Kristus Mati Bagi Umat Pilihan-Nya!
( Sebuah Pembelaan Atas Doktrin Penebusan Terbatas )
_oOo_
 
Introduksi
 
Doktrin penebusan terbatas merupakan salah satu doktrin tersulit dalam theologi Kristen. Doktrin ini kerap memunculkan pro kontra dan perdebatan baik dikalangan theolog Kristen maupun orang Kristen sendiri. Pokok utama doktrin ini terkait dengan pertanyaan, “Apakah Kristus mati untuk semua orang ataukah hanya untuk sebagian orang?”
 
Di sepanjang perjalanan sejarah gereja kita menemukan setidaknya ada 2 (dua) pandangan besar yang muncul terkait dengan isu ini, yaitu: pandangan Arminianisme dan Calvinisme. Arminianisme pertama kali dicetuskan oleh seorang murid Beza (seorang pengikut Calvin) yang bernama Jakob Arminius. Munculnya pandangan ini berawal dari ketidaksetujuan dan bantahan Arminius atas pandangan Calvin dan Luther yang menyatakan bahwa kehendak orang-orang yang belum bertobat diperhambakan. Manusia dapat diselamatkan dari perhambaan itu hanya oleh Allah yang memilih sebagian orang untuk hidup kekal dan sebagian lainnya untuk hukuman. Bagi Calvin dan Luther, pemilihan ini semata-mata keputusan kekal Allah yang dengannya Ia menentukan sendiri apa yang dikehendaki-Nya bagi tiap-tiap orang. Hidup kekal ditetapkan bagi sebagian orang dan hukuman kekal bagi sebagian yang lain.0101.
Erwin W.Lutzer, All One Body-Why Don’t We Agree?. Penerjemah tidak diketahui dengan judul: Teologi Kontenporer. Cetakan ke-3. Malang:Penerbit Gandum Mas, 2005. h.163
 
Atas ketidaksetujuannya itu, Arminius membuat semacam dokumen bantahan yang berisi 5 (lima) pasal, yakni:0202.
Ibid., h.164
 
  1. Allah memutuskan untuk menyelamatkan semua orang yang percaya dan yang bertekun dalam iman dan semua orang yang lain ditinggalkan dalam dosa dan hukuman.
     
  2. Kristus mati untuk semua orang sehingga melalui kematian-Nya disalib, Ia sudah mendapatkan bagi mereka semua penebusan dan pengampunan dosa. Sekalipun begitu, tidak seorangpun yang betul-betul menikmati pengampunan dosa ini kecuali orang percaya.
     
  3. Manusia tidak memiliki kasih karunia yang menyelamatkan dari dalam dirinya sendiri, juga tidak dari kekuatan kehendak bebasnya karena ia dalam keadaan murtad dan berdosa tidak dapat dengan kemampuan sendiri berfikir, berkehendak, atau melakukan sesuatu yang benar-benar baik kecuali kalau ia dilahirkan kembali oleh Allah di dalam Kristus.
     
  4. Tanpa pekerjaan kasih karunia manusia tidak mungkin melakukan sesuatu yang baik, tetapi kasih karunia bukan tidak dapat ditolak karena manusia telah menolak Roh Kudus.
     
  5. Orang-orang percaya mendapat bagian hidup kekal dan mereka memiliki kuasa untuk berjuang melawan iblis. Meskipun demikian, apakah mereka dapat jatuh tersesat, itu merupakan suatu persoalan yang harus lebih khusus ditentukan berdasarkan Kitab Suci sebelum kita sendiri dapat mengajarkannya dengan kepercayaan penuh dari pikiran kita.
 
Untuk meresponi dokumen bantahan tersebut, maka pada bulan Nov-1618 s/d Mei-1619 (6 bulan) Sinode Dort yang terdiri dari 84 anggota dan 18 delegasi yang mewakili negara-negara seperti Inggris, Skotlandia, dan Swiss mengadakan sidang untuk membahasnya. Setelah melewati 154 kali sidang, akhirnya sinode bersepakat dan memutuskan untuk menolak keras isi dokumen bantahan itu. Penolakan mereka ini dirumuskan dalam lima pasal bantahan yang bersumber dari ajaran Calvin. Kelima pasal rumusan itu sekarang dikenal dengan nama Lima Pokok Calvinisme, yaitu: kebobrokan moral total (total depravity), pilihan tanpa syarat (unconditional election), pendamaian terbatas (limited atonement), kasih karunia yang tidak dapat ditolak (irresistible grace), dan ketekunan orang-orang kudus (perseverance of the saint).0303.
Ibid., h.165
 
Pandangan Calvinisme vs Arminianisme
 
Mari kita bandingkan kedua pandangan tersebut. Jika kita perhatikan pasal pertama dan kedua dari bantahan Arminius di atas, kita melihat Arminianisme memandang penebusan Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib ditujukan bagi semua orang, namun manfaat dari penebusan itu hanya dapat teraplikasi pada diri seseorang apabila dengan kehendaknya sendiri ia memutuskan untuk percaya dan beriman kepada Allah. Poin pertama yang ingin disampaikan adalah keselamatan itu sesungguhnya sudah dikerjakan oleh Kristus di kayu salib dan sekarang ditawarkan kepada semua orang tanpa terkecuali. Persoalannya adalah apakah orang mau menerimanya atau tidak. Dan itu tergantung pada pilihan setiap orang. Poin kedua adalah kematian Kristus memungkinkan adanya keselamatan untuk semua orang tanpa kecuali walau pada akhirnya tidak semua orang diselamatkan.0404.
Louis Berkhof, Systematic Theology. Diterjemahkan oleh Yudha Thianto dengan judul: Theologi Sistematika. Cetakan ke- 8. Surabaya:Penerbit Momentum, 2009. h.209.
Pada titik ini Arminianisme membuat pembedaan antara apa yang Kristus lakukan (Ia mati bagi semua orang) dan apa yang Kristus capai (tidak semua orang diselamatkan). Sama seperti sebuah kantong undian universal yang mana di dalamnya tersedia paket-paket bagi setiap orang, namun hanya sebagian orang saja yang berhasil mengambil paket-paket tersebut. Maksudnya, Kristus sebenarnya ingin menyelamatkan semua orang, namun ternyata hanya sebagian saja yang diselamatkan.0505.
Ibid., h.56

