisah tersebut, penulis melihat ada 3 (tiga) pertanyaan penting yang akan memberi kita pengertian bagaimana kita memaknai dengan benar kematian Kristus. Pertama, “Apakah kematian Kristus adalah sebuah rencana Allah (God's plan) ataukan sebuah kecelakaan(accident)?” Kedua, “Apakah kematian Kristus adalah sebuah korban dalam pengertian true sacrifice ataukah victim?” Ketiga, “Apakah kematian Kristus adalah kematian yang berbuah (fruitful death) ataukan kematian yang sia-sia dan tidak bermakna (useless death)?” Tulisan ini akan mencoba menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Sebelum penulis menjawabnya, mari kita simak dan perhatikan isi artikel tersebut, di bawah ini:
 
Isi Artikel: “Mahalnya kematian Yesus di kayu salib”
 
Terdapat seorang bapak setengah baya yang bekerja pada sebuah perusahaan kereta api. Sehari-hari si bapak bertugas menarik sebuah tuas yang menggerakkan roda-roda raksasa yang saling berhubungan untuk mengangkat sebuah jembatan yang merintangi jalan yang biasa dilalui kereta api. Apabila jembatan itu tidak diangkat, maka akan terjadi kecelakaan yang hebat. Dikisahkan si bapak mempunyai seorang anak yang sangat dikasihi dengan segenap hatinya. Pada suatu hari, si anak datang mengunjungi si bapak untuk sekedar melihat apa yang dikerjakan oleh si bapak. Di suatu kesempatan, si anak menghampiri roda-roda raksasa itu, namun tanpa disadari si anak terpeleset dan jatuh di antara roda-roda raksasa itu. Malangnya, kaki si anak ternyata terjepit dengan kuat di antara gerigi roda-roda raksasa. Ketika dilihat apa yang terjadi dengan si anak, dengan cepat si bapak menghampirinya dan berusaha dengan sekuat tenaga menolong melepaskan kaki anaknya dari jepitan roda-roda raksasa. Setelah sekian lama berusaha, si bapak belum juga berhasil melepaskan kaki anaknya, dan si anakpun mulai menangis ketakutan. Tiba-tiba dari kejauhan terdengarlah suara peluit kereta api yang memberi tanda agar jembatan segera diangkat. Sesaat kemudian, kesedihan dan ketakutan mulai menyelimuti si bapak. Di dalam kecemasannya, si bapak masih berusaha dengan sekuat tenaga melepaskan kaki anaknya dari roda-roda raksasa tersebut, namun tidak juga berhasil. Sementara itu, suara peluit kereta api semakin jelas dan mendekat membawa kesedihan dan kecemasan mendalam di hati si bapak. Betapa hancurnya hati si bapak ketika membayangkan apa yang akan terjadi dengan anak yang dikasihinya itu. Di dalam hati si ayah mulai muncul keraguan disertai pertanyaan, haruskah ia mengorbankan anak satu-satunya yang sangat dikasihinya itu demi menyelamatkan seluruh penumpang kereta yang sama sekali tidak dikenalnya? Apabila ia memilih menyelamatkan anaknya, maka berapa banyak penumpang yang akan menjadi korban, mati dengan sia-sia?
 
Dengan kesedihan dan hati yang hancur, perlahan-lahan si bapak mencium kening anaknya, berdiri dan berjalan menuju tuas pengangkat jembatan itu. Dengan linangan air mata yang membasahi seluruh bajunya, si bapak melihat sekali lagi ke arah anaknya. Seketika itu juga, si bapak menarik tuas itu dan jatuh lunglai sambil menangis sekuat-kuatnya tanpa berani melihat kematian anaknya. Demikian akhir dari kisah itu.
 
