Perjamuan Terakhir
 
_oOo_
 
 
Matius 26:2
Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.
 
 
Pendahuluan
 
Paskah adalah salah satu peristiwa terpenting di dalam hidup orang Kristen. Sebentar lagi semua umat Kristen merayakan Paskah memperingati hari kebangkitan Tuhan Yesus, yang sudah mati di kayu salib menebus umat pilihan-Nya dengan darah-Nya. Alkitab Perjanjian Lama menubuatkan akan datangnya Juru Selamat yang akan menyelamatkan manusia dari dosa, di mana hal itu tergenapi pada Perjanjian Baru melalui kelahiran, pelayanan, kematian dan kebangkitan Yesus. Kini, bagaimanakah kita, sebagai umat tebusan-Nya, memaknai arti kehidupan ini?
 
Paskah
 
Kita mengenal kata “Paskah” dengan beberapa pendekatan :
 
  1. Paskah dalam Perjanjian Lama
     
    Paskah pada masa Perjanjian Lama merupakan perayaan untuk mengingat peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir. Karena peristiwa tersebut merupakan simbol dari keselamatan di dalam Kristus, orang Kristen tidak memperingati simbol tersebut, melainkan penggenapannya di dalam kebangkitan Kristus.
     
    Kata “Paskah” berasal dari kata Ibrani pesach yang berarti “melewatkan.” Pada tanggal sepuluh bulan pertama di dalam kalender keagamaan orang Israel (Kel. 12:2-3), TUHAN menjalani (mengelilingi) seluruh tanah Mesir dan membunuh setiap anak sulung bangsa Mesir, tetapi TUHAN melewati rumah orang Israel yang pintu dan ambang pintunya telah dilumuri dengan darah anak domba atau darah anak kambing (Kel. 12:3-13).
     
    Kontras antara perlakuan TUHAN terhadap orang Mesir dan terhadap orang Israel di sini merupakan gambaran dari sikap TUHAN terhadap orang yang tidak beriman dan terhadap orang beriman. Firaun telah berulang-ulang menerima peringatan TUHAN sebelum tulah kesepuluh (pembunuhan anak sulung) dijatuhkan, tetapi Firaun mengeraskan hati. Sebaliknya, orang Israel dengan iman mengoleskan darah ke pintu dan ambang pintu rumah mereka. Pada masa kini, sikap kita terhadap peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus menentukan apakah kita akan menerima penghukuman kekal atau akan menerima hidup kekal di dalam Kristus (Yoh. 3:16; 5:24; 8:24).
     
  2. Paskah dalam Perjanjian Baru
     
    Paskah dalam masa perjanjian Baru tetap merupakan peringatan atas keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, dan menjadi gambaran atas penyelamatan yang dilakukan Allah Tritunggal. Perayaan tersebut menggunakan roti yang tidak beragi dan biasanya menyembelih domba sebagai lambang korban penyembahan dan korban penghapusan dosa. Dalam Perjanjian Baru, Kristuslah makanan perjamuan Allah yang sesungguhnya sekaligus juga korban pengganti manusia berdosa.
 
Perjamuan Terakhir
 
Yesus menjadikan perjamuan terakhir sebagai simbol perayaan paskah. Dalam Matius 26 ayat 2 dia menyatakan bahwa Anak Manusia akan diserahkan untuk disalib. Seperti ulasan di atas, dalam Paskah, yang diserahkan biasanya adalah domba yang tak bercacat cela sebagai korban penghapusan dosa bagi mereka yang mempersembahkannya. Dalam konteks ini, Yesus hendak bersekutu secara khusus dengan murid-murid-Nya, menyadari bahwa sebentar lagi Ia akan mengalami puncak dari penderitaan yang harus Dia tanggung. Dalam hal ini, Yesus tidak menggunakan roti yang tidak beragi (azumos), melainkan roti yang biasa (artos).
 
