MENGENAL ALLAH MELALUI
PENYATAAN UMUM DAN PENYATAAN KHUSUS
_oOo_
 
Pemikiran tentang Allah adalah pemikiran terbesar yang pernah dipikirkan oleh manusia. Sejarah mencatat bahwa ada banyak upaya dan hasil yang diperoleh manusia ketika berusaha memikirkan segala sesuatu tentang Allah. Namun bagaimanakah manusia dapat memilki pengetahuan akan Allah? Apakah manusia mampu mengenal Allah? Dalam perjalanan sejarah manusia, banyak lahir pemikiran yang salah tentang Allah. Bahkan lahir pula pemikiran yang benar-benar menolak keberadaan (eksistensi) Allah, yang disebut dengan atheisme. Orang-orang yang berada di belakang pandangan ini tidak semuanya menunjuk pada ketidaktahuan akan Allah, melainkan lebih kepada tindakan secara aktif menolak semua pernyataan dan bukti keberadaan Allah.
 
Ada tiga model atheisme:
 
  1. Atheis Mutlak
     
    Pengajaran ini berdasar pada pemahaman bahwa semua yang ada di dalam dunia sama sekali tidak menunjukkan bukti yang mengarah kepada Allah.
     
  2. Atheis Providensi
     
    Pandangan ini selain meragukan keberadaan Allah, juga menolak fakta bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari pemeliharaan dan kepedulian Allah.
     
  3. Atheis Praktis
     
    Pengajaran ini tidak menolak pandangan bahwa Allah ada, namun dalam sikap dan kehidupan sehari-hari kelihatan dengan jelas mereka menolak keberadaan Allah.
 
Manusia modern menciptakan Allah dalam bentuk ide/gagasan/konsep di dalam pemikiran mereka. Pikiran manusia sangat mungkin melakukan hal ini karena ia memiliki sifat religiusitas di dalam dirinya. Kreativitas pikiran manusia dalam hal pengenalan akan Allah telah melahirkan beberapa pandangan yang salah, antara lain agnostisisme, politheisme, pantheisme, deisme, tritheisme dan sebagainya. Pandangan yang salah tentang Allah merupakan hasil dari rasionalisasi pikiran manusia atau penolakan terhadap pernyataan Allah sendiri tentang Diri-Nya di dalam Alkitab. Semua konsep di atas merupakan ciptaan dari manusia yang menolak kesaksian Allah dan menggantikannya dengan gambaran dan khayalan mereka tentang Allah. Segala penyataan Allah dianggap sebagai kebodohan yang tidak dapat diterima.
 
Pengertian akan Allah sebagaimana seharusnya tidak dapat bersumber dari ide kesempurnaan yang ada pada manusia. Tidak ada satu substansipun di alam semesta yang dapat menggambarkan dengan utuh dan sempurna keberadaan Allah. Rahasia keagungan diri Allah tetap menjadi suatu misteri yang tidak akan mungkin dipecahkan oleh rasio, pengalaman dan pembuktian manusia yang bersifat terbatas dan spekulatif.
 
Pemahaman tentang Allah dalam iman Kristen adalah sesuatu yang unik dan sangat berbeda dengan berbagai macam konsep Allah yang terdapat di dalam semua kepercayaan lain. Istilah “theology” secara khusus dipahami sebagai pelajaran tentang Allah di mana di dalamnya dibahas pemahaman tentang diri Allah dan karya-Nya sementara secara umum mempelajari semua sikap dan tindakan Allah. Doktrin Allah dalam Kekristenan merupakan pengajaran yang paling dasar dan menempati posisi sentral di antara berbagai macam doktrin lain yang diajarkan dalam Alkitab. Pemahaman yang tepat akan Doktrin Allah menjadi titik pusat pemahaman berbagai pengajaran Alkitab lainnya. Dengan kata lain, kebanyakan kesulitan pemahaman teologis bersumber dari kurang tepatnya pemahaman tentang Doktrin Allah ini.
 
Alkitab tidak pernah mempermasalahkan atau mempertanyakan apakah Allah itu ada atau tidak ada, melainkan Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah itu ada dan bahwa Ia menyatakan Diri-Nya secara aktif (Kej. 1:1; Ayub 23:3; Ibr. 11:6). Alkitab memberikan kesaksian atas dua fakta yang berkenaan dengan kemungkinan pengenalan akan Allah. Pertama, Alkitab mengajarkan bahwa Allah tidak dapat dipahami (God is incomprehensible, Ayub 11:7; Yes. 40:18), namun, kedua, Alkitab juga mengatakan bahwa Allah dapat dikenal (God is knowable, Yoh. 14:7; Yoh. 17:3). Alkitab juga menyatakan bahwa pengenalan akan Allah menjadi mungkin karena Allah sendiri di dalam kerelaan kehendak-Nya menyatakan diri-Nya sehingga dapat dikenal oleh manusia. Penyataan Allah itu sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: Penyataan Umum (General Revelation) dan Penyataan Khusus (Special Revelation).
 
