Betlehem yang “Kecil” dan Pekerjaan Tuhan yang “Besar”
 
_oOo_
 
O, little town of Bethlehem, How still we see thee lie
Above thy deep and dreamless sleep The silent stars go by
Yet in thy dark streets shineth The everlasting light
The hopes and fears of all the years Are met in thee tonight
 
Pengantar
 
Setiap kita tentu mengenal dengan baik lirik lagu O Little Town of Bethlehem di atas. Syair lagu tersebut ditulis pada tahun 1868 oleh Phillips Brooks, seorang pendeta, berdasarkan pemandangan yang dilihat dan diingatnya saat ia beperjalanan dengan menunggang kuda dari Yerusalem menuju Betlehem beberapa tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 1865. Perjalanan ziarahnya ke tanah perjanjian itu sedemikian membekas di hatinya. Menjelang minggu Natal tahun 1868 Brooks merencanakan akan menampilkan lagu yang belum bermelodi tersebut pada musim Natal. Untuk itu ia meminta Lewis Redner, temannya yang adalah seorang organis gereja, untuk menata melodinya. Hampir saja Lewis sama sekali tidak mendapatkan inspirasi. Akan tetapi tepat malam Natal itu inspirasi datang dan Lewis menata melodi lagu itu sedemikian rupa beberapa hari lamanya hingga lagu itu pada akhirnya dapat dinyanyikan pertama kali oleh anak-anak pada tanggal 27 Desember 1868. Lagu itu demikian indah. Syair dan melodinya benar-benar membawa kita kepada perenungan yang dalam akan kesetiaan Tuhan yang nyata melalui Betlehem, sebuah kota kecil, yang merupakan tonggak awal dari pekerjaan Tuhan yang besar.
 
Dengan dibayangi oleh keindahan lagu karya Phillips Brooks dan Lewis Redner itu penulis di dalam artikel ini membahas Mikha 5:1 di mana Betlehem dicatat sebagai tempat yang tidak masuk hitungan manusia tetapi kelak dari padanya akan lahir Mesias yang agung dan bagaimana hal itu menjadi jaminan penyertaan dan penghiburan atas kita pada masa kini dalam menjalani perjuangan penuh iman menjelang hari Kristus yang kita nantikan itu.
 
Pendahuluan
 
Mikha 5:1 umumnya dikenal sebagai suatu nubuat mengenai tempat di mana Mesias kelak akan datang. Akan tetapi lebih dari itu nubuat ini juga merupakan suatu penghiburan bagi umat Tuhan pada saat kerajaan selatan (Yehuda) sedang menantikan kejatuhannya akibat penghakiman Tuhan oleh karena dosa-dosa mereka.
 
Nabi Mikha melayani antara tahun 750-686 SM di Yehuda. Pelayanannya meliputi masa pemerintahan tiga raja Yehuda, yaitu Yotam, Ahas dan Hiskia serta berhubungan erat dengan bobroknya keadaan rohani mereka pada saat itu. Di bawah tiga golongan pemimpin masyarakatnya: penguasa, imam dan nabi, kejahatan Yehuda berakar sedemikian rupa, menggerogoti seluruh lapisan masyarakatnya. “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, ...” (Mikha 3:11). Tidak sampai di situ, kejahatan mereka kemudian bereskalasi hingga menjadi suatu rasa tenteram palsu. Di dalam kejahatannya mereka berkata “...Bukankah Tuhan ada di tengah-tengah kita!” Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” (Mikha 3:11). Walter Kaiser mengatakan demikian mengenai hal itu:
 
 
In their view, God would never abandon His holy city or His people; they relied on the promises of God like talisman to protect them from all punishment. / Menurut mereka, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kota kudus-Nya atau umat-Nya; mereka bersandar pada janji-janji Tuhan sebagaimana halnya pada sebuah jimat yang akan melindungi mereka dari semua penghukuman. (Walter C. Kaiser, Jr., “The Communicator’s Commentary, Volume 21: Micah – Malachi”, Dallas: Word Books, 1992, p.52)
 
 
Padahal, dalam masa pelayanan Mikha itulah pula Israel (kerajaan utara) dan ibu kotanya, Samaria, jatuh ke tangan Asyur pada tahun 722 SM. Hal itu, bagi Yehuda, seharusnya menjadi suatu tanda yang jelas bahwa kalau mereka terus menerus berdosa maka hal yang sama kelak juga akan menimpa mereka.
 
Untuk melihat indahnya berita tentang kedatangan Mesias di Betlehem itu penulis mengajak kita untuk meninjau pasal 4 terlebih dahulu.
 
