Mengenali Faham Liberalisme
_oOo_
 
Pengertian Faham Liberalisme
 
Kelompok Kristen ortodoks yang berasal dari kalangan injili dan Reformed umumnya memahami istilah “liberal” sebatas dari perspektif penafsiran gerejawi terhadap isi Alkitab dan bentuk praxis dari penafsiran tersebut di dalam kehidupan sosial. Kalangan Kristen ortodoks ini biasa telah membuat garis demarkasi bahwa dirinya bertentangan dengan kelompok Kristen liberal. Biasanya, kalangan Kristen ortodoks ini menunjukkan perbedaannya antara dirinya dengan kalangan Kristen liberal dengan mengidentikkan faham liberal sebatas kategori-kategori sebagai berikut:
 
  1. Membebaskan seseorang di dalam menafsirkan isi Alkitab lepas dari konteksnya dan dari kanonisasi Alkitab karena lebih mengutamakan pengeksplorasian pada aspek-aspek moral yang dituangkan di dalam Alkitab.
     
  2. Menempatkan Alkitab sama atau setara seperti buku-buku lainnya. Berangkat dari perspektif ini, maka penafsiran terhadap isinya mesti diperlakukan sama seperti buku-buku lain melalui berbagai verifikasi dan metode-metode ilmiah yang berlaku.
     
  3. Mengutamakan penggunaan rasio di atas iman (bahkan bisa sampai mengesampingkan iman sama sekali), baik di dalam penafsiran isi dan ajaran Alkitab, maupun di dalam menghasilkan konsep perwujudan kehidupan Kristen dalam berbagai ranah kehidupan di tiap zaman.
     
  4. Percaya akan keselamatan yang bersifat universal.
Hanya empat kategori inilah yang mungkin dipahami oleh banyak kalangan Kristen ortodoks ketika mengartikan faham liberal. Namun sebenarnya, pengertian tentang apa itu liberalisme jauh lebih luas melampaui wilayah teologi dan lingkup kehidupan gerejawi. Faham liberalisme adalah suatu cara pandang, cara berpikir, ide, konsep dan prinsip-prinsip kehidupan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan dan boleh dikatakan, telah menjadi way of life kehidupan masyarakat dunia selama 2 abad terakhir. Kita yang berasal dari kalangan Kristen ortodoks pada umumnya hanya tahu bahwa faham liberal adalah hal yang negatif dan harus ditolak. Dan memang banyak sekali cara pandang yang melandasi faham liberal ini patut kita tolak sebagai umat yang beriman. Meski demikian, ternyata ada juga prinsip-prinsip dari faham liberal yang sebenarnya kita yakini sebagai suatu kebenaran yang sesuai dengan prinsip Alkitab tanpa kita sadari sendiri bahwa prinsip tersebut lahir atau berkembang dari faham liberalisme. Oleh sebab itu, ada baiknya penulis mencoba mengupas dan membongkar prinsip-prinsip dari faham liberal di berbagai aspek kehidupan secara komprehensif sehingga kita yang berasal dari kalangan Kristen ortodoks dapat mengidentifikasi faham ini secara utuh dan benar dan mampu mengenali letak korelasinya dengan Kekristenan, baik dari apa yang mesti kita tolak maupun yang perlu kita dukung sebagai umat Kristen.
 
