JONATHAN EDWARDS
DAN GERAKAN “KEBANGKITAN BESAR” DI AMERIKA
 
_oOo_
 
 
A.
Mengapa Muncul Gerakan Kebangkitan Besar?
 
Jonathan Edwards (1703-1758) lahir di kota East Windsor, Connecticut, dapat dikategorikan sebagai seorang teolog terbesar abad ke-18 yang pemikirannya sangat mempengaruhi perkembangan teologi dan kehidupan gereja di dunia, khususnya di Amerika Serikat, bahkan sampai saat ini. Kakeknya, Solomon Stoddard (1643-1729), adalah pendiri gereja Kongregasional di kota Northampton, Massachusetts. Sementara ayahnya, Timothy Edwards, juga adalah seorang hamba TUHAN. Menurut catatan sejarah, Jonathan Edwards sejak dari kecil memang terlihat unik dan berbeda dari anak-anak seumurnya. Ia dikenal sebagai anak jenius yang hidupnya sangat saleh. Ketika ia masih berumur 13 tahun, Edwards diterima sebagai mahasiswa di Yale College dan lulus pada tahun 1720 ketika masih berumur 17 tahun. Ia kemudian melanjutkan kuliahnya mempelajari teologi pada 2 tahun berikutnya. Walaupun Edwards adalah seorang penganut ajaran Calvinis yang tulen, namun pemikirannya juga banyak dipengaruhi oleh pemikir-pemikir besar di zamannya seperti Isaac Newton dan John Locke.
 
Pada tahun 1726, Jonathan Edwards memulai pelayanannya di gereja Kongregasional di kota Northampton sebagai asisten kakeknya dan kemudian menjadi pendeta utama di gereja tersebut menggantikan tempat kakeknya ketika Stoddard meninggal dunia pada tahun 1729. Dari mulai awal abad ke-18, kondisi kehidupan gerejawi di koloni Amerika cenderung menjadi sangat dingin seperti yang diungkapkan oleh Edwards sebagai “sesuatu yang biasa; mereka bersahaja, tertib dan santun, namun tidak lebih baik atau buruk dibandingkan orang-orang di koloni lain.” Hal ini diakibatkan oleh beralihnya fokus kehidupan masyarakat Amerika saat itu kepada kemajuan kehidupan perdagangan dan perkembangan filsafat-filsafat sekuler yang mulai mempengaruhi bukan hanya terhadap pemikiran kaum intelektual Amerika, tetapi juga terhadap para pemimpin gereja. Gereja mulai banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Arminianisme (sebuah ajaran bahwa buah keselamatan adalah hasil dari anugerah TUHAN maupun perbuatan baik manusia).
 
Namun alangkah besarnya pemeliharaan TUHAN terhadap umat pilihan-Nya ketika pada tahun 1734 di kota Northampton, Ia boleh memakai Edwards untuk merintis sebuah gerakan kebangkitan rohani massal guna menghidupkan kembali kehidupan rohani yang dingin di Amerika pada masa itu. Ketika itu, Jonathan Edwads sedang menyampaikan kotbah berseri mengenai Pembenaran oleh Iman bertema “Sinners in the Hands of the Angry God” (Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka), yang kemudian dengan seketika berhasil memberikan pengalaman kelahiran baru yang sangat emosional kepada banyak jemaat di gerejanya. Seiring penyampaian kotbah, ada jemaat yang merintih, pingsan dan mati mendadak selagi ibadah berlangsung karena emosi mereka tersentuh oleh rasa ketidaklayakan mereka di hadapan TUHAN dan ada pula yang menangis lantang karena takut akan hukuman TUHAN. Gerakan kebangkitan rohani (revival movement) yang dirintis oleh Edwards ini kemudian mempengaruhi wilayah sekitar New England (yang mencakup koloni Massachusetts, Connecticut, Maine, New Jersey, Rhode Island). Namun, peristiwa kebangkitan rohani massal ini hanyalah pembuka jalan bagi kemunculan peristiwa kebangkitan rohani yang lebih besar lagi di kemudian waktu yang mulai mencakup seluruh wilayah kolonial Amerika pada tahun 1740. Peristiwa kebangkitan rohani yang masif ini dikenal dengan peristwa “the Great Awakening” (Gerakan Kebangkitan Besar).
 