Penyataan Umum dipahami sebagai cara Allah menyatakan keberadaan-Nya, kuasa-Nya, kebijaksanaan-Nya dan kekekalan-Nya kepada semua manusia tanpa kecuali sehingga mereka tidak dapat berdalih dan harus mengakui bahwa Allah ada. Beberapa sarana yang digunakan oleh Allah adalah:
 
  1. Alam, yaitu di dalam fakta, kuasa dan hukum-hukum alam. Maksudnya, pikiran manusia dituntun untuk memikirkan Sang Pencipta justru ketika ia melihat dan mengamati semua yang ada di alam semesta ini (Maz. 19:1-2).
     
  2. Hati nurani, yaitu di dalam pikiran manusia yang bersangkut paut dengan kewajiban moral dan etika (Rom. 2:14).
     
  3. Fakta pengalaman dan sejarah, yaitu yang berhubungan dengan tindakan pemeliharaan Allah. Ia memberikan matahari dan hujan, melibatkan diri-Nya dalam semua peristiwa bangsa-bangsa.
 
Penyataan Umum tidak datang kepada manusia dalam bentuk komunikasi secara lisan. Penyataan Umum memberikan aspek pengetahuan akan Allah, secara khusus akan eksistensi, kuasa, hikmat dan kekekalan Allah kepada manusia. Meski demikian, Penyataan Umum memiliki keterbatasan karena tidak menyatakan segala sesuatu tentang pengertian akan diri Allah dan hal-hal rohani sepenuhnya, yang menjadi dasar untuk membangun masa depan yang kekal. Selain itu, Penyataan Umum tidak dapat memenuhi kebutuhan rohani orang-orang berdosa. Namun, Penyataan Umum merupakan dasar bagi Penyataan Khusus. Penyataan Khusus tidak dapat dimengerti sepenuhnya tanpa Penyataan Umum.
 
Selain Penyataan Umum, Alkitab juga memberikan pengertian adanya Penyataan Khusus. Alkitab itu sendiri merupakan Penyataan Khusus Allah yang tertulis yang memberikan pengertian yang lebih spesifik tentang diri dan kehendak Allah. Dalam Penyataan Khusus Allah menggunakan berbagai macam cara yang berbeda seperti Theophani atau Penyataan-penyataan Allah yang kelihatan. Allah menyatakan kehadiran-Nya di dalam nyala api dan tiang awan (Kel. 3:2; 33:9; Mazmur 78:14); di dalam topan (Ayub 38:1, Mazmur 18:10-16) dan di dalam bunyi angin sepoi-sepoi (1 Raja-Raja 19:12). Tanda-tanda kehadiran-Nya ini menyatakan kemuliaan-Nya yang besar. Selain itu, Perjanjian Lama juga menyebut kehadiran Malaikat Tuhan, Pribadi kedua dari Trinitas menempati suatu tempat yang mulia (Kej. 16:13; 31:11; Kel. 23:20-23; Mal. 3:1). Puncak dari Penyataan Allah secara khusus kepada manusia adalah di dalam inkarnasi Yesus Kristus. Di dalam Dia, Firman menjadi manusia serta tinggal di antara kita dan menyatakan segala sesuatu yang perlu diketahui oleh manusia tentang Allah dan kehendak-Nya (Yoh. 1:14, 18). Di dalam Perjanjian Baru, Kristus adalah Pribadi yang diutus Bapa untuk menyatakan kehendak-Nya dan melalui Roh-Nya, kepada rasul menjadi alat untuk menyampaikan penyataan-Nya yang lain (Yoh. 14:26; 1 Kor. 2:12-13; 1 Tes. 2:13). Alkitab juga menyatakan bahwa Allah menggunakan berbagai mujizat untuk memperkenalkan diriNya. Mujizat adalah manifestasi kuasa Allah, alat kehadiran khusus-Nya, dan sering kali dipakai sebagai simbol kebenaran rohani. Mujizat yang paling besar di antara semuanya adalah kedatangan anak Allah sebagai manusia. Di dalam-Nya, Allah menyatakan DiriNya secara khusus kepada manusia, terutama bagi yang mau menerima Kristus sebagai Juruselamat.
 
Penyataan Khusus menjadi penting karena adanya fakta keberdosaan manusia. Di dalam keberdosaannya, manusia telah menjadi buta rohani, menjadi sasaran dari kesalahan dan ketidakpercayaan. Namun, dalam Penyataan Khusus, manusia dimampukan oleh Allah untuk mengenal sifat dan karakter Allah secara lebih mendalam, yang tidak diperoleh dalam Penyataan Umum.
 
Penyataan Khusus dapat juga disebut sebagai Penyataan Penebusan karena menyatakan rencana Allah mengenai penebusan orang-orang berdosa dan dunia serta bagaimana rencana ini diwujudkan. Penyataan ini juga bukan sekedar membawa manusia kepada berita penebusan, tapi juga memperkenalkan fakta-fakta dari sifat penebusan. Penyataan ini tidak hanya memberikan pengetahuan yang berlimpah, tapi juga mengubah kehidupan orang-orang berdosa menjadi orang-orang yang suci.
 
[ David Siambaton ]