KEKRISTENAN TANPA KRISTUS:
MORALISTIC THERAPEUTIC DEISM
_oOo_
 
Pengantar
 
Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran singkat sekaligus mencoba mengkritisi salah satu wajah Kekristenan Tanpa Kristus (Christless Christianity) yang ditampilkan melalui sistem kepercayaan baru tentang kehidupan religius dan spiritual yang dipegang mayoritas remaja di Amerika. Sistem kepercayaan ini dikenal dengan istilah Moralistic Therapeutic Deism.
 
Pendahuluan
 
Baru-baru ini publik Amerika digemparkan oleh munculnya sebuah buku berjudul, Soul Searching: The Religious and Spiritual Lives of American Teenager, yang ditulis oleh Christian Smith dan Lundquist Denton. Smith adalah seorang Director pada sebuah lembaga riset National Study of Youth and Religion di Universitas North Carolina. Bersama dengan Denton, ia melakukan riset penelitian mengenai kehidupan religius dan spiritualitas remaja (teenagers) di Amerika. Dari hasil penelitian tersebut, Smith dan Denton menemukan bagaimana sistem kehidupan religius dan spiritual remaja Amerika telah terkontaminasi dengan apa yang mereka sebut dengan istilah “Moralistic Therapeutic Deism” (catatan: istilah selanjutnya muncul dengan singkatan MTD). MTD saat ini sudah menjadi sistem kepercayaan (belief system) baru yang dipegang oleh sebagian besar remaja Kristen Amerika. Albert Mohler bahkan di dalam salah satu tulisannya menyebutkan MTD sebagai agama baru (New Religion) di Amerika. Mari kita eksplorasi lebih jauh sistem kepercayaan “Moralistic Therapeutic Deism” ini melalui tulisan Christian Smith yang berjudul, “On Moralistic Therapeutic Deism as U.S. Teenager’s Actual. Tacit, De facto ReligiusFaith.” (Sumber:http://www.scribd.com/doc/7699752/Moralistic-Therapudic-Deism-by-Christian-Smith).
 
Moralistic Therapeutic Deism?
 
Smith dan Denton menjabarkan “Moralistic Therapeutic Deism” sebagai berikut:
 
 
First, Moralistic Therapeutic Deism is about inculcating a moralistic approach to life. It believes that central to living a good and happy life is being good and moral person. That means being nice, kind, pleasant, respectful, and responsible; working on self improvement; taking care of one’s health; and doing one’s best to be successful. Being moral in this faith means being the kind person who other people will like, fulfilling one’s personal potential, and not being socially disruptive or interpersonally obnoxious.
 
Second, Moralistic Therapeutic Deism is about providing therapeutic benefits to its adherents. This not a religion of repentence from sin, of the keeping the Sabbath, of living as a servant of sovereign divine, of steadfastly saying one’s prayers, of faithfully observing high holy days, of building character through suffering, of basking in God’s love and grace, of spending oneself in gratitude and love for the cause of social justice, etc. Rather, what appears to be the actual dominant religion among U.S teenagers is centrally about feeling good, happy, secure, at peace. It is about attaining subjective well-being, being able to resolve problems, and getting along amiably with other people.
 
Finally, Moralistic Therapeutic Deism is about belief in particular kind of God, one who exists, created the world, and defines our general moral order, but not one who is particularly personally involved in our affairs, especially affairs in which we would prefer not to have God involved.
 
 
Berikut adalah 5 (lima) kredo yang merupakan kesimpulan dari sistem kepercayaan yang dibangun dari “Moralistic Therapeutic Deism”:
 
  1. A God exists who created and ordered the world and watches over human life on earth.
     
  2. God wants people to be good, nice, and fair to each other, as taught in the Bible and by most world religions
     
  3. The central goal of life to be happy and to feel good about oneself.
     
  4. God does not need to be particularly involved in one’s life except when God is needed to resolve a problem.
     
  5. Good people go to heaven when they die.
 
Joshua Harris di dalam bukunya, “Dug Down Deep: Unearthing What I believe and What It Matters” memberikan pengertian yang lebih ringkas namun jelas mengenai “Moralistic Therapeutic Deism” ini. Berikut penjelasannya:
 
  1. A moralistic outlook says if i live in a moral life, do good things, and try not to do bad things, God will reward me and send me to a “better place” when i die.
     
  2. A therapeutic orientation to God says his primary reason for existing is to make happy and peaceful. So God is a form of therapy, of self-help. He exists for me.
     