 
Dari kedua poin di atas, kita melihat bahwa keselamatan menurut Arminianisme ditentukan oleh kedaulatan manusia untuk memilih, mau menerima atau menolak keselamatan itu. Arminianisme telah menempatkan manusia sebagai subjek yang bertindak aktif dalam memilih untuk percaya, sedangkan Allah hanyalah objek yang hanya menunggu hasil pilihan manusia itu. Atas dasar pilihan manusia itulah Allah bertindak untuk menyelamatkan mereka yang percaya dan membinasakan mereka yang tidak percaya. Dengan demikian, bukankah hal ini sama saja dengan mengatakan bahwa bahwa keselamatan sepenuhnya tergantung pada kehendak dan pilihan manusia? Arminianisme melihat keselamatan manusia ditentukan oleh kerjasama antara Allah dan manusia. Di samping Allah, manusia turut berbagian dan berperan dalam keselamatan dirinya sendiri. Loraine Boettner menyebut pandangan ini sebagai bentuk perwujudan dari agama yang didasarkan pada perbuatan (the religion of works), dan oleh karenanya ia juga merupakan sebuah bentuk kekristenan yang tidak stabil dan tidak konsisten.0606.
Loraine Boettner, Reformed Faith. Diterjemahkan oleh Hendry Ongkowidjojo dengan judul: Iman Reformed. Surabaya: Penerbit Momentum, 2000. h.9.
 
Lalu bagaimana dengan pandangan Calvinisme? Calvinisme melihat karya penebusan Kristus hanya dimaksudkan untuk menyelamatkan orang-orang pilihan saja dan memberikan keselamatan yang pasti bagi mereka. Kematian-Nya yang memikul hukuman dosa merupakan kematian yang menggantikan orang-orang berdosa yang telah dipilih.0707.
Ibid., h.53.
Penebusan yang dikerjakan Kristus sama sekali tidak bertujuan untuk menebus semua orang tanpa terkecuali, tapi terbatas hanya bagi umat pilihan-Nya saja. Istilah terbatas di sini tidak boleh dipahami terbatas dalam hal kemampuan Allah untuk menyelamatkan, tapi harus dipahami dalam pengertian terbatas dalam cakupannya. Calvinisme, sebagaimana yang Alkitab nyatakan, sepenuhnya percaya bahwa Kristus mempunyai kuasa dan kemampuan yang tak terbatas untuk menebus dan menyelamatkan semua orang, namun Ia berkehendak untuk hanya memilih menyelamatkan sebagian orang saja yang telah ditentukan sejak dalam kekekalan. Penebusan yang tak terbatas nilainya itu dibatasi hanya untuk orang-orang pilihan-Nya, tidak untuk semua orang.0808.
Edwin H.Palmer, The Five Points of Calvinism. Diterjemahkan oleh Elsye dengan judul: Lima Pokok Calvinisme. Cetakan ke-5. Surabaya:Penerbit Momentum, 2009. h57.
 
Calvinisme memegang teguh doktrin ini justru ingin melindungi dua sifat pokok Allah, yaitu keadilan-Nya serta keutuhan maksud-maksud-Nya. Mengapa demikian? Analoginya demikian. Jika pengorbanan Kristus ditujukan untuk semua orang, maka konsekuensi logisnya adalah semua orang pasti diselamatkan. Jika tidak, maka Allah akan bertindak tidak adil karena menuntut dari orang-orang berdosa apa yang sudah dilunasi. Jika Kristus mati demi orang-orang yang akan masuk neraka, maka sifat keadilan Allah berada dalam bahaya. Bagaimana mungkin Allah yang adil menuntut pembayaran ganda atas utang-utang yang sama?0909.
Erwin W.Lutzer, h.170
Calvinisme melihat adanya kesatuan dari apa yang sudah Kristus kerjakan (mati bagi umat pilihan) dan apa yang sudah Kristus capai (keselamatan bagi umat pilihan). Lalu, bagaimana point of view Calvinisme terkait dengan kehendak bebas dan pilihan manusia di dalam keselamatan? Sebagian orang menolak Calvinisme oleh karena mereka salah memahami dengan jelas dan lengkap isu ini. Mereka menganggap Calvinisme membuat seseorang menjadi seperti boneka atau robot yang harus menuruti semua kehendak dan keinginan Allah. Benarkah demikian? Pertama, kita tidak bisa menganalogikan pengendalian Allah terhadap manusia sama dengan pengendalian Allah terhadap boneka atau robot. Boneka atau robot tidak memiliki perasaan dan kehendak. Ia secara mutlak pasif mengikuti apa saja yang diperbuat oleh kekuatan-kekuatan fisik di luar mereka. Namun sebaliknya, manusia memiliki rasio, perasaan, kehendak untuk menentukan sikap dan keputusan apa yang diinginkannya. Menjadikan manusia seperti boneka atau robot sama saja menghilangkan martabatnya sebagai manusia.
 
Perihal tentang kehendak dan pilihan manusia atas keselamatannya, Calvinisme menegaskan bahwa fakta kejatuhan manusia telah membuat manusia kehilangan kemampuannya untuk memilih Allah. Kecenderungan hati manusia hanya mampu memilih yang jahat dan melawan Allah. Itulah sebabnya, kesanggupan manusia untuk memilih Allah timbul bukan dari manusia itu sendiri, tapi dari Allah. Untuk memilih Allah, manusia harus memiliki keinginan dan keinginan itu hanya berasal dari Allah. Ketika Allah memberikan keinginan itu di dalam hati manusia bukan dalam pengertian Allah memaksanya, tapi Allah bekerja di dalam hati mereka dan memberikan hati yang lunak dan taat, sehingga ia dengan sukarela memilih Allah. Kristus pernah berkata: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37). Semua yang diberikan Bapa akan datang kepada Kristus, dan ia akan diterima. Allah akan bekerja di dalam hati orang itu (orang-orang pilihan) supaya mereka mau datang kepada Kristus. Jadi, Allah sama sekali tidak pernah melanggar kehendak bebas manusia.
 
Mengapa Tidak Memilih Semua Orang?
 
Pertanyaan penting yang kerap muncul adalah jika Allah hanya menyelamatkan sebagian orang, mengapa Dia tidak menyelamatkan sebagian yang lainnya? Banyak orang berfikir, mungkin sebagian orang yang tidak diselamatkan itu terlalu berdosa dan bobrok sehingga mereka tidak mungkin dapat diselamatkan. Benarkah demikian? Jawabannya tentu tidak. Kita tahu bahwa Alkitab dengan jelas memberitahukan tujuan Allah datang ke dunia justru bukan untuk menyelamatkan orang benar, melainkan orang berdosa. Paulus pernah berkata: “aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihaninya, karena semuanya itu telah dilakukan tanpa pengetahuan, yaitu diluar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antaranya akulah yang paling berdosa” (1 Tim. 1:13-15, penekanan penulis). Dengan demikian, jika Allah sanggup menyelamatkan orang yang “paling berdosa” sekalipun, maka tidak ada alasan bagi Allah untuk mengecualikan seorangpun oleh karena kebobrokan mereka.
 
