Hidup Dalam Tujuan Dan Kehendak Allah
_oOo_
 
Fokus pada tujuan hidup merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh setiap orang di dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Di dalam tujuan hidup itulah terkandung suatu pedoman hidup manusia untuk menjalani sekaligus menentukan arah hidupnya. Manusia yang tidak mengetahui atau bahkan tidak memiliki tujuan hidup pastinya akan mengalami satu kehidupan yang tak jelas dan tak menentu. Hidup mereka seperti sebuah perjalanan yang penuh “zig-zag” yang pada suatu waktu mungkin akan menuju ketersesatan ke dalam kehidupan yang tak dikenalnya. Itulah sebabnya, sebagai orang Kristen, kita perlu menggumulkan dengan serius apakah yang menjadi tujuan hidup kita. Kebanyakan orang ketika ditanya mengenai tujuan hidupnya hanya menjawab hidup sejahtera sampai hari tua, memiliki banyak keturunan yang diharapkan akan menjadi penerus nama keluarga, dan tujuan hidup lainnya yang cenderung antroposentris. Namun pertanyaannya sekarang adalah apakah semuanya itu sesungguhnya menjadi tujuan ultimat manusia di dalam menjalani kehidupan ini?
 
Sebagai seorang yang menyebut diri Kristen, pengikut Kristus, tentunya kita harus menunjukkan bahwa kita memiliki tujuan hidup yang berbeda dari kebanyakan orang yang tidak mengenal Kristus. Tujuan hidup orang Kristen seharusnya bernilai lebih tinggi daripada mereka yang non Kristen. Katekismus Westminster pada bab pertamanya memberikan sebuah pertanyaan penting mengenai hal ini, yaitu apakah tujuan akhir hidup manusia? Tujuan hidup manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya. Itulah yang seharusnya menjadi tujuan ultimat hidup kita sebagai orang Kristen. Bagaimana kita memuliakan Allah dapat termanifestasi dengan jelas melalui hidup yang diserahkan kepada Allah. Dengan kerelaan hati kita menjadi pelayan-Nya untuk mengerjakan dengan setia pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Kita juga dipanggil menjadi duta-duta Allah untuk membawa jiwa-jiwa terhilang kembali kepada-Nya. Untuk mencapai tujuan hidup yang mulia itu tentu bukanlah suatu perkara yang mudah, semudah kita membalikkan telapak tangan. Di dalamnya memerlukan satu pengorbanan yang besar. Seringkali kita merasa tidak mampu untuk menjalankan tujuan hidup kita seturut dengan apa yang Allah kehendaki, karena kita hanya terfokus pada tujuan hidup kita sendiri yang terkadang egoistis dan tidak sejalan dengan kehendak Allah.
 
Seringkali kita berpikir, sungguh terlalu sulit bagi kita jika harus mengikuti kehendak Allah secara penuh dalam hidup kita. Mengapa demikian? Karena kita adalah ciptaan Tuhan yang sudah jatuh ke dalam dosa, sehingga efek dari itu semua, hidup dengan sungguh-sungguh mengikuti kehendak Allah merupakan suatu pergumulan hidup yang tak habis-habisnya. Kita tidak mungkin melakukan itu semua bersandarkan kemampuan diri sendiri. Kita tetap memerlukan anugerah Tuhan yang terus memampukan kita menjalaninya. Namun demikian, kita juga jangan pernah berpikir bahwa hidup seturut kehendak Allah adalah menjalani hidup dengan sempurna tanpa dosa dan cacat cela. Atau kita juga jangan pernah berfikir bahwa kita tidak akan pernah lagi jatuh ke dalam dosa. Kebanyakan orang Kristen, termasuk saya sendiri, pernah berfikir demikian. Kita salah memahami apakah arti hidup yang seturut tujuan dan kehendak Tuhan. Oleh karena pengertian yang salah itulah, maka ketika orang Kristen ditanya apa tujuan hidupnya mereka akan menjawab: bersenang-senang di waktu muda dan bertobat di waktu tua setelah menikmati semua hal yang bisa dinikmatinya di waktu muda.
 
Sebagai orang Kristen, saya juga pernah berfikir bahwa akan ada waktu yang tepat bagi saya untuk hidup seturut dengan tujuan dan kehendak Allah, dan itu tergantung dengan kesiapan diri saya. Setelah sekian lama hidup dalam pengertian seperti ini, saya baru sadar bahwa pengertian seperti ini adalah suatu kesalahan besar. Pengajaran doktrin Reformed yang saya terima menjadi titik balik yang mengarahkan saya kepada suatu pengertian baru tentang hidup dalam tujuan dan kehedak Allah. Hidup dalam tujuan dan kehendak Allah berarti hidup yang berfokus pada menjalankan hukum dan perintah Allah di tengah-tengah dunia ini. Ketika kita hidup di dalam tujuan dan kehendak Allah, tentunya kita juga akan mengalami dan melewati proses jatuh bangun untuk bisa tetap bertahan di dalamnya. Inilah yang disebut dengan proses pengudusan secara progresif (progressive sanctification), yaitu suatu proses pembaharuan hidup yang terus menerus berlangsung selama kita hidup di dalam dunia ini sampai pada satu titik kesempurnaan kita menjadi serupa dengan Kristus (to be like Christ).
 
Fokus pada tujuan dan kehendak Allah tidak serta merta menjadikan hidup kita berjalan mulus sesuai dengan yang kita inginkan. Justru yang seringkali terjadi adalah hidup yang kita jalani bisa jauh dari apa yang kita bayangkan sebelumnya. Di saat kita mengalami penderitaan, keluarga kita sendiri terkadang tidak peduli dan tidak menunjukkan dukungannya. Atau mungkin ketika pada suatu waktu kita terjatuh, orang lain cepat-cepat akan mencap kita dengan sebutan orang yang belum bertobat dan tidak memiliki tujuan hidup yang tidak seturut kehendak Allah. Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, kita harus menyadari bahwa hidup kita di dalam Tuhan tidak serta merta menjadikan hidup kita sempurna tanpa dosa dan cela. Ada saat-saat dimana iman kita goyah menghadapi godaan dosa yang membuat kita terjatuh. Inilah yang menjadi pergumulan hidup kita semua seumur hidup. Oleh sebab itulah, di dalam keterbatasan kita ini, setiap kita membutuhkan anugerah kekuatan dari Allah untuk memampukan kita untuk hidup di dalam tujuan dan kehendak-Nya. Hanya saja kita juga harus membuka diri kita untuk mau dibentuk dan di arahkan oleh Allah. Yang terpenting harus kita lakukan adalah terus menyelaraskan tujuan dan kehendak kita yang bersifat egoistis ke dalam tujuan dan kehendak Allah. Sehingga pada akhirnya, hidup yang kita jalani ini akan menjadi hidup yang bermakna yang selalu memuliakan Allah sampai selama-lamanya.
 
[ David Siambaton ]