JONATHAN EDWARDS,
SEORANG REFORMATOR SEJATI
_oOo_
 
Kita mungkin sering mengidentikkan tokoh reformed hanya sebatas pada figur John Calvin atau Martin Luther. Padahal banyak sekali tokoh-tokoh reformed yang melalui karyanya dan cara pandangnya mempengaruhi dunia, seperti Abraham Kuyper, Jonathan Edwards, G.W.F. Handel, George Whitefield, dan lainnya. Salah satu tokoh reformed yang menarik perhatian penulis adalah Jonathan Edwards. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai Jonathan Edwards dari kehidupannya sampai karyanya yang merubah cara pandang dan tradisi gereja-gereja di dunia, termasuk di Indonesia hingga saat ini.
 
Kehidupan Pribadi Jonathan Edwards.
 
Jonathan Edwards dilahirkan di East Windsor Connecticut tanggal 5 Oktober 1703. Ayahnya bernama Timothy Edwards yang adalah seorang Hamba Tuhan dan pernah mengenyam pendidikan di Harvard College. Ibunya bernama Esther Stoddard yang adalah anak dari Solomon Stoddard, seorang figur Hamba Tuhan ternama di koloni Amerika pada masanya yang dikenal dengan nama “Paus dari Connecticut River Valley.” Jonathan Edwards memiliki sepuluh orang kakak perempuan dan ia sendiri adik laki-laki. Sejak kecil, Edwards rajin belajar Alkitab, katekismus, dan warisan yang kaya dari iman kaum Puritan dan Reformed dari ayah dan ibunya. Sehingga pada waktu Edwards telah siap masuk ke perguruan tinggi pada tahun 1716, ayahnya mendaftarkannya di Collegiate School di Connecticut yang pada saat itu masih belum lama berdiri. Sekolah itu kemudian hari berubah menjadi Yale University dikarenakan komitmen Harvard terhadap tradisi Puritan dan Reformed mulai longgar dan diragukan.
 
Selama Edwards kuliah, ia mempelajari kesusasteraan, penguasaan tata bahasa, retorika, logika, sejarah kuno, aritmatika, geometri,dan astronomi, di samping metafisika, etika, dan ilmu alam. Selain itu, ia juga mempelajari bahasa Yunani dan Ibrani agar dapat membaca teks Alkitab dalam bahasa aslinya di samping teks-teks Yunani klasik dalam bidang kesusasteraan dan filsafat serta mata kuliah theologi. Jika tiba hari Sabat atau hari longgar, kepala staf dan dosen Yale meminta kepada semua mahasiswanya untuk membuat catatan dari semua khotbah yang diberikan pada hari-hari tersebut untuk membentuk karakter rohani mereka. Lalu pada tahun 1720, Edwards berhasil menyelesaikan semua kurikulum di Yale dan menerima gelar B.A dengan meraih gelar wisudawan terbaik di angkatannya. Tidak lama kemudian, ia mengambil program magister di Yale dari tahun 1720 hingga tahun 1722. Pada bulan September tahun 1723, dalam usia yang relatif muda, yakni 20 tahun, ia kembali menerima gelar M.A dalam upacara wisuda di Yale .
 
Tahun 1721 adalah tahun yang ditandakan oleh Edwards sebagai titik awal pertobatannya. Mungkin bagi sebagian teman-teman seumurannya pada masa itu, hal ini merupakan sesuatu yang aneh dan mengherankan serta tidak boleh dianggap enteng. Sebab menurut mereka, jika seseorang sudah mengklaim dirinya bertobat, maka jangan ada lagi kemunafikkan dan penipuan diri sendiri dalam hal-hal agamawi. Akan tetapi bagi Edwards yang telah sekian lama diperhadapkan kepada Injil, Allah Tritunggal telah membuka matanya terhadap Injil yang mulia dan memberinya, dalam kata-katanya, pengertian yang baru tentang hal-hal yang ilahi sehingga seluruh hidupnya ditujukan hanya untuk mempermuliakan Allah. Berikut salah satu dari 70 komitmen atau ketetapan hati Edwards yang dinyatakannya dalam tulisannya selama 1722-1725 yang berjudul Resolutions:
 
  1. Menetapkan hati untuk melakukan apa saja yang diyakini dapat membawa kemuliaan bagi Allah dengan segenap hati, pikiran, dan waktu yang dimiliki dari sekarang dan seterusnya. Dan juga menetapkan hati untuk melakukan apa saja yang diyakini sebagai kewajiban yang mendatangkan kebaikkan dan manfaat bagi umat manusia secara umum.
     