Alasan lain yang sering diutarakan adalah oleh karena hati mereka terlalu keras untuk dimenangkan sehingga Allah tidak menyelamatkan mereka? Jawabannya tidak juga, karena Alkitab juga pernah berkata bahwa Allah akan “menjauhkan tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat” (Yeh. 11:19). Jadi, bagaimana kita menjelaskan sekaligus menjawab pertanyaan tersebut? Untuk menjawabnya, saya akan mengutip perkataan RC Sproul yang berkata: “Satu-satunya jawaban yang dapat saya berikan untuk pertanyaan ini (“Mengapa Allah hanya menyelamatkan sejumlah orang saja?”) adalah bahwa saya tidak tahu. Saya tidak tahu mengapa Allah menyelamatkan sejumlah orang dan tidak menyelamatkan semua orang, tetapi saya tahu bahwa Ia tidak memilih untuk menyelamatkan semua orang. Dan saya tidak tahu mengapa Allah memutuskan demikian. Satu hal yang saya tahu. Jikalau memang Allah hanya berkenan untuk menyelamatkan sejumlah orang dan tidak semuanya, hal ini sama sekali tidak ada salahnya. Allah tidak berkewajiban untuk menyelamatkan semua orang. Jikalau Ia memilih untuk menyelamatkan sejumlah orang saja, ini tidak berarti Allah berkewajiban untuk menyelamatkan yang lain pula. Sekali lagi, Alkitab mempertahankan hak prerogatif Allah untuk menaruh belas kasihan kepada siapa Ia berkenan untuk menaruh belas kasihan-Nya.”1010.
RC. Sproul, Chosen by God. Diterjemahkan oleh Dr. Rahmiati Tanudjaja & Dr. Jenny Wongka dengan judul: Kaum Pilihan Allah. Cetakan ke-5. Malang: Departemen Literatur SAAT, 2003. h.29.
 
Bantahan yang sering dilontarkan oleh sebagian orang yang tidak setuju dan mempertanyakan doktrin penebusan terbatas ini terkait dengan isu keadilan Allah. Mereka bertanya, “Di mana keadilan Allah apabila Ia hanya memilih sebagian orang saja untuk menerima kemurahan-Nya sementara yang lainnya tidak? Sproul kembali menjawab: “Marilah kita berasumsi bahwa semua manusia bersalah karena dosa mereka dihadapan Allah. Berdasarkan kebersalahan manusia ini, maka Allah berdasarkan kedaulatan-Nya memutuskan untuk memberikan kemurahan-Nya kepada sejumlah orang. Apakah yang akan diterima orang yang lain? Mereka menerima keadilan. Orang-orang yang diselamatkan mendapatkan kemurahan Tuhan, dan yang tidak diselamatkan mendapatkan keadilan Tuhan. Jadi sebenarnya tidak ada seorangpun yang mendapat ketidakadilan. Dalam rencana keselamatan, Allah tidak berbuat sesuatu yang buruk. Ia tidak pernah bertindak tidak adil. Sebagian orang mendapatkan keadilan sesuai dengan apa yang layak mereka terima, sementara sebagian orang mendapatkan kemurahan. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa fakta seseorang mendapatkan kemurahan, itu tidak berarti bahwa yang lain harus mendapatkannya pula. Allah mempunyai hak untuk memberikan grasi (pengampunan).”1111.
Ibid., h.30-31.
Seperti ada tertulis: “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.” Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan dan aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Jadi hal ini tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” (Rom. 9:13-16, penekanan penulis). Di sini kita melihat, Calvinisme dengan konsisten memegang teguh dua poin penting, yaitu: kedaulatan Allah (sovereignty of God) dan kemurahan Allah (grace of God), sebagai fondasi utama dalam doktrin penebusan Kristus dan keselamatan manusia.
 
Setelah melihat perbedaan yang cukup signifikan dari kedua pandangan di atas, kita melihat justru banyak orang Kristen lebih memilih dan menyetujui doktrin penebusan universal-Kristus mati untuk semua orang seperti apa yang dianut Arminianisme. Mengapa demikian? Berikut beberapa alasan sebagaimana yang pernah dikemukakan John Owen:1212.
Diambil dari sebuah versi ringkasan dari karya klasik “The Death of Death in the Death of Christ” oleh John Owen dengan judul: Kematian yang Menghidupkan, yang disusun oleh H.J. Appleby. Surabaya: Penerbit Momentum, 2001. h.20.
 
  1. Kelihatannya Allah menjadi lebih “menarik,” jika mereka berkata bahwa kematian Kristus adalah untuk setiap orang.
     
  2. Kelihatannya kasih Allah menjadi “semakin besar,” jika mereka berkata bahwa Ia mengasihi semua manusia secara merata.
     
  3. Kelihatannya kematian Kristus menjadi lebih “berharga,” jika mereka berkata bahwa itu adalah penebusan untuk dosa-dosa setiap orang.
     
  4. Kelihatannya Alkitab menggunakan kata-kata “semua” dan “dunia” yang seolah-olah berarti “setiap orang”.
     
  5. Sebagian orang mungkin saja berkata bahwa kematian Kristus adalah untuk setiap orang, semata-mata supaya mereka dapat termasuk di dalamnya, meskipun mereka tidak berniat untuk merubah cara hidup duniawi mereka.
Kelima alasan di atas menurut penulis tidak dapat diterima, karena Alkitab tidak pernah menyatakan demikian. Seorang theolog dan pengkhotbah besar, Charles Spurgeon, pernah berkomentar terkait ketidaksetujuannya terhadap doktrin pendamaian (penebusan) universal. Ia mengatakan: “Jika memang maksud Kristus adalah menyelamatkan semua orang, betapa kecewanya Ia, karena ada lautan api dan ke dalam tempat kesengsaraan itu sudah dilemparkan sebagian dari orang-orang yang menurut teori penebusan universal telah dibeli dengan darah-Nya. Kita tidak dapat memberitakan Injil kecuali kalau kita mendasarkannya pada penebusan khusus dan istimewa dari orang-orang pilihan-Nya yang dilakukan Kristus pada kayu salib.”1313.
Erwin W.Lutzer, h.171 mengutip dari Michael Scott Horton, “Mission Accomplished” (Nashville: Nelson, 1986), p.173.
George Whitefield bahkan dengan keras menyebut doktrin pendamaian (penebusan) universal sebagaimana diajarkan oleh penganut Arminianisme merupakan penghujatan dan pencelaan terhadap martabat Anak Allah serta khasiat darah-Nya.1414.
Ibid., h.171.
 