  3. Deism says God exists but He’s distant and mostly uninvolved. Or we could say conveniently uninvolved. He won’t interupt my plans or get in my business. He doesn’t tell me what to do.
 
Di dalam buku yang sama, Joshua Harris juga mengutip pernyataan Smith dan Denton yang mana mereka mendeskripsikan TUHAN di dalam konsep “Moralistic Therapeutic Deism” ini tidak lebih hanya semacam kombinasi antara Divine Butler (pelayan ilahi)” dan Cosmic Therapist (ahli pengobatan kosmik). Smith dan Denton berkata:
 
 
God is something like a combination Divine Butler and Cosmic Therapist: He is always on call, takes care of any problem that arise, professionaly helps his people to feel better about themselves, does not become too personally involves in the process.
 
 
Apa yang Salah dengan Moralistic Therapeutic Deism?
 
Dari penjelasan pengertian di atas, berikutnya kita akan mengkritisi kredo-kredo yang terkandung dalam “Moralistic Therapeutic Deism”.
 
Kredo-1: MTD mengatakan apabila kita hidup di dalam kehidupan bermoral, melakukan sesuatu yang baik, dan tidak mencoba untuk melakukan sesuatu yang buruk, maka Allah akan memberikan suatu hadiah (reward) dari apa yang sudah kita lakukan itu, serta akan membawa kita ke tempat yang baik (surga) ketika kita mati kelak.
 
Pertama. MTD telah menjadikan relasi kita dengan Allah hanya sebatas relasi yang bersifat kondisional di mana di dalamnya muncul relasi yang bersifat take and give. Jika kita melakukan sesuatu hal yang baik, sesuatu yang menyenangkan Allah, maka Allah wajib pula memberikan sesuatu yang baik kepada kita sebagai imbalan. Di sini muncul hubungan timbal balik yang saling menguntungkan (mutualistic relationship) antara Allah dengan kita. Oleh karenanya, dengan terbangunnya konstruksi relasi seperti ini, maka konsekuensi logis dari ini semua akan terbentuknya suatu persepsi pemikiran bahwa Allah dengan kita berada dalam posisi yang setara/sejajar. Apabila dikaitkan lebih jauh, akan muncul pertanyaan bagaimana sebenarnya interdependensi Allah sebagai atribut yang melekat pada pribadi Allah sebagai Pencipta dikaitkan dengan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Di sini kita melihat sosok Allah yang seolah-olah menjadi Allah yang tergantung (dependent God) terhadap manusia. Apa yang mau Allah lakukan seolah-olah itu tergantung juga dari apa yang kita lakukan kepada Allah. Dari pemaparan di atas kita bisa menilai bahwa apa yang dilakukan oleh MTD sungguh telah mereduksi deskripsi mengenai siapakah Allah (Who is God?) yang disaksikan Alkitab. Mengapa demikian? Pertama, Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa perbedaan antara kita, manusia, dengan Allah bukan hanya sekadar perbedaan kuantitatif (quantitative difference), tetapi lebih kepada perbedaan kualitatif (qualitative difference). Manusia dicipta, namun Allah mencipta; manusia fana, namun Allah kekal; manusia terbatas, namun Allah tidak terbatas; manusia terikat oleh waktu, namun Allah tidak terikat oleh waktu; manusia berdosa, namun Allah suci; dan lain sebagainya. Perbedaan kualitatif ini sekali lagi menegaskan bahwa relasi antara kita dengan Allah adalah mutlak tidak setara/tidak sejajar. Allah jauh lebih tinggi dari kita manusia sejauh dari ketidakterbatasan sampai keterbatasan, sejauh dari kekekalan dari ketidakkekalan/fana. Kedua, oleh karena Allah adalah Allah Pencipta yang kekal,tidak terbatas, maka eksistensi Allah bersifat interdependent terhadap seluruh ciptaan-Nya. Cornelius Van Till di dalam pengertian doktrin Allahnya sebagaimana dikutip oleh John M. Frame di dalam buku, Cornelius Van Till: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya, mengatakan, “Yang fundamental bagi setiap hal yang ortodoks adalah presaposisi mengenai self-existence Allah yang mendahului segala sesuatu dan wahyu-Nya yang tak mungkin salah mengenai diri-Nya sendiri kepada manusia di dalam Alkitab. Self-existence merujuk kepada fakta bahwa Allah sama sekali tidak bersifat korelatif atau bergantung kepada hal apapun di luar keberadaan-Nya sendiri. Allah merupakan sumber dari keberadaan-Nya sendiri, atau bahkan istilah sumber tidak bisa diterapkan kepada Allah. Allah adalah absolut. Ia cukup di dalam diri-Nya sendiri.” Van Till sendiri sering meringkaskan konsepnya ini dengan istilah “Allah yang mandiri” (self-contained God).
 