Mikha pasal 4
 
Mikha pasal 4 merupakan nubuat mengenai pemulihan yang akan Tuhan kerjakan atas Yehuda setelah sebelumnya mereka harus terlebih dahulu melewati penghukuman akibat dosa-dosa mereka. Puncak dari penghukuman itu digambarkan oleh Mikha dengan bagaimana Tuhan memerintahkan Yehuda untuk mendirikan tembok oleh karena Tuhan telah membiarkan musuh Yehuda mengepung mereka dan dengan tongkatnya mereka akan memukul pipi orang yang memerintah Israel (Mikha 4:14). Mengenai hal tersebut dikatakan demikian oleh John Calvin:
 
 
We now then perceive, that the Prophet’s object was to show, that the Jews in vain boasted of their kingdom and civil constitution, for the Lord would expose the governors of that kingdom to extreme contempt. / Kita paham sekarang, bahwa Nabi Mikha bermaksud menunjukkan betapa sia-sianya orang Yahudi bermegah akan kerajaan dan peraturan yang mereka miliki, karena Tuhan akan segera mempertontonkan penguasa-penguasa kerajaan itu dalam keadaan yang bukan main rendahnya. (John Calvin, “The Commentaries of John Calvin: on the Prophet Micah,” The Calvin Translation Society, 1843)
 
 
Menurut Kaiser, kata “orang yang memerintah” dalam konteks Israel menunjuk kepada “raja.” Nubuat tentang akan dipukulnya pipi orang yang memerintah Israel itu di kemudian hari tergenapi secara progresif saat raja Yehuda, Zedekia, ditindak secara kejam oleh raja Babel Nebukadnezar dan kaum Yehuda dibuang ke Babel pada tahun 587 SM. Jadi Yehuda sungguh-sungguh akan menjalani suatu masa yang gelap dan suram. Akan tiba saatnya Yehuda tidak dapat mengandalkan siapa-siapa lagi dan pemimpin mereka akan tiada. Pengharapan apa lagi yang tersisa bagi mereka?
 
Mikha pasal 5 ayat 1
 
Di tengah-tengah ketiadaan pengharapan yang kelak akan Yehuda alami itu suatu berita penghiburan besar turun atas mereka. “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”.
 
  1. Betlehem yang dimaksud adalah Betlehem yang terletak di daerah Efrata
     
    Mikha menyebut dengan jelas bahwa Betlehem yang dimaksud adalah sebuah kota kecil yang terletak di daerah Efrata. Efrata merupakan nama suatu daerah yang telah lama dikenal oleh Israel. Kejadian 35:19 menyebutkan bahwa Rahel dikubur di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem. Pada era Yosua Betlehem tidak termasuk dalam daftar dari kota yang penting untuk diduduki. Akan tetapi dari namanya, Efrata, yang berarti “berbuah” (fruitful) itu, memang bagaikan sebidang tanah yang menantikan datangnya satu buah yang akan dihasilkan Yehuda.
     
  2. Betlehem dikatakan sebagai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda
     
    Konsep “kecil” (little) dalam perjanjian lama tidak semata-mata dibangun atas dasar ukuran fisik. Hakim-Hakim 6:15 menyatakan bahwa yang Gideon maksud dengan “... kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye ...” menunjuk pada keadaan kaumnya sebagai kaum yang “direndahkan” (despised) maupun dipandang “lemah” (weak). Demikian pula saat Betlehem dikatakan sebagai “yang terkecil dari antara Yehuda.” Betlehem yang dahulu dipandang hina kelak akan dipakai Tuhan untuk menyatakan pekerjaan-Nya yang besar.
     
  3. Dari padanya akan datang Mesias, seorang yang akan memerintah Israel
     
    Dia yang dikatakan akan datang untuk memerintah Israel kelak merupakan penghiburan besar bagi Yehuda. Siapakah dia, yang permulaannya oleh Mikha dikatakan sebagai “sudah sejak purbakala” itu? Kaiser mengatakan bahwa ketika kata Ibrani “pubakala” (everlasting, Ibrani: “olam”) digunakan sehubungan dengan Tuhan, kata itu selalu berarti “kekal” (from eternity on). Itu sebab selanjutnya ia mengatakan: “That can be its only meaning here if the Ruler is none other than the Son of God, the Messiah.” Maksudnya kata “purbakala” itu hanya dapat diartikan “kekal,” jika Sang Penguasa yang dimaksudkan di sini adalah tidak lain dari pada Anak Allah, Sang Mesias. Jelas bagi kita bahwa Dia yang selama ini dinantikan sebagai buah dari Yehuda itu adalah Kristus, yang kelak akan datang dari garis keturunan Daud. Dia akan memerintah umat-Nya hanya bagi Tuhan, suatu kontras apabila dibandingkan dengan raja-raja Yehuda yang selama ini memerintah bagi diri mereka sendiri.
 
