Hal Kekuatiran Dalam Penderitaan
_oOo_
 
Pada Matius 6:34 dikatakan: “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Ketika Tuhan berkata “jangan kuatir,” apakah ini berarti kita sama sekali tidak boleh kuatir? Jawabannya tentu tidak demikian. Selama hidup di dunia ini, setiap kita pasti dalam satu waktu pernah merasakan kekuatiran. Misal para orang tua, mereka bisa saja kuatir dengan masa depan anaknya. Kuatir anaknya memiliki pergaulan yang tidak baik, kuatir anaknya tidak mendapatkan jodoh, kuatir anaknya tidak lulus ujian, dan lain sebagainya. Maka, sesungguhnya kekuatiran itu menjadi realita yang tak terpisahkan dari hidup kita. Lalu, apakah yang dimaksud dengan ayat ini? Ayat ini sebenarnya ingin menyatakan bahwa di tengah kekuatiran-kekuatiran yang mungkin hadir di dalam hidup kita, kita berani mempercayakan semuanya itu hanya kepada Tuhan. Kita harus tetap percaya bahwa Bapa kita di surga tahu sepenuhnya apa yang kita kuatirkan. Dia tahu kesusahan kita. Dia tahu penderitaan kita. Dia tidak hanya tahu, tapi Dia juga hadir, terlibat langsung di dalam apapun yang terjadi dalam hidup kita. Dia memberikan kekuatan, penghiburan, dan pemeliharaan-Nya kepada kita jika kita tetap bersandar kepada-Nya.
 
Yang terutama perlu kita lakukan adalah mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Mat. 6:33). Kita tidak dipanggil hanya untuk bergelut mencari kebahagiaan di dunia ini. Ini bukan berarti kita tidak memerlukan kebahagian. Setiap orang tentunya ingin hidup bahagia. Maksudnya disini adalah kebahagian kita di dunia bukanlah satu-satunya tujuan ultimat dalam hidup kita, tapi kerajaan Allah dan kebenaran-Nya yang perlu kita kejar. Inilah tujuan utama hidup kita. Kebahagiaan yang kita peroleh tetap merupakan anugerah Allah. Kebahagiaan itu merupakan sesuatu yang ditambahkan ketika kita mendahulukan kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Ketika kita mendahulukan kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, tidak serta merta menjauhkan kita dari kesulitan dan penderitaan hidup. Keduanya adalah realita yang terus hadir dalam hidup kita. Yesus pernah berkata seseorang yang ingin menjadi murid-Nya, ia harus menyangkal diri dan memikul salib. Oleh karenanya, ketika kesulitan dan penderitaan itu hadir di dalam hidup kita ketika kita menjalankan kehendak Allah dan kebenaran-Nya, seharusnya tidak membuat kita merasa cemas dan kuatir. Kita harus melihatnya dari perspektif Tuhan yang sedang membentuk hidup kita. Di dalam kesulitan dan penderitaan yang kita alami, ada rencana indah yang Allah sediakan dalam hidup kita. Yang kita perlu lakukan adalah bersandar dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Dia. Dengan demikian, hidup kita akan dipenuhi ketenangan dan damai sejahtera Allah.
 
Yesus Kristus semasa hidup-Nya di dalam dunia juga tidak terlepas dari penderitaan. Dia juga mengalaminya, sama seperti kita. Namun penderitaan yang Dia alami jauh melebihi dari apa yang kita alami. Dia yang adalah Allah rela merendahkan diri-Nya taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib (Fil. 2:5-9). Penderitaan yang dialami Yesus bukan karena ia telah berdosa, tapi semata-mata oleh karena Dia menjalankan kehendak Allah Bapa. Dia rela mati demi menggenapkan rencana Allah Bapa. Itulah sebabnya, ketika kita menderita di dalam menjalankan kehendak Allah, kita tidak perlu merasa sendiri oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus, juga pernah mengalaminya. Ia sungguh-sungguh mengerti penderitaan kita. Inilah yang menjadi kekuatan dan penghiburan kita.
 
[ Megawana S ]