Titik Utama Perbedaan Calvinisme dan Arminianisme: Desain Awal Penebusan
 
Setelah kita melihat uraian di atas, hal mendasar yang perlu kita pikirkan adalah apa yang menjadi dasar utama yang membedakan Arminianisme dengan Calvinisme? Di dalam Pengakuan Iman Westminster dikatakan bahwa perbedaan yang sebenarnya antara Pengakuan Iman Reformed dengan Arminian dan lainnya bukan pada efek ultimat dari penebusan, melainkan pada desain awal penebusan itu. Pertanyaan sebenarnya adalah ketika Kristus mati, apakah desain awal penebusan yang dikerjakan Allah Bapa adalah untuk menyelamatkan semua orang atau sebagian orang?1515.
G.I. Williamson, Westminster Confession of Faith. Diterjemahkan oleh Irwan Tjulianto dengan judul: Pengakuan Iman Westminster. Surabaya: Penerbit Momentum, 2006. h.120.
Jawaban dari pertanyaan ini yang akan menentukan apakah Arminianisme memiliki dasar Alkitab ataukah Calvinisme? Maka, hal pertama dan utama yang menjadi titik tolak (standpoint) kita bukan pada manfaat dari apa yang sudah Kristus kerjakan bagi penebusan kita, tetapi lebih kepada apa yang sudah Allah Bapa rencanakan (God’s plan) sejak di dalam kekekalan. “Desain awal” yang dimaksud di sini mengacu kepada rencana pemilihan Allah Bapa di dalam kekekalan atas siapa yang akan diselamatkan dan siapa yang tidak? Setelah itu, barulah Kristus melalui karya kematian-Nya di kayu salib menggenapkan apa yang sudah Allah Bapa rencanakan itu.
 
Pemilihan Allah di dalam Kristus
 
Di dalam memahami konsep penebusan yang dikerjakan Allah di dalam sejarah, penting bagi kita untuk tidak melepaskannya dari sebuah metanarasi (cerita besar) yang sudah ada di dalam pikiran Allah sejak di dalam kekekalan. Metanarasi itu tercermin dari suatu rencana agung yang telah Allah tetapkan, yaitu rencana keselamatan bagi manusia berdosa. Rencana keselamatan itu dimulai dari tindakan yang dikerjakan Allah Bapa di dalam kekekalan dengan memilih sejumlah orang untuk diselamatkan yang nantinya akan digenapi oleh Kristus. Dalam Efesus 1:3-4 dikatakan demikian: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya”.
 
Perhatikan kalimat “di dalam Dia (en auto), Allah telah memilih.” Frasa “di dalam Dia” jelas merujuk kepada Kristus. Frase ini hendak menggambarkan adanya suatu relasi antara pemilihan Allah dengan Kristus. Artinya, pemilihan Allah atas kita tidak boleh dipikirkan terlepas dari Kristus. Tidak akan ada pemilihan Allah Bapa dalam kekekalan di luar Kristus. Dengan kata lain, pemilihan Allah semata-mata didasarkan atas kesatuan dengan Kristus (Union with Christ). Anthony A. Hoekema juga berpendapat yang sama. Ia mengatakan bahwa kata “Dia memilih kita di dalam-Nya” mengimplikasikan pemilihan atas kita (yaitu pemilihan kita oleh Allah untuk diselamatkan) tidak pernah boleh dipikirkan terpisah dari Kristus. Kesatuan antara Kristus dengan umat-Nya telah direncanakan di dalam kekekalan, di dalam keputusan kekal yang berdaulat yang dengannya Allah Bapa memilih kita menjadi milik-Nya.1616.
Anthony Hoekema, Saved by Grace. Diterjemahkan oleh Irwan Tjulianto dengan judul: Diselamatkan oleh Anugerah. Surabaya: Penerbit Momentum, 2001. h.84.
Lebih lanjut, Hoekema mengatakan bahwa ketika Bapa memilih Kristus, Dia juga memilih kita. Dia menetapkan bahwa Kristus akan memiliki satu umat yang akan menjadi milik-Nya dari kekekalan sampai kekekalan. Dengan demikian, mereka yang dipilih untuk diselamatkan tidak pernah dipikirkan oleh Bapa secara terpisah dari Kristus atau terpisah dari karya Kristus yang akan dilakukan bagi mereka. Mereka dipilih di dalam Kristus.1717.
Ibid., h.84
Paulus pernah berkata: “Sebab di dalam Dia (baca: Kristus) dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef. 1:7). Paulus begitu clear mengungkapkan bagaimana karya kematian Kristus di kayu salib melalui darah-Nya yang tercurah membawa kita yang ada di dalam Kristus, yang sudah dipersatukan dengan Kristus, mendapatkan bagian penebusan, yaitu pengampunan dosa menurut kekayaan kasih karunia-Nya. Demikian pula apa yang dikatakan John Murray, “Kita tidak boleh memikirkan karya penebusan yang dikerjakan Kristus satu kali untuk selamanya terlepas dari kesatuan dengan umat-Nya yang diakibatkan oleh pemilihan Bapa sebelum dunia diciptakan. Kita tidak boleh memikirkan penebusan terlepas dari pengaturan misterius kasih dan hikmat dan anugerah Allah, yang melaluinya Kristus, ketika Ia mati di kayu salib dan bangkit pula dari kematian, dipersatukan dengan umat-Nya, dan umat-Nya dipersatukan dengan Dia.”1818.
John Murray, Redemption: Accomplished and Applied. Diterjemahkan oleh Sutjipto Subeno dengan judul: Penggenapan dan Penerapan Penebusan. Surabaya: Penerbit Momentum, 1999. h.205.
Dari pemaparan ini, kita melihat bagaimana rencana keselamatan yang Allah tetapkan mencakup relasi antara pemilihan Allah Bapa, Kristus dan karya-Nya di kayu salib, serta umat pilihan yang kepada mereka manfaat dari karya Kristus itu diterapkan. Maka, kita bisa berkata bahwa manfaat dari kematian Kristus secara spesifik hanya ditujukan terbatas kepada umat pilihan Allah, bukan kepada semua orang.
 
Dengan memahami ini, kita bisa menarik satu kesimpulan, yaitu: pemilihan Allah Bapa tidak dapat dipisahkan dari Kristus. Pemilihan Allah Bapa merupakan dasar dari penebusan yang dikerjakan oleh Kristus. Dengan kata lain, tidak akan ada penebusan Kristus tanpa terlebih dahulu Allah memilih siapa yang akan ditebus. Penebusan yang dikerjakan oleh Kristus merupakan penggenapan (fulfillment) dari pemilihan Allah.
 