Setelah memaparkan kisah di atas, pada bagian akhir, penulis artikel itu memberikan kesimpulan sekaligus refleksi atas kisah itu dengan mengatakan demikian: “Saudaraku yang terkasih, jika kita renungkan kembali kisah diatas, Bukankah cerita itu telah terjadi 2000 tahun yang lalu di mana Yesus telah disalib hanya untuk menebus dosa kita?” Siapakah kita ini sehingga kita memperoleh keselamatan itu? Sesungguhnya kita ini tidak lebih dari sampah yang tidak ada harganya. Tetapi kasih Yesus begitu besar, sehingga Dia rela mati di atas kayu salib hanya untuk menebus dosa kita (Yoh. 3:16). Saya mau katakan pada saudara, bahwa hanya Yesus sajalah yang rela mengorbankan nyawa-Nya bagi kita. Tak ada kasih yang demikian besar seperti yang dilakukan Yesus demi menyelamatkan kita. Kematian Yesus itu tidak dapat dinilai dengan apapun yang ada di dunia ini, terlalu mahal dan sangat mahal untuk sebuah jiwa seperti saya dan saudara.
 
Kematian Kristus: Rencana Allah (God’s Plan) atau Kecelakaan (Accident)?
 
Di dalam cerita di atas kita melihat bahwa kematian si anak adalah murni disebabkan oleh karena kecelakaan yang tidak disengaja. Si anak maupun si bapak pasti tidak pernah mengharapkan apalagi merencanakan semuanya itu terjadi. Membayangkanpun tidak. Namun realitanya, si anak harus mengalami kematian dengan cara tragis seperti itu. Sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana dengan kematian Kristus? Apakah kematian-Nya hanya sebuah kecelakaan? Apakah kematian-Nya di luar rencana Allah? Jawabannya: sekali-kali “Tidak.” Kematian Kristus bukan sebuah kecelakaan. Kematian-Nya ada di dalam rencana Allah. Rencana itu sudah ada di dalam pikiran Allah sejak di dalam kekekalan. Kematian-Nya merupakan bagian dari rencana keselamatan yang Allah nyatakan bagi manusia berdosa sebelum dunia dijadikan. Tidak ada seorangpun dan apapun di dalam dunia ini yang mampu menggagalkan rencana Allah. Bagaimana dengan adanya fakta kejatuhan manusia ke dalam dosa? Apakah dosa menghancurkan rencana Allah? Tidak! Dosa tidak pernah menghancurkan dan menggagalkan rencana Allah, karena rencana-Nya kekal adanya.
 
Ketika kita menyatakan bahwa kematian Kristus adalah rencana Allah, maka hal ini tidak dapat pisahkan atau dilepaskan dari ketaatan penuh Kristus atas kehendak Allah Bapa. Kematian-Nya adalah sebuah manifestasi ketaatan-Nya yang sempurna di dalam menjalankan tugas yang diperintahkan Bapa-Nya. Ketaatan-Nya bukanlah suatu keterpaksaan di mana Ia harus taat, tetapi merupakan suatu demonstrasi atas luapan kasih-Nya kepada Bapa-Nya. Ia berkata, “Aku senantiasa berbuat yang berkenan kepada-Nya” (Yoh. 8:29); “Tetapi dunia supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan Aku melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Bapa kepada-Ku” (Yoh. 14:31). “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34); “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 5:30); “Sebab Aku telah turun ke dunia bukan untuk melakukan kehendak-Ku sendiri, tetapi melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh. 6:38). Paulus di dalam Surat Filipi dengan jelas menghubungkan ketaatan Kristus ini dengan kematian-Nya di kayu Salib. Paulus berkata, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil. 2:8). Kerelaan Kristus untuk taat secara sempurna kepada kehendak Bapa untuk mati di kayu salib dapat kita jumpai pada peristiwa dramatis di Taman Getsemani sebelum Ia ditangkap dan disalibkan, ketika Ia berdoa dengan penuh kegentaran dan penyerahan diri kepada Bapa-Nya untuk meminta sekiranya mungkin Bapa mengambil cawan penderitaan itu dari pada-Nya. Tetapi jika Bapa berkehendak untuk Ia meminumnya, maka dengan rela Ia akan melakukan-Nya dan membiarkan kehendak Bapa yang terjadi. “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”” (Mat. 26:39); “Lalu Ia pergi untuk yang kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu”” (Mat. 26:42). Petrus dalam khotbahnya di Kisah Para Rasul pasal 2 berkata, “Dia (Kristus) yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis. 2:23).
 