B.
Tiga Dampak dari Munculnya Gerakan Kebangkitan Besar
 
Pengaruh dari gerakan Kebangkitan Besar yang dirintis oleh Edwards, kemudian mulai meresapi seluruh aspek kehidupan masyarakat Amerika, baik dari tatanan kehidupan gereja, ekonomi, politik, sosial dan lainnya. Hal ini terjadi ketika seorang pendeta muda Anglikan dari Inggris bernama George Whitefield (1714-1740), yang mendengar peristiwa kebangkitan rohani massal yang dilakukan oleh Edwards, tiba di Amerika tahun 1740 dan melanjutkan gerakan kebangkitan rohani massal yang telah dirintis oleh Edwards dengan berkotbah sampai ke ujung wilayah koloni Amerika.
 
Peristiwa Kebangkitan Besar yang dirintis oleh Edwards ini kemudian menyebabkan berbagai dampak yang cukup penting untuk kita ketahui. Pertama, ketika seorang pendeta gereja Presbyterian bernama Gilbert Tennent, yang adalah pengikut gerakan Kebangkitan Besar, menyatakan kritik keras terhadap pendapat bahwa seorang pendeta tidak perlu memiliki pengalaman regenerasi atau buah pertobatan guna memampukan dirinya untuk hidup kudus melalui kotbah yang disampaikannya yang bertema “The Danger of an Unconverted Ministry” (Bahaya Seorang Pendeta yang Belum Mengalami Pertobatan) pada tahun 1741. Tennent berpendapat bahwa: “akan sangat sulit bagi seseorang untuk dapat hidup kudus apabila ia sendiri belum pernah mengalami kelahiran baru, apalagi jika orang tersebut merupakan jemaat dari gereja yang pendetanya pun belum pernah memiliki pengalaman kelahiran baru”.
 
Isi dari kotbah Tennent dibela oleh Edwards maupun Whitefield yang juga mengingatkan jemaat mereka “untuk menganggap keyakinan agama mereka lebih unggul dibandingkan mengikuti agama para elit, yaitu elit yang belum pernah mengalami kelahiran baru dan yang melecehkan mereka (yakni jemaat pendukung gerakan kebangkitan besar) dengan kebencian rasionalis.” Pembenaran kedua tokoh utama gerakan Kebangkitan Besar ini terhadap kotbah Tennent kemudian menimbulkan kemarahan sebagian besar elit pemimpin gereja dan mengakibatkan perpecahan gereja di koloni Amerika menjadi dua kubu, yang disebut New Lights (kubu Cahaya Baru) dan Old Lights (kubu Cahaya Lama). Kubu Cahaya Baru, sebuah kelompok pro-Gerakan Kebangkitan Besar, didominasi oleh hamba-hamba TUHAN berusia muda yang ingin mempertahankan ortodoksi penerapan doktrin Calvinisme di gereja. Kubu Cahaya Baru mendapat dukungan dari banyak orang-orang awam yang berasal dari kelas menengah ke bawah. Sementara kubu Cahaya Lama, sebuah kelompok yang anti-Gerakan Kebangkitan Besar, didominasi oleh para elit pemimpin gereja yang lebih menekankan penggunaan rasio di dalam meningkatkan kehidupan beriman dan cenderung toleran terhadap ajaran Arminianisme. Kubu Cahaya Lama ini didukung oleh kelompok pro-kemapanan dan pedagang kaya. Kotbah Gilbert Tennent tentang “The Danger of an Unconverted Ministry” menjadi tema pokok dari perjuangan para pengikut Jonathan Edwards dan George Whitefield dalam upayanya memperbaharui kehidupan gereja di Amerika.
 