  2. Menetapkan hati untuk mendisplinkan diri dalam hal makan dan minum.
     
  3. Menetapkan hati untuk tidak menyerah atau tidak mengendurkan sedikit pun perlawanan terhadap dosa dan juga menetapkan hati jika melewati masa-masa sulit untuk terus menerus menginstropeksi diri, apakah saya semakin baik dalam menghadapi masa-masa itu dan manfaat apa yang saya peroleh dari masa-masa sulit tersebut.
Dan Ia selalu memberi pendahuluan untuk catatan ketetapan-ketetapan hati ini dengan tulisan, “Ingat untuk membaca daftar Ketetapan Hati ini sekali seminggu”.
 
Pada tahun 1724-1726, Jonathan Edwards bekerja sebagai dosen di Yale. Dan tepatnya pada tahun 1727-1729, Edwards secara resmi menjadi asisten gembala dari kakeknya sendiri, Solomon Stoddard, di Northampton, Massachusetts, di mana kota ini merupakan tanah kelahiran dari ibu Edwards. Tak lama setelah ia menjabat sebagai asisten gembala, kemudian ia menikah dengan Sarah Pierrepont pada tanggal 28 Juli 1727. Pada waktu pertama kali Sarah menarik perhatian Edwards, Sarah masih berumur 13 tahun dan waktu itu Edwards baru kembali dari New York City. Setelah empat tahun berpacaran atau menjalin hubungan, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan dikaruniai 8 putri dan 3 putra. Hubungan antara Edwards, Sarah dan anak-anaknya begitu erat dan harmonis. Setiap pagi, Edwards selalu menyediakan waktu bagi anak-anaknya untuk bersaat teduh bersama, sarapan bersama, dan setiap malam selalu bersama. Selama masa pertumbuhan anak-anaknya dan masa-masa sekolah, Edwards selalu memberikan perhatian kepada anak-anaknya meskipun dia sendiri sibuk dalam mempersiapkan pelayanannya sebagai seorang assisten gembala. Perhatiannya dapat terlihat, pada waktu anaknya, Esther, yang sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Princeton, mengalami kelemahan tubuh. Edwards mengirimkan seekor ular derik dan seekor gingseng serta cara-cara untuk mengolahnya, karena ini berguna untuk mengatasi masalah perut yang dialami oleh Esther. Betapa terkejutnya Esther ketika menerima ular derik tersebut, tetapi ini merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang Jonathan Edwards dan Sarah kepada anak-anak mereka. Juga kepada adik Esther yang bernama Timothy. Edwards selalu memberikan perhatian, kasih sayang dan senantiasa mengawasi perkembangan sekolah Timothy, di mana pada waktu itu Timothy mengenyam pendidikan di Universitas Princenton, dengan memberikan uang sekolah dan senantiasa menanyakan kabar terbaru dari studi-studinya serta berbagai macam peristiwa-peristiwa yang terjadi di Princenton. Dan Edwards juga tak henti-hentinya menanyakan kabar anak-anaknya, mendoakan, dan mengingatkan mereka untuk mereka memberikan kabar dengan mengirimkan surat kepada Ayah dan Ibu mereka. Betapa harmonisnya hubungan orang tua dan anak-anaknya, sehingga pada waktu tiba anak-anaknya untuk menikah, anak-anak perempuan Edwards ada yang menikah dengan pengacara, politisi, dan pendeta yang kemudian menjadi presiden sebuah perguruan tinggi. Putra-putra Edwards ada yang menjadi pengacara, politikus, dan ada pula yang lainnya menjadi seorang pendeta sekaligus presiden sebuah perguruan tinggi. Jonathan Edwards mempunyai 72 orang cucu. Sehingga keturunannya begitu banyak dan dari keturunannya, banyak pula dari keturunan Edwards yang memainkan peranan-peranan penting sehingga melalui mereka, telah banyak mengubah jalannya sejarah Amerika.
 
