Kita Taat, Tuhan Yang Cukupkan
( Bagian 1 )
_oOo_
 
Pengantar
 
Tulisan ini merupakan kesaksian saya mengenang kembali mission trip yang saya ikuti bersama Persekutuan Studi Reformed (PSR) ke kota Kupang dengan diadakannya Seminar Doktrin Keselamatan: 5 Pokok Calvinisme pada 15-17 Oktober 2010. Seminar ini terselenggara berkat kerjasama antara Persekutuan Studi Reformed, Jakarta dengan Indonesian Reformed Ministry, Kupang, NTT.
 
Rencana dan Persiapan menuju Mission Trip ke Kupang
 
Waktu pertama kali mendengar bahwa Persekutuan Studi Reformed (PSR), tempat di mana saya sekarang melayani, berencana melakukan Mission Trip ke kota Kupang, saya sempat kaget dan shock. Hal pertama yang muncul dibenak saya adalah masalah dana. Saya sempat berfikir dana yang dibutuhkan untuk mengerjakannya pastilah sangat besar. Apalagi di saat yang bersamaan saya beserta pasangan saya juga sedang merencanakan pernikahan kami, yang pastinya juga akan membutuhkan dana yang besar. Setelah dihitung-hitung, ternyata benar juga, dana yang dibutuhkan pada waktu itu sangat besar sekali, yaitu sekitar Rp. 40 Juta. Persekutuan kami yang kecil, dengan jumlah anggota sekitar 17 orang di dalamnya, harus menanggung sendiri dana sebesar itu tanpa bantuan dari pihak manapun juga. Inilah yang menjadi beban pergumulan dan kekhawatiran saya dan teman-teman yang lain bagaimana kami sanggup melalui itu semua. Suatu pekerjaan yang sulit kami bayangkan sebelumnya.
 
Di tengah pergumulan itu, saya dan teman-teman yang lain mulai berfikir dan merenungkan, apakah maksud dan rencana Tuhan bagi persekutuan kami melalui rencana mission trip tersebut? Bukankah kami hanya sebuah persekutuan kecil yang hanya beranggotakan anak-anak Tuhan yang rindu belajar kebenaran Firman Tuhan? Sanggupkah kami yang kecil ini mengerjakan pekerjaan Tuhan yang sangat besar dan mulia ini? Mengapa Tuhan mau kami ke pergi Kupang, daerah kecil di Indonesia Timur nun jauh di sana? Kenapa tidak di Jakarta saja? Pertanyaan-pertanyaan ini terus menggelayuti pikiran setiap kami.
 
Seiring berjalannya waktu, kami mulai mengerti bahwa semua ini adalah sungguh rencana dan kehendak Tuhan bagi persekutuan kami. Ini adalah pekerjaan Tuhan yang besar yang dianugerahkan kepada kami yang kecil, dan kami harus setia dan taat mengerjakannya. Setelah pimpinan Tuhan begitu jelas bagi kami, maka kami mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari persiapan para pembicara yang berasal dari internal kami sendiri, pelayan-pelayan Tuhan, akomodasi, perlengkapan, transportasi, dan persiapan pernak-pernik lainnya. Kami mempersiapkan itu semua kurang lebih satu tahun. Untuk masalah dana, setiap kami mulai menabung sedikit demi sedikit agar tepat pada hari-H nya seluruh dana bisa tercukupi. Walaupun setiap kami bukanlah dari kalangan berada yang memiliki harta yang banyak, tapi kami rela berkorban demi pekerjaan Tuhan. Kami sepenuhnya sungguh percaya jika apa yang kami kerjakan ini adalah pekerjaan Tuhan, dan kami tahu Dia pasti akan mencukupkannya. Apa yang kami kerjakan hanya bersandar pada anugerah Tuhan dan komitmen kami untuk memberitakan Injil bagi orang banyak. Kami mempersiapkan semuanya ini kurang lebih satu tahun lamanya.
 
Hari pertama di Kota Kupang
 
Tiba waktunya hari yang ditunggu-tunggu itu datang, tepatnya pada tanggal 15 Oktober 2010. Masih segar diingatan kami, kami bersama-sama berangkat ke bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 2.00 WIB dini hari, dan tiba di sana pukul 04.00 WIB walau rencana penerbangan baru akan dilaksanakan pada pukul 6.00. Setelah menunggu kurang lebih 2 jam, sangat disayangkan pesawat yang akan kami tumpangi ternyata terlambat 30 menit. Kami baru bisa lepas landas pada pukul 6.30 WIB. Sambil menunggu waktu lepas landas, kami saling mengobrol satu sama lain. Dan tak lupa tentunya berfoto-foto ria bersama. Sebelum naik pesawat, kami bersama-sama berdoa kepada Tuhan yang pada waktu itu dipimpin oleh advisor persekutuan kami, Bang Ranto Siburian. Kami berdoa menyerahkan perjalanan kami dan seluruh rangkaian pelayanan kami selama di Kupang nanti.
 