Dampak kedua adalah munculnya fenomena bersatunya kalangan awam di seluruh pelosok Amerika dari berbagai kelas ekonomi dan dari berbagai denominasi Kristen Protestan, baik dari gereja Kongregasional, Anglikan, Dutch Reformed dan Baptis di dalam memberikan dukungannya terhadap Gerakan Kebangkitan Besar selama tahun 1740-an. Kondisi sosial yang disebabkan oleh Gerakan Kebangkitan Besar ini secara tidak langsung berhasil mempersatukan seluruh masyarakat Amerika di 13 koloni tersebut ke dalam satu idealisme bangsa yang sebelumnya sulit untuk berkomunikasi satu sama lainnya karena masalah geografis, yakni sebuah idealisme akan munculnya sebuah kerajaan TUHAN di dunia yang akan muncul di tanah Amerika.
 
Bagi Jonathan Edwards – yang juga adalah seorang post-milenialis – gerakan Kebangkitan Besar yang terjadi di Amerika saat itu meyakinkan dirinya bahwa “Dalam Dunia Baru Amerika, TUHAN akan mampu mewujudkan kesempurnaan-Nya di atas bumi…masa baru telah muncul di Amerika dan akan segera menyebar ke seluruh dunia,” dan melalui sarana peristiwa Kebangkitan Besar ini, Edwards yakin “umat Kristen dapat menegakkan kerajaan Kristen di bumi; masyarakat akan mencerminkan keadilan dan kebenaran TUHAN sendiri.” Idealisme “kota di atas bukit” yang dibangun pertama kali oleh kaum Puritan (imigran pertama Amerika dari Inggris) yang sempat pudar di awal abad ke-18, telah dibangkitkan kembali oleh Jonathan Edwards melalui Gerakan Kebangkitan Besar, sehingga menjadi sebuah idealisme bangsa Amerika dan rasa nasionalisme baru yang mencapai puncaknya ketika ke-13 koloni Amerika memperjuangkan kemerdekaannya dari Inggris untuk menjadi satu negara pada tahun 1776.
 
Dampak ketiga adalah pesatnya perkembangan pembangunan universitas-universitas baru di Amerika semenjak terjadinya Gerakan Kebangkitan Besar. Apabila dari tahun 1630-1745 Amerika hanya memiliki 3 perguruan tinggi saja yang didominasi oleh gereja Kongregasional dan Anglikan (Harvard, Yale, William & Mary), maka selama tahun 1746-1776 telah didirikan 6 perguruan tinggi lagi oleh berbagai denominasi gereja Protestan, yang diawali oleh pembangunan College of New Jersey (sekarang disebut Princeton University). Kampus ini didirikan oleh Gilbert Tennent pada tahun 1746 guna mewadahi aspirasi para pendukung Gerakan Kebangkitan Besar di dalam mengekspresikan keyakinan imannya. Selain itu, kampus ini juga didirikan untuk mendidik para mahasiswa untuk menjadi hamba TUHAN yang diharapkan dapat menjalankan misi evangelikal ke seluruh pelosok Amerika serta membenahi kondisi gereja-gereja yang saat itu dinilai masih banyak dipimpin oleh pendeta-pendeta yang belum pernah mengalami regenerasi.
 
