Kerjakan Panggilan Kita Dengan Gentar
 
_oOo_
 
Pengantar
 
Tulisan ini mengajak kita untuk melihat betapa menggentarkannya panggilan Tuhan yang turun atas kita dan harus kita kerjakan itu. Kita akan melihat hal itu melalui apa yang Alkitab ajarkan di dalam narasi Simson.
 
Pendahuluan
 
Oleh Hollywood, dengan semangat sekuler, film Samson and Delilah menampilkan narasi Simson dengan berfokus pada kisah cinta antara Simson, seorang pemuda Ibrani yang perkasa, dan Delila, seorang wanita cantik Filistin. Oleh karena itu penting bagi kita untuk pertama sekali memahami narasi Simson di dalam kitab Hakim-Hakim ini berdasarkan prinsip-prinsip biblical theological berikut:
 
  1. Menyatakan kesetiaan Tuhan terhadap umat-Nya
     
    Apakah yang kurang lagi? Berita kelahiran Simson turun kepada istri Manoah saat Israel hidup dalam kebobrokan rohani dan tidak kunjung bertobat sehingga Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin selama empat puluh tahun lamanya (Hakim-Hakim 13:1). Di dalam keadaan tanpa pengharapan itulah Tuhan mengutus Malaikat-Nya untuk menyampaikan berita kelahiran Simson sebagai pengharapan pembebasan Israel dari orang Filistin.
     
    Narasi tentang hakim bernama Simson ini berfokus kepada peranan yang Tuhan tetapkan atasnya dan apa yang seharusnya ia kerjakan. Itu sebab sejak awalnya, saat berita kelahirannya turun kepada istri Manoah, seorang wanita mandul dan tidak beranak, Simson disebut sebagai seorang nazir Allah (Nazirite) yang olehnya orang Israel akan diselamatkan dari tangan orang Filistin (Hak. 13:5).
     
  2. Untuk menyelamatkan umat-Nya Tuhan cukup memakai hanya satu orang saja.
     
    Dengan membangkitkan seorang Simson, Tuhan mau menyatakan bahwa Ia sanggup membebaskan umat-Nya dari penindas-penindas mereka hanya dengan satu orang saja.
     
  3. Peranannya sebagai penyelamat bangsa Israel dari penindasan bangsa Filistin menunjuk pada pelayanan Yesus Kristus
     
    Narasi Simson menyatakan kepada kita pekerjaan Mesias yang akan datang. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Edmund P. Clowney di sini:
 
 
As we have seen, the appointed roles of God’s servant point forward to their fulfillment in God’s final Servant, Jesus Christ. They have a symbolic function, providing a key to the way in which the historical narratives of the Old Testament demonstrate types of the work of Christ. In spite of Samson’s abuse of the endowment of power that was his, God used him to show His power to save. / Sebagaimana telah kita lihat, semua peranan yang telah ditetapkan atas hamba Tuhan menunjuk ke depan yang penggenapannya berpuncak pada Hamba Tuhan yang terakhir, Yesus Kristus. Mereka mempunyai fungsi simbolis, membuka kunci menuju jalan di mana di dalamnya narasi historis Perjanjian Lama mendemonstrasikan beragam pekerjaan Kristus. Demikian pula dengan Simson. Sekali pun Simson telah menyalah gunakan kuasa Tuhan yang dilimpahkan atasnya, Tuhan telah menggunakan dia untuk menyatakan kuasa-Nya dalam menyelamatkan Israel.
 
(Edmund P. Clowney, “The Unfolding Mistery: Discovering Christ in the Old Testament”, Phillipsburg: Presbyterian & Reformed Publishing Company, 1988, p.138).
 
 
Jadi, sejak awal Alkitab menempatkan Simson sebagai alat Tuhan semata-mata untuk menyatakan kuasa penebusan-Nya kepada bangsa-bangsa yang untuk sementara waktu Ia ijinkan menindas Israel sebagai penghukuman atas dosa-dosa mereka.
 
Simson dan panggilan hidupnya yang tidak ia kerjakan
 
Sejak awal Simson telah ditetapkan untuk mengerjakan tugasnya sebagai pembebas Israel dari penindasan Filistin. Akan tetapi perhatikan bahwa di dalam setiap pertempuran di mana ia tidak terkalahkan, tidak satu pun dipergunakannya sebagai seorang nazir Allah untuk memimpin Israel memerangi penindas-penindas mereka, juga tidak untuk menegakkan Kerajaan Tuhan menurut janji-Nya.
 
  1. Hakim-Hakim pasal 14
     
    Ia membunuh seekor singa dengan tangan kosong, tetapi ia melakukannya dalam perjalanan untuk menikahi seorang wanita Filistin di Timna di dalam ketidaktaatan kepada Tuhan (ayat 6). Ironisnya karena ia menikahi seorang perempuan Filistin ia mengikuti adat orang Filistin untuk mengadakan perjamuan bagi sejumlah orang selama tujuh hari lamanya, suatu pengabaian terhadap panggilannya sebagai seorang nazir Allah yang tidak boleh minum minuman keras.
     