Tepat pukul 10.00 WITA atau pukul 08.00 WIB (selisih waktu antara Kupang dan Jakarta sekitar 2 jam) kami tiba di kota Kupang. Sesampai di bandara El Tari, Kupang, kami disambut oleh cuaca yang kurang mendukung. Di sana hujan turun cukup deras. Sambil menunggu bagasi dan hujan reda, kami masih menyempatkan diri untuk berfoto bersama di dalam Bandara. Setelah kurang lebih satu jam menunggu bagasi dan berfoto di dalam, akhirnya kami keluar juga dari Bandara. Ternyata di luar sudah menunggu Bpk. Pdt Ady W.F. Ndiy beserta rekan sepelayanannya, Bpk Markus, menyambut kedatangan kami. Sungguh satu sukacita besar bagi kami bisa bertemu untuk pertama kalinya dengan mereka. Selama ini kami berhubungan khususnya dengan Bpk Pdt Ady hanya melalui E-Mail, telepon, atau SMS. Merekapun menyambut kami dengan sukacita besar, dan itu dapat kami rasakan. Di luar bandara, sudah menunggu bus Damri dengan ukuran kecil siap mengantar kami memasuki kota Kupang. Kami pun bergegas berangkat menuju tempat pelayanan Bpk. Pdt. Ady di sana.
 
Di sepanjang perjalanan, kami mencoba menikmati kota Kupang. Kami menyaksikan ternyata kota Kupang yang sebelumnya tidak pernah kami bayangkan termasuk salah satu pulau terindah. Kota itu dikelilingi oleh pantai-pantai berwarna biru dengan hamparan pasir putih yang menarik pandangan mata. Ternyata pantai-pantai di sana cukup terjaga kebersihannya. Walau cuaca di sana cukup panas karena daerah sekitar pantai, tapi saya bisa menikmati keindahannya. Saya semakin kagum dengan keindahan alam ciptaan Tuhan. Saya sempat berfikir, kenapa orang-orang Indonesia justru sibuk berpergian ke luar negeri padahal di negeri sendiri begitu banyak daerah-daerah yang memiliki keindahan yang tak kalah dengan luar negeri, contohnya kota Kupang ini. Namun sungguh disayangkan, kota Kupang yang cukup indah ini kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Padahal jika kota ini dikelola dengan baik, saya percaya kota ini bisa menjadi salah satu objek wisata yang layak dikunjungi.
 
Setelah beberapa jam berkeliling kota Kupang bersama bus Damri yang kami tumpangi beserta dengan Bpk. Pdt. Ady yang memandu sepanjang perjalanan, kami diajak mengunjungi tempat pelayanan Bpk. Pdt. Ady. Sesampai di sana, saya sempat terkejut dan terperangah melihat kondisi tempat itu. Tempat itu sama sekali diluar bayangan saya sebelumnya. Kondisi tempat itu sungguh memprihatinkan. Di sana ada dua bangunan kecil yang saling berdekatan. Bangunan pertama digunakan untuk ruang penginapan bagi para anak didik Bpk. Pdt Ady. Di sana hanya ada dua ruang kamar seadanya yang ditempati untuk anak laki-laki dan perempuan. Oleh karena ruangan tersebut cukup kecil sedangkan anak didik cukup banyak, mereka harus tidur sedikit agak berdesakan. Bangunan kedua digunakan untuk beberapa ruang kelas kecil tempat mereka belajar. Oleh karena keterbatasan jumlah ruangan, proses belajar dilakukan secara bergantian sesuai jadwal yang ada. Ruangan kelas hanya diisi beberapa meja dan kursi yang terbuat dari kayu-kayu bekas yang mereka dapatkan dari lingkungan sekitar. Beberapa di antaranya terlihat sangat rapuh sehingga riskan sekali untuk roboh. Di samping belakang, ada sebuah kamar mandi tanpa atap. Jika turun hujan, kamar mandi itu tidak bisa digunakan. Di samping kondisi tempat tinggal mereka yang sangat tidak memadai itu, terkadang mereka juga bergumul dengan kurangnya bahan makanan khusunya beras yang diperlukan sehari-hari akibat keterbatasan dana yang mereka miliki. Mau tak mau mereka harus berhemat seketat mungkin. Tak jarang Tuhan juga bekerja melalui orang lain yang mau membagikan berkatnya kepada mereka. Dalam kondisi serba kekurangan ini, Tuhan selalu cukupkan kebutuhan mereka.
 
Melihat kehidupan mereka seperti itu, ada satu hal yang membuat hati saya kagum terhadap mereka, yaitu ditengah hidup yang penuh pergumulan, kesulitan dan penderitaan, iman mereka kepada Tuhan tidak pernah goyah. Kecintaan mereka kepada Tuhan dan Firman-Nya tidak pernah luntur. Mereka begitu taat menjalani setiap karya Tuhan di dalam hidup mereka dan menerapkannya bukan hanya melalui pelayanan kepada orang-orang, tapi juga di dalam kehidupan pribadi masing-masing. Mereka tetap yakin bahwa Tuhan-lah yang memegang dan memimpin hidup mereka hari demi hari.
 