C.
Warisan Pemikiran yang Dihasilkan oleh Jonathan Edwards
 
Pada tahun 1750 ketika perseteruan antara kubu Cahaya Lama dan Cahaya Baru mulai memudar, justru Jonathan Edwards dikeluarkan oleh jemaatnya sendiri di gereja Northampton yang dibangun oleh kakeknya. Hal ini terjadi karena Edwards berpegang teguh melawan pendapat sebagian besar jemaatnya di dalam mempertahankan prinsip bahwa mengizinkan seorang jemaat yang belum memperoleh pengalaman pertobatan untuk mengikuti perjamuan kudus adalah sebuah tindakan yang salah. Tetapi Edwards tidak berhenti melayani TUHAN. Bahkan ketika ia dikeluarkan dari gerejanya, muncul banyak tawaran-tawaran pekerjaan untuknya dari berbagai pihak, baik itu gereja maupun perguruan tinggi. Namun Edwards justru memilih untuk menginjili suku Indian di daerah Stockbridge. Pada masa-masa melayani suku Indian inilah, Edwards banyak menulis karya-karya agungnya. Pada tahun 1757, Jonathan Edwards diangkat menjadi rektor Princeton. Tetapi posisi ini tidak lama dipegang olehnya karena pada bulan Maret 1758, Jonathan Edwards meninggal dunia akibat terserang wabah cacar.
 
Selain dikenal sebagai seorang teolog besar abad 18, Edwards juga dapat dikategorikan sebagai seorang intelektual yang cukup berpengaruh dan unik bagi zamannya karena pemikirannya merupakan kombinasi dari 2 tradisi pemikiran intelektual. Edwards berhasil mempertahankan doktrin-doktrin Calvinisme yang dianut oleh tradisi kaum Puritan melawan arus zamannya, justru dengan menggunakan sarana pemikiran filsuf Abad Pencerahan seperti John Locke dan Isaac Newton. Edwards menggunakan logika berpikir John Locke bahwa pikiran manusia adalah bagaikan suatu blangko kosong yang menerima segala kesan berdasarkan pengalaman dari luar (tabula rasa) dan mengkombinasikannya dengan doktrin Calvinisme yang bersifat supranatural bahwa TUHANlah yang mengkontrol kemana arah masa depan manusia. Bagi Edwards, kehidupan manusia di dunia adalah ibarat blangko kosong yang kemudian diisi oleh berbagai pemikiran dan pengalaman hidup yang dialaminya. Namun pemikiran dan pengalaman tersebut bukanlah produk dari pilihan yang ditentukan oleh manusia itu sendiri. Munculnya pemikiran dan pengalaman manusia dalam kehidupannya justru telah ditulis dan ditetapkan oleh TUHAN di dalam kekekalan melalui kedaulatan-Nya untuk boleh dialami dan dinikmati oleh manusia dalam kehidupannya. Dengan konsep pemikiran yang dilahirkannya ini, Edwards berhasil mempertahankan kebenaran firman TUHAN di tengah arus perkembangan logika pemikiran Abad Pencerahan bahwa pemikiran dan pemahaman manusia sebenarnya merupakan produk dari apa yang TUHAN inginkan manusia untuk alami dan fahami. Demikian pula dengan menggunakan logika berpikir Isaac Newton tentang ketidakberdayaan manusia di tengah kondisi alam yang berada di luar kendalinya dan mengkombinasikannya dengan doktrin kedaulatan TUHAN, Edwards berhasil mempertahankan firman TUHAN di tengah zaman yang cenderung rasionalistik dan mulai meninggalkan hal-hal yang bersifat supranatural.
 
TUHAN selalu menempatkan orang-orang tertentu yang menjadi pilihan-Nya untuk mempertahankan firman-Nya di tengah perubahan zaman yang selalu berupaya meninggalkan kebenaran-Nya. Salah satunya tokoh utama yang boleh TUHAN gunakan di abad 18 adalah Jonathan Edwards. Inilah bentuk nyata dari pemeliharaan TUHAN terhadap umat-Nya, dimana apa yang telah dilakukan oleh Jonathan Edwards di abad 18, tidak hanya berlaku bagi pemeliharaan umat TUHAN yang hidup di abad ke-18, namun tetap akan berlaku baik pada zaman kita dan untuk selamanya. Kiranya kita sebagai umat yang dipanggil-Nya, boleh tetap mempertahankan kebenaran firman TUHAN di tengah-tengah zaman yang terus bergelora seperti yang dilakukan oleh Jonathan Edwards di masanya.
 
[ Randy L Pea ]