Kemudian, pada tahun 1729 di mana kakeknya Jonathan Edwards, Solomon Stoddard, wafat, inilah waktunya bagi Jonathan Edwards yang pada saat itu mau berumur 27 tahun, memimpin sebuah gereja yang paling bergengsi dan berpengaruh di New England, tempat kakeknya menjadi gembala jemaat. Ia dengan tekun mempersiapkan diri dengan sangat teliti mempersiapkan naskah-naskah khotbahnya. Kadang-kadang, ia menuliskan satu khotbah berulang-ulang kali, mengerjakan seluruh bagian dan bahkan frasa-frasanya sampai dianggapnya sudah pas. Ini membuktikkan, bahwa memimpin jemaat bahkan menjadi gembala jemaat bukanlah pekerjaan mudah, sebab berkenaan dengan Firman Allah dan Perkataan Allah di dalam Alkitab yang tidak boleh ditafsirkan dengan sembarangan karena berkaitan dengan Iman dan kualitas rohani jemaat yang dipimpinnya.
 
Pada tahun 1731, merupakan masa-masa ujian bagi Edwards sebagai gembala jemaat dari gereja yang dianggap terpandang dan terkemuka di New England, ketika dia menjadi pusat perhatian dengan diundang untuk menyampaikan kuliah Hari Kamis di mana juga merupakan upacara wisuda Harvard, di hadapan sekumpulan rohaniawan di Boston. Praktik semacam ini menjadi sarana untuk melayani sesama hamba Tuhan dan memampukan mereka untuk saling belajar. Ujian yang dihadapi oleh Jonathan Edwards adalah menghadapi pandangan orang-orang di Boston. Sebab gereja yang dipimpin oleh Jonathan Edwards dengan pendahulunya yang adalah seorang Hamba Tuhan yang sangat terpandang, sehingga kemampuan Jonathan Edwards diuji untuk menyeimbangi pendahulunya atau bahkan mungkin melebihi pendahulunya di atas mimbar. Dan juga, sebagai alumnus dari Yale, dia tidak memiliki kualifikasi Harvard yang sama seperti para pendengarnya. Akan tetapi Jonathan Edwards tidak menjadi gentar dan dengan kekuatan dari Allah, Ia menyampaikan khotbah tentang “God Glorified in The Work of Redemption,” yang kemudian begitu dihargai oleh para pendengarnya sehingga mereka meminta agar khotbahnya tersebut diterbitkan.
 
Beberapa tahun kemudian kebangunan-kebangunan rohani dimulai dari jemaatnya di Northampton dan di beberapa kota di sekitarnya. Kebangunan-kebangunan rohani ini hanyalah suatu permulaan, perintis jalan menuju Kebangunan Besar di Amerika yang dikenal dengan peristiwa the Great Awakening pada tahun 1740-1742, di mana dua orang secara menonjol terlibat dalam peristiwa ini, yaitu: pengkhotbah Kebangunan, George Whitfield, dan theolognya, Jonathan Edwards. Keduanya menghabiskan waktu bersama, karena Whitefield berkhotbah dalam dua kebaktian di Northampton dan bahkan dalam setiap pertemuan yang diadakan di rumah Jonathan Edwards. Pelayanan Whitefield di sana merupakan tanggapan terhadap undangan Jonathan Edwards, yang ditulisnya dalam sebuah surat kepada Whitefield, di Northampton pada tanggal 12 Februari 1740.
 