Dengan demikian “Menara Kawanan Domba” yang Mikha katakan dalam pasal 4 ayat 8, yang kepadanya akan datang dan akan kembali pemerintahan yang dahulu, yaitu kerajaan atas puteri Yerusalem, akan menemukan kepenuhannya di dalam kedatangan Mesias yang akan datang di Betlehem itu. Pada titik ini Israel Perjanjian Lama terhubung dengan eskatologi. Kaiser mengatakan:
 
 
… the “Tower of the Flock” as the emblem of the future kingdom of Messiah, He who is the new David. It is also the symbol of the royal house of David, since he was a native of Bethlehem and “kept the flock.” / … “Menara Kawanan Domba” itu merupakan lambang dari kerajaan Mesias yang akan datang, Dia yang adalah Daud yang baru. Juga sebagai lambang rajani dari garis keturunan Daud, karena dia berasal dari Betlehem dan pekerjaannya dahulu adalah “penjaga domba”. (Walter C. Kaiser, Jr., “The Communicator’s Commentary, Volume 21: Micah – Malachi”, Dallas: Word Books, 1986, p.50)
 
 
Mereka yang berharap dengan sungguh-sungguh mengerjakan panggilannya di dalam perjanjian itu kelak akan bersukacita menikmati datangnya masa yang telah mereka nantikan sejak lama itu.
 
Penghiburan dalam perjuangan kita
 
Pekerjaan Tuhan yang besar tidak dimulai oleh mereka yang menganggap diri besar. Seruan Mikha kepada Betlehem itu benar-benar menggambarkan Betlehem di dalam keadaan kecilnya: tidak dipandang dan tidak diindahkan orang. Demikianlah hendaknya kita memandang apa yang kita kerjakan. Tuhan yang setia selalu aktif terlibat menjaga dan memelihara kita. Jack R. Riggs mengatakan sesuatu yang demikian indah sehubungan dengan dipukulnya orang yang memerintah Israel itu oleh musuh mereka:
 
 
While Christ is not smitten in any of the sieges of Jerusalem portrayed in Scripture, yet this still could be a possible reference to Him. Any attack upon Jerusalem is an affront to God. When the military forces of the Gentile nations attack Jerusalem in the future, it will be like a personal slap in the face of Christ Himself. / Sekalipun Kristus tidak sedikitpun tampak teraniaya saat Yerusalem terkepung sebagaimana digambarkan oleh Alkitab, kita tetap harus memandang hal itu sebagai sesuatu yang juga terjadi kepadanya. Serangan apapun yang terjadi atas Yerusalem tetap merupakan suatu serangan yang ditujukan juga kepada Tuhan. Apabila kekuatan militer musuh-musuh Israel di kemudian hari menyerang Yerusalem, hal itu akan bagaikan suatu tamparan pribadi pada wajah Kristus sendiri. (Jack R. Riggs, “Bible Study Commentary: Micah”, Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1987, p.58)
 
 
Tuhan perjanjian turut serta terlibat merasakan penderitaan yang Israel alami. Penghakiman dosa-dosa Yehuda itu di satu sisi merupakan pemurnian atas umat Tuhan dan di sisi lain merupakan suatu gambaran progresif bagaimana Tuhan akan menghabisi musuh-musuh-Nya. Hal yang sama juga kita alami. Sebagaimana halnya lagu O Little Town of Bethlehem karya Phillips Brooks dan Lewis Redner itu telah benar-benar memadukan keadaan rendah yang dialami Betlehem dengan keindahan janji Tuhan yang digenapi dalam kedatangan Kristus, demikianlah kesesakan dan penderitaan yang kita alami dalam mengerjakan tugas panggilan kita sekarang berpadu sedemikian indahnya dengan pengharapan kita akan masa mendatang.
 
Penutup
 
Kita yang kecil tidak mungkin berjuang dan bekerja sendiri. Melalui Persekutuan Studi Reformed perjuangan kita yang kecil ini diteguhkan bersama-sama dengan perjuangan mereka yang ada di dalamnya, untuk berbagian mengerjakan pekerjaan Tuhan yang besar itu. Mari kita pikirkan dan kerjakan apa yang menjadi bagian kita itu.
 
[ Jessy V Hutagalung ]