Craig A. Evans di dalam bukunya, Hari-Hari Terakhir Yesus: Apa Yang Sesungguhnya Terjadi, melihat fenomena yang muncul bagaimana banyak para kritikus yang menyatakan bahwa Kristus tidak pernah mengantisipasi kematian-Nya; bahwa kematian menjemput-Nya begitu saja atau bahwa Ia terjebak dalam suatu kerusuhan dan kemudian ditangkap bersama dengan orang lain. Mereka menganggap kematian Kristus hanya sebuah kebetulan belaka dan bukan rencana Allah. Benarkah demikian? Apakah benar Kristus tidak mengantisipasi kematian-Nya? Tidak! Menjawab pernyataan para kritikus tersebut, Evans memaparkan argumentasinya sebagai berikut:
 
  1. Kita dapat mengatakan bahwa Kristus sebenarnya telah mengantisipasi kematian-Nya ketika Ia melihat dengan mata sendiri apa yang terjadi dengan Yohanes. Nasib tragis yang menimpa Yohanes ketika ia harus mengalami penderitaan di dalam penjara, pastilah memberikan kesan mendalam di dalam diri-Nya. Bukanlah suatu hal yang aneh jika Ia juga berfikir bahwa apa yang dialami oleh Yohanes pada suatu saat akan dialami-Nya juga.
     
  2. Peristiwa di taman Getsemani ketika Kristus harus berdoa dan bergumul untuk meminum cawan pahit penderitaan sampai mencucurkan keringat seperti darah (Mrk. 14:33-36), sementara itu juga Ia pernah mengajar murid-Nya untuk memikul salib dan mengikuti-Nya. Pada bagian yang lain, kita melihat Kristus melakukan suatu hal yang berbeda dengan apa yang terjadi di Getsemani ketika Ia berdoa kepada Allah Bapa bagi murid-Nya dengan ketenangan dan kedamaian (Yoh. 17). Kedua peristiwa berbeda dan bertolak belakang ini hendak menunjukkan bahwa sesungguhnya Yesus sendiri sudah mengatisipasi kematian-Nya kelak.
Selain itu, pada waktu kita mencoba untuk menjelajahi Alkitab khususnya di dalam 4 (empat) kitab Injil Sinoptik di Perjanjian Baru, maka sesungguhnya kita akan menjumpai banyak bagian-bagian Alkitab yang berbicara dengan jelas mengenai bagaimana Yesus Kristus sebenarnya sudah mengantisipasi kematian-Nya. Mari kita perhatikan beberapa kutipan perkataan dari Yesus Kristus sendiri di akhir-akhir masa hidupnya yang menunjukkan hal tersebut:
 
  1. Setelah peristiwa pengakuan Petrus yang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias dari Allah, Yesus melanjutkannya dengan pemberitahuan untuk pertama kalinya akan penderitaan yang akan Ia alami dan syarat-syarat mengikuti-Nya. Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua. imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk. 9:22). Kemudian dilanjutkan dengan pemberitahuan kedua dan ketiga. Ia berkata, “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia” (Luk. 9:42); “Sebab Ia (baca: Yesus) akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina, dan diludahi, dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit” (Luk. 18:32).
     
  2. Pada peristiwa penetapan perjamuan malam sebelum Yesus ditangkap, Ia kembali menyatakan akan penderitaan dan kematian yang akan dialami-Nya kepada para murid. “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya pada mereka, katanya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan aku.”” Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah Perjanjian Baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu”.
Dari pemaparan ini, kita dapat menjawab pertanyaan di atas dengan menyatakan bahwa kematian Kristus adalah rencana Allah bukan sebuah kecelakaan yang kebetulan.
 
Kematian Kristus: Korban sejati (True Sacrifice) atau Korban (Victim)?
 
