IMAN YANG MEMINDAHKAN GUNUNG
 
( Eksposisi Markus 11:23 )
 
_oOo_
 
 
Markus 11:23
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.
 
 
 
Pendahuluan
 
Bagian Firman TUHAN ini pernah atau bahkan sering disalahartikan oleh para pembicara di dalam khotbahnya. Penulis teringat ada seorang pembicara yang mengkutip ayat ini sebagai dasar khotbahnya untuk berbicara mengenai kesembuhan penyakit, mendapat pekerjaan, dan atau hal-hal bersifat materi lainnya. Jika seseorang yang menderita suatu penyakit, namun setelah didoakan ternyata penyakitnya tidak sembuh, maka sang pembicara itu dengan mudahnya mengatakan bahwa alasan ketidaksembuhannya itu oleh karena orang itu bimbang hati atau kurang iman. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, sang pembicara itu menggunakan kata “klaim” dalam menggunakan ayat ini. Kita tahu, istilah “klaim” di dalam bahasa hukum lahir dari sebuah hubungan kontrak yang setara, di mana apabila salah satu pihak lalai dalam menaati salah satu isi kontrak yang telah disepakati, maka pihak lain di dalam kontrak tersebut berhak mengklaim pihak yang lalai itu dan menuntutnya untuk segera melaksanakan isi kontrak yang sudah disepakati itu. Pertanyaannya sekarang adalah apakah hubungan kita dengan TUHAN sama seperti yang digambarkan istilah klaim itu? Jawabannya tentu tidak, karena TUHAN tidak pernah atau tidak akan pernah sekalipun melakukan kelalaian. Dengan demikian, bagaimana kita mengkritisi penafsiran ayat itu oleh sang pembicara di atas? Apakah sudah tepat?
 
Saya sendiri meyakini penafsiran seperti ini tidaklah tepat. Penafsirannya sangat dipaksakan atau bisa juga dinilai sangat sembarangan. Menurut saya, ayat tersebut tidak serta merta dapat diaplikasikan di dalam konteks meminta kesembuhan penyakit, meminta untuk mendapatkan pekerjaan, minta lulus dari ujian sekolah, dan lain sebagainya, dengan asumsi semuanya itu pasti dikabulkan. Apabila kita tetap berpegang pada cara penafsiran seperti ini, maka hal itu akan sangat berbahaya sekali bagi hidup kerohanian kita. Cara penafsiran seperti ini akan memimpin kita kepada cara pandang kehidupan yang salah yang pada akhirnya membuat kita frustasi oleh karena kita tidak dapat memungkiri realita disekeliling kita yang memperlihatkan bagaimana penyakit, kesulitan-kesulitan hidup melanda seluruh umat manusia tanpa terkecuali orang Kristen sendiri. Lalu sekarang, bagaimana seharusnya kita menafsirkan dan mengaplikasikan ayat firman Tuhan di atas dengan tepat?
 
Pembahasan
 
Seorang theolog, Matthew Henry, di dalam tafsirannya terhadap ayat ini melihat ayat ini berbicara mengenai 2 (dua) hal, yaitu:
 
Pertama. Berbicara tentang iman mujizat yang ada pada diri para rasul dan kemudian dilanjutkan pada diri para pemberita Injil di jemaat Tuhan mula-mula. Setelah Yesus bangkit dari kubur dan naik ke Surga, Roh Kudus bekerja di dalam diri para Rasul. Mereka memberitakan Injil dengan disertai berbagai mujizat dan keajaiban-keajaiban, seperti penyembuhan orang sakit, pengusiran setan, dan lain-lain.
 
Sampai firman Tuhan yang ditulis oleh para Rasul sudah lengkap, maka selanjutnya pekerjaan Tuhan diteruskan oleh para pemberita Injil. Hal-hal inilah yang dimaksudkan dengan perkataan “memindahkan gunung.” Para Rasul berkata-kata dengan iman, melakukan apa yang dikatakan itu, maka hal itu terjadi. Mujizat secara jasmaniah selalu menyertai pelayanan para Rasul pada waktu itu. Mujizat pada masa itu bukan sekadar sesuatu yang tidak masuk akal kita atau terjadi seturut keinginan atau kepentingan pribadi saja, tapi itu terjadi untuk menggenapi tujuan Allah. Mujizat selalu konsisten dengan kekudusan serta kemuliaan Allah sendiri. Mujizat secara jasmani juga merupakan media konfirmasi dari Tuhan atas status kerasulan dari para Rasul (2 Kor. 12:12).
 
Kedua. Mujizat juga dapat terjadi pada orang Kristen. Tidak hanya mujizat dalam pengertian secara jasmani, tapi juga dalam pengertian rohani. Contohnya, ketika kita dibenarkan dan hidup dalam damai sejahtera dengan Allah(Rom. 5:1), ketika “gunung-gunung” kesalahan kita dilemparkan ke dalam “tubir-tubir laut” dan kita kembali dikasihi TUHAN (Mik. 7:19), ketika hati kita dimurnikan oleh Tuhan (Kis. 15:9), ketika dahulu kita pada waktu di luar Kristus yang layak menerima hukuman dari Tuhan akibat dosa kita, tapi oleh karena kasih karunia Tuhan yang rela menanggung dosa-dosa kita di atas kayu salib, kita boleh menerima damai sejahtera dan jaminan hidup kekal, semuanya ini merupakan mujizat Tuhan. Jadi, kita tidak boleh membatasi mujizat Tuhan dalam pengertian secara jasmani saja, tapi juga dalam pengertian rohani. Hal-hal inilah yang dimaksud dari ayat firman Tuhan di atas.
 
Kita, sebagai orang Kristen, sekarang sudah mengalami mujizat secara rohani, dan mujizat inilah yang terpenting dari sekadar mujizat secara jasmani. Memang, mujizat secara jasmani masih mungkin terjadi di masa sekarang ini, dan hal itu bisa terjadi di dalam kedaulatan Allah semata-mata.
 
Kesimpulan
 
Demikianlah seharusnya kita melihat firman Tuhan di Markus 11:23 ini. “Iman yang memindahkan gunung itu” harus dimengerti sebagai mujizat atau keajaiban secara jasmani yang terjadi pada masa para Rasul dan para Pemberita Injil pada waktu jemaat Tuhan mula-mula serta mujizat atau keajaiban secara rohani yang terjadi pada orang-orang Kristen di masa sekarang ini.
 
Para Rasul telah menyelesaikan tugasnya menulis firman Tuhan (Alkitab). Dan sekarang kita, orang-orang Kristen, melalui bimbingan dan pimpinan Roh Kudus hendaknya dengan sungguh-sungguh mempelajari firman Tuhan ini sehingga kita dapat lebih mengerti apa maksud Tuhan yang sesungguhnya. Dengan demikian, pertumbuhan rohani kita akan terus berkembang melalui pengertian kita yang lebih teliti dan ketat membaca firman Tuhan. Melalui firman Tuhan dan pencerahan Roh Kuduslah yang akan membentuk cara pandang hidup kita. Para Rasul sudah tidak ada, firman Tuhan (Alkitab) sudah selesai ditulis, oleh karenanya tugas kita sekarang adalah untuk mengerti maksud Tuhan, ”Pelajari firman Tuhan dengan sungguh-sungguh ! Tidak ada jalan lain.
 
[ Ranto M Siburian ]