Mengenali Berbagai Konsep Perwujudan dari Faham Liberalisme
 
Pada umumnya, istilah liberalisme dikenal melalui negara-negara yang berupaya membentuk pemerintah, partai, kebijakan maupun opini yang menjunjung tinggi kebebasan dan menentang segala bentuk otoriterisme. Yang menjadi karakter dari faham liberalisme dari dulu sampai sekarang adalah pada keyakinannya bahwa kebebasan merupakan syarat mutlak yang perlu dimiliki oleh setiap individu bila ingin mencapai suatu sasaran atau cita-cita. Keprihatinan terhadap penindasan hak-hak kebebasan bagi setiap individu telah menginspirasikan perlawanan kaum liberal terhadap penguasa yang absolut sepanjang sejarah, baik terhadap penguasa gereja maupun partai politik. Yang menjadi dalil dari perjuangan prinsip-prinsip liberalisme adalah penegakan nilai-nilai moral, prinsip-prinsip normatif dan martabat manusia. Oleh karena itu, menurut faham liberal, setiap individu harus diperlakukan selayaknya demi kepentingan individu itu sendiri, bukan sebagai alat yang digunakan demi mencapai kepentingan orang lain. Kaum liberal meyakini bahwa tanpa kebebasan, hidup sudah menjadi tidak layak lagi untuk dipertahankan. Oleh karena itulah mengapa kaum liberal selalu berjuang membela setiap orang yang diperlakukan secara tidak adil atau yang dikekang kebebasannya baik oleh pemerintah, lembaga atau tradisi. J. Salwyn Shapiro dalam bukunya “Liberalisme: Its Meaning and History,” mengungkapkan bahwa prinsip-prinsip liberalisme memiliki keterkaitan yang erat dalam perwujudannya sepanjang masa dengan beberapa konsep berikut ini:
 
  1. Liberalisme dan asosiasi (perkumpulan)
    Liberalisme selalu memperjuangkan hak-hak setiap orang untuk bebas berkumpul dan bermusyawarah, baik itu dalam bentuk perkumpulan politik, sosial, ekonomi, agama, budaya dan lainnya. Tanpa adanya kebebasan membentuk sebuah perkumpulan musyawarah, sebuah masyarakat tidak akan berdaya untuk melawan kebijakan otoriter penguasa.
     
  2. Liberalisme dan persamaan hak (equal rights)
    Persamaan adalah salah satu nilai fundamental dari prinsip liberalisme. Tidak ada orang yang boleh berdiri diatas hukum, semua orang sama di mata hukum. Tidak ada warga negara yang diperlakukan secara berbeda atau khusus dalam negara liberal. Negara liberal menolak perlakuan yang diskriminatif bagi setiap warga negaranya, baik dalam memberikan hukuman, pertolongan maupun perlindungan.
     
  3. Liberalisme dan pemerintahan
    Arah berkembangnya prinsip liberalisme selalu berdampak besar terhadap arah perkembangan pemerintah, karena pemerintah adalah lembaga yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam mengatur sebuah komunitas masyarakat. Dalam pandangan kaum liberal, tujuan akhir dari setiap pemerintahan adalah untuk menegakkan kemerdekaan, persamaan hak dan perlindungan bagi setiap warga negaranya. Menurut faham liberal, tidak ada legitimasi bagi pemerintah yang berdiri tanpa adanya kesepakatan dari rakyatnya. Demi melindungi hak-hak individual dan hak-hak kaum minoritas, liberalisme menekankan pada pentingnya pemberian batasan-batasan terhadap kekuasaan yang dimiliki oleh pemerintah. Negara liberal adalah negara yang berdiri dan dibatasi oleh hukum.
     
  4. Liberalisme dan kebebasan intelektual
    Dari seluruh kebebasan yang dihasilkan oleh perjuangan nilai-nilai liberalisme, penerimaan kebebasan yang paling disyukuri adalah kebebasan di dalam mengeluarkan pemikiran dan pendapat. Kaum liberal sangat yakin bahwa segala upaya pengeluaran opini, bahkan pengeluaran opini yang paling salah pun, wajib diberikan kebebasan, karena di dalam perdebatan opini antara yang benar dan salah, akan mendorong masing-masing pihak maupun orang lain untuk mengklarifikasi dan mempertahankan kebenaran fakta dari opininya. Kebenaran suatu pernyataan/opini telah mengalami uji coba yang terbaik apabila berhasil melewati persaingan antar pemikiran di kalangan umum dan kemudian diterima oleh masyarakat umum sebagai pernyataan yang benar.
     
  5. Liberalisme dan rasionalisme
    Penekanan prinsip liberalisme terhadap pentingnya kebebasan intelektual berasal dari pemahaman kaum liberal bahwa manusia pada dasarnya mahluk yang rasional, yang mungkin kadang-kadang bertindak secara irrasional, tapi selalu cenderung untuk bertindak rasional. Pada umumnya, kaum liberal percaya pada eksistensi kebenaran yang obyektif, yang dapat diraih melalui rasio melalui metode-metode penelitian yang ilmiah, eksperimen dan verifikasi. Rasio adalah fondasi utama dari pemikiran liberal. Pencerahan melalui wahyu agama ditolak karena apa yang tidak bisa diuji melalui rasio, tidak akan diterima oleh kaum liberal, walaupun yang mengeluarkan wahyu tersebut adalah pihak penguasa.
     