    Pada hari pertama perjamuan itu ia memberikan sebuah teka-teki kepada tigapuluh orang Filistin yang diundangnya dengan aturan apabila teka-teki itu dapat mereka jawab Simson akan membayar mereka dengan tigapuluh pakaian lenan dan tigapuluh pakaian kebesaran yang tentulah mahal harganya. Demikian pula sebaliknya apabila mereka tidak bisa menjawabnya (ayat 12-14). Karena ketigapuluh orang Timna itu tidak mau jatuh miskin untuk membayar denda teka-teki Simson itu mereka mengancam akan membakar istri Filistin Simson dan seisi rumah ayahnya apabila wanita itu tidak membujuk Simson, suaminya, untuk membocorkan jawaban teka-teki itu (ayat 15). Akibat ancaman tigapuluh orang Timna itu istri Filistin Simson kemudian merengek-rengek membujuk Simson untuk membocorkan padanya jawaban teka-teki itu (ayat 17). Maka diberitahukan Simsonlah jawaban teka-teki itu. Dari situ disampaikannyalah jawaban teka-teki Simson kepada orang-orang Timna itu dan pada hari ketujuh perjamuan itu terjawablah teka-teki Simson oleh mereka (ayat 18).
     
    Dalam amarah demi melunasi kewajibannya pada ketigapuluh orang Timna itu Simson pergi ke Askelon dan di sana, dengan menyalahgunakan kuasa Roh Tuhan, ia membunuh tigapuluh orang Askelon seorang diri saja untuk mengambil pakaian kebesaran mereka dan memberikannya kepada tigapuluh orang Timna yang telah menjawab teka-tekinya itu (ayat 19). Dari situ pulanglah Simson ke rumah ayahnya, sehingga ayah perempuan Filistin itu memberikan istrinya kepada bekas pengiring Simson (ayat 20).
     
    Di sini kita melihat bahwa kekuatan yang Tuhan berikan kepadanya di Askelon ini sama sekali tidak dipergunakannya untuk menyatakan pekerjaan Tuhan membebaskan bangsanya selain dari membereskan urusannya sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
     
  2. Hakim-Hakim pasal 15
     
    Setelah beberapa waktu tinggal di rumah ayahnya kembalilah Simson mengunjungi istri Filistinnya itu dan didapatinya bahwa ayah perempuan itu telah menyerahkan istrinya kepada kawannya dan menawarkan adik perempuan itu sebagai gantinya (ayat 2). Merasa dipermainkan marahlah Simson kepada ayah perempuan Filistian itu dan dinyatakanlah kemarahannya itu kepada semua orang Filistin. Dengan tigaratus anjing hutan yang ditangkapnya Simson membakar gandum dan tumpukan gandum yang belum dituai serta kebun-kebun pohon zaitun orang Filistin (ayat 4-5).
     
    Tidak menerima kemarahan Simson kepada ayah perempuan Filistin yang juga telah mengakibatkan kerugian atas banyak orang Filistin itu, maka orang-orang Filistin itu kemudian membakar perempuan itu beserta ayahnya (ayat 6). Dari situ Simson membalas lagi perbuatan orang-orang Filistin itu dengan memukul mereka hingga remuklah tulang-tulang mereka dan agar tidak ditemukan tinggallah ia di dalam gua di bukit batu Etam (ayat 8).
     
    Tragisnya, atas hal itu dendamlah orang Filistin bukan hanya kepada Simson tetapi kepada seluruh orang Israel. Maka majulah orang Filistin untuk mencari Simson agar mereka dapat membalaskan hal yang sama kepadanya (ayat 10). Takut terhadap orang-orang Filistin yang maju untuk berkemah di wilayah Yehuda dan memencar ke Lehi (ayat 9), tigaribu orang dari suku Yehuda, saudara sebangsanya, turun mendatangi Simson di sebuah gua di gunung batu Etam untuk mengikat dan menyerahkannya kepada mereka (ayat 12). Namun, sekali lagi, dengan kuasa Roh Tuhan di Lehi ia memukul mati seribu orang Filistin banyaknya seorang diri saja hanya dengan sebuah tulang rahang keledai yang masih baru (ayat 15). Betapa tragisnya, sekali lagi kekuatan yang Tuhan berikan kepadanya untuk memukul mati orang-orang Filistin ia pergunakan pertama-tama untuk menyelesaikan urusannya sendiri.
     
  3. Hakim-Hakim pasal 16
     
    Saat berada di Gaza, demi memenuhi hawa nafsu matanya Simson menghampiri seorang wanita sundal (ayat 1). Setelah diketahui orang-orang Gaza bahwa hakim Israel itu sedang bermalam bersama seorang pelacur di kota mereka maka dikepung dan dijaga merekalah tempat itu untuk menghadang Simson di pintu gerbang kota dan membunuhnya di waktu fajar tiba (ayat 2). Tetapi tidak sampai fajar, waktu tengah malam, bangunlah Simson untuk meloloskan diri dari kepungan orang-orang Gaza itu. Dipegangnya serta dicabutnya kedua daun pintu gerbang dan kedua tiang pintu berikut palang kota Gaza itu untuk kemudian diletakkannya di atas kedua bahunya dan diangkatnya ke puncak gunung yang berhadapan dengan Hebron (ayat 3). Betapa takutnya orang-orang Gaza melihat hal yang tidak mungkin dapat mereka lakukan itu.
     