Kedua. MTD telah mereduksi iman Kristen mengenai kehidupan hanya sebatas kepada pendekatan moralistik seseorang, apakah ia seorang yang baik atau tidak baik. Namun, konsep moralistik yang dibangun di dalamnya terpisah dari konsep dosa yang dinyatakan Alkitab. Menurut MTD, dosa dimengerti bukan sebuah pemberontakan terhadap Allah dan hukum-hukum Allah yang mengakibatkan kematian sebagaimana yang diajarkan oleh Alkitab. Namun, dosa dimengerti hanya sebatas beban dan perasaan bersalah (guilty feeling) oleh karena telah gagal memenuhi ekspektasi yang ditetapkan atau diharapkan oleh diri sendiri ataupun orang lain. Bagi MTD, dosa merupakan kesalahan yang bersifat subjektif (subjective guilty) yang mana solusi untuk menyelesaikannya sangat sederhana, yaitu dengan cara menceritakan perasaan bersalah itu kepada orang lain. Dengan jalan inilah, perasaan bersalah itu lambat laun akan terus memudar dan pada akhirnya akan hilang. Konsep ini memperlihatkan bagaimana konsep dosa telah direduksi sedemikian rupa hingga ia dianggap bukan masalah yang serius. Dosa hanya dipahami sebatas masalah moralitas, yaitu bagaimana merubah seseorang dari perasaan bersalah menjadi tidak bersalah, merubah kelakuan seseorang dari yang buruk menjadi baik, atau merubah orang jahat menjadi orang baik. Dan dengan pendekatan moralistik inilah MTD mencoba mengkaitkannya dengan konsep keselamatan. Seseorang yang memiliki moral yang baik, itu sudah cukup syarat untuknya memperoleh hadiah keselamatan, membawanya menikmati surga yang mulai kelak ketika ia mati.
 
Dari pemahaman ini kita melihat kesalahan fatal dari MTD di sini adalah ketika ia merelasikan antara perbuatan baik atau moralitas baik dari seseorang sebagai syarat atau jalan untuk memperoleh keselamatan. Ini tentunya sangat bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh Alkitab. Paulus di dalam Surat Roma mendeskripsikan bagaimana kondisi manusia yang berada di bawah kuasa dosa dan konsekuensinya, “seperti ada tertulis:” Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. KerunTUHAN dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu” (Rm. 3:10-18). “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, TUHAN kita” (Rm. 6:23). Dan keselamatan yang kita peroleh hanya berdasarkan kasih karunia Allah melalui iman di dalam Kristus, bukan dari hasil perbuatan baik/moralitas kita. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 3:8-9). Sekarang jelaslah bahwa masalah keselamatan persoalannya bukan hanya sekedar masalah moralitas yang terkait dengan masalah perilaku moral baik atau buruk, tetapi masalahnya adalah dosa dalam kaitannya dengan hidup atau mati. Ravi Zacharias di dalam bukunya, “The Grand Weaver” mengatakan, “iman Kristen lebih dari sekadar moralitas. Iman Kristen mengingatkan bahwa masalah mendasar kita bukanlah moral, melainkan rohani/spiritual. Kehidupan moral tidak dapat menjembatani apa yang memisahkan kita dari TUHAN. Ini merupakan perbedaan utama antara agama-agama yang menekankan moral dan apa yang Yesus tawarkan kepada kita. Yesus tidak menawarkan untuk membuat orang jahat menjadi orang baik, melainkan agar orang mati menjadi hidup.” Apabila keselamatan dimengerti sebatas masalah moralitas bagaimana merubah orang jahat menjadi orang baik, maka yang kita perlukan bukan Yesus sebagai juru slamat dan penebus dosa kita, namun kita hanya memerlukan seorang guru etika yang mampu mengajar dan membentuk kita menjadi orang baik. Jika demikian, maka Kristus tidak perlu datang ke dalam dunia, bahkan Ia tidak perlu mati di kayu salib untuk menebus kita.
 
Kredo-2: MTD mengatakan alasan utama keberadaan Allah adalah orientasi bagaimana membuat kita merasa senang (happy) dan damai (peaceful). MTD juga mengatakan bahwa tujuan utama kita hidup untuk merasa senang (to be happy).
 