  6. Liberalisme dan agama
    Karena pada umumnya kalangan liberal dikenal sebagai kelompok rasionalis, maka konsekuensinya, kaum liberal juga cenderung bersikap sekuler terhadap segala pandangan agama. Dalam pandangan kaum liberal, agama merupakan opini-opini yang harus diberikan toleransi oleh negara seperti opini-opini non-agama yang dikeluarkan oleh masyarakat umum. Begitu pula dengan tempat beribadah, yang wajib diperlakukan sama seperti institusi lainnya. Faham liberalisme memberikan toleransi bagi setiap orang untuk menganut maupun tidak menganut suatu agama.
     
  7. Liberalisme dan progress
    Karena pandangannya yang sangat sekuler, faham liberalisme selalu mengadopsi bentuk hidup yang dinamis, yang mendorong terjadinya progress dalam kehidupan manusia. Menurut faham liberal, manusia lahir dalam keadaan ignoran dan tidak jahat. Dan selama kehidupannya, manusia selalu mengalami kondisi sosial yang penuh dengan ketidakadilan dan kekerasan. Demi memperbaiki kondisi tersebut, manusia memerlukan ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membangun kondisi sosial dan lingkungan di masa depan yang menjunjung tinggi perdamaian, kemakmuran dan kebaikan. Pandangan liberal terhadap hakikat manusia dan masyarakat berasal dari ide yang menekankan pada progress atau kemajuan, sebuah ide yang modern dan juga menjadi karakter dari faham liberal. Kaum liberal mengartikan progress sebagai hasil transformasi dari sebuah sistem yang buruk menuju sistem yang lebih baik. Dan hanya dengan upaya manusia sendiri saja, dunia ini dapat dirubah menuju dunia yang lebih baik seperti yang kita inginkan. Oleh karena pemahaman kaum liberal terhadap progress inilah yang telah menjadi motivator bagi mereka untuk selalu mempelopori reformasi di segala bidang demi mewujudkan dunia yang lebih baik secara terus menerus di masa depan.
 
Proses Perwujudan Pemikiran Liberal
 
Proses perwujudan pemikiran liberal, menurut Shapiro, dapat ditarik asal mulanya kemunculannya dari sejak zaman Yunani Kuno, yakni dari pemikiran seorang filsuf bernama Socrates (470-399 SM). Selama masa hidupnya sampai mati, Socrates terus meyakini bahwa manusia harus diberikan kebebasan dalam meraih pengetahuan dan menyatakannya ke publik. Menurut Socrates, kebajikan berasal dari pengetahuan. Pengetahuan lahir dari hasil pengujian kita terhadap suatu keyakinan. Socrates memiliki keyakinan bahwa kehidupan yang dijalankan tanpa pengujian tidak layak untuk dilanjutkan lagi. Dari Socrates, kemudian pemikiran liberal, menurut Saphiro, baru muncul lagi setelah ribuan tahun menghilang, yakni pada zaman Renaissance, yang melahirkan beberapa pemikir liberal modern, seperti Erasmus (1465-1536), Rene Descartes (1596-1650) dan seorang tokoh Puritan bernama John Milton (1608-1674). Erasmus menjadi pelopor dalam meyakinkan bahwa ajaran Kristen yang benar tidak melarang pengembangan ilmu pengetahuan, baik itu ilmu filsafat, ilmu pengetahuan alam atau sejarah, karena menurutnya, segala pengembangan ilmu pengetahuan tidak akan bisa mencabut ke-validan dari ajaran Kristen. Sementara John Milton, menurut Zulfikri Suleman, dicatat sebagai bapak pemikiran liberal karena gagasannya tentang penolakkan terhadap segala bentuk upaya sensor terhadap pengeluaran opini ke publik oleh pihak penguasa. John Milton adalah seorang penerbit sekaligus penyair liberal dari kaum Puritan yang membela pemerintahan Oliver Cromwell terhadap penggulingan kekuasaan raja Charles I. Kebebasan pers yang menjadi salah satu prinsip utama demokrasi sampai sekarang berakar dari pemikiran John Milton. Namun dibandingkan kedua tokoh tersebut, Descartes-lah yang paling menonjol dalam membangun pemikiran liberal ke depan, karena dialah Bapak dari gerakan Rasionalisme. Sebagai gerakan sosial, perwujudan pemikiran liberalisme modern lahir pada zaman Renaissance, kemudian berkembang pada masa Reformasi Protestan dan mengalami puncaknya pada masa Revolusi Ilmu Pengetahuan.
 