Kehidupan Jonathan Edwards tak lepas dari pasang surut. Sebuah konflik pahit pun diterima Jonathan Edwards dengan jemaat yang dipimpinnya yang berakhir dengan pemecatan Jonathan Edwards pada tahun 1750 sebagai Hamba Tuhan dari gereja yang dipimpinnya selama bertahun-tahun dan didirikan oleh kakeknya sendiri. Peristiwa ini merupakan peristiwa misteri yang paling besar dari sejarah gereja. Sebab bagaimana mungkin seorang pendeta terbesar dan theolog terpenting di Amerika disingkirkan dari sebuah gereja, bahkan gereja yang dibangun oleh kakeknya sendiri? Ini bermula ketika pada waktu kakek Edwards, Solomon Stoddard, telah memulai perjanjian separuh jalan (half-way covenant), yang menginjinkan orang-orang untuk ikut mengambil bagian dalam perjamuan suci, meskipun mereka yang belum mengakui Kristus namun sudah dibaptiskan. Di masa-masa awal pelayanannya, Edwards mengikuti tradisi yang sudah dijalankan oleh kakeknya selama bertahun-tahun walaupun di dalam hatinya dia sangat keberatan dengan tradisi tersebut. Akan tetapi, selama masa-masa kebangunan rohani pada pertengahan tahun 1730-an dan awal tahun 1740-an, Edwards menghapuskan tradisi tersebut sebab dia memandang tradisi upacara perjamuan kudus yang diwariskan oleh kakeknya selama ini dimaknai sebagai upacara untuk mengubah orang-orang berdosa menjadi tidak berdosa, dan akibatnya kerap digunakan untuk mendorong semua orang yang hidupnya banyak melakukan perbuatan aib untuk datang, meskipun orang-orang itu sendiri menyadari betul bahwa mereka sebenarnya belum dipertobatkan hatinya oleh Tuhan atau belum melakukan pengujian diri untuk layak menerima perjamuan kudus ketika menghadiri upacara tersebut. Upaya penghapusan tradisi gereja tersebut oleh Edwards menimbulkan ketidaksenangan dari orang-orang penting di gerejanya, yang tidak lama kemudian berakhir dengan pemecatan Edwards pada tanggal 22 Juni 1750.
 
Akan tetapi semangat Edwards untuk terus berkhotbah bagi jemaatnya dan menegor mereka untuk kembali kepada jalan yang benar tak pernah surut meskipun ia sudah dikeluarkan dari gerejanya. Ketika gerejanya telah mendapatkan seorang Hamba Tuhan pengganti, Edwards akhirnya memutuskan untuk pindah ke kota perbatasan di Stockbridge, Massachusetts, tempat dia mulai melayani sebagai seorang misionaris bagi orang-orang Indian suku Mohican dan Mohawk di sebuah tempat tinggal yang terpencil. Akan tetapi, pelayanan Edwards tidak lepas dari kontroversi. Ketegangan antara orang-orang Perancis dan orang-orang pribumi Amerika dan Inggris muncul ketika orang-orang Eropa memperlakukan orang-orang pribumi Amerika dengan tidak adil dalam urusan perdagangan, cenderung mengucilkan mereka dan membuat mereka skeptis terhadap usaha pertolongan para imigran di koloni yang telah terjadi selama puluhan tahun. Akhirnya, terjadilah Perang Tujuh Tahun (1756-1763) antara koloni Amerika dan Inggris melawan Perancis dan dampak dari perang ini sangat dirasakan oleh orang-orang misionaris di kalangan orang-orang pribumi Amerika, khususnya di kota perbatasan seperti Stockbridge. Meskipun Edwards diperhadapkan pada tantangan-tantangan tersebut, namun ia tak kenal takut bahkan gentar, tetapi ia tetap melanjutkan pelayanannya terhadap orang-orang Mohawk. Dan tibalah, pada suatu waktu ketika kebutuhan akan seorang presiden baru di Perguruan Tinggi New Jersey (yang kelak bernama Princeton University) muncul, di mana dewan perguruan tinggi meminta dan memilih Edwards untuk menjadi Rektor di universitas tersebut. Rektor pendahulu Edwards di Perguruan Tinggi New Jersey, tak lain adalah anak menantu Edwardds sendiri, yang bernama Aaron Burr Sr., suami dari putri Jonathan Edwards, Esther, dan ayah dari wakil presiden ketiga Amerika, Aaron Burr Jr. Edwards sangat terkejut dan merasa tidak pantas untuk menerima tawaran mereka dikarenakan “kecacatan”-nya (yakni pernah dipecat dari gerejanya sendiri) dan takut menimbulkan keributan dalam keluarganya. Namun pada akhirnya, dia menerima tawaran tersebut dan berangkat ke Princeton pada bulan Desember 1757 dan tiba pada bulan Januari 1758.
 