Dalam perjamuan terakhir ini, Yesus sedang berbicara tentang diri-Nya yang akan mengambil bagian sebagai korban, yang merupakan penggenapan firman Tuhan di dalam Perjanjian Lama (Yer. 31:31-33), seperti domba yang disembelih sebagai korban pengganti bagi orang Israel dari murka Allah yang terjadi di tanah Mesir. Kini, dalam perjamuan terakhir tersebut, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,” sebagaimana dimaksud Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:29).
 
Dalam Matius pasal 26, digambarkan dua prosesi perayaan paskah yang dilakukan oleh orang Yahudi:
 
  1. Memecah-mecahkan roti dan memberikan kepada murid-murid-Nya.
     
  2. Mengambil cawan penuh anggur dan membagikannya kepada murid-murid-Nya.
 
Dari kedua hal di atas terlihat bahwa Paskah dilambangkan dengan makan dan minum, yang merupakan hal utama dalam kehidupan manusia. Ketika Tuhan mengatakan “ambillah” hal itu bermaksud untuk menggambarkan bagaimana manusia yang adalah ciptaan Tuhan yang bergantung sepenuhnya kepada Tuhan sebagai penyedia & pencipta. Dengan menerima perintah “makanlah,” sebagai manusia, kita dibukakan bagaimana seharusnya kita hidup yaitu menerima makanan dari Tuhan, sang pemberi hidup.
 
Roti dan anggur yang Tuhan sediakan bagi murid-murid-Nya melambangkan bahwa perjamuan terakhir itu merupakan keseluruhan kisah kita dalam karya keselamatan Allah, yang membawa kita keluar dari perbudakan dosa melalui pengorbanan tubuh dan darah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memandang diri-Nya sendiri sebagai Domba Paskah, yang dipersembahkan sebagai korban demi membebaskan umat-Nya. Sampai Ia datang kembali kelak, kita harus selalu ingat akan apa yang dilakukan-Nya bagi kita.
 
Dalam hal ini kematian Yesus memberikan kita keselamatan, tetapi hal itu bukan merupakan sesuatu hal murahan, sehingga oleh karenanya hidup kita boleh saja tidak mencerminkan kebenaran. Sebaliknya dengan mendapat keselamatan dari karya penebusan Kristus, kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, dan menjadikan hidup kita suatu surat terbuka dan berjalan dalam alur kehidupan bersama dengan Kristus.
 
Kesimpulan
 
Perayaan Paskah menggambarkan apa yang Tuhan Yesus Kristus kerjakan bagi kita sebagai penggenapan rencana Allah Tritunggal yang berpuncak pada kematian Anak-Nya di kayu salib. Hidup kita sebagai orang percaya seharusnya penuh dengan rasa takut dan gentar dalam mengerjakan pekerjaan yang baik, yang sudah Tuhan persiapkan sebelumnya. Makna hidup kita akan kita temui dalam pembentukan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Dalam keluarga, dalam pekerjaan, dan dalam masyarakat seharusnya kita dapat menceritakan Kristus yang ada di dalam hidup kita ini.
 
Sering kali kita hanya merasa Tuhan hadir dalam hidup kita saat kita ada dalam situasi yang menyenangkan dan menggembirakan. Tetapi ketika dalam kesusahan kita mempertanyakan Tuhan. Padahal kita sudah melihat bagaimana Kristus sendiri rela mati demi menjalankan kehendak Bapa untuk menebus dosa manusia.
 
Penutup
 
Bagaimana dengan hidup kita saat ini? Sudahkah kita meletakkan kemanusiaan kita dan mengingat bahwa Tuhan-lah yang empunya hidup kita saat ini? Bukankah seharusnya setiap kita mau terus hidup bagi Kristus yang sudah mati dan bangkit untuk kita, umat -Nya?
 
Biarlah melalui perayaan Paskah kita terus diingatkan untuk memberitakan Injil-Nya sepanjang sisa hidup kita. Demikianlah kita menyenangkan Tuhan.
 
Selamat Paskah 2011.
[ Deby Adelina Hutagalung ]