Kata “korban” di dalam bahasa Inggris memiliki 2 (dua) pengertian yang berbeda namun memiliki signifikansi yang penting, yaitu: korban dalam pengertian “victim” dan korban dalam pengertian “sacrifice.” Korban dalam pengertian victim bersifat pasif, sedangkan dalam pengertian sacrifice bersifat aktif. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kita memahami kisah di dalam artikel di atas? Apakah kematian si anak hanya sebagai korban dalam pengertian victim ataukah sacrifice, dan bagaimana dengan kematian Kristus? Jawabannya jelas, kematian si anak adalah sebagai victim dan kematian Kristus sebagai sacrifice. Di dalam cerita di atas, kita melihat bahwa kematian si anak adalah murni sebuah kecelakaan yang terjadi secara kebetulan dan tidak pernah direncanakan sebelumnya. Kematiannya tidak akan terjadi jika pada waktu kejadian itu ia lebih berhati-hati ketika berjalan di lintasan kereta api. Kematiannya tidak akan terjadi jika pada waktu itu tidak ada kereta api yang lewat, atau kematiannya tidak akan terjadi jika si bapak memiliki waktu yang cukup untuk menolongnya, demikian seterusnya. Kematian si anak tidak lebih dari sekadar “korban” dalam pengertian sebuah victim. Korban (victim) akibat dari ketidak hati-hatiannya berjalan di lintasan rel kereta, korban dari kereta api yang lewat dan menabraknya, korban dari ketidakcukupan waktu dari si bapak untuk menyelamatkannya. Kematiannya bersifat pasif. Dengan demikian, bagaimana kita melihat kematian Kristus? Apakah kematian Kristus dapat disejajarkan atau disamakan dengan kematian si anak? Tidak! Kematian-Nya sangat berbeda dengan kematian si anak. Kematian-Nya tidak boleh dipahami sebagai “korban” di dalam pengertian victim yang bersifat pasif, tapi harus dipahami dalam konteks penyerahan diri atau self sacrifce yang bersifat aktif. Kristus secara aktif menyerahkan diri-Nya sebagai korban (sacrifice). Kematian Kristus tidak boleh dipahami secara sempit sebagai sebuah korban dari plot atau desain yang dirancang oleh manusia berdosa untuk membunuh-Nya, tapi harus dipahami sebagai plot dari story rencana keselamatan yang telah ditetapkan Allah Bapa di dalam kekekalan. Kematian Kristus bukan sekadar korban (victim) dari tentara Romawi yang menangkap dan menyalibkan Dia, korban (victim) dari kelicikan Imam Kepala dan ahli Taurat Yahudi yang menganggap-Nya sebagai pemberontak dan ingin menyingkirkan-Nya, korban (victim) dari orang-orang Yahudi yang berteriak dengan keras dan lantang “Salibkanlah Dia,” korban (victim) dari Pontius Pilatus yang memutuskan untuk menyalibkan-Nya meskipun tidak ditemukan setitikpun kesalahan yang dilakukan-Nya, atau bahkan korban (victim) dari Yudas yang menjual-Nya demi tiga puluh uang perak, tapi kematian-Nya harus dilihat sebagai sebuah korban penyerahan diri secara aktif di mana Ia harus mati disalibkan. Pengorbanan Kristus adalah sebuah korban sejati (true sacrifice). Tentara Romawi, Imam Kepala dan ahli Taurat Yahudi, Pontius Pilatus, dan Yudas hanyalah “alat” yang dipakai Allah Bapa untuk menggenapkan rencana-Nya. Mereka bukanlah aktor utama dari rencana Allah Bapa, tapi hanya dipakai Allah untuk menjadikan Kristus sebagai “true sacrifice”.
 
Berikut kita melihat beberapa bagian dari Alkitab yang berbicara secara jelas mengenai Kristus sebagai true sacrifice yang menyerahkan diri-Nya untuk mati di kayu salib:
 
“Demikian kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yoh. 3:16).
 
“Akulah (baca: Yesus) gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-dombanya.” (Yoh. 10:11).
 
“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mark. 10:45).
 
“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat. 20:28).
 
Dari pemaparan disertai dengan referensi Alkitab ini, maka kita dapat menjawab pertanyaan di atas dengan menyatakan bahwa kematian Kristus adalah sebagai true sacrifice bukan victim.
 
Kematian Kristus: Kematian Yang Berbuah (Fruitful Death) atau Kematian Yang Sia-sia (Useless death)?
 