Dasar Alkitab Mengenai Doktrin Penebusan Terbatas
 
Berikut ini kita akan menelusuri beberapa ayat di dalam Perjanjian Baru yang secara spesifik berbicara tentang doktrin penebusan terbatas- Kristus tidak mati untuk semua orang.
 
 
Yohanes 17
Pasal ini berbicara mengenai doa Yesus untuk murid-murid-Nya. Menariknya, bagian ini justru muncul di dalam konteks menjelang Yesus ditangkap (pasal 18) dan berpuncak pada peristiwa kematian Yesus (pasal 19). Konteks yang dihadirkan di sini cukup penting untuk menunjukkan relasi yang begitu dekat antara apa yang Yesus doakan dengan apa yang akan Dia kerjakan bagi keselamatan manusia melalui kematian-Nya. Selanjutnya, kita akan melihat beberapa bagian Alkitab yang menjelaskan relasi ini.
 
 
Ayat 2
Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.
 
 
Melalui ayat ini kita, tak dapat dipungkiri bahwa Alkitab dengan jelas menyatakan Ia (Kristus) memberikan hidup yang kekal (keselamatan) kepada semua orang yang telah diberikan Bapa kepada Kristus untuk ditebus, dan tidak kepada mereka yang tidak diberikan Bapa. Di sini terlihat “keterbatasan” dari objek penebusan Kristus.
 
 
Ayat 3
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
 
 
Kata “mereka” pada bagian ini mengacu kepada ayat sebelumnya (ayat 2), yaitu setiap orang yang diberikan Allah Bapa dan memperoleh hidup kekal. Mereka ini adalah orang-orang yang mengenal Allah Bapa dan mengenal Yesus Kristus. Kita tahu bahwa mengenal Allah identik dengan mengasihi Allah, dan mengasihi Allah juga identik dengan menjalankan kehendak Allah. Setiap orang yang menjalankan kehendak Allah, pastilah dia mengenal Allah. Pertanyaannya sekarang, apakah semua orang menjalankan kehendak Allah? apakah semua orang mengenal Allah Bapa dan mengenal Yesus Kristus? Tidak! Di dalam Matius 7:21-23, Yesus pernah mengecam keras orang-orang yang mengaku “mengenal” Dia dengan mengatakan mereka sudah bernubuat, melakukan mujizat, mengusir setan demi nama-Nya, namun ironisnya Yesus berterus terang dan berkata kepada mereka: “Aku sekali-kali tidak pernah mengenal engkau, hai kamu pembuat kejahatan.” Pertanyaannya, bagaimana mungkin Yesus juga mati bagi mereka yang tidak mengenal-Nya? Bukankah di bagian lain Yesus pernah berkata: “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku” (Yoh. 10:14-15). Bagian ini secara eksplisit memperlihatkan bahwa ada orang-orang yang disebut domba-domba Kristus yang mengenal Dia, namun secara implisit juga memperlihatkan ada domba-domba lain yang tidak mengenal Dia. Dari sini dapat ditarik satu kesimpulan bahwa Kristus memberikan nyawa-Nya terbatas hanya bagi domba-domba yang mengenal-Nya, tidak untuk domba-domba lain yang tidak mengenal-Nya.
 
 
Ayat 4
Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Aku melakukannya.
 
 
Di sini kita melihat misi kedatangan Kristus ke dunia sanggat jelas, yaitu untuk menyelesaikan dan menggenapkan seluruh rencana Allah Bapa. Di Yohanes 4:34 dikatakan: Kata Yesus kepada mereka: “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Kristus dengan ketaatan-Nya yang sempurna mengerjakan kehendak Bapa yang mengutus Dia. Apakah rencana dan kehendak Allah Bapa bagi Kristus? Allah Bapa mengutus Kristus untuk menggenapkan rencana keselamatan bagi orang-orang yang telah Dia pilih dan ditetapkan-Nya di dalam kekekalan. Yesus berkata: “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman” (Yoh. 6:38-39). Bagaimana Kristus menggenapkannya? Melalui kematian-Nya. Dia mati untuk memberikan hidup kekal bukan kepada semua orang tanpa terkecuali tapi terbatas hanya kepada semua orang yg diberikan Allah Bapa kepada-Nya, yang telah dipilih-Nya di dalam kekekalan.
 
 
Ayat 6
Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
 
 
Dari ayat ini kita melihat bagaimana Yesus dengan jelas menyatakan bahwa semua orang yang Bapa berikan kepada-Nya adalah milik Bapa, dan mereka adalah orang-orang yang menuruti firman Allah. Penebusan Kristus secara khusus ditujukan bukan untuk semua orang, tetapi hanya untuk semua orang yang menjadi milik Bapa dan semua yang diberikan Allah Bapa kepada Kristus.
 
 
Ayat 7
Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku ini berasal dari pada-Mu.
 
 
Dari ayat ini kita melihat bagaimana penebusan Kristus hanya ditujukan bagi mereka yang diberikan Bapa kepada-Nya dan mereka ini berasal dari Bapa.
 
 
Ayat 8
Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu.
 
 
Dari ayat ini kita melihat bagaimana Yesus menjadi pengantara (pendoa syafaat) bukan bagi dunia, melainkan untuk orang-orang yang bagi merekalah Ia mati oleh karena mereka ini adalah milik Bapa.
 
 
Ayat 12
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka di dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang Engkau telah berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain daripada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah apa yang tertulis dalam kitab suci.
 
 
Pada bagian ini kita melihat sebuah konsep yang dikenal dengan istilah predestinasi ganda (double predestination). Maksudnya, Allah dari permulaan berdasarkan dekritnya yang berdaulat sudah menentukan siapa saja yang akan diselamatkan dan siapa saja yang akan binasa. Bagi mereka yang telah diberikan Bapa kepada Kristus untuk ditebus, tidak ada satupun dari mereka yang akan binasa karena Allah senantiasa memberi jaminan pemeliharaan atas mereka. Mereka tidak mungkin terhilang. Mereka yang akan binasa, adalah mereka yang dari permulaan tidak berbagian dalam pemilihan Allah Bapa untuk ditebus Kristus dan mereka inilah yang ditentukan Allah untuk binasa.
 
