Hidup dan Damai Sejahtera
_oOo_
 
Pengantar
 
Banyak hal yang terjadi dalam hidup ini terkadang menjadikan kita kuatir. Berbagai peristiwa yang silih berganti hadir di sekitar kita seringkali membuat membuat kita berfikir bahwa peristiwa itu pada suatu waktu mungkin akan mengancam hidup kita. Yang biasa kita lakukan adalah berusaha memusatkan pikiran dan tenaga kita untuk mengantisipasi satu persatu ancaman yang membuat kita kuatir itu. Namun di tengah usaha kita mengantisipasinya, seringkali perasaan kuatir itu tidak mereda, malahan justru semakin bertambah.
 
Pernahkah kita menyadari bahwa sesungguhnya masalah utama dari kekuatiran kita terletak pada pola pikir atau cara pandang kita terhadap sesuatu. Walaupun kita sadar sepenuhnya bahwa kita adalah umat tebusan Allah yang diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, namun seringkali kita kurang memahami bagaimana seharusnya kita berperan seperti anak-anak Allah. Kita tidak tahu apa yang seharusnya kita pikirkan, cari, dan kejar sebagai garam dan terang dunia.
 
Dalam Roma 8:6 dikatakan: “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera”. Hidup dan damai sejahtera tentunya ingin dimiliki oleh setiap orang. Di ayat ini, Paulus mengungkapkan bahwa seseorang yang memiliki hidup dan damai sejahtera adalah mereka yang memiliki pola pikir rohani. Apa yang dimaksud dengan pola pikir rohani? Kata “roh” dalam Alkitab dapat berarti “Roh Kudus” (Rm. 8:9) atau kehidupan rohani yang dihasilkan oleh Roh Kudus di dalam diri orang percaya” (Yoh. 6:3). Adapun pembahasan kita pada artikel ini pemahaman kita tentang bagaimana suatu pola pikir rohani dapat membuahkan hidup dan damai sejahtera. Kita dapat menjelaskan hal ini dalam dua hal, yaitu:
 
  1. Apa yang dimaksud dengan hidup dan damai sejahtera?
     
  2. Bagaimana suatu pola pikir rohani dapat membuahkan hidup dan damai sejahtera?
 
Pembahasan
 
A.
Apa yang dimaksud hidup dan damai sejahtera?
 
Kehidupan rohani yang dimiliki orang percaya memiliki tiga hak istimewa, yaitu:
 
  1. Hak untuk dibenarkan di hadapan Allah (Rm 5:17). Orang percaya memperoleh hak atas hidup yang kekal.
     
  2. Hak untuk memiliki kasih yang baru atas hal-hal rohani (Rm 8:9). Dengan kekuatan yang bersumber dari kehidupan di dalam dirinya itulah, orang percaya mulai menjadi kudus serta bertumbuh dalam kekudusan.
     
  3. Hak untuk mendapatkan sukacita atas praktek nyata kehidupan baru setiap hari. Sukacita atas pengalaman seperti inilah yang menjadikan hidup Kristen berarti. Inilah yang dimaksud Paulus ketika ia menyatakan bahwa pola pikir rohani membuahkan hidup, maksudnya adalah pola pikir rohani merupakan sumber bagi sukacita hidup.
 
Damai Sejahtera
 
Orang percaya merasa damai berada di dekat Allah, oleh karena Allah telah membenarkan mereka di dalam Kristus. Damai sejahtera ini merupakan buah dari Roh Kudus yang tinggal di dalam orang percaya. Damai sejahtera ini merupakan sumber utama kekuatan orang percaya ketika mereka terluka, merasa kuatir, dan teraniaya. Pengalaman menikmati hal-hal rohani akan menjadikan kita mampu menanggung segala perkara dengan penuh ketenangan (Yoh. 16:33).
 
B.
Bagaimana suatu pola pikir rohani dapat membuahkan hidup serta damai sejahtera?
 
Pola pikir rohani merupakan salah satu jalan bagi orang percaya untuk memelihara pengertian tentang kasih Allah kepada kita. Keselamatan yang kita miliki semata-mata merupakan anugerah dan bukan hasil usaha kita, namun untuk memelihara sukacita atas keselamatan tersebut dibutuhkan ketekunan dalam melatih kerhanian kita. Berikut ini beberapa alasan pentingnya pola pikir rohani, antara lain:
 
  1. Cara pikir yang melaluinya kita dimungkinkan untuk dapat menerima kasih Allah.
     
  2. Cara pikir yang melaluinya kita dapat menghargai kasih Allah secara benar.
     
  3. Cara pikir untuk dapat memahami bagaimana memperlakukan hak istimewa yang Allah anugerahkan.
     
  4. Cara pikir yang dapat menjaga kita untuk tidak melakukan dosa.
 
Pola pikir rohani merupakan jalan yang melaluinya kita dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban rohani kita. Jika kita tidak memelihara pola pikir rohani kita, maka perasaan bersalah atas keberdosaan kita dapat merasa putus asa.
 
Pola pikir rohani merupakan sesuatu yang dapat membuat seseorang siap menanggapi segala sesuatu sebagaiman yang Kristus ajarkan. Bila kita menyelesaikan aktivitas rohani kita hanya sekadar perasaan tanggung jawab, maka kita tidak akan pernah memperoleh hidup dan damai sejahtera. Harus ada semangat yang hanya diperoleh melalui cara berpikir yang rohani.
 
Penutup
 
Pola pikir rohani memang merupakan hal di dunia dengan ciri-ciri keberadaannya paling mirip dengan hal-hal sorgawi. Melalui pembaharuan jiwa kita, Roh Kudus telah memulai karya-Nya untuk menjadikan kita serupa dengan Kristus. Suatu proses pertumbuhan yang akan mencapai kesempurnaannya kelak ketika kita ada bersama dengan Dia di dalam kemuliaan.
 
[ Relita Bintang Sihite ]