Ucapan Syukur dan Doa
(Eksposisi Kolose 1:1-14)
_oOo_
 
Pengantar
 
Mengucap syukur seringkali paling mudah diucapkan ketika kita berada dalam keadaan baik. Ketika kita mengalami perubahan hidup dari yang tidak baik menjadi baik, kehidupan ekonomi yang baik, pekerjaan dan keluarga yang baik, dan lain sebagainya. Tentunya hal ini tidaklah salah, karena itu adalah bentuk dari respon kita atas apa yang Tuhan lakukan di dalam kehidupan kita. Pemeliharaan-Nya yang sempurna bisa kita nikmati dalam hidup ini. Pada bagian ini kita akan belajar teladan dari Rasul Paulus tentang bagaimana ia di dalam seluruh hidup dan pelayanannya mampu mengucap syukur di dalam segala hal. Apakah rahasia di dalamnya?
 
Pembahasan
 
 
Ayat 1-2
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita, kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu.
 
 
Mengapa setiap kali membuka suratnya, Rasul Paulus selalu mengawalinya dengan perkataan, “Dari Paulus, seorang rasul...dan dikuti dengan kata: “...oleh karena kehendak Allah” (Surat Korintus, Kolose, dan Efesus); “... bukan oleh seorang manusia melainkan oleh Kristus dan Allah Bapa” (Surat Galatia); atau “... yang dipanggil menjadi rasul”” (surat Roma)?
 
Di sini Paulus melihat bahwa identitas kerasulannya begitu penting untuk di sampaikan kepada jemaat agar mereka mengetahui bahwa jabatannya sebagai rasul bukan berasal dari dirinya sendiri, tapi berasal dari Allah. Allah-lah yang menetapkannya menjadi seorang rasul. Siapakah seorang rasul itu? Rasul adalah mereka yang mendapatkan kepercayaan dan diutus langsung oleh Allah sebagai pembawa berita dari Allah. Oleh karena ia diutus oleh Allah, maka tentunya ia adalah rasul adalah seorang yang mengenal Allah begitu dekat secara pribadi. Seorang rasul adalah mereka yang juga menjadi saksi kebangkitan Kristus (Kis. 1:21-22). Paulus pernah berkata bahwa ia telah melihat Tuhan bangkit (1 Kor. 9:1) dan oleh karenanya ia juga menjadi saksi kebangkitan Kristus (1 Kor. 15:7). Dengan demikian berita yang dibawa oleh Paulus merupakan wahyu dari Allah sendiri tanpa perantaraan manusia (Gal. 1:15-17).
 
Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menyebutkan kebersamaannya dengan Timotius. Jika kita perhatikan dengan seksama, nama Timotius selalu hadir di hampir setiap surat-surat yang Paulus tulis. Contohnya: surat Filipi (Fil. 1:1), surat Filemon (Fil. 1:1), surat Roma (Rm. 16:21), dan surat Korintus (1 Kor. 16:10). Dan Paulus selalu menyebut Timotius sebagai saudara seiman, atau teman sekerja dalam pelayanan. Ketika Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat Kolose, Timotius-pun terlibat di dalamnya.
 
Jika kita perhatikan, surat Paulus yang ditujukan kepada jemaat Kolose ini bukanlah surat yang ditujukan bagi semua orang yang ada di Kolose, tapi hanya bagi mereka yang disebut Paulus sebagai saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus. Kata kudus di sini berarti dipisahkan dan dikhususkan bagi Allah. Itu berarti, surat yang Paulus sampaikan secara spesifik hanya ditujukan kepada jemaat yang sudah ada di dalam Kristus, jemaat yang sudah dilahirbarukan dan percaya kepada Kristus.
 
Salam yang Paulus sampaikan ini merupakan ciri khas salam yang juga pernah Paulus sampaikan juga kepada jemaat-jemaat lain di surat-suratnya, seperti di Roma, Korintus, Galatian, dan Efesus. “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu.” Kata kasih karunia di sini sama artinya dengan kata anugerah (grace). Kata ini berarti sesuatu yang tidak layak kita terima, namun Allah tetap memberikannya kepada kita. Kata anugerah di sini diikuti dengan kata damai sejahtera. Artinya, anugerah yang Allah berikan membawa kita kepada damai sejahtera Allah di dalam hidup kita. Damai sejahtera yang kita terima merupakan inisiatif Allah yang memberi. Kita yang dahulu menjadi seteru Allah akibat dosa kini didamaikan dengan Allah Bapa melalui penebusan Kristus.
 
 
Ayat 3
Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu.
 
 
Ungkapan rasa syukur yang Paulus sampaikan kepada Allah Bapa adalah ucapan syukur atas apa yang telah Allah perbuat bagi jemaat Kolose. Paulus mendengar jemaat yang dikasihinya itu memiliki pertumbuhan iman di dalam Kristus. Itulah yang Paulus syukuri. Paulus tahu bahwa pertumbuhan itu datangnya dari Allah sendiri. Itu semua semata-mata pekerjaan Allah. Walaupun secara fisik Paulus belum pernah bertemu dengan jemaat Kolose, namun di dalam iman ia merasa begitu dekat dan sungguh mengasihi mereka. Doa yang Paulus naikkan kepada Allah ini menjadi bukti kasih Paulus yang besar kepada mereka.
 
 
Ayat 4-8
Karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil, yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya. Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia. Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh.
 