Sekulerisme merupakan semangat yang muncul pertama kali pada zaman Renaissance. Kemudian pada masa Reformasi Protestan, salah satu fondasi pemikiran liberalisme, yaitu individualisme, mendapatkan angin melalui upaya kaum Protestan yang menyatakan bahwa upaya penilaian dan interpretasi terhadap Firman Allah yang ditulis dalam Alkitab merupakan hak individual setiap orang Kristen, bukan hak gereja semata. Protestanisme turut bersumbangsih dalam memperjuangkan hak individualisme dalam beribadah. Puncak dari perwujudan pemikiran liberal terjadi pada masa Revolusi Ilmu Pengetahuan, yakni pada abad ke-16 dan abad ke-17. Pada masa ini, pemikiran liberal menemukan jalan mulus bagi perkembangannya ke depan maupun penyebarannya ke seluruh dunia seperti mesin produksi yang berjalan dengan sempurna.
 
Sebagai sistem pemikiran, liberalisme dapat dikatakan telah mewujudkan dirinya secara lebih jelas pada Abad Pencerahan, yakni sekitar abad ke-18, di mana revolusi ilmu pengetahuan terjadi dan tersebar di hampir seluruh daratan barat dunia. Perkembangan sistem pemikiran liberal dipelopori oleh para filsuf yang berasal dari Perancis, sebuah negara yang menjadi pusat dari Abad Pencerahan. Para filsuf Perancis abad ke-18 ini mempelopori penanggalan seluruh nilai-nilai, lembaga dan tradisi lama milik Pra-Reformasi yang kemudian mendorong terjadinya Revolusi Perancis tahun 1789. Para pemikir Perancis ini berhasil mengembangkan sebuah pola hidup dan pola pemikiran yang baru melalui karya-karya literaturnya. Pola hidup dan pola pemikiran ini kemudian dipakai sebagai model oleh para pemikir liberal di seluruh dunia dalam pengembangan faham liberal di kemudian hari. Hampir semua aspek kehidupan manusia terkena dampak pengaruh dari pola pemikiran liberal yang dikembangkan pada Abad Pencerahan. Pemikiran-pemikiran utama dari faham liberalisme yang lahir dari cara pandang para pemikir Abad Pencerahan antara lain ialah:
 
  1. Peran hukum alam dalam kehidupan manusia
    Hukum alam dinilai berperan sebagai model untuk membentuk sebuah sistem pemerintahan dan masyarakat yang baru, bahkan pembentukan nilai-nilai moral dan rohani. Semakin besar peranan hukum alam dalam menjalankan sebuah sistem, semakin sempurna sistem itu berjalan. Prinsip-prinsip keadilan, kebajikan dan kebaikan bersumber pada hukum alam. Oleh karena itu menurut faham liberal, legitimasi dari sistem pemerintahan yang berjalan bergantung pada apakah sistem tersebut dilaksanakan sesuai dengan hukum alam atau tidak. Segala sistem yang berjalan tanpa mengaplikasikan hukum alam dianggap sebagai sistem yang artifisial, tidak murni.
     
  2. Mengutamakan penggunaan akal sehat atau rasio oleh manusia
    Liberalisme yang dibentuk oleh cara pandang para pemikir Abad Pencerahan menjadikan akal sehat atau rasio sebagai satu-satunya alat yang mampu membimbing manusia dalam upayanya mencari penemuan baru, bukan iman kepada Tuhan. Hanya melalui penggunaan rasio sajalah, manusia mampu untuk mencari solusi dari segala masalah yang dihadapinya secara komprehensif. Kaum liberal sangat yakin dengan asumsi bahwa bila manusia diberi kesempatan sepenuhnya untuk menggunakan rasio dalam mengekspresikan pemikirannya, maka manusia akan mampu menciptakan sebuah sistem kehidupan baru yang dapat membahagiakan seluruh umat manusia.
     
