Bersandar Kepada Janji TUHAN
 
( Eksposisi Yesaya 7:10-14 )
 
_oOo_
 
 
Ketidakpercayaan Ahas akan janji TUHAN
 
Koalisi Israel dan Aram mengancam Yehuda oleh karena Ahas, raja Yehuda, menolak berkoalisi dengan mereka untuk memerangi Asyur. Akibatnya, Israel dan Aram berupaya menggulingkan pemerintahan Ahas. Mereka ingin menurunkan Ahas sebagai raja Yehuda dan menggantikannya dengan raja lain yang mau bekerjasama dengan mereka. “Lalu diberitahukanlah kepada keluarga Daud: “Aram telah berkemah di wilayah Efraim,” maka hati Ahas dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin” (Yes. 7:2). Ironis sekali, sebagai seorang keturunan Daud, Ahas seharusnya tidak perlu takut dan gemetar terhadap ancaman Israel dan Aram. Mengapa demikian? Tentunya Ahas sudah mengetahui sebelumnya perjanjian TUHAN dengan Daud, di mana TUHAN berjanji bahwa tahta Israel akan selamanya menjadi milik keturunan Daud (2 Sam. 7).
 
Di tengah perasaan takut dan kuatir yang meliputinya itu, Ahas justru mengambil tindakan yang tidak tepat. Demi menggagalkan invasi Israel dan Aram, ia mengusulkan agar Yehuda beraliansi dengan Asyur. Akibat tindakan Ahas ini, TUHAN harus melakukan intervensi. TUHAN mengutus nabi Yesaya beserta putranya, Syear Yashub (Syear Yashub artinya: yang sisa akan kembali), untuk menemui Ahas. Yesaya mencela rencana aliansi yang diusulkan Ahas ini, sembari ia meneguhkan kembali Ahas akan janji perlindungan TUHAN bagi Yehuda. Yesaya perlu melakukan hal ini supaya Ahas tidak salah melangkah. Yesaya tidak ingin Ahas menaruh pengharapannya kepada Asyur, bukan kepada TUHAN.
 
Peneguhan yang dilakukan Yesaya dan anaknya, Syear Yashub, terhadap Ahas dirasa datang di waktu yang tepat, tatkala Ahas berada di dalam keputusasaan. Ahas tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menghalau invasi Israel dan Aram itu. Ahas menganggap semua langkah yang diambil tidak akan memberikan jalan keluar, kecuali ia beraliansi dengan Asyur. Bangsa Asyur dengan kekuatan besar yang dimilikinya dianggap mampu untuk menghadapi invasi itu.
 
TUHAN mengatakan kepada Yesaya bahwa koalisi Israel dengan Aram hanya berumur pendek sebagaimana gambaran mereka seperti puntung kayu api yang berasap. Sekalipun mereka merancangkan kejahatan atas tahta Daud dengan mengangkat Tabeel, seseorang dari bangsa Aram dan Efraim, sebagai raja yang menggantikan Ahas, akan tetapi mereka tidak akan berhasil, oleh karena TUHAN memiliki maksud lain atas tahta Daud.
 
Yesaya mengingatkan dan mendorong Ahas untuk mempercayai perkataan TUHAN. Namun, Ahas maupun Yehuda yang mulai melemah justru menolak perkataan TUHAN yang disampaikan Yesaya. Mereka tidak berbalik kepada Allah, tapi justru mencari dukungan kekuatan dari Asyur. Tindakan Ahas memperlihatkan ia adalah seorang yang dengan sengaja tidak taat dan memberontak kepada Allah. Hanya orang yang hidup dalam kejahatan sajalah yang bisa menolak janji pertolongan TUHAN. Kekerasan hati Ahas dalam penolakannya terhadap perkataan TUHAN dengan cara mencari pertolongan lain kepada Asyur adalah bentuk dari kejahatannya yang tidak lagi mempercayai janji TUHAN.
 
Meski demikian, berita Yesaya untuk kedua kalinya yang disampaikannya kepada Ahas memberikan satu kesempatan lagi untuk Ahas kembali percaya janji pertolongan TUHAN. Akan tetapi, apabila Ahas tetap menolak janji pertolongan TUHAN itu, maka Ahas dan bangsanya akan dihakimi lewat invasi Asyur atas mereka.
 
Belajar mentaati janji TUHAN
 
Melalui perkataan Yesaya, TUHAN ingin mengingatkan Ahas untuk kembali percaya akan pertolongan-Nya. Ahas sebenarnya tidak memiliki pilihan lain kecuali ia mendengarkan perkataan TUHAN. TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: “Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat yang tertinggi yang di atas” (Yes. 7:11). Hanya TUHAN Allah yang dapat memberikan tanda kepada Ahas, baik dari dunia orang mati (Sheol) yang paling bawah maupun sesuatu dari tempat yang tertinggi yang di atas. Meminta tanda ini dari TUHAN akan menjadi sebuah manifestasi iman, yaitu bukti bahwa Ahas percaya akan kuasa TUHAN.
 
Namun, ironisnya Ahas menolak perkataan TUHAN ini. Ahas menjawab, “Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN” (Yes. 7:12). Ahas mengutip apa yang dikatakan dalam kitab Ulangan 6:16, “Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa.” Sebenarnya apa yang Yesaya perintahkan kepada Ahas untuk meminta tanda kepada TUHAN Allah bukan tindakan untuk mencobai TUHAN. Bagi orang percaya, tanda bisa menjadi sebuah konfirmasi akan kekuatan imannya. “Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN, bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya” (Yes. 38:7).
 