    Ironis sekali. Kekuatan yang Tuhan berikan kepadanya ia pergunakan hanya untuk meloloskan dirinya dari bahaya yang dirancang atas dirinya saat ia menghabiskan malam dengan seorang pelacur di kota Filistin itu. Sekali lagi, di sini ia tidak mempergunakan kekuatannya untuk membebaskan Israel dari penindasan orang Filistin.
 
Simson pada akhirnya harus belajar (Hakim-Hakim 16)
 
Puncak dari pengabaian Simson atas panggilan hidupnya adalah saat ia membocorkan rahasia kekuatannya sebagai seorang nazir Allah kepada Delila, lagi-lagi seorang wanita Filistin. Rambutnya dipotong dan kekuatan supraalamiahnya pergi begitu saja (ayat 17). Dikhianati dan jatuh ke tangan orang Filistin, ia tidak berdaya. Kedua matanya yang selama ini diikutinya, kini dicungkil oleh orang Filistin (ayat 21). Sekali pun demikian Tuhan tetap tidak meninggalkannya. Di Gaza, tempat di mana oleh orang Filistin ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan dipekerjakan untuk menggiling di penjara itu rambutnya tumbuh – tanda kenaziran dirinya sebagai seorang pembebas Israel. Pada akhirnya di dalam kebutaan kedua matanya itu, Simson belajar akan tiga hal ini:
 
  1. Kesetiaan Tuhan atas umat-Nya tetap nyata adanya. Tuhan tetap menyelamatkan Israel dari penindasan Filistin dengan menolongnya, sekalipun bagi Simson itu suatu pembalasan atas kedua matanya yang penuh dengan nafsu dosa, untuk terakhir kali di dalam hidupnya membunuh sangat banyak orang Filistin (ayat 28).
     
  2. Tuhan menyelamatkan Israel hanya dengan satu orang saja yang diperlengkapi dengan Roh Kudus. Ia mati bersama sejumlah banyak orang Filistin akibat kelemahan dan dosanya (ayat 30). Pekerjaan Tuhan tetap genap pada akhirnya, sekalipun sayang, Simson tidak berbagian secara mulia di dalamnya.
     
  3. Pada akhirnya Simson menyadari bahwa kekuatan yang dimilikinya semata-mata adalah karunia Allah yang harus dipergunakan dengan hati yang gentar. Itu sebab ia mati dengan iman serta berseru kepada Tuhan yang juga telah menghakimi musuhnya (Ibrani 11:13, 32-34), sekalipun sayang kelemahan dan dosanya menjadikan jurang ketimpangan antara cara hidupnya dengan panggilannya sebagai hakim Israel itu semakin tinggi.
 
Simson dan Kristus
 
Segagal-gagalnya Simson ia tetap merupakan simbolisme Yesus Kristus pada era hakim-hakim Israel, Juru Selamat yang perkasa yang akan datang itu. Kekuatan fisik Simson sebagai karunia Roh Tuhan, yang memperlengkapinya untuk bertarung sebagai alat Tuhan hanya merupakan bayang-bayang dari kuasa Kristus untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21).
 
  1. Sejak semula Simson dikhususkan bagi Allah menurut tanda di luar tubuhnya, sedang Yesus dikhususkan bagi Allah menurut kekudusan yang ada di dalam diri-Nya. Dia adalah nazir yang rohani, dipanggil oleh Bapa untuk keluar dari rahim ibu-Nya. Keunikan Kristus nyata menurut ketaatan sempurna-Nya, ketaatan yang diperkenan Bapa-Nya sebagaimana dinyatakan dari surga (Mat. 3:17; 17:5).
     
  2. Simson dipenuhi dengan Roh Kudus, suatu pola yang puncaknya berwujud di dalam pelayanan Yesus Kristus sebagai pengemban kuasa Roh Kudus. Seperti halnya Simson, Yesus diikat dan dibawa oleh pemimpin-pemimpin masyarakat untuk kemudian diserahkan kepada penindas-penindas bangsa mereka, dicaci-maki dan dijadikan sasaran pukulan. Bahkan Yesus pada akhirnya menyerahkan hidup-Nya. Akan tetapi Yesus Kristus mengalaminya di dalam ketaatan untuk mengerjakan kehendak Bapa-Nya (Yoh. 19:11).
 
Penutup
 
Kalau begitu, tunggu apa lagi? Renungkan bagaimana kita telah hidup selama ini. Sudahkah kita mengerjakan panggilan kita yang mulia itu dengan hati yang gentar? Untuk mengerjakan panggilan Tuhan yang mulia itu kita memerlukan wadah di mana setiap kita dapat bersekutu, terus bertumbuh dan saling menguatkan. Persekutuan Studi Reformed hadir menjadi berkat. Mari kita responi kehadiran wadah ini.
 
Selamat Paskah 2011.
[ Jessy V Hutagalung ]