  3. Percaya bahwa sifat manusia pada dasarnya adalah baik
    Liberalisme yang dibentuk oleh cara pandang para pemikir Abad Pencerahan juga meyakini bahwa sifat dasar manusia cenderung baik, kecuali bila manusia tersebut dikotori oleh lingkungan yang diskriminatif dan ignoran. Keyakinan ini bertentangan dengan doktrin Kristen Protestan tentang original sin (dosa asal), yang mengatakan bahwa sifat manusia pada dasarnya adalah jahat akibat dosa manusia pertama, Adam. Teori bahwa manusia pada dasarnya adalah baik dikembangkan oleh Jean-Jacques Rosseau (1712-1778), yang mengatakan bahwa pada kondisi alamiah (state of nature), manusia masih memiliki sifat-sifat yang baik, yang kemudian berubah menjadi jahat akibat masuknya nilai-nilai peradaban dari luar. Kondisi sosial saat ini merupakan kehidupan yang ignoran dan penuh dengan kekerasan, hasil dari kejahatan peradaban masa lalu. Oleh karena itu, tugas manusia saat ini adalah menciptakan kondisi sosial yang alamiah, yang mampu memunculkan kembali sifat-sifat baik dari manusia.
     
  4. Meyakini progress atau pergerakan manusia menuju kemajuan
    Kepercayaan dan semangat manusia untuk mengalami suatu perubahan terinspirasi oleh ide-ide para pemikir Abad Pencerahan tentang progress, suatu ide bahwa manusia akan selalu bergerak menuju kemajuan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri. Bagi para filsuf Abad Pencerahan, ide ini menjadi pendorong bagi setiap manusia saat itu untuk selalu berupaya menciptakan masa depan yang bahagia buat dirinya. Kaum liberal percaya pada asumsi bahwa progress merupakan gerakan sejarah yang tidak dapat dihentikan atau dihindari oleh siapapun, linear dan otonom menuju kesempurnaan masa depan manusia. Musuh dari ide-ide progresif adalah fanatisme, dogma dan hilangnya akal sehat.
     
  5. Sekulerisme
    Prinsip ekstrim dari sekulerisme yang dihasilkan pada Abad Pencerahan berujung pada penolakan segala bentuk penemuan yang berasal dari wahyu agama yang dianggap sebagai takhyul dan primitif. “Derasnya arus sungai untuk meragukan segala sesuatu” yang terus mengalir sepanjang Abad ke-18, telah melonggarkan fondasi dari tradisi agama. Menurut ajaran sekuler, sasaran hidup manusia adalah untuk meraih kebahagian setinggi-tingginya di dunia ini melalui tumpukan pemikiran manusia dan metode penelitian ilmiah. Hampir seluruh pemikir Abad Pencerahan meyakini ajaran Deisme atau agama alamiah, yang percaya bahwa Tuhan menciptakan dunia ini untuk kemudian menyerahkan pengelolaan dunia ini sepenuhnya ke tangan manusia tanpa intervensi dari Tuhan. Kaum Deisme tidak mempercayai dogma-dogma agama. Sekulerisme dalam bidang moral dikembangkan oleh Immanuel Kant (1724-1804). Kant meyakini bahwa ide tentang apa yang benar dan apa yang tidak benar dimiliki oleh setiap manusia di dalam kesadarannya. Oleh karena itu, guna menuju kepada ide-ide progress, manusia tidak memerlukan lagi ajaran-ajaran yang bersifat superfisial, seperti yang diajarkan oleh agama, untuk membimbingnya dalam mengambil tindakan yang benar dan menolak tindakan yang jahat. Pesan-pesan dan nilai-nilai moral yang dihasilkan oleh ajaran agama itulah yang perlu dipetik oleh manusia guna menunjang ide-ide progress menuju kesempurnaan masa depan hidup manusia.
     