 
Matius 7:23
 
 
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
 
 
Dari ayat ini kita melihat bagaimana Kristus dengan jelas berkata bahwa ada orang-orang yang tidak pernah Ia kenal. Mereka ini adalah orang-orang yang secara fenomena begitu mengenal Dia, namun secara esensi tidak. Pada bagian yang lain, bukankah Kristus pernah mengatakan bahwa Ia mengenali umat-Nya? (Yoh. 10:14-17). Maka, di sini terlihat adanya perbedaan yang jelas antara orang-orang yang mengenal Kristus dan yang tidak. Kristus menerima orang-orang yang mengenal-Nya, dan menolak orang-orang yang tidak mengenal-Nya. Dengan demikian, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya Kristus hanya mati bagi orang-orang yang dikenal-Nya. Jika ada sebagian orang yang tidak dikenal-Nya, tidaklah mungkin Kristus juga mati bagi mereka.
 
 
Roma 8:32-34
 
 
Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?
 
 
Dari ayat-ayat ini jelaslah bahwa Allah Bapa menyerahkan Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk mati hanya bagi orang-orang pilihan-Nya, yaitu mereka yang telah ditentukan dari semula, mereka yang dipanggil-Nya, mereka yang dibenarkan-Nya dan mereka yang pada akhirnya dimuliakan-Nya (Rom. 8:30).
 
 
Yohanes 6:37, 39
 
 
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku dan barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Dan inilah kehendak Dia yang mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan Bapa kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
 
 
Dari ayat-ayat ini kita melihat bagaimana Kristus bermaksud untuk menebus hanya bagi mereka yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Kita harus mengerti bahwa semua yang diberikan Bapa kepada Kristus adalah mereka yang telah dipilih Allah di dalam kekekalan. Ketika kita berbicara tentang pilihan Allah, secara logika berarti ada yang dipilih dan ada yang tidak dipilih. Yang dipilih Bapa inilah yang ditebus oleh Kristus. Dan mereka yang ditebus Kristus, tidak ada satupun yang akan terhilang oleh karena Allah memelihara mereka. Jika Kristus mati untuk menebus semua orang, maka semua orang pasti diselamatkan dan tidak akan ada yang terhilang. Bukankah Alkitab berbicara bahwa akan ada yang terhilang dan binasa? Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penebusan Kristus terbatas hanya bagi umat pilihan Allah.
 
Keberatan-keberatan Terhadap Doktrin Penebusan Terbatas
 
Pada bagian ini kita akan melihat keberatan-keberatan yang muncul disekitar doktrin ini, khususnya oleh mereka yang memegang kuat doktrin penebusan universal, dalam hal ini adalah kaum Arminian. Berikut ini adalah beberapa ayat-ayat Alkitab yang sering digunakan oleh kaum Arminian untuk mendukung doktrin penebusan universal dan diikuti dengan tanggapan saya atas nya:
 
 
1 Yohanes 2:1-2
 
 
Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.
 
 
Ayat ini merupakan salah satu ayat yang sering digunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa kematian Kristus ditujukan untuk semua orang. Yang menjadi poin argumen mereka terletak pada penggunaan frasa “seluruh dunia” yang menurut mereka berarti seluruh manusia yang ada di dalam dunia. Terlebih ketika dipertegas lagi dengan munculnya kalimat “bukan untuk dosa kita saja” di mana bagi mereka kalimat ini mengindikasikan bahwa kematian Kristus memang untuk orang-orang yang percaya kepada Kristus, tetapi tidak hanya bagi mereka saja, melainkan untuk semua orang. Bagaimana kita menjawab argumen ini? Pertanyaan penting yang patut kita ajukan adalah apakah kata apakah kata “seluruh dunia” di ayat ini mengacu kepada seluruh manusia di dalam dunia? Di dalam metode penafsiran Alkitab, hal mendasar yang perlu tidak boleh diabaikan adalah konteks pada waktu ayat itu ditulis. Mengenai ayat-ayat ini, pertama-tama yang perlu kita perhatikan adalah Yohanes sebagai penulis surat ini merupakan rasul untuk bangsa Yahudi. Kita mengetahui bangsa Yahudi memiliki kebencian terhadap bangsa non-Yahudi (gentiles), oleh karena mereka menganggap bahwa bangsanya-lah umat pilihan Allah. Bangsa Yahudi begitu yakin bahwa keselamatan hanya diberikan kepada mereka, tapi tidak untuk bangsa-bangsa lain (non Yahudi). Di dalam konteks inilah Yohanes ingin menekankan bahwa keselamatan itu bukan lagi eksklusif hanya milik bangsa Yahudi yang percaya saja, tetapi juga milik bangsa-bangsa lain (non-Yahudi) yang percaya di seluruh dunia. Maka, ayat ini tidak sedang berbicara mengenai Kristus yang mati bagi semua manusia diseluruh dunia, namun berbicara mengenai kematian Kristus bagi semua orang percaya, baik itu Yahudi maupun non-Yahudi.
 
 
2 Petrus 3:9
 
 
Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.
 
 
Untuk menafsirkan ayat ini, pertama-tama kita perlu mengetahui kepada siapakah ayat ini tujukan? Penulis menyebut kata “kamu.” Siapakah yang penulis maksud? Jika kita teliti lebih menyeluruh surat ini, kata “kamu” di sini mengacu kepada mereka yang- memperoleh iman oleh keadilan Allah dan Juruslamat mereka, Yesus Kristus (1 Pet. 1:1); dilimpahi kasih karunia dan damai sejahtera Allah melalui pengenalan akan Dia dan Yesus Kristus (1 Pet. 1:2); dianugerahkan janji-janji yang berharga dan besar (1 Pet. 1:4); disebut “saudara-saudaraku yang kekasih” (1 Pet. 3:1, 8); dibedakan dengan pengejek-pengejek (1 Pet. 3:3). Itulah sebabnya, ayat ini sama sekali tidak berbicara oleh karena Allah berkehendak supaya jangan ada yang binasa, maka Ia berkehendak supaya semua orang bertobat. Pertanyaannya sekarang adalah bukankah pada akhirnya akan ada orang yang tidak bertobat dan pada akhirnya akan binasa?
 
