Yesus, Pokok Anggur Yang Benar
_oOo_
 
Fakta kejatuhan manusia ke dalam dosa membawa manusia kehilangan kemuliaan Allah. Konsekuensinya seluruh aspek kehidupan manusia juga terkontaminasi oleh dosa. Ini membuat manusia semakin jauh dari Allah dan setiap perbuatan yang dilakukannya tidak didasarkan atas motivasi memuliakan Allah. Oleh sebab itulah, manusia memerlukan “seorang penolong” yang dapat membawanya kembali kepada Allah, yaitu Kristus. Namun seringkali akibat kedegilan hati dan ketidaktaatan, manusia jatuh lagi ke dalam perbuatan dosa. Tetapi oleh kasih dan anugerah-Nya, Allah menarik manusia kembali padaNya melalui pekerjaan Roh Kudus.
 
Perubahan hidup dan bentukan Tuhan membuat manusia akhirnya sadar untuk kembali kepada Tuhan dan meresponi hidup yang Tuhan berikan melalui tingkah laku serta perbuatan yang menyenangkan hati Tuhan. Manusia akan dengan rela dan sungguh-sungguh melayani Tuhan dan berbuah bagi-Nya
 
Dalam Yohanes 15:1 dikatakan: “Akulah Pokok anggur yang benar dan Bapa-Ku lah pengusahanya.” Di ayat ini Yesus memberikan sebuah perumpamaan tentang pokok anggur, di mana Dia sendirilah pokok anggur tersebut, Bapa pengusahanya, dan kita ranting-rantingnya. Setiap ranting yang tidak menghasilkan dikatakan akan dipotong dan dibuang ke dalam api, agar tidak mengganggu pertumbuhan dari pokok anggur itu sendiri. Ranting yang kering itu dipotong dan dibersihkan untuk memberikan pertumbuhan dan kesuburan bagi pohon tersebut. Kita adalah ranting itu. Apabila kita tidak berbuah, maka kita akan dipotong dan dibuang ke dalam api. Itulah sebabnya, setiap kita yang ada di dalam Kristus haruslah terus bertumbuh dan berbuah bagi Tuhan. Namun perlu disadari bahwa pertumbuhan dan buah yang kita hasilkan bukan semata-mata usaha dan pekerjaan kita, tapi semata-mata pekerjaan Allah di dalam diri kita. Di dalam proses pertumbuhan itulah, Allah terus bekerja membentuk hidup kita melalui segala hal. Persekutuan Studi Reformed yang sudah Allah anugerahkan bagi kita bisa menjadi salah satu alat Tuhan untuk mempertumbuhkan kita di dalam pengenalan akan Tuhan. Mari kita meresponinya.
 
[ Elvry Sari Intan ]