 
Bagian ini berbicara tentang pertumbuhan iman jemaat Kolose di dalam Kristus Yesus. Kalimat “kami telah mendengar” di ayat 4 menjelaskan bahwa Paulus tidak menyaksikan secara langsung pertumbuhan iman jemaat. Paulus hanya mendengarnya dari rekan sepelayanannya, Eprafas. Ketika mendengarnya, hati Paulus penuh ucapan syukur karena jemaat yang dikasihinya ini memiliki iman, kasih, dan pengharapan sejati di dalam Kristus berkat pemberitaan Injil yang mereka dengar. Jemaat yang sebelumnya jauh dari Allah, kini berbalik kepada Allah. Mereka menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat mereka. Ini semua bisa terjadi hanya oleh karena pekerjaan Allah semata di dalam hidup mereka. Kasih Allah yang besar itu dinyatakan kepada mereka. Itulah sebabnya, ketika mereka menikmati kasih Allah, mereka juga bagikan kasih itu kepada orang lain. Dari sini kita bisa mengatakan bahwa kita tidak mungkin bisa mengasihi orang lain sebelum kasih Allah itu kita nikmati secara pribadi.
 
Iman dan kasih yang ada pada mereka bersandar pada pengharapan yang telah Allah sediakan di surga. Pengharapan disini berkaitan dengan tindakan. Artinya, pengharapan yang mereka miliki termanifestasi dari tindakan kasih yang terpancar dari seluruh kehidupan mereka yang mengasihi. Bagi kita, orang percaya, kehidupan ini tidak berakhir hanya pada satu titik kematian, tapi masih ada kehidupan selanjutnya yaitu kehidupan kekal. Segala benih yang baik yang sudah di tanam pada kehidupan sekarang akan diapresiasi pada kehidupan selanjutnya. Ini merupakan harta yang tak mungkin hilang begitu saja. Pengharapan akan kehidupan kekal menjadi suatu penghiburan bagi kita bahwa apa yang sudah kita kerjakan di dalam hidup ini, walau orang lain menganggapnya sebagai suatu kebodohan, namun bagi kita hal itu bukanlah kebodohan dan kesia-siaan, melainkan sebuah respon atas kasih Allah yang sudah dinyatakan-Nya kepada kita. Apa yang baik yang kita kerjakan di dalam hidup ini harus dipandang sebagai sesuatu yang bernilai kekal.
 
Pengharapan yang kita miliki sama sekali bukan dari dunia, tapi dari Allah sendiri melalui berita Injil, berita tentang Yesus Kristus, sang Penebus, yang disampaikan kepada kita. Inilah bukti dari keaktifan Allah yang berinisiatif memberikan hamba-hamba-Nya untuk rela memberitakan Injil kepada kita, sehingga kita bisa menikmati berita itu dan meresponinya melalui apa yang kita kerjakan di dunia ini. Dengan demikian, pengharapan kita sesungguhnya hanya ada pada Yesus Kristus.
 
 
Ayat 9-14
Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.
 
 
Pada bagian ini kita melihat bagaimana Paulus begitu bertekun di dalam doa-doanya kepada jemaat Kolose ketika mendengar berita tentang iman mereka kepada Kristus, kasih mereka kepada orang-orang kudus, pengenalan mereka akan kasih karunia Allah, kasih mereka kepadanya dan pelayan-pelayan Tuhan, serta Injil yang terus berkembang dan berbuah. Bahkan di sini Paulus dikatakan berdoa tiada henti-hentinya. Hal ini bukan berarti Paulus meragukan Tuhan seolah-olah Dia tidak sanggup mengabulkan doanya, sehingga ia harus berdoa berulang-ulang. Namun kita harus melihat ini sebagai bentuk kasihnya yang besar kepada jemaat Kolose. Jemaat ini begitu mendapatkan tempat istimewa di hati Paulus.
 
Di sini kita juga melihat bagaimana Paulus di dalam doa-doanya kepada jemaat Kolose meminta Tuhan memberikan hikmat dan pengertian kepada mereka, sehingga mereka bisa mengetahui apa kehendak Allah di dalam hidupnya. Hikmat Allah berbeda dengan hikmat manusia, oleh karena hikmat manusia hanya terbatas pada kemampuan akal manusia, namun hikmat Allah melampaui akal. Dengan hikmat dan pengetian dari Allah itu, mereka dapat mengetahui apakah yang menjadi keinginan dan kehendak Allah di dalam hidup mereka. Ketika mereka mengetahui kehendak Allah, maka Allah melalui Roh Kudus-Nya memberikan mereka hati yang terus mau mempermuliakan Allah, memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah.
 
Di samping itu, kita juga melihat bagaimana Tuhan juga memberikan kekuatan rohani kepada jemaat-Nya, sehingga mereka mampu untuk bertahan di dalam kesulitan, kelemahan, bahkan penderitaan sekalipun. Mereka menjalani itu semua dengan kesabaran, ketekunan, dan ucapan syukur oleh karena mereka percaya bahwa keselamatan yang sudah mereka terima tidak akan pernah hilang dalam kondisi apapun dan penderitaan yang dialami tetap diizinkan Tuhan terjadi untuk kebaikan mereka (Yak. 1:3-4, Rm. 8:28-29).
 
Penutup
 
Keselamatan yang telah kita nikmati melalui penebusan yang sudah dikerjakan Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya seharusnya membuat kita semakin rindu untuk terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan kita sehingga melaluinya kita mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar. Itu semua kita kerjakan sebagai bagian ungkapan syukur kita kepada Tuhan dan demi hormat dan kemuliaan-Nya.
 
[ Eva Paula Siburian ]