Lalu, apabila Allah memang tidak bermaksud untuk menyelamatkan semua orang, mengapa Allah juga mengatakan bahwa Ia menghendaki agar tidak ada satupun orang yang binasa? Bagaimana kita menyelaraskan kedua pernyataan ini? Untuk menjawabnya, mari kita perhatikan komentar RC. Sproul berikut ini: pertama, kita harus mengenal cara memahami kehendak Allah itu sendiri di dalam Alkitab. Kehendak Allah bisa merupakan suatu penetapan (decree) yang bersifat mutlak dari Allah yang berdaulat. Artinya, semua yang dikehendaki Allah tidak akan ada satupun yang dapat menghalangi atau menggagalkannya. Kehendak Allah itu mutlak dan pasti terlaksana. Kedua, ada kehendak Allah yang menunjuk pada suatu perintah atau hukum Allah. Artinya, ketika Allah memerintahkan sesuatu kepada kita, kehendak Allah bagi kita adalah mentaati perintah-Nya itu. Namun tidak tertutup kemungkinan kita juga mampu untuk tidak mentaati perintah-Nya, dan itu adalah sebuah dosa. Dan yang ketiga, kehendak Allah yang menujuk pada apa yang berkenan kepada-Nya. Contohnya: Allah tidak berkenan pada kematian orang fasik, artinya penghukuman terhadap orang fasik sama sekali tidak menyukakan hati Allah. Dari ketiga cara di atas, manakah yang cocok untuk diterapkan pada ayat di atas? Apabila diterapkan pada cara pertama bahwa kehendak Allah di sini merupakan sebuah decree, maka ayat ini harus ditafsirkan bahwa kehendak Allah yang pasti menyelamatkan semua orang, dan tidak ada satupun yang terhilang. Apabila diterapkan pada cara kedua bahwa kehendak Allah di sini merupakan sebuah perintah, maka ayat ini harus ditafsirkan bahwa kehendak Allah adalah untuk tidak mengijinkan atau melarang semua orang untuk binasa. Kita tidak dapat menerapkan kedua cara ini oleh karena pada kenyataannya tidak semua orang diselamatkan, di mana ada juga yang ditentukan Allah untuk binasa. Namun kita memiliki alternatif ketiga, yaitu kehendak Allah yang menunjuk pada apa yang berkenan kepada-Nya. Bagi Sproul, ayat ini lebih tepat diterapkan pada cara ketiga ini di mana Allah sama sekali tidak merasa senang atas kebinasaan seseorang. Allah menginginkan mereka berbalik dan kembali kapada-Nya.1919.
RC.Sproul., h.190
Dengan demikian, ayat ini sesungguhnya ingin berbicara bahwa kehendak Allah bahwa orang-orang pilihan Allah, tidak ada satupun dari mereka yang akan binasa.
 
 
1 Timotius 2:3-4
 
 
Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruslamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
 
 
Jika kita menafsirkan kata “menghendaki” ini dengan kata “memutuskan” atau “menetapkan,” maka konsekuensinya adalah jika kehendak Allah tercapai maka semua orang pasti diselamatkan. Bukankah pada akhirnya kita melihat tidak semua orang diselamatkan? Namun apabila kehendak Allah ternyata tidak tercapai, maka rencana-Nya menjadi sebuah kegagalan, dan kita tidak layak menyebut-Nya sebagai Allah. Kata “menghendaki” di sini lebih tepat dipahami sebagai bentuk keinginan Allah supaya semua orang diselamatkan, artinya Allah akan bersukacita jika semua orang diselamatkan. Jadi, siapakah yang dimaksud “semua orang” pada ayat ini? Kata ini lebih tepat ditafsirkan dengan sebagian manusia dari setiap suku bangsa yang sebenarnya telah ditebus oleh Kristus, bukan hanya orang Yahudi saja.
 
 
2 Korintus 5:14-15
 
 
Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.
 
 
Jika kita perhatikan lebih dalam, ayat ini berbicara bahwa Kristus sudah mati bagi mereka yang sudah mati dan sekarang mereka hidup untuk Dia. Kata “mereka yang sudah mati” di sini bukan dipahami kematian dalam dosa yang dialami semua orang-kematian rohani, tetapi ingin menunjukkan bahwa mereka yang untuknya Kristus mati telah mati terhadap dosa, dan sekarang mereka hidup bagi Kristus. Dan mereka yang telah mati terhadap dosa hanyalah semua orang percaya. Jadi, ayat ini sama sekali tidak berbicara mengenai penebusan universal, tetapi berbicara bagaimana orang-orang yang sudah ditebus akan hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Kristus yang sudah mati bagi mereka.
 
Hubungan doktrin penebusan terbatas dengan penginjilan
 
Sebagian orang mungkin bertanya, jika Kristus hanya mati untuk sebagian orang yang sudah ditetapkan dan dipilih oleh Allah Bapa, apakah penginjilan masih tetap diperlukan? Jawabannya: Ya! Mengapa demikian? Perihal mendasar mengapa kita harus menginjili adalah karena itu adalah kewajiban kita. Namun bukan hanya kewajiban, melainkan sebuah hak istimewa (privilege) bagi kita yang sudah menikmati anugerah keselamatan dari Allah di mana Dia mau mengizinkan kita untuk berbagian di dalam rencana penebusan-Nya yang agung bagi manusia berdosa di dalam sejarah. Paulus berkata di dalam Roma 10:13-15: “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” John Owen pernah mengutarakan ada 4 alasan mengapa kita perlu menginjili semua orang, yaitu:2020.
John Owen., h.96
 
  1. Terdapat sejumlah orang yang akan diselamatkan dari setiap bangsa. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa pengabaran Injil kepada seluruh bangsa.
     
  2. Karena sekarang tidak ada lagi perlakuan khusus untuk bangsa Yahudi, maka Injil harus diberitakan kepada semua bangsa tanpa pembedaan.
     
  3. Panggilan kepada manusia untuk percaya, pertama-tama bukanlah untuk percaya bahwa Kristus telah mati secara khusus untuk mereka, tetapi panggilan untuk percaya bahwa diluar Kristus tidak ada yang dapat membawa keselamatan.
     
  4. Para pendeta tidak pernah dapat mengetahui siapa diantara jemaatnya yang adalah orang-orang pilihan Allah. Karena itu, mereka harus memanggil semuanya untuk percaya, dan meyakinkan bahwa semua yang percaya akan diselamatkan karena kematian Kristus cukup untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya.
 
Dengan demikian, pengertian kita atas doktrin penebusan terbatas bukanlah suatu justifikasi bahwa kita tidak perlu menginjili, tetapi pengertian ini justru akan mendorong kita untuk lebih giat lagi untuk memberitakan Injil kepada semua orang, oleh karena kita tidak pernah mengetahui apakah seseorang itu adalah orang pilihan Allah atau bukan. Bagian kita bukan untuk membuat seseorang itu bertobat, karena itu adalah murni pekerjaan Allah Roh Kudus. Bagian kita hanya memberitakan berita Injil tentang kematian dan kebangkitan Kristus kepada mereka terlepas mereka mau menerimanya atau tidak. Inilah panggilan kita. Paulus pernah berkata, “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil!” Biarlah perkataan Paulus ini juga menjadi perkataan kita yang mengasihi Allah.
 