Kemunafikan yang diperlihatkan Ahas dengan perkataannya untuk tidak mau meminta tanda dari Tuhan dengan alasan tidak mau mencobai TUHAN sebenarnya adalah alasan yang dibuat-buat sebagai bentuk penolakannya terhadap TUHAN. Yang diingini Ahas sesungguhnya adalah Asyur, bukan TUHAN.
 
Ahas telah menggantikan keyakinannya atas janji pertolongan TUHAN dengan kekuatan Asyur. Ahas melihat secara kasat mata bagaimana kekuatan Asyur yang begitu dasyat lebih memberikan janji pengharapan baginya. Ahas tidak lagi dapat melihat tangan TUHAN yang mampu memberikan pertolongan terhadapnya.
 
Kegagalan rumah Daud lebih luas dibandingkan dengan kegagalan Ahas. Hal ini membuktikan ketidaktaatan dan kegagalan kepada TUHAN tidak hanya menunjuk kepada satu pribadi melainkan telah meluas, yaitu rumah Daud yang dari awal telah gagal menjalankan sesuatu sesuai dengan perkataan TUHAN. Kegagalan rumah Daud untuk setia kepada TUHAN diingatkan kembali oleh Yesaya. Rumah Daud yang tidak setia itu harus tetap mendengarkan firman Allah yang disampaikan oleh nabi-Nya, Yesaya.
 
Janji Imanuel bagi umat-Nya yang setia
 
Seorang anak keturunan Daud, Ahas, telah menolak janji TUHAN. Sekalipun Ahas menolak tanda yang TUHAN berikan kepadanya, TUHAN tetap memberikan tanda kepada seluruh keturunan Daud, yakni lahirnya Imanuel. TUHAN tidak akan membiarkan tahta Daud dihapus atau dihilangkan oleh bangsa lain, yang mana hal ini berarti juga menghilangkan janji TUHAN.
 
Penolakan Ahas untuk meminta tanda dari TUHAN adalah bentuk penolakannya terhadap pertolongan TUHAN. Ahas tidak lagi memiliki keyakinan yang kuat terhadap janji TUHAN. Oleh karenanya, tanda pembebasan atau tanda keselamatan dari TUHAN itu kini beralih. Tanda keselamatan itu tidak lagi diberikan kepada Ahas karena ia telah ditinggalkan. Tanda itu kini diberikan kepada bangsa-bangsa lain. Dan inilah tanda yang TUHAN berikan: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes. 7:14). Yesaya mengarahkan tanda itu kepada seorang perawan dan anak laki-lakinya. Di sini Yesaya menggunakan bentuk bahasa yang senada dengan apa yang ditulis di kitab Kejadian 16:11, 17:19 dan Hakim-Hakim 13:3.
 
Berita yang Yesaya sampaikan kepada bangsa-bangsa atau secara khusus kepada Yehuda adalah berita kelahiran yang sangat tidak lazim, namun memiliki pesan atau maksud yang sangat penting untuk disampaikan. Yesaya tidak sekadar mendeklarasikan akan kelahiran seorang anak pada umumnya, melainkan seorang Anak yang terkait dengan janji TUHAN.
 
Dalam visi yang TUHAN Allah berikan kepadanya, Yesaya diijinkan untuk melihat ke depan akan kelahiran seorang Anak yang ajaib, karena Ia dilahirkan oleh seorang perempuan muda yang masih perawan dan melalui-Nyalah keselamatan itu tiba bagi umat-Nya. Siapakah perempuan muda yang masih perawan yang dimaksudkan Yesaya itu? Ketika berbicara tentang seorang perempuan perawan, Yesaya memakai kata sandang tertentu. Di sini Yesaya menggunakan kata “almah.” Tujuan Yesaya menggunakan kata ini adalah untuk membedakan perempuan perawan (“almah”) dengan perempuan-perempuan yang lainnya. Di sini, Yesaya tidak menggunakan kata “bethulah” yang pada umumnya merujuk pada perempuan yang sudah menikah. Yesaya ingin mengatakan fokus perhatiannya bukan pada perempuan yang sudah menikah (“bethulah”), tapi pada seorang perempuan perawan yang tidak menikah (“almah”). Namun sekarang timbul pertanyaan, jika sang ibu yang dimaksudkan oleh Yesaya adalah seorang wanita yang belum menikah, apakah itu berarti Anak yang dilahirkannya itu adalah anak haram? Tidak. Itu sebabnya, di sini kita melihat keajaiban pekerjaan TUHAN sehingga hal itu bisa terjadi. Alkitab sangat konsisten dengan apa yang TUHAN katakan bahwa jelas sang Ibu yang mengandung seorang Anak adalah benar ia “almah” perempuan perawan bukan “bethulah”. Hanya pekerjaan TUHAN yang memungkinkan hal itu bisa terjadi. Dan kita tahu, benih yang dikandung dari perempuan perawan yang belum menikah itu adalah benih kudus yang TUHAN janjikan. Kita kemudian mengetahui bahwa perempuan perawan yang dimaksud Yesaya di sini menunjuk kepada Maria dan benih kudus yang dikandung dalam rahim Maria itu merujuk kepada kelahiran Yesus Kristus, yang dinamakan Imanuel, yang berarti TUHAN hadir di tengah-tengah umat-Nya.
 
Penutup
 
Kita perlu mengindahkan peringatan Alkitab, “...hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” (Luk. 24:25). Kiranya kita tidak menjadi orang bodoh seperti yang sudah ditunjukkan oleh Ahas yang menolak tanda yang TUHAN berikan kepadanya, melainkan menjadi orang yang menerima tanda yang TUHAN berikan yang sudah tergenapi dalam kelahiran Yesus Kristus, sang Imanuel itu yang hadir beserta kita.
 
[ Mulatua Silalahi ]