Pertama. MTD menyebutkan bahwa tujuan keberadaan Allah adalah supaya kita merasa senang (happy) dan damai (peaceful) merupakan pernyataan yang melecehkan Allah Pencipta. Pernyataan itu sama artinya dengan mengatakan bahwa kesenangan kita adalah dasar keberadaan Allah. Jika kita senang, maka kita menganggap Allah itu ada, tapi sebaliknya jika kita tidak senang, maka Allah kita anggap tidak ada. Di sini kita melihat bahwa secara sadar atau tidak sadar kita telah mereduksi Allah menjadi pribadi yang harus sesuai dengan keinginan kita. Kita menempatkan Allah dalam posisi sebagai objek yang kita tuntut seturut dengan keinginan dan kepentingan kita. Allah kita jadikan objek yang harus membuat kita merasa senang dan damai. Kita menjadikan Allah seperti ahli terapi atau ahli pengobatan yang mana dengan berbagai cara yang dilakukan-Nya mampu memberikan kita kesenangan dan kedamaian. Gambaran Allah seperti inilah yang Denton dan Smith sebut dengan gambaran Allah sebagai Cosmic Therapist. Berikut beberapa contoh diceritakan oleh Smith dan Denton mengenai hal ini di dalam tulisannya itu. Ada seorang gadis Hispanic conservative Protestant berusia 15 tahun mengekspresikan benefit therapeutic dari imannya. Ia mengatakan, “God is like someone who is always there for you: I don’t know, it’s like God is God. He’s just like somebody that’ll always helps you go through whatever you’re going through. When i became a Christian i was just praying, and it always made me feel better.” Ada seorang gadis Asian Budhist berusia 15 tahun dari Alabama mengatakan, “When i pray, it makes me good afterward.” Meskipun mungkin masih banyak contoh lain yang menggambarkan hal ini, namun melalui dua contoh di atas kita dapat menyimpulkan satu hal penting, ketika kita ingin menjalin relasi dengan Tuhan, seringkali relasi itu adalah relasi yang egoistik. Kita menjalin relasi demi kepentingan diri kita saja, yaitu bagaimana relasi itu mampu membuat kita feel good atau feel better, tidak lebih dari itu.
 
Kedua. MTD mengatakan bahwa tujuan utama kita adalah merasa senang (to be happy). Kita semua mengerti bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengharapkan untuk tidak merasa senang di dalam hidupnya. Tentu kita semua menginginkan hal itu bukan? Namun, muncul persoalan ketika kita menempatkan kesenangan itu menjadi tujuan utama dari kehidupan kita. Segala cara dan upaya akan kita lakukan untuk mencapai kesenangan itu. Pertanyaannya sekarang, jika kesenangan yang kita jadikan tujuan utama kita hidup, di mana posisi Tuhan di dalam hidup kita. Itu sama artinya kita telah mendongkel Tuhan dari tempat tertinggi di dalam hidup kita, dan menempatkan-Nya lebih rendah dari kesenangan kita. Kesenangan kita jadikan “tuhan” kita. Bukankah ini merupakan suatu bentuk merendahkan Tuhan yang mencipta dan menebus kita?
 
Alkitab dengan jelas menyatakan, ketika Tuhan menciptakan kita menurut peta dan teladan-Nya, Ia pasti mempunyai tujuan yang jelas dan spesifik di dalamnya. Katekismus Westminster di dalam pertanyaan pertamanya disebutkan, “Apakah tujuan utama hidup manusia? Tujuan utama hidup manusia adalah untuk mempermuliakan Allah dan untuk memperkenankan Dia selamanya.” Tuhan ingin kita yang diciptakan-Nya mepermuliakan dan memperkenankan Dia. Ketika Tuhan menciptakan kita, itu semata-mata demi kemuliaan–Nya sendiri. Tentunya ini bukan berarti kita boleh mengatakan bahwa Tuhan ”butuh” kemuliaan dari kita. Tuhan sudah mulia pada diri-Nya. Ia adalah Allah yang mulia dari kekekalan. Tidak ada satupun makhluk ciptaan-Nya yang dapat menjadikan-Nya lebih mulia, karena kemuliaan-Nya sempurna adanya. Yang dimaksud di sini adalah kita harus memancarkan kemuliaan Tuhan di dalam segenap aspek kehidupan kita. Artinya, Tuhan ingin hidup kita berorientasi hanya kepada Dia, bukan kepada diri sendiri. Artinya, Tuhan ingin kita hidup bukan untuk kesenangan kita (our happiness), tapi untuk kesenangan Tuhan (God’s happiness)
 
Kredo-3: MTD mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang eksis, yang menciptakan dunia ini, serta menetapkan tatanan moral kita. Namun, Allah tersebut tidak hadir dan terlibat secara langsung di dalam setiap detik kehidupan kita, di pergumulan kita. Ia hanya hadir dan terlibat pada saat kita memerlukannya untuk menyelesaikan permasalahan kita.
 