  6. Menjunjung tinggi toleransi
    Pelopor dalam mengajarkan nilai-nilai toleransi adalah John Locke (1632-1704). Locke menjelaskan bahwa kekuasaan pemerintahan sipil tidak ada hubungannya dengan dunia akhirat dan kekuasaan tersebut ditegakkan hanya untuk kepentingan-kepentingan kehidupan manusia di dunia ini. Konsekuensinya, tempat beribadah bagi Locke, harus dianggap sebagai “sebuah tempat berkumpulnya masyarakat yang bersukarela ingin mendedikasikan hidupnya untuk menyembah Tuhan.” Seorang filsuf utama Abad Pencerahan bernama Voltaire (1694-1778) menegaskan perlunya pemberian kebebasan bagi orang untuk beragama apa saja, bahkan untuk menjadi ateis sekali pun, karena hal ini dapat memperkuat pembentukan akal sehat bagi manusia sekaligus melenyapkan fanatisme dan penyiksaan manusia atas nama agama.
     
  7. Kebebasan dalam pengembangan intelektual manusia
    Kaum liberal mempercayai bahwa dengan diberikannya kebebasan kepada setiap orang untuk mengeluarkan hasil pemikirannya ke publik melalui media apapun, maka segala permasalahan dalam dunia ini akan dapat diselesaikan secara damai dan menguntungkan semua pihak. Liberalisme sangat menentang segala bentuk upaya sensor terhadap pengeluaran opini ke publik.
     
  8. Pengembangan pendidikan.
    Tidak dapat dipungkiri bahwa orang yang ingin membentuk pemikiran yang liberal, akan otomatis tertarik dalam pengembangan pendidikan. Konsep liberal dalam melihat perlunya pengembangan pendidikan kepada manusia demi menuju kemajuan dapat digambarkan melalui teori “Tabula Rasa” dari John Locke. Dia menganggap bahwa ketika lahir, otak manusia diibaratkan bagai kertas kosong yang belum berisi tulisan atau coretan apapun. Pengetahuan, yang berasal dari kesan-kesan dan sensasi yang diterima dari lingkungan, mengisi otak manusia yang masih seperti kertas kosong tersebut. Oleh karena itu, institusi sekolah memiliki peran penting dalam membentuk otak manusia menuju progress dan negara tidak boleh mengabaikan peranan sekolah dan tidak boleh membiarkan rakyatnya menjadi bodoh.
     
  9. Ekonomi
    Pelopor dari ekonomi liberal adalah para fisiokrat dari Perancis, khususnya yang bernama Franqois Quesnay (1694-1774), yang percaya bahwa hanya hukum alam-lah yang mampu mengatur proses produksi dan pendistribusian kekayaan secara sempurna. Mereka memandang bahwa hukum ekonomi-lah satu-satunya hukum alam yang paling murni dalam mengkaji nteraksi antar manusia, sementara hukum alam lainnya hanya bersifat artifisial karena jangkauannya pada aspek kehidupan manusia masih sangat terbatas. Para ekonom liberal yakin bahwa bila kita patuh mengikuti hukum ekonomi secara alamiah, maka kita akan menjadi kaya. Namun bila kita tidak patuh, maka kita akan jatuh miskin. Pemberian kebebasan yang seluas-luasnya terhadap jalannya transaksi ekonomi seperti penjualan-pembelian, produksi-konsumsi, merupakan syarat mutlak bagi jalannya ekonomi liberal. Pemerintah tidak boleh ikut campur mengatur transaksi ekonomi di pasar, biarkan hukum ekonomi berjalan secara alamiah. Prinsip kebebasan pasar ini disebut Laissez-Faire, yang dicetuskan oleh para fisiokrat Perancis tersebut.
     