Jikalau kematian Kristus hanyalah sebuah kebetulan atau diluar rencana Allah Bapa, dan kematian-Nya hanya dilihat sebagai “korban” di dalam pengertian “victim” bukan “sacrifice,” maka kematian-Nya hanya sekadar sebuah kematian biasa yang juga dialami oleh setiap manusia yang hidup di dunia ini. Kematian itu menjadi tidak bermakna dan tidak berguna karena kematian itu tidak akan berdampak atau berpengaruh bagi kita. Kematian-Nya tidak berelasi dengan kita. Kematian-Nya menjadi kematian yang tidak berbuah karena kematian itu tidak akan membawa kita kepada penebusan, pengampunan dosa, dan keselamatan kekal. Kita sebagai manusia berdosa akan selamanya tetap berada pada posisi kita sesungguhnya, yaitu orang-orang yang harus dimurkai dan berada di dalam kebinasaan kekal. Puji Tuhan, kematian Kristus bukanlah kematian seperti di atas. Kematian-Nya adalah rencana Allah Bapa, dan kematian-Nya adalah korban sejati (true sacrifice). Jika kematian Kristus adalah “fruitful death” dan memiliki relasi dengan kita, maka pertanyaannya apakah makna kematian Kristus bagi kita? Mari kita perhatikan beberapa hal penting berikut:
 
  1. Kematian Kristus menjadi jalan pendamaian antara kita dengan Allah Bapa
     
    Di dalam Kejadian pasal 3 kita melihat sebuah fakta kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa telah berakibat serius dengan relasi antara manusia dengan Allah. Relasi itu kini rusak akibat dari pemberontakan manusia terhadap Allah dan perintah-Nya. Pemberontakan itu menjadikan manusia seteru dan musuh Allah. Apa artinya menjadi seteru Allah? Artinya manusia terpisah dengan Allah, sang sumber hidup, yang artinya kematian. Pertanyaannya, bagaimana relasi itu dapat dipulihkan? Alkitab menjawab: dengan pendamaian oleh Kristus melalui kematian-Nya. Paulus mencatat dalam Surat Roma, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya” (Rom. 3:25). Paulus melanjutkan, “Sebab jikalau kita, masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Rom. 5:10). Di dalam Surat Kolose, Paulus juga mengatakan, “Juga kamu yang dahulu jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Kol. 1:21-22).
     
  2. Kematian Kristus menjadi jalan pembenaran bagi kita
     
    Konsep pembenaran di dalam Alkitab harus dimengerti sebagai penerimaan seseorang sebagai orang benar di hadapan Allah. Pembenaran berarti menyatakan seseorang yang bersalah melakukan dosa diperlakukan sebagai orang yang tidak bersalah. Pembenaran menyangkut status seseorang benar di mata hukum. Pembenaran bukan berarti “menjadikan benar” melainkan “menyatakan atau mendeklarasikan secara yudisial bahwa seseorang adalah benar sesuai hukum.” Pembenaran adalah pekerjaan Allah sendiri. Pembenaran yang kita terima bukan berasal dari kebenaran kita sendiri, tetapi kebenaran Kristus yang diperhitungkan terhadap kita orang berdosa. James A. Buchanan di dalam bukunya, Not Guilty, berkata, “Tidak ada kebenaran bagi kita dengan cara yang lain selain oleh kebenaran Kristus yang diperhitungkan sebagai milik kita.” Berkaitan dengan konsep pembenaran ini, Anthony A. Hoekema di dalam bukunya, Diselamatkan oleh Anugerah, mengutip salah satu bagian dari Pengakuan Iman Westminster berkata demikian:
     
     
    “Mereka yang dipanggil Allah secara efektif, juga secara bebas dibenarkan oleh Allah, bukan dengan menanamkan kebenaran di dalam diri mereka, tetapi dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan menyatakan dan menerima pribadi-pribadi mereka sebagai benar. Hal ini tidak dikarenakan sesuatu yang terdapat di dalam diri mereka atau yang dikerjakan oleh mereka, tetapi semata-mata dikarenakan Kristus ... dengan mengimputasikan ketaatan dan pemuasan Kristus atas mereka, sehingga mereka menerima dan bergantung kepada-Nya dan kebenaran-Nya dengan iman, di mana iman ini sendiri juga bukan milik mereka sendiri melainkan adalah anugerah dari Allah”.
     