Namun masa-masa jabatan Edwards sebagai rektor di Princeton tidak berlangung lama bahkan terlampau sangat singkat. Ketika dia menjadi sukarelawan untuk menerima suntikan vaksin cacar, sebagai bentuk pengabdiannya kepada dunia keilmuan dan juga untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa tidak perlu takut terhadap kemajuan bidang medis, tubuhnya ternyata bereaksi negatif terhadap efek vaksinasi cacar tersebut yang membuat dirinya jatuh sakit dan kemudian wafat pada tanggal 22 Maret 1758. Ini merupakan bagian tersedih menjelang kematiannya dikarenakan Sarah, istri Edwards belum pindah ke Princeton akibat kendala transportasi menghadapi musim dingin yang hebat di mana Jonathan Edwards sendiri memang merencanakan agar Sarah datang pada musim semi. Tak lama setelah Sarah datang ke Princeton di mana pada waktu itu sedang berlangsung musim panas, Sarah istri Jonathan Edwards terjangkit disentri dan akhirnya meninggal pada tanggal 2 Oktober 1758 dan Ia dikuburkan di sebelah suaminya di Perkuburan Princeton.
 
Meskipun Edwards meninggal pada puncak kesuksesan dari karier akademik dan penulisan-penulisannya, namun keberhasilan Edwards dalam kehidupannya yang singkat benar-benar merupakan sesuatu yang sungguh sangat mengagumkan. Tatkala ketika Edwards berketetapan untuk bertindak, dia hidup dengan segala kekuatannya dan itu dia lakukan hanya untuk memuliakan Allah dalam hidupnya. Sebuah ketaatan yang luar biasa untuk memuliakan dan menikmati Allah selama-lamanya menandai kehidupan Edwards. Ia hidup untuk menunjukkan arah-arah yang sesuai dengan Firman Allah bagi orang-orang lain dengan cara memberi teladan hidupnya untuk senantiasa hidup dibawah pimpinan Tuhan. Walaupun keintiman Jonathan Edwards dengan Tuhan begitu dekat, namun dia tidak pernah lepas dari konflik-konflik dalam hidupnya. Dia tetap mengandalkan Tuhan dalam melaksanakan kehidupannya sebab bagi dia, hidup dan mati untuk Kristus dan tiap inci hidupnya, hanya untuk mempermuliakan nama Tuhan.
 
Salah satu karyanya yang mengubah gereja pada masa kini
 
Jonathan Edwards dipecat dan dikeluarkan dari gereja tempat dia mempimpin jemaat selama bertahun-tahun karena dengan tegas dia menghapus ajaran yang telah diajarkan kakeknya selama puluhan tahun dan akhirnya menimbulkan konflik dengan para pemimpin dan tokoh-tokoh penting di gereja Northampton, yaitu ajaran Stoddardianisme atau perjanjian setengah jalan (half-way covenant) . Ajaran ini mengajarkan bahwa siapapun yang mau mengikuti perjamuan kudus Tuhan, dan telah dibaptiskan dari sejak bayi walaupun mereka tidak mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka di depan umum dan bagi orang-orang kudus yang kelihatan, diperbolehkan. Karena dengan harapan bahwa melalui keikutsertaan dalam perjamuan, mereka mau berpaling kepada Kristus. Atau dapat disebut sebagai sebuah “Ordinansi yang mempertobatkan.” Ajaran Stoddard ini tidak disetujui oleh Edwards yang walaupun pada awalnya dia mengikuti tradisi tersebut karena sudah berlangsung selama puluhan tahun, tetapi ajaran ini tidak sesuai dengan Firman Allah. Ajaran ini akhirnya dihapus oleh Edwards, meskipun dengan konsekuensi dirinya dipecat dari gereja tersebut. Namun bagi Edwards, yang lebih penting adalah mengatakan kebenaran yang sesuai dengan Firman Allah. Melalui karyanya yang berjudul “An Humble Inquiry into the Rules of the Word of God Concerning the Qualification Requisite to a Complete Standing and Full Communion in the Visible Christian Church (Sebuah Pencarian yang Rendah Hati tentang Aturan Firman Allah Berkenaan dengan Persyaratan yang Perlu bagi Sebuah Perjamuan yang Penuh dan Utuh dalam Gereja Kristen yang Kelihatan)” dan diterbitkan pada tahun 1749, Edwards menyatakan ketegasannya di dalam menghapus ajaran Stoddard tersebut. Berikut isi risalah atau karya Edwards dalam bukunya:
 
  1. Hanya anggota-anggota gereja yang tetap saja yang boleh mengikuti Perjamuan Tuhan dan memperoleh hak penuh sebagai anggota gereja.
     