Pertama. Kredo yang dinyatakan dalam MTD di atas jelas sekali mengandung konsep deistik, yaitu konsep yang menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya oknum yang mencipta dunia ini, namun setelah mencipta Ia meninggalkan dunia yang diciptaankannya. Ia membiarkan dunia ciptaan-Nya berjalan/beraktivitas secara alami/natural tanpa ada intervensi dan kontrol dari-Nya. Konsep deistik secara ekstrim menitikberatkan hanya kepada transendensi Allah. Allah yang nun jauh di sana yang tidak mungkin berelasi dengan dunia ciptaan-Nya di sini. Di sana, di surga, Ia hanya melihat dan menonton segala sesuatu yang terjadi di dunia ciptaan-Nya tanpa Ia berbuat sesuatu, sama seperti apa sepenggal syair lagu yang dahulu pernah kita dengar, “God is watching us, God is watching us, God is watching us from the distance.” Di dalam MTD, Allah yang transenden itu tidak memiliki relasi dan terlibat secara langsung didalam kehidupan manusia secara konsisten dari detik ke detik. Ia hadir hanya pada saat-saat tertentu, saat-saat Ia dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah-masalah manusia. Kesalahan utama MTD adalah mengandung konsep deistik yang sama sekali tidak biblikal. Di dalam kitab Kejadian pasal 1, dengan jelas dinyatakan bahwa Allah mencipta dunia ini 6 hari lamanya, dan pada hari ke-7 dikatakan ia berhenti mencipta. Namun ketika dikatakan Ia berhenti mencipta, ini tidak berarti ia sedang berhenti bekerja. Allah tetap bekerja. Allah menopang seluruh ciptaan-Nya. Allah memelihara seluruh ciptaan-Nya untuk selama-lamanya. Memang benar, Allah yang kita sembah adalah Allah yang transenden, tapi jangan lupa Allah juga adalah Allah yang imanen. Allah yang hadir di dalam seluruh ciptaan-Nya. Di dalam Inkarnasi Kristuslah bertemunya titik transendensi Allah dan imanensi Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Rasul Yohanes, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa” (Yoh. 1:14). Bagian ini merupakan salah satu gambaran bagaimana Allah juga hadir ditengah umat-Nya.
 
Kedua. Ketika kita mengakui bahwa Allah adalah Allah yang imanen, yang hadir di tengah umat-Nya, hal ini juga menyatakan bahwa Allah hadir di dalam seluruh aspek kehidupan kita. Ia tidak hanya hadir pada saat-saat tertentu saja dalam hidup kita, tapi Ia hadir, terlibat langsung dari detik ke detik kehidupan kita. Tidak ada satu titik pun dalam kehidupan kita di mana Allah tidak memegang kendali atasnya. Dengan demikian, kehadiran Allah dalam hidup kita tidak tergantung pada apakah kita memerlukan-Nya atau tidak. Di saat kita merasa memerlukan-Nya, Ia hadir. Di saat kita merasa tidak memerlukan-Nya, Ia juga tetap hadir. Inilah Tuhan yang kita percayai.
 
Penutup
 
Tulisan ini diharapkan bisa menjadi dorongan kepada setiap kita untuk berhenti sejenak, merenungkan dan merefleksikan bagaimana kehidupan Kekristenan yang selama ini kita jalani. Apakah kehidupan yang kita jalani sudah seturut dengan apa yang Allah inginkan, ataukah justru seturut dengan apa yang Allah benci? Oleh karenanya, menyadari pertanyaan ini, pengenalan akan siapa Tuhan yang kita percayai menjadi hal yang sangat penting. Seberapa besar pengenalan kita akan Tuhan sangat menentukan bagaimana kita menjalankan kehidupan ini. Mari, di momen Natal ini kita bersama-sama bertekad untuk terus bertumbuh, mengenal lebih dalam siapa Tuhan kita. Inilah yang seharusnya tujuan hidup kita demi mempermuliakan Dia yang sudah menebus kita.
 
[ Nikson Sinaga ]