  10. Pemerintahan
    Sebelum masa Abad Pencerahan, pemerintahan di hampir seluruh benua Eropa Barat masih berbentuk monarki absolut. Bentuk pemerintahan ini dianggap menghambat progress manusia, sebuah kondisi yang ironis untuk pengembangan ide-ide liberal. Oleh karena itu, kaum liberal memandang perlu dilakukan penggantian sistem pemerintahan lama ini dengan sistem pemerintahan baru yang dapat menunjang perkembangan ide-ide progress yang dianut oleh faham liberal. Konsep-konsep politik dan asal usul pemerintahan mulai diteliti oleh para filsuf politik liberal, yang terinspirasi oleh pemikiran John Locke. Locke dalam karyanya Of Civil Government (1690) mengatakan bahwa negara terbentuk karena adanya “kontrak sosial” antara para individu yang hidup dengan bebas dalam kondisi alamiah (state of nature). Tujuan dari dibuatnya kontrak adalah untuk memilih pihak otoritas yang mampu menyelesaikan segala kebingungan, ketidakpastian dan ketidaknyamanan yang mereka alami saat berada dalam kondisi alamiah. Akhirnya, pihak otoritas, yang menjelma dalam bentuk negara, telah didirikan atas dasar kesepakatan masyarakat banyak. Kontrak sosial ini tidak dapat mencabut hak kehidupan, kebebasan dan hak milik yang dimiliki oleh manusia. Dan bila kontrak sosial ini dilanggar oleh pemerintah, maka rakyat dibenarkan untuk mengganti pemerintahan tersebut melalui revolusi. Konsep Locke ini kemudian disempurnakan oleh seorang filsuf Perancis bernama Montesquieu (1689-1775), bahwa pemisahan pemerintahan antara pihak eksekutif, legislatif dan yudikatif, merupakan syarat mutlak bagi terselenggaranya pemerintahan liberal, yang sangat menekankan pada proses keseimbangan kekuasaan di dalam sebuah pemerintahan.
 
Keberanian dan kejujuran demi menegakkan kebenaran dan keyakinan individu merupakan karakteristik utama dari para pemikir Abad Pencerahan. Dan karena karakteristik inilah, faham liberalisme dapat diterima oleh masyarakat dunia Barat dan berkembang di sana sampai saat ini.
 
Mengapa Faham Liberalisme Bisa Bertahan Lama?
 
Liberalisme merupakan satu-satunya faham yang paling lama bertahan sampai saat ini semenjak munculnya Reformasi Protestan. Beberapa hal yang membuat faham ini mampu bertahan langgeng selama beberapa abad disebabkan oleh alasan sebagai berikut:
 
  1. Liberalisme merupakan faham yang paling fleksibel di dalam menghadapi tuntutan zaman, khususnya dengan banyaknya perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial budaya dan politik. Fleksibilitas dari aliran liberalisme telah terbukti dari berevolusinya wujud liberalisme itu sendiri dari wujud klasik liberal, menuju demokrasi liberal, lalu berevolusi lagi ke model liberal sosial. Fleksibilitas dari wujud faham ini menunjukkan bahwa liberalisme benar-benar membuktikan kekonsistenannya terhadap prinsip progress yang dianutnya. Ia tidak kaku seperti faham-faham lainnya dan inilah yang membuat faham liberalisme mampu bertahan untuk waktu yang cukup lama.
     
  2. Lahirnya beberapa faham dan budaya baru seperti sosialisme, komunisme, kontra-kebudayaan, gerakan hak asasi manusia, post-modernisme serta munculnya aliran-aliran agama baru merupakan akibat dari adanya pertentangan sosial yang ditimbulkan oleh ketidaksempurnaan liberalisme dalam menghadapi tuntutan zaman dari masa ke masa, yang akhirnya memaksa faham liberal melakukan modifikasi terhadap dirinya dan secara tidak langsung telah menciptakan budaya liberal lainnya dalam wujud yang baru.
     
  3. Liberalisme identik dengan budaya barat dan faham ini cenderung lebih mudah beradaptasi di lingkungan masyarakat barat. Hal ini bisa terlihat dari sulitnya demokrasi diwujudkan di banyak negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Kalaupun demokrasi itu berhasil diwujudkan, itu pun hanya bersifat semu atau hanya untuk waktu sementara saja sebelum dikikis oleh kediktatoran yang baru. Semangat liberalisme sangat dijiwai oleh masyarakat Barat dibandingkan masyarakat non-Barat.
 