Kesimpulan dan Penutup
 
Dari seluruh uraian di atas, kita dapat menyimpulkan satu hal yang penting, yaitu Alkitab tidak pernah memberikan ruang bagi kita untuk memegang doktrin penebusan universal sebagai kebenaran. Kematian Kristus tidak pernah ditujukan bagi semua orang tanpa terkecuali tetapi hanya ditujukan bagi sebagian orang yang telah Allah Bapa pilih di dalam kekekalan dan yang akan digenapkan oleh Kristus di dalam sejarah melalui kematian-Nya. Dengan demikian, saya berpandangan bahwa doktrin penebusan terbatas adalah doktrin yang Alkitabiah yang perlu kita pegang dengan teguh.
 
Setelah kita mempelajari doktrin ini, lalu bagaimana nilai (value) dari doktrin ini mampu mempengaruhi hidup kita?
 
  1. Doktrin penebusan terbatas membawa kita pada rasa kagum akan kebesaran dari rencana keselamatan yang telah Allah tetapkan bagi kita orang berdosa. Rencana keselamatan itu bukan suatu hal yang ditambahkan, tetapi sudah ada di dalam pikiran Allah sejak dari kekekalan. Rencana itu tidak ada kemungkinan untuk gagal, oleh karena yang merencanakan adalah Allah yang mutlak berdaulat. Dengan pemahaman ini, kita semakin menyadari bahwa hidup kita merupakan sebuah metanarasi dari kekal sampai kekal, di mana Allah menjadi sutradara yang memimpin dan mengarahkan kita untuk hidup di tengah-tengah dunia ini.
     
  2. Doktrin penebusan terbatas membawa kita pada rasa syukur yang mendalam dan tak terhingga atas kasih Allah yang besar dan ajaib itu. Oleh karena anugerah-Nya lah, kita, manusia berdosa yang tidak layak ini, memperoleh keselamatan kekal. Allah memilih kita di antara berjuta-juta manusia di dalam dunia ini untuk menikmati segala berkat sorgawi yang begitu mulia.
     
  3. Doktrin penebusan terbatas menghancurkan semua kesombongan kita dan membawa kita pada kerendahan hati di hadapan Allah. Keselamatan yang kita terima bukan berasal dari diri kita yang berdosa, bukan pula karena jasa perbuatan kita sehingga kita menerimanya, tetapi semata-mata oleh karena anugerah Allah bagi kita menurut kerelaan dan kehendak-Nya. Bahkan apapun yang kita miliki di dalam hidup ini, kita harus menyadari bahwa semuanya itu semata-mata adalah anugerah Allah. Tidak ada tempat bagi kita untuk bermegah dan menyombongkan diri!
     
  4. Doktrin penebusan terbatas mendorong kita untuk mempersembahkan hidup kita seluruhnya kepada Allah yang telah menyelamatkan kita. Inilah yang menjadi panggilan setiap kita. Paulus berkata: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Rm. 12:1). “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku” (Fil. 1:20).
 
Untuk menutup pembahasan ini, saya akan mengutip sebuah syair lagu indah yang ditulis oleh Rodger Strader berjudul Why Have You Chosen Me.
 
 
Why have You chosen me out of millions Your child to be?
You know all the wrong that I’ve done.
O how could You pardon me, forgive my iniquity,
To save me, give Jesus Your Son
But Lord help me be what You want me to be,
Your Word I will strive to obey.
My life I know give, for You I will live.
And walk by Your side all the way.
 
I am amazed to know tha a God so great could love me so,
His willing and wanting to bless.
His grace is so wonderful, His mercy’s so bountiful,
I can’t understand it, I confess.
O Lord help me be what You want me to be,
Your Word I will strive to obey.
My life I know give, for You I will live.
And walk by Your side all the way.
 
 
Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Allah, Soli Deo Gloria! Amin
[ Nikson Sinaga ]
 
Notes
 
1
Erwin W. Lutzer, All One Body-Why Don’t We Agree? Penerjemah tidak diketahui dengan judul: Teologi Kontemporer. Cetakan ke-3. Malang:Penerbit Gandum Mas, 2005. h.163
 
2
Ibid., h.164
 
3
Ibid., h.165
 
4
Louis Berkhof, Systematic Theology. Diterjemahkan oleh Yudha Thianto dengan judul: Theologi Sistematika. Cetakan ke- 8. Surabaya:Penerbit Momentum, 2009. h.209.
 
5
Ibid., h.56
 
6
Loraine Boettner, Reformed Faith. Diterjemahkan oleh Hendry Ongkowidjojo dengan judul: Iman Reformed. Surabaya: Penerbit Momentum, 2000. h.9.
 
7
Ibid., h.53.
 
8
Edwin H.Palmer, The Five Points of Calvinism. Diterjemahkan oleh Elsye dengan judul: Lima Pokok Calvinisme.Cetakan ke-5. Surabaya:Penerbit Momentum, 2009. h57.
 
9
Erwin W.Lutzer, h.170
 
10
RC. Sproul, Chosen by God. Diterjemahkan oleh Dr.Rahmiati Tanudjaja & Dr.Jenny Wongka dengan judul: Kaum Pilihan Allah. Cetakan ke-5. Malang: Departemen Literatur SAAT, 2003. h.29.
 
11
Ibid., h.30-31.
 
12
Diambil dari sebuah versi ringkasan dari karya klasik “The Death of Death in the Death of Christ” oleh John Owen dengan judul: Kematian yang Menghidupkan, yang disusun oleh H.J. Appleby. Surabaya: Penerbit Momentum, 2001. h.20.
 
13
Erwin W.Lutzer, h.171 mengutip dari Michael Scott Horton, “Mission Accomplished” (Nashville: Nelson, 1986), p.173.
 
14
Ibid., h.171.
 
15
G.I. Williamson, Westminster Confession of Faith. Diterjemahkan oleh Irwan Tjulianto dengan judul: Pengakuan Iman Westminster. Surabaya: Penerbit Momentum, 2006. h.120.
 
16
Anthony Hoekema, Saved by Grace. Diterjemahkan oleh Irwan Tjulianto dengan judul: Diselamatkan oleh Anugerah. Surabaya: Penerbit Momentum, 2001. h.84.
 
17
Ibid., h.84
 
18
John Murray, Redemption: Accomplished and Applied. Diterjemahkan oleh Sutjipto Subeno dengan judul: Penggenapan dan Penerapan Penebusan. Surabaya: Penerbit Momentum, 1999. h.205.
 
19
RC.Sproul., h.190
 
20
John Owen., h.96