Di salah satu ruangan, kami duduk bersama-sama sambil saling berbagi cerita dan pengalaman masing-masing. Di situ kami menyerahkan bingkisan berupa buku-buku rohani dan pakaian-pakaian layak pakai kepada mereka. Ini semua kami persiapkan jauh-jauh hari dari Jakarta. Kami berharap melalui ini semua sedikit banyak bisa mendukung pelayanan mereka di sana.
 
Saya juga sungguh terharu mengingat bagaimana semangat belajar anak-anak didik Bpk. Pdt. Ady mengenai teologi Reformed begitu tinggi. Padahal jika kita bandingkan dengan kota Jakarta, ditengah kehidupan yang serba ada, toh hanya sedikit orang saja yang mau belajar teologi Reformed. Padahal teologi ini begitu kaya dan limpah untuk dipelajari baik itu tentang relasi kita dengan Tuhan maupun relasi kita dengan sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan. Tapi inilah realita yang kita lihat.
 
Setelah beberapa waktu bersama-sama di tempat pelayanan Bpk. Pdt. Ady, kami bergegas menuju hotel Sylvia tempat penginapan kami selama di Kupang. Selain sebagai tempat penginapan, salah satu ball room hotel itu juga yang akan kami gunakan untuk seminar Lima Pokok Calvinisme keesokan harinya. Sesampainya di hotel, dimulailah pembagian kamar untuk kami semua. Saya masuk kamar dan menaruh semua barang-barang bawaan kami. Tibalah waktu istirahat setelah hampir seharian berada di Kota Kupang. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WITA. Tibalah waktu kami untuk makan malam, oleh karena setelah itu kami harus melakukan persiapan akhir menuju seminar besok. Kemudian kami bersiap-siap untuk turun dan makan malam bersama. Tanpa diduga, pelayanan dihotel itu buruk sekali. Bayangkan, kami memesan makanan di hotel itu harus menunggu hampir 3 jam. Pikir kami, sungguh tidak profesional sekali pekerja-pekerja di hotel itu. Oleh karena makanan tidak kunjung datang, maka sebagian kami yang belum mendapat makanan harus mencari makanan di luar hotel, mengingat waktu persiapan seminar kami yang cukup sempit.
 
Untuk acara seminar besok, cukup membuat para pembicara tegang. Adapun pembicara seminar besok merupakan rekan-rekan sepelayanan kami juga yang terdiri dari 5 orang, yaitu: Bang Ranto Siburian, Bang Jessy V. Hutagalung, Kak Randy L Pea, Bang Mulatua Silalahi, dan Bang Nikson Sinaga. Ketegangan mereka cukup terlihat jelas ketika masing-masing masih membaca dengan serius bahan seminar yang akan dibawakan besok. Padahal, di Jakarta mereka sudah mempersiapkannya hampir satu tahun. Ketegangan seperti ini cukup bisa dimaklumi oleh karena sebagian pembicara baru pertama kali berceramah di depan orang banyak dengan topik yang cukup sulit pula. Apalagi menurut informasi, para peserta seminar yang akan datang mayoritas akan diisi oleh pemuda-pemuda yang pernah atau sedang mengenyam pendidikan di sekolah theologi di Kupang. Pemuda-pemuda ini tentunya memiliki keingingan dan semangat belajar theologi yang tinggi, tidak seperti yang terjadi di Jakarta.
 
Persiapan seminar terus kami lakukan pada malam itu. Para liturgis dan pemain musik berlatih beberapa lagu yang akan dinyanyikan, para pembicara dan saya sebagai pengatur slide mempersiapkan bahan-bahan seminar yang akan ditampilkan, serta rekan yang lain mulai mengecek semua peralatan rekam serta kamera yang digunakan besok. Kami semua begitu antusias dan semangat mempersiapkan segala sesuatunya demi kelancaran acara besok. Tanpa terasa waktu sudah larut malam, kira-kira pukul 23.00 WITA, saatnya kami istirahat tidur.
 
Tetapi ada satu berita kurang baik, salah seorang anak dari Bang Ranto, pembicara seminar kami, yang juga ikut bersama kami ke Kupang tiba-tiba mengalami sakit cacar. Saya sempat diliputi ketakutan, takut cacar itu menular ke saya. Apalagi sejak kecil saya belum pernah mengalami penyakit itu. Saya mulai berfikir, apakah ini ujian yang Tuhan berikan kepada kami untuk kami tetap tidak gentar dan sepenuhnya berharap kepada Tuhan? Di tengah kondisi yang tidak baik ini, sama sekali tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap melayani dan membagikan Injil Tuhan khususnya theologi Reformed kepada mereka-mereka di Kupang pada seminar besok.
 
Bersambung.....
 
[ Setya Asih Pratiwi ]