     
    Dari penjelasan di atas, kita melihat bahwa konsep pembenaran tidak mungkin dapat dilepaskan dari Kristus dan apa yang telah dikerjakan-Nya. Pembenaran didasarkan kepada karya subsitusi (penggantian) Kristus bagi kita. Hal ini melibatkan Kristus yang dengan rela mati mengambil tempat kita untuk menanggung seluruh murka Allah Bapa akibat dari dosa-dosa kita. Petrus berkata bahwa Kristus telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib (1 Pet. 2:24). Terkait dengan konsep pembenaran ini, Paulus dengan jelas berkata, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati bagi kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah” (Rom. 5:8-9).
     
  3. Kematian Kristus menjadi jalan keselamatan kita.
     
    Pernyataan Paulus di dalam Surat Roma 5:8-10 menjadi kunci penting untuk memahami bahwa kematian Kristus menjadi satu-satunya jalan keselamatan kita orang berdosa. Di dalam bagian itu, kita melihat kasih Allah ditunjukkan bukan pada saat hidup kita benar, tetapi justru ditunjukkan pada saat kita masih berdosa dan menjadi seteru Allah. Kasih Allah itu termanifestasi secara nyata dari apa yang dikerjakan Kristus bagi orang berdosa ketika dengan rela Ia menyerahkan diri-Nya mati bagi kita. Kematian-Nya menjadi jalan pendamaian kita yang berdosa dengan Allah Bapa. Kristus menjadi satu-satunya pengantara kita dengan Allah Bapa melalui korban darah-Nya sendiri (Ibr. 9). Kematian-Nya juga menjadi jalan pembenaran kita, di mana Kristus menjadi korban subtitusi yang menggantikan posisi kita yang berdosa untuk menerima murka Allah Bapa. Melalui pendamaian dan pembenaran yang dikerjakan oleh Kristus ini, menjadi jalan keselamatan kita. “Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia” (Ibr. 9:28). Paulus berkata, “Sebab jikalau kita, ketika kita masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Rom. 5:10).
Dari pemaparan di atas, kita dapat menyatakan bahwa kematian Kristus bukanlah kematian yang sia-sia dan tidak berelasi dengan kita. Kematian-Nya adalah kematian yang berbuah (fruitful death) menjadi jalan pendamaian, jalan pembenaran, sekaligus jalan keselamatan bagi kita.
 
Penutup
 
Setelah kita melihat apa yang telah Kristus kerjakan bagi kita, pertanyaannya sekarang “Apa yang harus kita kerjakan bagi Dia?” Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita perhatikan apa yang Paulus katakan di dalam Roma 5:11-13, sebagai berikut: “Demikian hendak-Nya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (ayat 11). Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya (ayat 12). Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (ayat 13).
 
Thomas O Chrisholm telah menuliskan satu buah lagu yang indah berjudul “Living for Jesus/ Hidup Bagi Yesus” yang menggambarkan respon kita atas apa yang sudah Kristus kerjakan bagi kita. Berikut ini salah satu bait dari lagu tersebut dalam versi bahasa Indonesia:
 
 
Hidup bagi Yesus hidup yang b'nar, tinggalkan dunia dan dosa cemar.
Serahkan s'muanya k'lak hati gemar, jalan inilah b'ri berkat besar.
Oh Yesus mukhalis-ku, ku s'rahkan diriku,
Karna Tuhan t'lah s'rahkan hidup-Mu gantiku.
Ku tiada lain Tuhan, hatiku tahta-Mu
Ku berserah oh t'rimalah, hidupku, ya Tuhan
 
 
Sama seperti Kristus yang telah memberikan teladan sempurna bagi kita atas hidup yang Ia serahkan menjadi korban sejati (true sacrifice) bagi kita, biarlah kita juga dengan rela mau mempersembahkan diri kita menjadi korban hidup (living sacrifice) bagi Allah. Penulis ingin menutup artikel ini dengan mengutip perkataan Paulus di dalam Roma 12:1, yang berkata demikian, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”.
 
[ Nikson Sinaga ]