  2. Perlu diadakan pengujian diri sebagai persiapan perjamuan kudus dengan maksud bahwa orang-orang yang mengaku percaya hendaklah memeriksa diri mereka apakah mereka sudah memiliki prinsip iman yang membenarkan dan menyelamatkan untuk dapat membedakan mana realitas Kristus dan mana sensasi rohani atau perasaan rohani di meja perjamuan. Seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus dalam suratnya di 1 Korintus 11:28.
Ajaran Edwards ini mengubah tradisi gereja-gereja di dunia di kemudian waktu dan dipakai oleh gereja-gereja masa kini, terutama gereja-gereja di Indonesia, seperti Gereja Kristen Jawa, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Protestan Indonesia bagian Barat, HKBP dan lain- lain. Sebab benar sekali bahwa untuk masuk ke meja perjamuan kudus Tuhan, haruslah kita menguji diri apakah kita sudah layak untuk menerima roti dan anggur sebagai lambang dari Tubuh Kristus yang mengorbankan diriNya di Kalvari dan harus merupakan anggota tetap jemaat di gereja tersebut, bukan pendatang atau tamu. Andaikata ada seseorang yang hadir sebagai tamu di gereja tersebut, perlu diadakan penggembalaan khusus untuk mengajarkan kepada dia tentang makna perjamuan kudus Tuhan dan mengajarkan dia untuk mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat dia secara pribadi. Dan jika ada orang yang dari kecilnya sudah dibaptis, tapi belum mengakui dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat secara pribadi, maka ia mesti diberikan bimbingan khusus atau pembelajaran khusus mengenai Allah Tritunggal dan Karya-karyaNya, dimulai dari masa penciptaan, kejatuhan manusia ke dalam dosa, kedaulatan Tuhan dan pemeliharaan Tuhan terhadap Umat Perjanjian-Nya, kelahiran, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus sampai kepada Kenaikkan-Nya ke sorga dan kedatangan-Nya kedua kali ke dunia, dan juga mengajarkan kita untuk tekun menanti kedatangan Tuhan kedua kali-Nya; sampai ia mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat secara pribadi sehingga ia layak ikut serta dalam perjamuan kudus Tuhan. Oleh sebab itu, melalui pengorbanan Kristus di Kalvari yang telah memberikan kepada kita anugerah keselamatan, yang sesungguhnya kita harus dihukum tetapi justru kita dihapuskan dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran kita, di mana Kristus kemudian menjadi Perantara di dalam memulihkan relasi antara manusia dengan Allah Bapa yang dahulu rusak akibat jatuhnya manusia ke dalam dosa. Dan dari yang semula kita anak-anak kegelapan sekarang sudah menjadi anak-anak terang. Dengan demikian, hal ini mengingatkan kita untuk terus-menerus memiliki kebergantungan mutlak kepada anugerah Allah bukan kepada diri kita sendiri atau kepada kehendak daging kita. Dan biarlah hidup kita seutuhnya hanya untuk mempermuliakan Allah bukan hanya pada waktu kita menerima perjamuan kudus Tuhan, melainkan dalam setiap aspek hidup kita dan setiap inci hidup kita haruslah mempermuliakan Allah melalui perkataan, perbuatan, dan hidup kita memancarkan kemuliaan Allah. Konsep inilah yang diwariskan dan boleh dinikmati oleh kita anggota gereja saat ini berkat pemikiran dan ketegasan Jonathan Edwards di dalam menegakkan kebenaran ajaran Firman Tuhan dalam tradisi aturan gereja. Kiranya kita pun boleh turut hidup di dalam mewariskan limpahan berkat yang berasal dari kebenaran Firman Tuhan kepada generasi berikutnya, sehingga relasi antara Tuhan dan ciptaan-Nya boleh terus semakin dipulihkan.
 
[ Setya Asih Pratiwi ]