Respon Kristen di Tengah Dominasi Faham Liberal
 
Sebagai orang Kristen, kita harus mengakui bahwa banyak dimensi positif dari faham liberal yang menunjang perkembangan di berbagai aspek kehidupan dunia ke arah yang lebih baik, terutama di bidang politik, pemerintahan, hukum, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Fleksibelitas dari faham liberal di dalam menghadapi tuntutan zaman dari masa ke masa merupakan salah satu hal yang menunjang faham ini untuk bersedia mengkoreksi dirinya sendiri, baik itu ke arah yang lebih positif maupun ke arah yang lebih buruk menurut perspektif keyakinan Kristen. Dari tulisan ini, penulis mengharapkan agar orang-orang Kristen ortodoks semakin lebih memahami bahwa pengertian tentang faham liberal jauh melampaui sekadar dimensi teologis maupun kehidupan gerejawi, dan mampu melihat dimensi-dimensi positif yang dihasilkan berkat faham ini dan dimana letak korelasinya dengan prinsip-prinsip Alkitab, terutama di dalam pengeksplorasian dan penghargaannya terhadap struktur individu manusia sebagai mahluk ciptaan yang memiliki harkat dan martabat.
 
Di lain sisi, penulis berharap melalui tulisan ini, pembaca juga dapat lebih mampu mengidentifikasi secara komprehensif cara pandang dari faham liberal yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan karena lahir dari komitmen iman yang bersifat sekuler, dan oleh sebab itu, wajib kita tolak. Beberapa cara pandang utama dari faham liberalisme yang muncul berkat pemikiran-pemikiran sekular yang dikembangkan oleh beberapa filsuf Abad Pencerahan dapat dirangkum ke dalam 7 poin berikut ini:
 
  1. Segala aktivitas hidup dilakukan dengan berpusat kepada diri manusia, bukan Tuhan.
     
  2. Manusia adalah mahluk otonom yang bebas dari segala norma, tradisi dan adat-istiadat.
     
  3. Percaya bahwa natur manusia pada dasarnya adalah baik.
     
  4. Menolak hasil pemikiran transenden yang lahir dari nilai-nilai spiritual-keagamaan.
     
  5. Percaya pada universalitas keberlakuan dari “hukum alam (natural law)”.
     
  6. Rasio manusia adalah satu-satunya tolak ukur di dalam menyelesaikan tiap permasalahan.
     
  7. Optimis bahwa manusia sedang menuju pada kemajuan di dalam sejarah dan arah kehidupan dunia yang lebih baik.
 
Saat ini, tujuh poin yang telah mendominasi kehidupan masyarakat dunia Barat sejak Abad Pencerahan tahun 1700-an, mulai ditolak kebenarannya oleh para pemikir post-modern yang menganggap bahwa cara pandang masyarakat modern yang liberal ini menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan masyarakat dunia; kehidupan individu menjadi mekanis dan kaku (seperti putaran roda mesin), kering karena menolak segala hal yang bersifat supranatural. Manusia modern menjadi tamak dan egois karena digiring oleh cara pandang hidup yang hedonistis dan materialistis yang mengakibatkan dirinya bersikap eksploitatif terhadap sesamanya maupun terhadap alam. Di tengah masa peralihan ini, mampukah gereja dan umat Kristen memanfaatkan dimensi-dimensi kehidupan dunia yang masih didominasi oleh pemikiran liberal ini guna mengembalikan semangat Reformasi di dalam merestorasi tiap-tiap aspek kehidupan kembali sesuai hukum dan struktur ciptaan yang telah ditetapkan oleh Firman Tuhan?
 
Selamat Paskah 2011, selamat berjuang dan Soli Deo Gloria.
[ Randy L Pea ]
 
Daftar Pustaka
 
Shapiro, J. Salwyn. 1958. “Liberalisme: Its Meaning and History,” Van Nostrand, Princeton, New Jersey.
 
Magnis-Suseno, Franz. 2001. “Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern,” PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
 
Noer, Deliar. 2001. “Pemikiran Politik di Negeri Barat,” Mizan Pustaka: Kronik Indonesia Baru, Bandung.
 
Suleman, Zulfikri. 2010. “Demokrasi untuk Indonesia: Pemikiran Politik Bung Hatta,” Penerbit Buku Kompas, Jakarta.